
Sedangkan Arsy sedikit merasa bersalah, karena dirinya tidak menyambut sang suami waktu pulang dari kantornya.
"Maafkan aku ya, sayang... aku begitu fokus di dapur ini. Sampai sampai aku tidak mendengar suara kamu waktu pulang." Ucap Arsy merasa bersalah.
"Tidak apa apa, sayang.. aku pun tidak marah. Ayo kita ke ruang makan, sepertinya masakan kamu sangat menggugah selera." Jawab Darma memuji.
"Aaah, bukan aku yang sepenuhnya memasak. Tadi Zelyn juga ikut memasak, tidak apa apa, kan?" ucap Arsy bertanya.
"Tidak masalah, sudahlah jangan mikirin yang tidak tidak. Sekarang lepas celemek kamu, dan kita ke ruang makan. Sepertinya Ibu dan Ayah sudah menunggu kita." Jawab Darma, lalu langsung menggandeng tangan istrinya.
Sampai di ruang makan, semua menatap Arsy dengan memasang wajah ketidaksukaan saat melihat kemesraan Arsy dengan suaminya. Sedangkan Arsy tidak memperdulikannya, Arsy berusaha menepis pikiran buruknya.
Darma segera menarik kursi yang dimana Arsy akan duduk, kemudian keduanya duduk berdampingan. Arsy dengan telaten mengambilkan porsi makan untuk suami tercintanya, Zelyn yang melihatnya memasang wajah kesal. Entah kenapa Zelyn merasa mendapatkan api cemburu, tatkala Arsy begitu perhatian dengan suaminya.
Setelah mengambilkan porsi makan untuk suaminya, Arsy pun mengambil untuk dirinya sendiri. Dan kini semuanya menikmati makan malam bersama, tidak ada satu pun yang membuka suara. Semua hening, hanya suara sendok yang saling beradu sambil menyapu piring.
"Tara..... aku pulang..." seru seorang gadis cantik yang tiba tiba menghampiri di ruang makan.
"Yona..." seru Zelyn yang langsung berdiri dan melangkahkan kakinya untuk memeluk sahabatnya. Dan keduanya kini tengah berpelukan.
"Wah... tambah cantik saja kamu Zelyn." Puji Yona.
"Tidak lah, disini ada yang lebih cantik lagi. Siapa lagi kalau bukan Istri mas Darma. Iya, kan?" ucap Zelyn sambil melirik dan tersenyum sinis kearah Arsy. Sedangkan Arsy yang tengah dilirik Zelyn segera membuang muka.
__ADS_1
Kini Zelyn dan Yona tengah duduk berdekatan, kemudian Yona segera mengambil porsi makan malamnya dan menikmatinya bersama yang lainnya.
Tidak ada suara apapun selain dentingan sendok saling beradu saat menyapu bersih dipiringnya masing masing.
"Sayang, dihabiskan makannya. Setelah ini, aku akan memberikan kejutan untukmu." Ucap Darma sambil berbisik di dekat telinga istrinya. Sedangkan Arsy sudah mulai bisa tersenyum, tatkala sang suami mencoba menenangkan. Arsy segera menyapu bersih makanannya yang berada dipiringnya.
Setelah selesai makan malam bersama keluarga, Darma mengajak Arsy untuk masuk kedalam kamar. Dengan langkanya yang pelan, keduanya menapaki anak tangga menuju kamarnya.
Ceklek, Darma membuka pintu kamarnya. Kemudian Arsy segera menutup pintunya. Dengan perasaannya yang berkecamuk, Arsy segera meletakkan tas kerja suaminya diatas meja. Kemudian dirinya duduk di depan cermin, dilihatnya wajah cantiknya kini seakan telah pudar karena penyakitnya. Arsy terus memandangi wajah cantiknya, seakan nasib buruk akan menimpanya.
Arsy merasa dirinya benar benar sangat rapuh, meski suaminya masih menyayanginya. Namun, nasib bisa berubah. Mungkin saja masih bisa untuk menerima, tetapi setiap bergantinya tahun Arsy benar benar tidak dapat membayangkannya. Jika pikiran buruknya telah terjadi, dan hanya kemalangan yang akan diterimanya. Pikir Arsy yang sibuk dengan cerminnya.
Darma yang melihat istrinya sedang bercermin, dan juga terlihat tengah menitikan air matanya. Darma segera mendekati istrinya, dan juga memeluk hangat istrinya. Agar perasaan gundahnya terlupakan, dan tidak lagi berpikiran yang macam macam.
