Kembalinya Cinta Yang Hilang

Kembalinya Cinta Yang Hilang
Bersabar


__ADS_3

Anak buah Raska pun segera menemui Arsy didalam. Dengan tubuhnya yang berotot dan juga badan tinggi membuat Arsy ketakutan, ditambah lagi penampilannya yang serba hitam.


Arsy menatap lekat sosok laki laki yang ada didepannya, jantungnya pun berdegup sangat hebat. Berkali kali Arsy berusaha mengatur pernafasannya agar tidak dicurigai.


"Maaf Nona, apakah sudah siap untuk berangkat?" tanyanya sambil berdiri tegap didepan Arsy.


Ya tuhan.. aku mau dijual kemana? kenapa laki laki ini terlihat lebih seram dari pemilik tempat ini. Apa jadinya jika aku dijual, apakah orang ini yang akan membeliku? ya Tuhan.. tolong aku.. kemana aku harus melarikan diri, aku benar benar sangat takut. Gumamnya dalam hati sambil mengontrol detak jantung dan juga pernapasannya. Arsy berusaha menepis pikiran buruknya, namun tetap saja Arsy merasa ketakutan.


"Nona... apakah Nona sudah siap untuk berangkat?" tanyanya lagi mencoba untuk membuyarkan lamunannya.


"Maaf, saya melamun. Saya sudah siap, kalau boleh tahu saya mau dibawa kemana, ya?" jawab Arsy dan bertanya penuh selidik.


"Nona muda akan mengetahuinya sendiri nanti. Mari ikut saya, Nona... Tuan muda sudah menunggu Nona." Jawabnya.


Dengan perasaan gugup, cemas, dan takut pastinya. Arsy berusaha untuk tenang, agar keemasannya tidak diketahui oleh laki laki yang terlihat menakutkan.


Dan tibalah Arsy didepan mobil yang akan ditumpanginya, detak jantung Arsy semakin tidak karuan. Perasaannya pun bercampur aduk menjadi satu, hingga dirinya bingung untuk mengatasi emosinya sendiri.


"Nona, masuklah." Perintahnya sambil membukakan pintu mobil. Arsy sendiri enggan untuk memeriksa siapa yang ada didalam. Tanpa pikir panjang, Arsy segera mencari ide sebelum masuk kedalam mobil agar bisa melabuhi Raska dan anak buahnya.


Aku kabur aja apa, ya.. aku benar benar tidak ingin dijual. Aku masih memiliki masa depan dan juga cita cita. Aku harus menyelamatkan nyawaku dan kehormatanku. Aku tidak ingin hidupku berakhir sia sia, kabur jauh lebih baik daripada bertahan semua rasaku bisa mati mendadak. Cukup aku mati rasa dengan mas Darma. Dan aku tidak ingin mati rasa dengan diriku sendiri. Gumamnya dalam hati sambil mencari akal agar dirinya bisa menyelamatkannya, pikir Arsy dalam keadaan yang masih terguncang akan keadaannya sendiri.


"Minggir.......!!! teriak Arsy yang kemudian berlari sekuat mungkin agar bisa meloloskan diri dari kejaran Raska dan anak buahnya. Raska yang melihat Arsy berlari sangat kencang, membuatnya langsung mengejarnya.


Das*ar bodoh. Pakai kabur segala lagi, dia pikir aku ngapain dia? menjualnya? das*ar aneh. Gumamnya sambil mengejar Arsy.

__ADS_1


Dengan tenaganya Raska yang begitu kuat membuat Arsy kualahan untuk terus berlari. Dengan sigap, Raska segera menarik tangan Arsy sekuat mungkin hingga keduanya saling berdekatan.


"Mau kemana kamu, kabur? hukumanmu kini bertambah. Jadi... jangan berani beraninya kamu kabur seenaknya." Ucap Raska sambil mengancam. Sedangkan Arsy masih menahan rasa sakitnya di pergelangan tangannya yang di mana Raska memegangnya dengan sangat kuat.


"Lepaskan, sakit..." ucap Arsy sambil menahan rasa sakit, sedangkan Raska sendiri tidak menyadarinya sudah membuat Arsy merasa kesakitan di pergelangan tangannya.


"Lepasin...." ucapnya lagi berulang ulang, dan tidak lama kemudian Raska baru menyadarinya akan erangan Arsy yang merasakan sakit. Raska pun langsung melepaskannya. Kemudian setelah itu Raska menarik pelan tangan Arsy menuju ke mobil.


