Kembalinya Cinta Yang Hilang

Kembalinya Cinta Yang Hilang
Memilih tinggal di kampung


__ADS_3

Hai ... otor lama menyapa ... apa kabarnya nih? semoga baik-baik semuanya ya ... aamiin


Sebelumnya saya minta maaf, jika novel ini dilanjutkan kembali.


Semoga masih ada yang mau tengok ya ...


Yuk, kita lanjutkan kisah Darma dan Vina di Kampung. Tempat dimana dulunya Kakek Gantara mengasingkan diri demi bisa mengetahui seperti apa perkembangan bisnisnya di kota, yang mana telah dipercayakan kepada anak dan menantunya serta cucu kesayangan Kakek.


Karena ada sebuah kecurangan, Kakek Gantara memutuskan untuk tinggal di Kota. Tentunya untuk menemani cucu penerus keluarga Gantara.


Dan kini, Kakek Gantara mempercayai Darma untuk mengurus perkebunan serta pertanian di Kampung. Dengan alasan, agar sosok Darma dapat menghargai waktu serta tetap setia pada pasangannya.


Tetap saja, lahan yang dimiliki oleh Kakek Gantara sangat lah luas. Bahkan, pekerjanya saja tidak tanggung-tanggung lagi.


Masyarakat di sekitarnya sangat terbantu perekonomiannya sejak Kakek Gantara menguasai lahan untuk dijadikan lahan penghasilan warga.


Masih didalam rumah, Darma tengah duduk santai ditemani secangkir kopi panas buatan sang istri.


Tidak hanya itu saja, Vina yang yang tidak mempunyai kesibukan, dirinya memilih untuk menemani Ibu Meli di belakang rumah yang tengah disibukkan dengan kegiatannya.


"Tanah sangat subur ya, Bu. Pohon buah mangganya juga subur dan buahnya sepertinya sangat lebat. Itu, sayurannya juga subur. Biji betah saja tinggal di kampung." Ucap Vina sambil melihat pekarangan rumah di belakang.

__ADS_1


"Ya, Nona. Disini tanahnya masih subur, cocok untuk perkebunan. Oh ya, kalau untuk ternak, tempatnya sangat jauh dari sini. Soalnya kata Tuan Gantara takut menggangu Masyarakat disekitarnya." Jawab Ibu Meli, Vina menganggukkan kepalanya.


"Kakek Gantara rupanya sosok pekerja keras ya, Bu. Saya kira hanya perkebunan saja, itupun tidak seluas yang Ibu katakan. Tidak tahunya, Kakek masih punya kejutan lagi. Jadi penasaran deh, Bu. Pingin banget lihat peternakannya. Kalau boleh tahu, Kakek punya peternakan apa saja ya, Bu? penasaran sayanya."


Puji Vina yang begitu kagum dengan kegigihan Kakek Gantara yang menjadi sosok pekerja keras.


"Ada banyak macam yang di ternak oleh Tuan Gantara, Nona. Seperti ternak ayam potong, ayam kampung, ayam petelur, angsa, bebek, itik, kambing, kerbau, dan sapi." Jawab Ibu Meli sesuai yang diketahuinya.


"Wah ... seperti surganya dunia ya Bu, semuanya ada dan tinggal ambil. Saya benar-benar takjub sekaligus bangga dengan Kakek. Jadi pingin seperti Kakek yang bisa menjadikan sosok pekerja keras, serta menjadi manfaat untuk Masyarakat disekitar dan masyarakat yang membutuhkan pekerjaan." Ucap Vina sambil membayangkan jika dirinya bisa sesukses Kakek Gantara.


"Ibu sangat yakin dengan Nona, pasti akan sukses seperti Tuan Gantara. Apalagi Tuan Darma juga sepertinya pekerja keras, Nona bisa mengimbanginya dan menjadi sukses seperti yang diharapkan." Kata Ibu Meli yang tidak lupa untuk memberi semangat pada Vina.


Tanpa disadari oleh Vina, rupanya sang suami sudah berdiri dari belakang yang tiba-tiba langsung memeluk istrinya dengan erat.


"Kamu sedang membicarakan apa, sayang? kamu tidak sedang membicarakan aku, 'kan?" tanya sang suami dengan sikapnya yang membuat Vina merasa malu ketika suaminya memeluknya dengan agresif.


"Sayang, malu dong sama Ibu Meli." Bisik Vina di dekat telinga suaminya.


Ibu Meli yang tidak ingin mengganggu kemesraan majikannya, Beliau pergi meninggalkan tempat tersebut dan memilih kembali masuk ke rumah untuk menyiangi rumput yang ada didekat tanaman bunga.


Vina yang tidak mendapati Ibu Meli yang sedang menyiangi rumput, Vina langsung memutar balikkan badannya dan menatap wajah sang suami.

__ADS_1


"Kan, Ibu Meli pergi. Ini pasti karena ulah kamu ini. Aku kan, jadi malu." Kata Vina merasa malu dan tidak enak hati ketika suaminya mengajak untuk bermesraan.


"Kamu tenang saja, Ibu Meli dapat memahami kita kok. Sini, aku peluk kamu lagi. Kamu tahu, aku itu pingin bermanja-manja denganmu. Anggap saja, kedatangan kita ke kampung ini untuk berbulan madu. Ingat, kamu harus melayani ku dengan baik. Aku tidak ingin ada muka yang ditekuk, bisa-bisa aku jadi gila." Jawab Darma.


Setelah itu, Darma mendaratkan ciumannya tepat pada kening milik istrinya begitu lembut.


"Ah ya, hampir saja aku lupa." Ucap Vina yang tiba-tiba teringat dengan sesuatu yang baru saja dibicarakan dengan Ibu Melu.


Darma menatapnya pun, menyimpan rasa penasarannya.


"Lupa kenapa, sayang?" tanya Darma karena penasaran. Tentunya, ingin segera mengetahuinya.


"Kata Ibu Meli, Kakek Gantara ada banyak hewan ternaknya ya? aku pingin mengunjungi ke lokasi, sayang."


"Lokasinya cukup jauh, sayang. Besok aja, atau tidak kapan-kapan lain waktu saja, bagaimana? karena aku harus mengecek dan mendatangi tempat-tempat yang ditanami sayuran maupun yang lainnya."


"Ya sayang, tidak apa-apa. Diwaktu lain juga bisa, lagian kita masih lama tinggal di kampung ini kan, sayang?"


"Ya, sepertinya kita akan menetap di kampung selama Kakek tidak memintaku untuk pulang ke kota."


"Tidak apa-apa, justru di kampung sepertinya lebih nyaman dan tidak pusing memikirkan kebutuhan sehari-hari dan tidak pusing juga memikirkan fashion." Kata Vina yang lebih nyaman tinggal di kampung ketimbang harus hidup di kota yang terasa penat dan juga panas."

__ADS_1


__ADS_2