
Raska masih pada posisinya dengan menyilangkan kedua tangannya di dada bidangnya.
Sedangkan Arsy masih komat kamit membuang kekesalannya karena Raska.
"Cepetan turun, apa perlu aku yang menggendongmu." Perintah Raska sambil menatap lurus kedepan.
"Aku tidak mau turun, dan aku tidak mau dijual." Jawab Arsy dengan ketus.
"Apa kamu tidak mendengar ucapanku barusan. Hah! bentak Raska menakuti, sedangkan Arsy sama sekali tidak takut dengan ancaman dari Raska. Justru dirinya tetap berdiam diri dari posisinya.
Tanpa pikir panjang, Raska langsung keluar dari mobil dan menarik paksa Arsy. Raska yang kesabarannya sudah habis, kemudian Raska langsung menggendongnya Arsy dengan paksa.
"Lepaskan aku, cepat turunkan. Aku bisa jalan sendiri, aku mohon turunkan aku." Ucap Arsy sambil memukul dada bidang Raska, namun Raska tidak mempedulikannya. Justru tenaga Raska semakin kuat, hingga membuat Arsy kualahan untuk melepaskannya.
"Kamu bisa diam tidak, kalau tidak bisa diam maka aku akan meninggalkan kamu di rumah ini." Jawab Raska menakuti sambil melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah, langkah demi langkah Raska menuju ruang keluarga dalam posisi masih menggendong Arsy.
Posisi Arsy masih tetap memberontak meminta untuk diturunkan dari gendongan Raska.
"Aku mohon jangan jual aku, aku mohon lepaskan aku." Pinta Arsy yang sambil memukul dada bidang Raska pelan.
Sedangkan Raska tidak memperdulikan rengekan Arsy meski sambil memberontak sekalipun.
"Aku akan melepaskan kamu setelah kita sampai di depan kakek." Jawabnya yang menggendong Arsy
"Aku mohon jangan permalukan aku, nanti aku disangka wanita yang tidak tidak." Ucap Arsy lesu karena merasa kalah dari tenaga Raska yang jauh lebih kuat darinya.
Sedangkan sang kakek maupun yang lainnya masih menikmati cemilannya sambil menonton televisi.
Darma yang sedari tadi merasa bosan menunggu Raska pulang, akhirnya Darma memutuskan untuk pulang lebih awal. Dengan nekad, Darma lagsung bergegas bangun dari tempat duduknya untuk berpamitan dengan sang kakek. Sedangkan Zelyn memperhatikan sang suami yang tiba tiba bergegas bangun dan mendekati kakek Ganta.
"Kakek, maaf..." ucap Darma sedikit tidak enak hati.
__ADS_1
"Ada apa, Darma?" tanya sang kakek sambil menatap wajah Darma dengan tatapan yang serius.
"Aku mau meminta maaf, kek. Jika aku mau pamit pulang. Aku ingin istirahat dirumah, badanku terasa tidak karuan pegelnya, kek. Tidak apa apa kan, kek?" ucap Darma dengan perasaan tidak enak hati. Mau bagaimana lagi, Darma merasa bosan, ditambah lagi suasana seperti sedang duka. Darma lebih memilih untuk pulang, karena jauh lebih tenang dan bisa beristirahat.
"Tunggu saja sebentar, Darma. Sepertinya sudah hampir sampai, tunggu sepuluh menit lagi coba. Kasihan Raska yang sudah berniat mau memperkenalkan calon istrinya." Jawab sang kakek menahan kepergian Darma.
"Tapi kek..." ucap Darma yang tiba menghentikan ucapannya, indera pendengarannya tertuju langkah kaki yang semakin mendekat.
"Kamu dengar kan, itu pasti suara langkah kaki Raska. Kakek sudah bisa menebaknya." Ucap sang kakek dengan fokus memasang indera pendengarannya dengan tajam. Tidak hanya kakek Ganta, tuan Nugraha dan istrinya maupun Yona dan juga Zelyn pun memasang indera pendengarannya agar bisa mendengar langkah kaki Raska.
Sedangkan Raska masih tersenyum tipis melihat ekspresi Arsy yang memberontak dalam posisi masih digendong Raska.
"Siapkan mental kamu didepan kakek. Apakah kamu mengerti?" ucap Raska mengingatkan. Justru Arsy langsung mengumpat didada bidang Raska karena menutupi rasa malu dalam keadaan gendongan Raska.
