
Setelah keduanya berpelukan, Raska mengajak sang istri untuk segera pulang. Raska sendiri sudah berjanji akan menemani istrinya mendatangi Asrama miliknya.
"Sayang, ayo kita pulang. Katanya kamu ingin pergi ke Asrama, dan kamu bilang ingin bertemu Hanum."
"Oh iya, aku lupa. Tapi sebelum kita pulang, aku ingin sarapan pagi dengan bubur ayam. Kamu mau kan, temani aku untuk membeli bubur ayam." Pinta Arsy yang tiba biba menginginkan sesuatu.
"Baiklah, sayang. Apa kamu masih sanggup untuk berjalan, pedagang bubur ayamnya di perempatan jalan sebelah sana." Ucap Raska sambil menunjuk arah yang dimana ada banyak orang jualan berbagai macam makanan untuk sarapan pagi.
"Tenang saja, masih ada kamu yang sanggup untuk menggendong aku." Jawab Arsy dengan senyumnya yang mengembang.
Raska yang mendengarnya pun hanya mengembungkan kedua pipinya membesar.
'Aku tahu, aku bisa menggendongmu. Tetapi jika aku mulainya dari abang penjual bubur ayam sampai rumah, alamaaaak!' Gumam Raska sambil menggaruk garuk tengkuk lehernya yang tidak gatal.
"Sayang, ayo! aku sudah lapar. Gendong aku, ya!" pinta Arsy yang membuyarkan lamunan Raska.
"Apa! gendong?"
"Katanya siap menggendongku, apa kamu tidak kasihan denganku dan calon anak kamu? hem!" ucap Arsy sambil memasang muka masamnya dan mengerucutkan bibirnya.
Raska pun baru menyadari, jika istrinya tengah hamil dan mengandung calon anaknya.
"Maaf, sayang .... aku lupa. Baiklah, ayo aku gendong kamu." Jawab Raska yang langsung menggendong sang istri sampai di tempat penjual bubur ayam.
'Ini belum baliknya, seperti apa rasanya menggendong sampai rumah. Aah! kenapa aku jadi bo*doh begini, bukankah aku bisa menelfon supir rumah.' Batinnya mencari ide, agar tidak kesusahan pada waktu pulang.
Setelah sampai di tempat orang orang jualan berbagai macam makanan, Raska segera menurunkan istrinya dengan pelan. Semua orang merasa iri melihat kemesraan Raska dan Arsy.
"Eeeh nak Raska, sudah lama tidak kemari. Sibuk dengan pengantin barunya, ya?" sapa ibu paruh baya yang sudah mengenali Raska sambil meledek.
__ADS_1
Meski Raska banyak diketahui oleh orang orang bahwa dirinya orang yang sukses, tetapi tidak membuat orang orang yang mengenalnya merasa segan atau yang lainnya. Raska tetap menunjukkan keramahannya terhadap warga sekitar.
"Tidak juga, bu Neni. Saya hanya sedang sibuk dalam pekerjaan, hingga saya sampai tidak menyempatkan untuk membeli sarapan pagi di sini."
"Istri nak Raska sangat cantik, siapa nama kamu Nona?" sapa ibu Neni.
"Saya Arsy, Bu. Salam kenalnya, jika berkenan silahkan mampir." Jawab Arsy seramah mungkin.
'Bod*ohnya aku ini, kenapa aku menawarinya untuk mampir. Kalau pemilik rumah tidak mengizinkannya, bagaimana? mampu*s aku.' Batinnya sambil garuk garuk pada lengannya.
"Terimaksih, Nona. Lain waktu jika ada waktu, ibu akan mampir." Jawabnya dengan senyum mengembang.
'Wah... ada kesempatan ini, kapan lagi aku bisa main ke rumah orang kaya melintir. Ada tuan Gantara lagi, cucok deh!' batinnya penuh harap akan mendapatkan cinta dari kakek Gantara.
Meski sudah kakek kakek, tetapi sosok kakek Gantara masih terlihat muda. Kegantengannya masih terpancar, banyak ibu ibu kompleks yang menginginkan untuk menjadi bagian dari keluarga Gantara. Namun sayangnya, kakek Gantara tidak pernah mau membuka hatinya untuk wanita mana pun. Kesetiaan kakek Gantara sangat besar rasa cintanya untuk mendiang istrinya.
"Iya bu, jika ada waktu senggang saya akan main tempat ibu Neni." Jawab Arsy dengan ramah.
