
Setelah Vina turun dari mobil, semua yang melihatnya terheran heran. Begitu juga dengan Hendi, dirinya pun heran dengan Vina yang satu mobil dengan Bosnya.
"Vin, kamu dijemput pak Darma? eh! tunggu, kamu pakai baju siapa? kok sepertinya baju laki." tanya Hendi curiga.
"Tidak, kebetulan tadi pak Darma lewat saat aku sedang menunggu angkutan umum. Soal baju, ini bajunya Diki. Bajuku kotor semua, jadi terpaksa aku pakai. Memangnya kenapa, Hen? pak Darma sudah punya istri, ya?" jawab Vina dan balik bertanya.
"Aku tidak tahu, Vin. Coba kamu tanya saja sama yang lainnya, mungkin ada yang tahu. Aku kan juga pindahan, jadi tidak tahu. Kamu kenapa tanya seperti itu, kamu suka sama pak Darma? hati hati dia Bos. Kamu jangan berharap lebih, jika kamu ingin berharap denganku saja." Jawabnya meledek.
'Tidak hanya punya istri, tapi sudah pernah menikah dua kali. Semoga saja kamu tidak dijadikan incarannya, aku harus sering mengawasi kamu.' Batin Hendi yang mulai sedikit cemburu.
"Aku hanya tanya saja, soalnya pak Darma judes banget. Galak lagi, apa lagi kalau sedang marah. Hiiiiiii!! menyebalkan." Ucap Vina bergidik ngeri saat dirinya teringat kejadian bersama sang suami.
"Makanya, kamu harus hati hati dengan pak Darma." Hendi terus mengompori, berharap Vina sama sekali tidak tertarik dengan sosok Darma.
"Hai, sayang ..." ayo kita masuk. Ngapain kamu ngobrol dengannya, nanti kamu ikut ikutan tidak jelas lagi. Seperti penampilannya yang menyerupai laki laki, penuh tanda tanya." Ucapnya mengejek sambil menggandeng tangan si Hendi.
"Eh! sok cantik dan sok seksi. Memangnya kamu pikir aku ini les*b, hah! jaga tuh mulut kamu. Da*sar! Nyi rombeng, cih!" Jawab Vina yang menunjukkan keasliannya, yang pemberani dan tidak suka di tindas. Meski terkadang dirinya luluh dan hanya bisa nurut.
"Sudah sudah sudah ... ayo kita masuk kedalam." Ajak Hendi sambil menarik paksa tangan milik calon istrinya, yang tidak lain adalah Klara. Wanita yang tengah dijodohkan dengan Hendi oleh orang tua masing masing.
Meski Hendi sudah menolaknya bekali kali, tetap saja Klara terus mengikuti kemana dirinya berpijak. Meski sudah berkali kali Hendi menjelaskannya dengan
__ADS_1
"Awas! kamu." Ucapnya dengan kesal. Sedangkan Vina hanya memamyunkan bibirnya dengan perasaan kesal.
Vina terus menyusuri jalan, tiba tiba ada sosok wanita yang terlihat sedang patah hati.
"Heh! aku kasih tahu kamu, ya. Jangan berani beraninya menggoda pak Darma, awas kalau sampai kamu menggodanya. Ini aku terakhir melihatmu naik mobil pak Darma." Ucapnya mengancam, Vina hanya tersenyum getir mendengarnya.
"Memang, pak Darma siapanya mbak?" tanyanya dengan berani, meski sedikit menciut karena penampilan wanita yang ada didepannya jauh lebih seksi dan juga sangat cantik. Sayangnya mulutnya pedas, pikir Vina.
"Aku yang akan menjadi istrinya pak Darma, dan kamu jangan berharap bisa menjadi istrinya. Kamu tahu? penampilan kamu itu, sungguh menyiksa pandangan pak Darma. Seharusnya yang menjadi sekretarisnya itu aku, bukan kamu." Ucapnya dengan percaya dirinya.
'Cih! percaya diri banget nih orang, heh! lihat. Buka mata kamu itu, aku nih istri sahnya pak Darma.' Batinnya semakin kesal.
"Vina ....!!!" teriak Darma dengan kencang, semua orang pun menoleh kearah siapa yang dipanggil. Siapa lagi kalau bukan Vina yang menjadi pusat perhatian para karyawan yang lainnya.
