
Setelah membeli belanjaan kebutuhan Arsy, keduanya merasa lapar.
"Sayang, kita tunda dulu jalan jalannya. Aku sudah lapar, bagaimana kalau kita ke tempat Restoran Tirta saja."
"Restoran yang mana?" tanya Arsy yang belum mengerti.
"Restoran Merpati Jaya, kenapa kamu jadi lupa. Bahkan kamu sempat mengobrol bersama istrinya."
"Istrinya? siapa? mungkin aku lupa."
"Waktu acara pernikahan kita, kamu masih lupa?" ucap Raska mengingatkan.
"Oooh! Nona Nessa? bilang dong dari tadi." Jawab Arsy sambil tersenyum malu.
"Hemm ... ke Restorannya jadi atau tidak?"
"Kalau ke Restoran itu sih, aku mau banget. Bahkan harus menginap, aku pasti usahakan." Jawab Arsy tersenyum mengembang, Raska yang memperhatikannya pun terasa bahagia. Wanita yang pernah diharapkannya kini benar benar menjadi miliknya, senyumnya dan suara cerianya tidak dapat dihilangkan begitu saja dari ingatan Raska.
'Kamu memang ditakdirkan untukku, walau kamu harus melewati pernikahan yang menurutmu sangat rumit untuk kamu terima. Seharusnya aku tidak melakukan itu terhadapmu, seharusnya memperjuangkan kamu dari dulu. Bukan menitipkanmu kepada saudaraku, hingga kamu menjadi istrinya.' Gumam Raska sambil fokus dengan setirnya.
"Kenapa kamu melamun, nanti kamu mendadak berhenti. Fokuslah dengan setirmu, apa ada yang sedang kamu pikirkan? katakan saja. Aku ini istrimu, kamu bisa menceritakan keluh kesahmu." Tanya Arsy penasaran, saat melihat sang suami melamun sambil menyetir mobilnya.
Sssttt ... dengan pelan, Raska menurunkan kecepatannya. Kemudian menghentikan mobilnya di pinggir taman kecil, setelah mematikan mesin mobilnya.
Raska menoleh kearah istrinya, ditatapnya wajah Arsy dengan lekat. Keduanya beradu pandang, Arsy dibuatnya kebingungan oleh sikap dari suaminya.
"Kamu kenapa sih, kenapa kamu menjadi aneh seperti ini. Ada yang salah dengan pertanyaanku tadi, maaf. Aku hanya mengingatkan kamu saja, tidak lebih. Aku takut kejadian yang tadi akan terulang kembali, bukankah aku sedang mengandung anak kamu? aku mohon maafkanlah aku." Ucap Arsy merengek meminta maaf sedikit ketakutan saat melihat suaminya tanpa bersuara, tiba tiba menatapnya dengan lekat.
"Siapa yang melamun, justru aku akan memberondong banyak pertanyaan untuk kamu."
"Pertanyaan? apa saja itu, jangan yang aneh aneh."
Raska tersenyum saat melihat ekspresi sang istri yang terlihat sangat menggemaskan, pikirnya.
"Apakah kamu bahagia menjadi istriku?" tanya Raska dengan tatapannya yang serius.
"Kalau aku tidak bahagia, kenapa aku bisa tersenyum denganmu. Meski aku cemberut, bukan berarti aku tidak bahagia. Aku hanya meluapkan kekesalan kecil saja, tidak lebih. Kenapa kamu bertanya seperti itu, atau..." ucapnya terhenti saat sang suami melakukan aksinya. Dengan cepat, Raska menyambar bi*bir ranum milik Arsy dengan lembut.
__ADS_1
Arsy kaget dibuatnya, saat dirinya sedang serius berbicara tiba tiba dirinya seperti mendapat sengatan listrik.
"Jangan mes*um, aku hanya ingin makan buah pir. Perutku sudah tidak tertahan, sudah sangat lapar. Aku tidak ingin keseimbangan menyetirku menjadi oleng." Ucap Raska dengan entengnya, kemudian langsung meraih plastik yang ada beberapa macam buah.
"Sayang, itu buahnya belum dicuci maupun dikupas. Kalau ada bakterinya bagaimana? nanti perut kamu sakit." Ucap Arsy mengingatkan.
"Kata siapa? aku tidak percaya. Apa kamu sudah lupa, orang gil*a saja yang asal makan tanpa dk kupas dan tanpa cuci pun mereka orang sehat sehat saja."
"Tapi itu beda, sayang ...."
"Kata kamu beda, bagiku sama. Sudahlah kamu diam saja, aku sudah sangat lapar." Jawab Raska sambil mengunyah makanan, dan tidak memperdulikan penuturan dari sang istri tercintanya.
"Terserah kamu saja, yang terpenting aku sudah mengingatkan kamu."
"Iya iya, sayang ... aku mengerti maksud dari perhatian kamu. Aku hanya berpikiran positif, itu saja sih. Aku tidak mau sesuatu yang mudah dibuat sulit, aku lebih suka dengan pikiran positifku."
