
Di Restoran milik keluarga Danuarta, Raska masih menikmati makan malam yang disuguhkan oleh sahabatnya yang tidak lain adalah Tirta Danuarta.
Sejak mengenyam pendidikannya dibangku kuliah, Raska dan Tirta bersahabat. Dikala sedih maupun senang, Tirta sudah menganggapnya saudara. Begitu juga dengan Raska, sudah menganggap Tirta saudara sendiri.
Sejak kematian kedua orang tua Raska, kehidupan Raska begitu kerasa. Dirinya harus berusaha bangkit sendiri tanpa ada penyemangat, hanyalah sahabatnya lah yang menguatkannya.
Setelah merasa puas dan sudah mendapatkan apa yang diinginkannya, keduanya segera pulang. Tirta dan Raska bersenda gurau, keduanya nampak bahagia. Semua beban terasa hilang saat keduanya tertawa puas bersama.
Tidak lama kemudian, Raska telah sampai di depan rumahnya.
"Tidak mampir atau menginap, Bro..." ucap Raska menawari.
"Enakan pulang, ada istri yang bisa aku peluk dan aku cium. Lah... tidur tempat kamu nanti aku meluk siapa? meluk kamu? yang ada aku jantungan." Jawab Tirta meledek.
"Iya iya aku percaya. Sudah sana pulang, aku juga sepat melihat kamu." Ucap Raska yang juga tidak mau kalah mengejek.
"Cih... awas kamu. Sebentar lagi profesimu akan turun, jangan bangga." Ejek Tirta yang tidak mau kalah.
"Sudah sana pulang, istrimu sudah menunggumu." Ucap Raska sambil menunjuk kearah pulang. Sedangkan Tirta hanya geleng geleng kepalanya, dan segera melajukan mobilnya.
Raska sendiri langsung masuk ke rumah dan segera istirahat.
Didalam kamar, Raska segera mengganti pakaiannya lalu mencuci muka dan menggosok giginya. Setelah selesai, Raska menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur. Badannya yang sangat lelah dan juga pikirannya semakin berkecamuk.
__ADS_1
Ditatapnya langit langit kamarnya, yang dimana dirinya sangat mengkhawatirkan jika akan ada permusuhan antara dirinya dengan suami dari adik ayahnya.
Aku harus mencari tahu siapa pemilik gelang ini, tidak mungkin gelang ini milik istri Darma. Ya, namanya pun sama. Hanya kebetulan saja, aku harus mengatakannya dengan Tirta, untuk membuka cabang Restoran dekat dengan rumah sakit xxxx. Aku yakin, pemilik gelang itu tidak jauh dari rumah sakit tersebut. Batin Raska tersenyum mengembang.
Tiba tiba ponsel miliknya seperti ada yang memanggil, Raska pun segera menyambar ponselnya didekat tempat tidurnya. Dan Raska melihat siapa yang menelponnya di tengah malam, lalu segera mengangkatnya.
" Katakan, ada berita apa." Ucap Raska tanpa basa basi.
"Begini tuan, sepertinya wanita yang menjadi istri Darma bukanlah wanita baik baik." Ucapnya menjelaskan panjang lebar, dan Raska sendiri tersenyum puas mendengar kabar yang diterimanya.
"Bagus, ikutin terus perkembangannya. Jangan sampai kamu lengah sedikitpun, dan satu hal lagi, kamu ikutin juga istri Darma. Lakukan penyelidikan atas penyakit istrinya Darma, ingat! laporan yang kamu berikan harus akurat. Jika tidak, maka kamu akan aku pecat!" perintah Raska yang kemudian langsung mematikan ponselnya. Raska langsung merentangkan kedua tangannya dan tersenyum puas setelah mendapatkan kabar berita dari seseorang yang sudah menjadi kaki tangannya.
Karena rasa kantuknya, Raska segera memejamkan kedua matanya. Berharap apa yang direncanakan akan berjalan dengan mulus.
