Kembalinya Cinta Yang Hilang

Kembalinya Cinta Yang Hilang
Kejujuran


__ADS_3

Raska pun masih penasaran dengan sang kakek yang tiba tiba sudah terlihat rapi.


"Sudahlah, jangan bahas sesuatu yang hanya membuat pikiran kalian tidak karuan. Dan kamu Raska, kakek mau berangkat lebih duluan untuk datang kerumah Darma. Kamu dan Arsy datanglah nanti malam, kakek sengaja meminta Darma datang kemari untuk menjemput kakek.


"Tidak masalah, Raska tidak keberatan jika Darma yang menjemput kakek." Jawab Raska dengan tenang.


"Kamu jangan berpikiran yang macam macam, meski Darma adalah mantan suami istri kamu sekalipun. Bukankah Arsy sedang mengandung calon anak kamu? jadi, fokuslah dengan kebahagiaan kalian berdua. Kakek juga mendoakan untuk Darma, semoga segera mendapatkan wanita yang baik dan menerimanya tanpa syarat yang berat."


"Iya, kek. Raska mengerti, dan akan selalu fokus untuk kebahagian kami berdua." Jawab Raska yang masih berusaha tenang, meski sudah tidak sabar ingin segera menghindar dari hadapan sepupunya.


"Kamu jangan khawatir, Raska. Meski Arsy penah menjadi istriku, tapi percayalah aku tidak akan merusak hubungan kamu dan istrimu. Kamu sangat beruntung mendapatkan Arsy, dia wanita yang baik baik. Aku tahu diri, bukankah dari dulu kalian pernah sama sama berjanji untuk mengubah mimpi kalian menjadi kenyataan."


"Terimakasih, Darma. Semoga secepatnya kamu segera mendapat pengganti yang lebih baik lagi."


"Terimakasih, Raska. Semoga kebahagiaan selalu menyertai rumah tangga kamu."


Raska hanya mengangguk dan tersenyum, Darma pun membalasnya.


"Kalau ngobrol terus, kapan akan berangkat."


"Benar juga kata kakek. Kalau begitu, Raska dan Arsy keluar duluan ya, kek ...." pamit Raska dan Arsy mencium punggung tangan milik kakek Gantara bergantian.


"Jangan jauh jauh, kasihan istri kamu." Ucap sang kakek mengingatkan.

__ADS_1


"Tentu saja, kakek tidak perlu khawatir. Raska siap untuk menggendongnya, kek." Jawab Raska sambil menggandeng tangan milik istrinya.


Sedangkan Darma dan kakek Ganta pun segera berangkat ke rumah tuan Nugraha.


Kini, Arsy dan Raska sedang menikmati jalan jalan paginya. Banyak warga sekitar lalu lalang jalan jalan lagi.


"Raska ......" seru seseorang yang tengah memanggilnya.


Raska maupun Arsy segera menoleh ke sumber suara. Dilihatnya sosok yang tidak asing di mata Raska, sedangkan Arsy hanya diam mematung.


"Hei! bagaimana kabar kamu? siapa wanita ini, adik kamu?" sapanya dengan senyum. Sedangkan Arsy masih diam didekat suaminya.


'Siapa wanita ini? mantannya? atau... pacarnya yang ditinggal menikah, mungkin. Cantik! tidak, cantikan aku.' Batin Arsy sambil memuji dirinya sendiri.


"Kabarku baik, Qei! bukankah kamu tinggal di Amerika?"


Arsy yang mendengarkan berusaha untuk tenang, dirinya tidak ingin ikut campur dengan urusan orang lain. Sekalipun itu suaminya sendiri, Arsy berusaha untuk tenang dan tidak bersikap gegabah selagi tidak melebihi batas.


"Maaf Qei, aku tidak bisa menerimamu. Aku sudah terlanjur mencintainya, aku tidak bisa untuk memungkirinya. Meski wanita yang aku cintai telah menjadi istri Darma sekalipun, aku tetap mencintainya. Dan kini, wanita yang aku cintai telah menjadi milikku sepenuhnya. Wanita yang ada disampingku ini lah wanita yang aku cintai sejak dulu, sekarang sudah menjadi istri sahku. Sekarang istriku sedang mengandung calon anakku. Dan ntukmu, maafkan aku jika aku tidak bisa menerimamu. Aku doakan, semoga kamu dapat mendapat penggantinya." Ucap Reska sambil menggenggam tangan milik istrinya.


