
Setelah keduanya tidak lagi merasa kesal, Arsy dan Raska kembali baikan. Tidak lama kemudian, Vina sudah keluar dari kamar dan sedang menuruni anak tangga.
Sesampainya di ruang tamu, Vina semakin gugup. Vina bingung harus berbuat apa dan berkata apa, ditambah lagi dengan status pernikahannya yang terbilang sangat konyol.
Dengan malu, bahkan harus membuang rasa malunya demi statusnya. Vina ikut duduk bersama Arsy dan Raska dah juga Hanum.
"Mana Darma? kok tidak ke luar bareng." Tanya Raska dengan serius, sedangkan Vina semakin bingung untuk menjawabnya.
"Baru selesai mandi, sekarang sedang mengenakan pakaiannya." Jawabnya dengan gugup.
'Kenapa aku mendadak menciut nyaliku, apa karena yang dihadapanku ini bukan orang biasa sepertiku.' Batinnya sambil memperhatikan Arsy yang berada didepannya.
Tidak lama kemudian, Darna menuruni anak tangga sambil melihat mantan istrinya yang terlihat sangat cantik.
'Sial! lagi lagi Arsy semakin cantik.' Batinnya berdecak kesal.
"Ada perlu apa kalian datang kemari?" tanya Darma sedikit menunjukkan kekesalannya. Arsy hanya diam, dirinya tidak ingin memancing emosi pada kedua laki laki didepannya. Ditambah lagi ada istri baru Raska, Arsy memilih diam demi kebaikan bersama.
"Aku mengantarkan pulang istri kamu, tidak baik wanita yang sudah bersuami kembali pulang." Jawab Raska dengan enteng, tanpa disadarinya telah menyindir Darma yang telah menduakan istrinya.
'Bilang saja menyindir, iya iya iya dulu aku memang salah. Bahkan aku mengambil keuntungan saat Arsy tinggal dirumahnya yang ditemani Yona.' Batinnya yang teringat akan kesalahannya.
"Ooh, terimakasih sudah mengantarkan pulang. Mungkin istriku belum terbiasa tinggal di rumah ini, dan masih ada rasa takut denganku." Ucap Darma beralasan, sedangkan Vina hanya meliriknya.
"Kalau begitu, aku dan istriku pamit pulang. Kasihan istriku yang sedang hamil, butuh istirahat yang cukup. Semoga kalian berdua bahagia dan segera mendapatkan Darma junior." Ucap Raska berpamitan dan segera bangkit dari tempat duduknya.
__ADS_1
"Cih! pamer. Mentang mentang istrinya sedang hamil, lihat saja nanti kalau istriku sudah hamil. Aku pastikan, anakku sekaligus lahir ada lima." Jawab Darma tidak mau kalah, Raska segera mendekatinya. Sedangkan Vina yang mendengarnya hanya menelan salivanya.
'Emang dia kira aku ini pabrik anak, hah! ngomong seenak udelnya sendiri.' Batin Vina penuh geram.
"Aku tunggu, Darma. Bila perlu gasak terus istri kamu, siang malam jangan pakai kendor. Agar kamu dapat menghasilkan sesuai yang kamu ucapkan." Bisik Raska dan tersenyum puas, Darma yang mendengarnya bergidik ngeri. Darma teringat saat jari jemarinya diremas kuat oleh istrinya.
"Sana sana, pulang." Usir Darma bergurau. Raska pun menggandeng tangan milik istrinya mesra, Raska yang memperhatikannya sedikit ada rasa cemburu. Namun, Darma segera mebrpis pikiran buruknya.
"Kak, Vina. Hanum pamit pulang, jaga diri kakak baik baik, ya .."
"Iya, Hanum. Kamu jangan khawatir, kakak pasti baik baik saja. Sering sering datang kemari bersama kak Arsy ya, Hanum .. kak Vina pasti sangat senang." Jawab Vina merayu, sedangkan Raska hanya membatinnya.
"Iya, kak... sampai jumpa." Pamit Hanum dan pergi meninggalkan Vina.
"Maaf Pak, saya mau istirahat. Dimana ya, ruangannya?" tanya Vina mencoba memberanikan diri.
"Dikamar atas, istirahatlah di kamar. Ayahku memang sengaja memberi kamar tidur hanya satu kamar, agar kita tetap berada dalam satu kamar. Jangan pernah protes, ayahku bisa datang kapan saja dan waktunya pun bisa semaunya. Tengah malam pun bisa datang jika memang sudah maunya." Ucap Darma mengingatkan.