Raska sendiri tersenyum puas melihat ekspresi Arsy yang terlihat begitu menggemaskan.
Disaat itu juga, Raska tidak mengetahui jika Darma dan yang lainnya datang ke rumah.
"Aku mohon turunkan aku, dan jangan mempermalukan aku. Sungguh aku sangat malu didepan kakek." Ucap Arsy dengan lirih sambil mengumpat di dada bidang Raska dicampur aroma yang begitu wangi, membuat pikiran Arsy melayang layang.
Raska yang mendengarkannya pun hanya bisa tersenyum mengumpat.
Langkahnya yang hampir sampai diambang pintu masuk ke ruang keluarga, Raska sendiri hanya tersenyum tipis tanpa sepengetahuan Arsy.
Arsy sendiri hanya bisa berkomat kamit dalam hatinya, yang dimana perasaannya tidak karuan. Ditambah lagi dengan posisinya yang berada digendongan Raska, membuatnya kikuk dihadapan sang kakek.
Darma yang masih berdiri di dekat sang kakek pun penasaran untuk mengetahui sosok wanita yang akan menjadi istri seorang Raska Gantara.
Arsy masih dengan posisinya yang mengumpat di dada bidang Raska yang terkesan menggoda. Kini Raska sudah berdiri diambang pintu masuk.
JEDUAR!!!!
__ADS_1
Jantung Raska terasa mau copot melihat semua sudah berada didalam ruangan. Sebisa mungkin Raska bersikap lebih tenang, agar dirinya bisa menguasai emosinya dan juga emosi Arsy nantinya.
Sedangkan Arsy masih mengumpat sambil merasakan aroma parfum pada tubuh Raska.
Kedua bola mata Arsy masih belum berani membuka kedua matanya dan melihat disekelilingnya. Suasana ruangan keluarga pun hening, semua masih tediam melihat Raska yang masih menggendong sosok Arsy.
Darma pun merasa mengenal sosok yang digendong Raska. Namun dirinya tetap saja tidak merasa curiga dengan sepupunya sendiri yaitu Raska Gantara.
"Kakek, aku sudah datang." Ucap Raska yang masih menggendong Arsy. Sedangkan sang kakek tersenyum mengembang, yang dimana Raska bisa mengajak Arsy untuk datang menemuinya.
Arsy sendiri masih belum berani membuka matanya karena rasa takut dan juga gugup pastinya.
Sedangkan Yona dan Zelyn melihatnya pun dengan tatapan tidak suka.
Das*ar wanita manja. Sampai sampai harus digendong didepan kita kita. Cih... menjijikkan. Gumam Yona
Sungguh menjijikkan sekali sikapnya, memangnya cuman dia yang bisa pamer kemesraan di depanku. Cih... dasa*r wanita mur*ahan. Gumam Zelyn dengan tatapan kesal dan juga tidak suka.
Wanita mur*ahan, menjijikkan. Batin nyonya Ferly yang belum mengetahui siapa sosok wanita yang sedang Raska Gendong.
"Turun, aku sudah capek." Ucap Raska berbisik di dekat telinga Arsy, sedangkan jantung Arsy tiba tiba berdegup sangat kencang. Raska pun ikut merasakan degupan detak jantung Arsy yang cukup kuat.
Maafkan aku, jika kamu harus menerima kenyataan pahit ini. Andai waktu bisa diputar, maka aku tidak akan mempertemukan kamu dengan Darma. Gumamnya dalam hati.
Dengan pelan Raska menurun Arsy dari gendongannya. Siap tidak siap, semua akan kaget setelah kedua mata masing masing telah bertemu.
JEDUAR!!!!!!
Arsy maupun Darma terasa tersambar petir. Jantungnya bergemuruh hebat, tubuhnya terasa lemas. Tatkala kenyataan pahit harus dipertemukan kembali dalam kondisi yang tidak disangkanya.
"Mas Darma...... ucap Arsy lirih, lehernya terasa dicekik. Urat nadinya seakan terputus, pikirannya entah kemana.
__ADS_1
"Arsy.....!!! seru Darma memanggil. Nafasnya terasa panas. Rahangnya mengeras, darahnya mendidih. Emosinya terkumpul serasa ingin meledak. Kedua mata Darma menatap Raska dengan tatapan ingin memb*nuh. Kedua tangannya mengepal sangat kuat.