"Iya, maaf. Jika aku sudah membuatmu sedikit kesal."
"Aku tidak merasa dibuat kesal oleh kamu, aku bisa seperti ini karena anak anak asuhku. Kita memang harus menjaga kebersihan untuk kesehatan kita, tapi juga jangan berlebihan."
"Sudahlah, jangan kamu bahas lagi. Ayo, kita ke Restoran. Kamu pasti juga sudah sangat lapar, apalagi sudah ada janin didalam rahim kamu. Kamu harus banyak banyak mengkonsumsi makanan yang sehat, agar pertumbuhannya baik." Ucap Raska, kemudian kembali menyalakan mesin mobilnya.
Didalam perjalanan, Arsy menyandarkan kepalanya pada jendela kaca mobil. Sedangkan Raska kembali fokus pada setir mobilnya. Tidak lama kemudian, keduanya telah sampai di Restoran milik sahabatnya.
Didalam Restoran, Arsy dan Raska sudah memesan makanan. Kemudian setelah pesanannya datang, keduanya menikmati makanannya. Di saat sedang menikmatinya, tiba tiba kedua bola mata Arsy tertuju pada seseorang yang tidak asing dalam ingatannya.
"Kamu sedang memperhatikan siapa? mantan pacar kamu, hem!"
"Tidak, mungkin aku salah lihat." Jawabnya, kemudian kembali menikmati makanannya.
"Oooh! aku kira."
"Maksudnya?"
"Aku tidak ada maksud. Sudahlah, habiskan makanan kamu itu. Setelah ini kita pulang, aku sudah sangat lelah. Aku ingin segera pulang dan istirahat."
"Sama, akupun ingin segera pulang dan beristirahat."
__ADS_1
'Aku tahu, kamu sedang melihat siapa. Tapi .... kenapa sudah kembali, ah! bukan urusanku.' Batin Raska sedikit terkejut saat dirinya pun melihat orang yang sangat dikenalinya.
"Bagaimana? mau menambah lagi, atau..." ucapnya terhenti.
"Pulang, aku ingin istirahat." Ucap Arsy melanjutkan ucapan dari suaminya.
"Baik, sayang. Ayo, kita pulang. Tetapi sebelumnya aku mau ke kasir dulu, aku mau membayarnya."
"Iya, aku tunggu di pintu depan." Jawabnya, Raska pun mengangguk dan langsung pergi ke kasir untuk membayarnya.
Setelah semuanya tidak ada yang tertinggal ataupun yang lainnya, kini keduanya kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanannya untuk pulang.
Selama memakan waktu yang lumayan cukup lama dalam perjalanan pulang, kini Arsy dan Raska telah sampai di di halaman rumahnya.
Raska maupun Arsy melepas sabuk pengamannya, kemudian Raska segera keluar dari mobilnya.
"Sayang, jangan keluar dulu. Biar aku yang membukakan pintu mobilnya, aku akan menggendongmu. Aku tidak ingin terjadi apa apa terhadapmu, aku ingin calon anak kita selalu nyaman. Dan kamu tidak menjadi capek maupun lelah, aku menyayangi kamu dan calon anak kita." Ucap Raska yang menurut sang istri sangat berlebihan.
"Aku tidak apa apa, sayang ... jika aku dilarang bergerak, lantas bagaimana aku akan bergerak. Sedangkan wanita hamil sangat dianjurkan untuk bergerak selagi fisiknya kuat dan tidak bermasalah. Jika aku dilarang bergerak, badan aku akan terasa sakit."
"Untuk berjalan di luar rumah aku tidak mengizinkan kamu, aku akan siap untuk mengendongmu." Ucap Raska yang masih pada pendiriannya yang sangat berlebihan pada umumya.
Tetapi mau bagaimana lagi, sikap Raska sendiri semakin aneh setiap harinya. Arsy sendiri selalu kalah jika untuk beradu argumen. Sedangkan Arsy lebih memilih untuk diam dan nurut, dari pada masalah yang tidak kunjung selesai pikirnya.
"Raska, sudah pulang?" tanya kakek mengagetkan.
"Iya, Kek. Raska dan Arsy ada kejutan untuk kakek, pasti kakek akan senang mendengarnya." Jawab Raska sambil menurunkan istrinya.
"Kejutan? kejutaan apa, cepat katakan. Jangan membuat kakek semakin penasaran. Kakek hukum kamu, nanti."
"Sebentar lagi Raska akan menjadi seorang ayah, kek."
"Apa!! cu! maksud kamu bahwa istri kamu hamil?"
"Iya, kek ... istri Raska hamil.
"Kakek sangat bahagia mendengarnya. Selamat untuk kamu ya, Raska dan Arsy. Kakek sangat bahagia, karena penerus Gantara akan segera hadir. Dijaga baik baik calon anak kamu, Raska. Jangan biarkan istri kamu melakukan aktivitas yang berat, dan dijaga pola makanannya." Ucap sang kakek terlihat sangat bahagia, dan memberi pesan baik untuk Raska dan Arsy.
__ADS_1