Qei hanya diam membisu, apa yang diharapkan oleh dirinya kini hanya sebuah angan angan yang tidak akan pernah tercapai. Qei sudah sangat lama jatuh hati terhadap Raska, namun sayangnya cinta yang diharapkan tidak terbalas.


Kecewa, iya! tetapi Qei tidak dapat berbuat apa apa. Dirinya hanya memendam kekesalan pada dirinya sendiri yang telah jatuh cinta yang tidak mengenal rasa malu.

__ADS_1


"Sampai jumpa." Ucap Qei singkat dan pergi meninggalkan Raska dan Arsy begitu saja, bahkan ucapan selamat saja tidak Qei berikan untuk Raska. Mungkin rasa kecewanya yang begitu besar membuat Qei terasa sakit.


Arsy masih melamun, entah kemana pikirannya berada.


"Kenapa kamu melamun, ada yang dipikirkan?" tanya Raska sambil melambaikan tangannya didepan wajah istrinya.


"Aku hanya merasa kasihan dengan wanita tadi, tapi aku merasa senang bahkan bahagia." Jawabnya dengan santai dan percaya diri.


"Kasihan? kamu rela, memberikan suami kamu kepada wanita itu." Ucap Raska sambil menunjuk arah Qei yang semakin jauh.


"Siapa yang rela, aku bukan wanita bo*doh seperti dulu. Aku tidak akan membiarkan suamiku diambil wanita lain, bahkan jika ada yang mengambil suamiku akan aku aku cin*cang habis habisan. Kemudian akan aku jadikan perkedel dan akan aku jajakan makanannya. Nah! masih untung kan, aku."


"Memang siapa yang akan kamu cin*cang, wanita yang merebut suami kamu?" tanya Raska yang masih penasaran dengan ancaman dari istrinya.


"Siapa lagi kalau bukan suamiku."


JEDUAR!! jantung Raska terasa seperti mau copot saat mendengar jawaban dari istrinya.


"Kenapa suami kamu, jahat sekali kamu. Nanti kalau kamu rindu bagaimana? seharusnya yang menjadi perkedel itu, wanita yang merebut suami." Ucap Raska yang masih belum menyadari posisi istrinya kalau itu. Tanpa Raska sadari, bahwa dirinya sedang berakting menjadi sosok Darma. Yang tidak lain adalah sepupunya sendiri, yang pernah menjadi suami Arsy yang kini telah menjadi istrinya sendiri.


"Ooooh!! jadi kamu masih berharap untuk dirindukan sama wanita yang sudah kamu sakiti. Cih! bukan levelku untuk merindukan laki laki yang sudah berhianat.


"Sudahlah, jangan bahas yang begituan. Aku akan tetap mencintai kamu, terus dan terus berada disampingmu sampai kapanpun. Bukankah kamu sudah mendengarnya tadi, betapa aku sangat mencintaimu. Ucapan dari Qei sudah lebih jelas, 'kan? jadi untuk apa kamu gelisah memikirkannya. Apa kamu juga lupa, pesan dari kakek untukku. Bahwa aku akan seperti kakek yang setia kepada pasangannya. Kakek rela sendiri tanpa seorang istri disampingnya sampai sekarang. Padahal kakek bukan orang miskin, kakek dapat dikatakan apapun bisa dibeli. Tetapi kakek tetap pada kesetiannya kepada istrinya untuk selalu setia." Ucap Raska menjelaskan panjang lebar. Arsy yang mendengarnya pun luluh, dan kemudian tersenyum.

__ADS_1


Raska langsung memeluk istrinya dengan erat, keduanya tidak perduli dengan banyaknya orang lalu lalang yang sedang jalan jalan pagi.


Keduanya masih terbawa suasana yang begitu romantis.


__ADS_2