"Iya pak, maaf." Jawabnya sambil menunduk.
"Kamu mau kerja jadi sekretaris, atau ... mau aku jadikan ibu rumah tangga. Kamu tinggal pilih, dan aku akan mencari sekretaris baru yang lebih bening dari kamu." Ancamnya dengan berbagai ancaman, Vina yang mendengar ucapan sekretaris baru yang bening tiba tiba dirinya teringat dengan wanita yang baru saja mengejeknya dan juga mengancamnya.
"Iya, pak! iya. Aku mau jadi sekretaris pak Darma, karena aku sangat ingin menjadi sekretaris." Jawabnya beralasan dan berusaha untuk meyakinkan suaminya, meski sebenarnya malas untuk menjadi sekretarisnya.
"Ayo ikut aku, hari ini kamu sudah mulai bekerja. Aku melarangmu untuk berinteraksi dengan karyawan laki laki, aku akan menghukummu."
__ADS_1
"Tapi ...." ucapnya terhenti.
"Tidak ada tapi tapian, sekali tidak! ya tidak. Apakah ucapanku ini masih kurang jelas?" ucap Darma, kemudian segera kembali ke ruangan kerjanya. Begitu juga dengan Vina, dirinya mengikuti langkah suaminya sampai diruangan kerjanya.
'Dia ini suamiku atau Bosku lah! bikin tensiku naik terus.' Batinnya berdecak kesal sambil mengejar langkah kaki suaminya yang begitu cepat.
Sesampainya didalam ruangan, Vina duduk ditempat duduknya.
"Ini, kamu ada tugas teliti kembali semuanya. Jika kamu masih kurang kerjaan, pijat aku." Ucapnya sambil memberi tugas untuk Istrinya.
'Dia bilang apa tadi, pijat? yang benar saja. Dia minta dipijat, dan akulah yang harus memijatnya. Yang benar saja itu, pak Darma. Mana ini kerjaan numpuk, lagi.' Batinnya sambil menggembungkan kedua pipinya, Darma yang sekilas melirik kearah istrinya hanya tersenyum tipis.
Sedangkan Darma sibuk dengan laptopnya, entah ada angin apa hingga membuatnya teringat masa lalunya lagi. Sesekali Darma membuka laci meja kerjanya, Darma mengambil foto yang telah lama tersimpan. Foto apa lagi, kalau bukan foto pernikahannya dengan istri pertamanya.
Darma kembali memandangi beberapa foto saat pernikahannya yang terekspos di media. Banyak chanel televisi yang memberitakan akan pernikahannya dengan Arsy. Sedangkan kini hanya tinggal sebuah kenangan yang sangat pahit untuk dilaluinya. Ditambah lagi, mantan istrinya kini tengah hamil dengan sepupunya sendiri. Ingin memberontak, namun semua sudah terlanjur. Semua masalah berasal dari dirinya sendiri, yang lebih memilih saran dari kedua orang tuanya dari pada mencari kebenarannya atau mencari solusi.
Darma benar benar sangat menyesalinya, sedangkan dirinya kini mendapati seorang istri karena ulah orang tuanya. Membuat Darma semakin kesal dan ingin segera menyudahinya.
Vina yang sedang sibuk dengan pekerjaannya, dirinya menyempatkan untuk melihat suaminya yang tengah melamun. Vina pun bertanya tanya didalam hatinya, karena baru pertama kalinya melihat sang suami terlihat sedang bersedih dan terlihat penuh penyesalan.
'Pak Darma kenapa, ya? tumben banyak diam dan juga banyak melamun. Tapi ... kok terlihat sedih, ya? apa sedang ada masalah? kasihan sekali. Apa karena pernikahan dadakan dan membuatnya menyimpan kekesalan.' Batinnya sambil melihat suaminya yang terlihat sedang gundah gulana.
__ADS_1
"Heh! ngapain kamu lihat lihat, selesaikan dulu itu pekerjaan kamu." Ucap Darma mengagetkan istrinya.
"Ah! iya, maaf Pak. Aku sedikit lapar, karena aku tidak terbiasa sarapan pagi dengan roti dan susu. Perutku terasa eneg, pinginnya sarapan dengan nasi uduk atau nasi goreng ditaruh telor ceplok. Wih .... sangat menggoda, pak ..." Jawabnya penuh alasan.