"Mas Darma, lepaskan. Aku susah untuk bernafas." Ucap Arsy sambil melepaskan pelukan dari suaminya yang membuatnya susah untuk bernafas, karena Darma memeluknya begitu erat tangannya melingkarkan dipinggang istrinya.
"Benarkah... mana buktinya. Bisakah kamu membuktikannya untukku?" tanya Arsy penuh rasa penasaran. Keduanya pun sudah mulai terbawa suasana merinding. Darma meletakkan kedua tangannya di atas pundak istrinya, dengan mendorongnya pelan hingga mentok di tempat tidur. Arsy kikuk dibuatnya, sikap Darma yang semakin menggebu dan terlihat buas. Seakan yang ada dihadannya ingin segera dilahapnya.
Darma pun tanpa pikir panjang mendekatkan tubuhnya ke tubuh istrinya. Keduanya pun terjatuh diatas tempat tidur, kini tubuh Arsy tertindih oleh suaminya. Darma segera memulai aksinya tanpa mengingat sesuatu.
Saat kedua bibir mereka hampir menempel, tiba tiba Darma teringat akan pesan dari sang Dokter.
"Tidak..." ucap Darma langsung berdiri.
__ADS_1
Prak..... lagi lagi Darma memukul cermin hingga tangannya mengeluarkan darah segar.
"Mas Darma...!" seru Arsy kaget saat suaminya tengah memukul cermin dan mengeluarkan darah segar. Arsy pun menangis, sesak didadanya. Seketika itu juga Arsy menjatuhkan tubuhnya dan tertunduk kebawah. Arsy tidak bisa berbuat apa apa untuk suaminya, pukulan suaminya dihempaskan ke cermin bagaikan cambuk yang begitu dasyat mengenai ulu hati Arsy.
Darma yang belum menyadari jika istrinya tertunduk lemas dan menangis. Darma masih menatapi wajahnya yang penuh kekesalan akan takdirnya. Darma masih mengutuki dirinya sendiri, bahkan istrinya yang menangis tersedu sedu pun telah diabaikannya. Darma masih berusaha menenangkan emosinya.
Bagaimana tidak geram, hasrat yang sudah memuncak tiba tiba harus terhenti begitu saja. Emosinya pun tidak terkontrol, membuat menyiksa dirinya sendiri hingga mencari pelampiasan untuk membuang kekesalannya.
Arsy masih meringkuk di samping tempat tidur, dirinya tidak kuasa untuk menopang tubuhnya. Arsy hanya menangis sesunggukkan sambil menyandarkan tubuhnya ditempat tidur.
Tidak berselang lama, Emosi Darma sudah sedikit berkurang. Disaat itu juga, Darma teringat akan istrinya. Dan dilihat istrinya
yang sedang meringkuk di samping tempat tidur, Darma segera mengangkat istrinya ke tempat tidur dan menyandarka tubuh istrinya dengan bantal. Tanpa pikir panjang, Darma langsung memeluk istrinya untuk meminta maaf atas kesalahannya.
"Maafkan aku, sayang... gara gara perbuatanku kamu harus bersedih." Ucap Darma yang masih memeluk istrinya.
"Aku yang seharusnya meminta maaf, karena akulah penyebabnya. Karena penyakitku, kamu harus menerima kenyataan pahit ini. Sungguh, jika aku mengetahuinya dari awal, mungkin aku akan mundur. Dan aku menyesal telah membuatmu kecewa, Mas... maafkan aku. Aku menyerah...." jawab Arsy yang tidak kuasa dan tidak dapat berbuat apa apa. Hanya air mata yang membasahi kedua pipi milik Arsy.
"Tidak, sayang... aku yakin. Kamu pasti bisa sembuh, aku akan mengajak kamu berobat ke luar Negri. Kamu harus percaya denganku, bahwa kamu bisa sembuh." Ucap Darma menyemangati.
"Dokter mengatakan, bahwa sangat kecil kesempatan itu ada. Aku pasrah, dan percuma." Jawab Arsy yang putus asa akan penyakitnya yang sudah di vonis oleh Dokter.
"Sayang, apa salahnya kita mencobanya. Kamu mau, kan?" pinta Darma memohon.
__ADS_1
"Tapi...." ucap Arsy terhenti.
"Tapi kenapa, sayang?" tanya Darma penasaran.