"Apa? satu kamar? kenapa tidak ada dua kamar, setidaknya untuk kamar tamu."
"Tidak ada, ada kamar pelayan. Jika kamu siap menerima laporan dari pelayan, kamu akan aku persilahkan untuk tidur bersama pelayan perempuan di belakang." Ucap Darma menakuti.
"Kenapa extrim banget sih, ayah kamu itu."
"Tanya saja pada orangnya, aku sih ogah." Ucap Darma sambil beranjak pergi meninggalkan Vina.
__ADS_1
"Tunggu, Pak." seru Vina memanggilnya, Darma langsung menghentikan langkah kakinya dan menoleh kearah Vina.
"Kenapa?"
"Mau kemana?" tanyanya penasaran.
"Mau kebelakang, mau duduk santai sambil menyesali kutukan pernikahan ini." Jawabnya dengan santai dan kembali melangkahkan kakinya menuju taman belakang.
Vina yang merasa sudah sangat gerah, dirinya segera cuci muka dan beristirahat. Setidaknya dapat merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur.
Dengan pelan, Vina menapaki anak tangga menuju kamar yang kini akan menjadi kamarnya bersama suaminya. Vina benar benar terasa mimpi saat dirinya berada di rumah yang begitu bagus dan terlihat sangat mewah.
Vina terus terbayang bayang akan tumbal pesugihan, Vina sangat tajut jika dirinyalah yang akan dijadikan sasarannya. Ditambah lagi dirinya masih muda dan juga belum menikah, pikirnya.
Sesampainya didalam kamar, Vina langsung masuk ke kamar mandi dan segera mencuci mukanya. Agar wajahnya terasa segar, meski sebenarnya tidak mandi. Disaat itu juga, Vina baru menyadarinya bahwa dirinya tidak membawa baju ganti. Mau tidak mau, Vina meminta tolong kepada suaminya untuk mengantarnya pulang kerumah untuk mengambil baju ganti.
Setelah selesai mencuci muka, Vina segera mencari keberadaan suaminya. Dengan cepat, Vina menuruni anak tangga. Tanpa Vina sadari, bahwa suaminya hendak menapaki anak tangga.
BRUG!! "aw!!" Darma terdorong oleh tenaga Vina yang begitu kuat. Vina yang menuruni anak tangga dengan terburu buru, akhirnya tanpa disengaja Vina menabrak suaminya yang hendak menapaki anak tangga. Allhasil, Vina menindih tubuh suaminya. Dengan reflek, Darma memindahkan posisinya. Kini giliran Vina yang berada dibawah suaminya, keduanya saling beradu pandan satu sama lain. Kedua tangan milik Vina tertahan oleh suaminya sendiri. Vina sendiri terhipnotis akan ketampanan suaminya. Bahkan Hendi dan Bimo jauh tampannya dengan Darma, Vina masih terus memandangi suaminya sangat lekat. Tanpa disadari, bahwa Darma pun ikut terhipnotis dengan sendirinya.
Tidak dapat dipungkiri, Darma lelaki yang normal. Ditambah lagi, dua kali gagal dalam pernikahan. Dan tentunya dia yang haus akan pernikahan yang sesungguhnya, hingga membuatnya tergoda dengan Vina istri sahnya. Tanpa pikir panjang, Darma menc*ium bibir manis milik Vina berulang ulang. Vina yang terbawa suasana hingga lupa akan kekesalannya terhadap Darma, bahkan keduanya saling menikmati suasana hatinya masing masing. Darma pun semakin liar dibuatnya, bahkan dirinya tidak memandang tempat yang berada didekat anak tangga. Tiba tiba kedua mata Vina terbelalak, saat Darma semakin liar.
"Lepaskan!!" teriak Vina dengan kencang. Tiba tiba bulir air matanya menganak sungai. Vina menangis tersedu sedu. Seketika itu juga, Darma membelalakan kedua bola matanya. Keduanya tersadar dari hipnotis satu sama lain, dengan cepat Vina segera membenarkan pakaiannya. Darma bingung untuk menenangkannya, dirinya mengaku benar benar sangat bersalah.
"Maaf, maafkan aku. Seharusnya aku tidak melakukan ini denganmu, masuklah ke kamar dan ganti pakaian kamu. Semua perlengkapan kamu termasuk baju ganti sudah disiapkan dilemari. Aku pergi, maafkan aku yang tidak bisa menenangkan kamu." Ucap Darma yang merasa sangat bersalah, dirinya segera pergi untuk menenangkan pikirannya.
__ADS_1