Sedangkan Raska kini sedang memesan bubur ayam yang diinginkan istrinya.
'Wanita kalau sudah bertemu dengan kaumnya, hemmm tidak bisa ditebak.' Batin Raska sambil menunggu bubur ayamnya.
"Nak Raska, ini bubur ayamnya sudah selesai saya bungkus." Ucap penjual bubur ayam sambil menyerahkan pesenan Raska.
"Terimakasih bang, berapa semuanya." Jawab Raska dan bertanya harga sambil merogoh kantong celananya mengambil uang untuk membayarnya.
"Tiga puluh ribu, Nak." Jawab si penjual bubur ayam.
"Ini, Bang. Kembaliannya untuk abang saja, jangan menolak rizki yang ada ditangan abang Soni." Ucap Raska sambil membayar dan memberi sebagian uangnya untuk abang Soni.
__ADS_1
"Nak Raska, terimakasih banyak atas rizki yang diberikan ke kami. Semoga nak Raska selalu diberi kesehatan dan limpahkan rizkinya dan segera mendapat momongan." Jawab abang Soni yang merasa tidak enak hati, karena Rasa selalu memberi sebagian rizkinya kepadanya. Tidak hanya itu, Raska pun selalu bersikap adil dengan yang lainnya. Tidak hanya bang Soni yang mendapat rizki, tetapi semua pedagang disekelilingnya pun ikut kebagian.
"Sebentar lagi sopir saya akan datang kemari. Seperti biasa, bang Soni bantu saya untuk berbagi dengan teman teman bang Soni yang lainnya."
"Baik, nak Raska." Jawabnya sambil membungkukan punggungnya.
Setelah apa yang diinginkan istrinya terpenuhi, Raska mengajaknya untuk segera pulang. Namun, tiba tiba Raska baru menyadarinya. Jika dirinya sudah mengirimkan pesan untuk menjemputnya dan membawa beberapa uang yang dimintainya.
"Sayang, kenapa kita hanya berdiam diri mematung. Kamu sedang menunggu siapa? aku sudah tidak tahan, aku ingin segera menikmati bubur ayamnya." Tanya Arsy yang sudah tidak sabar ingin segera sampai dirumah, karena perutnya benar benar sudah keroncongan.
"Aku sedang menunggu pak Rona, ada sesuatu yang sedang aku tunggu. Sekalian, kita pulangnya bersama pak Rona. Kamu yang sabar ya, sayang.Tidak lama kok, rumah kita kan tidak jauh dari tempat ini." Jawab Raska berusaha meyakinkan istrinya, sebenarnya tidak hanya Arsy yang sudah sangat lapar. Raska pun sudah tidak tahan menahan lapar, perutnya juga sudah terasa perih.
"Sayang, perutku sudah keroncongan." Rengek Arsy sambil memegangi perutnya.
"Tidak cuman kamu, punyaku saja tidak hanya keroncongan. Sekarang perutku sudah berubah dangdutan, campur sarian, dan kuda lumpingan. Kamu mengerti?" jawab Raska sambil melirik kearah istrinya yang sudah memasang muka masamnya.
"Aku tidak mengerti, aku hanya lapar." Ucap Arsy sambil dan berakhir memanyunkan bibirnya.
Tidak lama kemudian, yang dinanti nantikan Raska telah datang dengan tepat waktu. Pak Rona langsung segera turun dari mobil, pak Rona sangat takut jika terlambat. Sedikit saja terlambat, Raska tidak segan segan memberikan ancaman. Meski ancaman itu hanya sebuah gertakan, tetap saja akan membuat orang orang yang berurusan dengan Raska tetap memiliki rasa takut.
"Maaf, Tuan. Jika kedatangan saya ini terlambat, dan ini pesanan yang Tuan minta." Ucap pak Rona sambil menyerahkan amplop tebal sesuai permintaannya. Arsy yang melihatnya pun penuh dengan keheranan.
"Sekarang bapak Rona masuklah ke dalam mobil, sebentar lagi saya akan segera menyusulnya." Perintah Raska pada sopir pribadinya.
"Sayang, aku ikut masuk kedalam mobil, ya?"
"Tidak! tunggu aku sebentar." Jawab Raska datar, sedangkan Arsy hanya berdecak kesal mendengarkannya.
'Cemburumu itu ..... mengundang lapar!' batin Arsy sambil memasang muka masamnya.
__ADS_1