"Cepetan masuk, dan jangan sampai kamu menggunakan dramamu." Perintah Raska sambil membuka pintu mobil. Sedangkan Arsy sama sekali tidak meresponnya dan langsung masuk ke mobil. Arsy hanya bisa nurut dengan apa yang sudah diperintahkan oleh Raska.


Setelah merasa sudah cukup lega, Raska pun segera masuk kedalam mobil dan duduk berdekatan dengan Arsy..


Keduanya pun terlihat sangat serasi dan cocok. Namun sayangnya diantara keduanya susah untuk berdamai.


Didalam perjalanan, Arsy masih bingung memikirkan sesuatu yang buruk akan menimpanya. Karena rasa penasarannya, Arsy tidak berpikir panjang untuk menanyakan beberapa pertanyaan yang membuatnya mengganjal. Sedangkan Raska tetap fokus pandangannya ke depan, karena dirinya tidak ingin membuang waktu yang tidak penting baginya.


"Apakah ucapan kakek kurang jelas?" jawabnya santai sambil menatap lurus pandangannya.


"Terus yang dimaksud tuan muda itu, siapa? kenapa ketiga pelayan tadi yang disebut nama tuan muda terus. Siapa tahu saja aku akan dijual sama orang yang kejam." Ucap Arsy berusaha mengelak.


"Sekalipun kamu dijadikan sayembara, aku akan membelimu." Jawab Raska yang langsung memejamkan kedua matanya, karena dirinya tidak ingin merespon ucapan dari Arsy.


Karena merasa dicuekin, Arsy sendiri segera bersandar di jendela kaca mobil sambil memejamkan kedua matanya.


Sedangkan dilain tempat. Darma dan istrinya maupun kedua orang tuanya sedang bersiap siap untuk berangkat kerumah kakek Gantara.

__ADS_1


Mereka berfikir akan ada pembagian warisan, Ayah Darma sendiri benar benar sudah tidak sabar untuk mendapatkan warisan dari kakek Gantara.


Darma yang masih berada didalam kamar sendirian, tiba tiba dirinya teringat akan janjinya kepada sang istri. Namun kenyatannya hanya rasa sakit yang ada dibenaknya.


"Mas, ayo kita berangkat. Katanya mau ke rumah kakek." Ajak Zelyn yang tiba tiba mengagetkan Darma yang masih memikirkan masa lalunya yang begitu rumit.


"Tunggu saja di bawah, nanti aku akan segera turun." Jawab Darma dengan yakin.


"Sudahlah, cepetan segera bangun dan bersiap siap berangkat ke rumah kakek." Ucap Zelyn berusaha segera mengajak suaminya untuk segera beranjak keluar.


"Sudah aku bilang, tunggu saja dibawah. Secepatnya aku akan segera turun." Jawab Darma yang kemudian segera bersiap siap.


Didepan cermin, Darma memandanginya dengan lekat. Dirinya menyesali akan perbuatannya yang sudah menyakiti perasaan orang lain.


Sayang... aku benar benar merindukanmu, aku ingin bertemu denganmu dan juga ingin memelukmu erat. Sayang... aku ingin kita kembali lagi. Hidupku hampa tanpa ada bayanganmu disisiku. Taukah kamu, bahwa aku sangat merindukanmu. Aku berharap, semoga kita bisa bertemu lagi. Batin Darma yang masih memandangi wajahnya didepan cermin.


Meski menyesal, Darma berusaha untuk tenang. Agar dirinya tidak terkecoh oleh rencana kedua orang tuanya.


Tidak lama kemudian, Darma segera menuruni anak tangga. Perasaanku benar benar tidak enak.


Darma yang sedang menuruni anak tangga, tiba tiba dirinya teringat akan kebersamaan di rumahnya bersama mantan sang istri.


"Darma, cepetan turun. Kita sudah tidak memiliki waktu yang cukup lama, karena kedatangan kamu itu benar benar sudah ditunggu sama kakek." Ucapnya sedikit malas.


"Memangnya ada acara apa sih, dirumah sang kakek? sampai sampai terlihat heboh begitu.

__ADS_1


"Acara lamaran Raska, dan juga pembagian warisan. Ayah berharap kamu segera memiliki keturunan anak laki laki." Jawabnya


__ADS_2