Kembalinya Cinta Yang Hilang

Kembalinya Cinta Yang Hilang
Perasaan Campuraduk


__ADS_3

Raska langsung mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, karena kepikiran akan anak anak yang mungkin saja menahan lapar.


Didalam perjalanan, Raska masih teringat pp pertemuannya dengan Darma yang tidak lain saudara sepupunya. Yang dimana begitu mudahnya mentelantarkan istrinya, ditambah lagi setau Darma sang istri memiliki penyakit yang begitu ganas. Namun tidak sedikitpun teringat akan nasib mantan istirinya.


"Das*r suami hanya jadi boneka kedua orang tuanya. Sayang sekali, apa yang kamu tanam akan segera kamu tuai." Gerutu Raska yang masih fokus pada setirnya dengan tatapan lurus kedepan.


Tidak lama kemudian, Raska telah sampai di rumah yang dimana anak anak jalanan yang diasuhnya.


Raska segera turun dari mobilnya, Arsy yang masih duduk di teras depan ditemani Hanum sambil belajar. Kedua mata Raska pun tertuju pada Arsy yang sedang mengajari Hanum untuk belajar.


"Hanum... panggil teman teman teman kamu untuk makan malam, kakak sudah belikan makan malam untuk kalian." Ucap Raska sambil menunjukkan bawaannya.


"Kita semua sudah makan malam kok, kak.. tadi kak Arsy membuat nasi goreng. Memang sih tidak ada lauknya, tetapi kita semua sudah kenyang. Bagaimana kalau buat sarapan saja, karena yang lainnya pun sudah tidur." Jawab Hanum menjelaskan.


"Baiklah kalau begitu. Dan kamu Arsy, bawa ini barang dan simpan dalam kulkas. Besok pagi bisa kamu panaskan untuk sarapan pagi." Perintah Raska sambil menyerahkan barang tersebut kepada Arsy. Sedangkan Arsy hanya mengangguk dan menerimanya, lalu dirinya segera pergi kedapur.


"Tunggu, jangan lupa besok. Persiapkan dirimu untuk datang ke rumah kakek." Perintah Raska menghentikan langkah Arsy. Kemudian Arsy segera membalikkan badannya dan ingin menjawabnya. Namun sialnya, Raska sudah pergi meninggalkan tempat.


Das*ar laki laki aneh, sebenarnya hatinya terbuat dari apa lah. Sampai sampai seperti batu. Batin Arsy berdecak kesal.


"Hanum... ayo kita masuk, ini sudah hampir larut malam." Ajak Arsy sambil menentang bawaan.

__ADS_1


Setelah itu, Arsy segera masuk ke kamar. Yang dimana dirinya tidur bersama Hanum, meski terasa sempit keduanya tetap tidur dengan lelap.


Disatu sisi, Raska segera mengganti pakaiannya. Setelah itu segera mencuci muka dan menggosok giginya. Kemudian dirinya langsung merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Ditatapnya langit langit kamarnya sambil melamun, Raska berusaha memejamkan kedua matanya agar bisa terlelap dari tidurnya. Namun kedua matanya begitu sulit untuk di pejamkan, entah apa yang sedang dipikirkan oleh Raska.


Lagi dan lagi, Raska mengambil sebuah gelang didalam kotak. Bolak balik Raska memandanginya, Raska masih bingung untuk mengembalikan gelang tersebut.


Kenapa aku begitu tertarik merampas gelangnya waktu itu, kalau dipikir ini gelang tidak ada harganya. Meski mahal, tapi... tetap saja tidak ada harganya. Karena aku sendiri bingung mau menyimpannya. Batin Raska sambil memandangi gelang tersebut dengan lekat.


Karena sudah merasa jenuh dan juga kedua matanya terasa perih, Raska pun langsung terlelap dari tidurnya.


Berbeda dengan Arsy, yang tiba tiba dirinya terbangun dari tidur lelapnya dan teringat akan ucapan sang kakek yang menyuruhnya untuk datang ke rumah sang kakek. Arsy sendiri serasa ingin menolak permintaan sang kakek, namun dirinya teringat bahwa cucunya sudah memberikan tempat tinggal secara gratis. Arsy pun tidak memiliki alasan lain untuk menghindari permintaan sang kakek.


Karena Arsy tidak ingin bangun kesiangan, akhirnya dirinya memutuskan untuk tidur kembali ke posisi sebelumnya.


Sedangkan Raska lari lari kecil di sekitaran komplek tempat rumah yang di tempatinya. Semua kaum wanita tidak ada yang tidak kagum akan ketampanan seorang Raska, namun sayangnya Raska lebih terkenal sosok laki laki yang dingin. Jangankan menyapa, tersenyum saja malas.


Setelah selesai berkeliling dikomplek rumah yang ditempatinya, Raska segera membersihkan diri akibat keringat yang dimana dirinya tangah lari lari kecil.


Tiba tiba Raska teringat bahwa dirinya belum membelikan pakaian yang cocok untuk Arsy. Raska tidak ingin dibilang laki laki pelit terhadap seseorang. Dengan sigap, Raska segera menyambar ponselnya. Kemudian langsung mengirim pesan kepada anak buahnya untuk membeli beberapa pakaian untuk Arsy.


Dengan telaten, Raska membersihkan badannya yang lumayan cukup lama. Karena Raska harus berendam agar tubuhnya terasa jauh lebih segar dari sebelumnya.

__ADS_1


Tiba tiba Raska teringat dengan Arsy, yang dimana harus melakukan perawatan. Karena tidak mungkin Arsy memakai baju yang bagus dengan keadaan badannya yang tidak melakukan perawatan. Raska pun segera menelfon beberapa pelayan di rumahnya untuk melakukan perawatan untuk Arsy.


Dengan santai, Raska pergi ke dapur untuk menemui Arsy yang sibuk menyiapkan sarapannya. Raska yang memperhatikan Arsy tanpa disadari ada Hanum di belakangnya.


"Kak Tara, kenapa melamun? sedang memperhatikan kak Arsy, ya? bisik Hanum didekat Raska.


Arsy pun yang sedikit mendengar bisikan Hanum meski kurang jelas segera menengok kearah Raska yang masih berdiri dan mematung.


Keduanya pun saling menatap, namun Raska segera membuang muka.


"Cepetan siapkan sarapan pagi, aku sudah sangat lapar. Dan sebentar lagi ada beberapa orang akan datang kesini." Ucap Raska kemudian langsung pergi dari dapur. Raska langsung duduk di ruang makan menemani anak anak lainnya yang sedang menunggu sarapan pagi.


"Kak Tara, kenapa kakak tidak menikah saja dengan kak Arsy. Kak Tara sangat cocok dengan kak Arsy, ditambah lagi kak Arsy yang serba bisa." Ucap salah satu anak anak yang umurnya paling tua diantara anak anak yang lainnya.


Sedangkan Raska hanya terdiam tanpa merespon ucapan dari salah satu anak anak asuhnya. Raska pun masih diam sambil memainkan sendok yang ada di dekatnya.


Tidak lama kemudian Arsy sudah menyiapkan sarapan pagi dibantu Hanum dan anak anak yang lainnya. Raska yang memperhatikannya pun merasa tersentuh dengan apa yang sudah beberapa hari Arsy kerjakan.


Arsy yang selalu menyiapkan sarapan pagi, makan siang, dan juga makan malam. Ditambah lagi masih bersih bersih dan juga mengajari anak anak untuk belajar. Bahkan Arsy sama sekali tidak mengeluh. Tiba tiba Raska teringat akan penyakit yang diderita Arsy. Raska pun benar benar sudah yakin dengan bukti yang diterimanya.


Arsy melayani Raska sudah seperti melayani suaminya sendiri. Yang dimana dirinya dengan telaten mengambilkan porsi sarapan pagi untuk Raska.

__ADS_1


Raska yang dilayani oleh Arsy tidak mengeluarkan sepatah katapun. Apapun yang diambilkan oleh Arsy sama sekali Raska tidak protes. Meskipun terkadang mengambilkan porsi yang lumayan banyak. Tetap saja, Raska menghabiskan porsi yang sudah ada di piringnya. Sedikitpun Raska tidak berkomentar tentang Arsy.


__ADS_2