"Mas, kenapa belum tidur? apa perlu aku pijitin?" ucap Zelyn berusaha merayu. Agar sang suami tidak begitu memikirkan Arsy. Namun siapa sangka, kalau Darma teringat dengan Arsy. Dirinya merasa sangat bersalah atas perbuatannya.
"Tidak perlu. Kalau kamu sudah mengantuk berat, tidurlah. Nanti aku juga aku akan tidur, untuk saat ini kedua mataku benar benar tidak dapat aku pejamkan. Mungkin karena kita baru pertama kalinya satu kamar." Jawab Darma beralasan.
Tiba tiba Zelyn yang tanpa malu, dirinya langsung mengecup b*bir milik Darma. Namun sayangnya, Darma sama sekali tidak meresponnya. Sedangkan Zelyn tidak merasa sakit hatu, karena pikir dia masih awal pernikahan. Namun Zelyn tidak akan tinggal diam untuk merayu sang suami.
Lihat saja, kamu akan ketagihan mas Darma... batin Zelyn dengan tersenyum dengan posisi membelakangi sang suami.
Darma yang merasa gerah dan pikirannya yang kacau, kini dirinya segera keluar dari kamar dan mencari angin segar di luar rumah. Meski sudah larut malam sekalipun, Darma tidak peduli dengan waktu. Yang ada didalam pikirannya yaitu hanya menenangkan pikirannya disertai angin malam.
__ADS_1
Darma duduk Dibangku halaman rumah, sambil manatap bintang bintang yang bertaburan dilangit. Begitu indah cahaya bintang, meski kecil bentuknya. Tetapi dapat menerangi bumi, dan terlihat indah.
Darma teringat akan kebersamaannya dengan sang istri, yang dimana selalu berbagi cerita. Kini seakan seperti kenangan yang akan hilang, menyesal tetapi tiada guna.
Maafkan aku, istriku.. aku bukan laki laki yang pantas untuk kamu cintai. Aku telah berdusta akan janjiku kepada kamu, dan kamu berhak membuat keputusan setelah kamu mengetahuinya. Tapi jujur, aku masih mencintaimu. Aku merasa hampa tanpa melihat wajahmu yang berseri dan teduh. Gumam Darma dalam penyesalannya.
Ini semua hanya karna warisan, aku yang harus dijadikan umpan. Kalau aku tahu begini rasanya, aku tidak pernah mau untuk melakukannya. Gumam Darma dengan pikirannya yang plin plan.
Karena merasa kedinginan, Darma segera masuk kembali ke kamar. Setelah sampai didalam kamar, dilihatnya istri kedua yang terlihat menggoda dan membuatnya terpancing. Namun Darma segera menepis pikiran kotornya, Darma masih berusaha menjaga segelnya karena selalu teringat dengan Arsy. Yang dimana istri pertamanya yang begitu sabar menjaga kehormatannya karena penyakitnya.
Jangan sampai aku tergoda, setidaknya aku masih mencoba menjaga perasaan istriku. Meski aku tidak tahu kedepannya, karena aku juga laki laki normal. Ditambah lagi Zelyn, sekarang dirinya sudah sah menjadi istriku. Dan aku berhak atas Zelyn. Gumam Darma dengan pikirannya yang semakin kacau.
Karena sudah terasa sangat mengantuk, Darma segera membaringkan badannya disamping Zelyn. Posisinya pun tidak berubah, Darma benar benar tidak ingin tergoda akan sikap Zelyn terhadapnya. Lama lama Darma memejamkan kedua matanya dan terlelap dari tidurnya.
Dilain sisi, tiba tiba Arsy terbangun dari mimpinya. Nafasnya pun terengah engah karena terbawa suasana dalam mimpi.
"Kak Arsy kenapa?" tanya Yona yang juga terbangun dari tidurnya.
"Kakak mimpi buruk, Yona.." jawab Arsy dengan raut wajahnya yang terlihat ketakutan. Yona segera mengambil air minum yang ada didekatnya, kemudian segera memberikannya kepada kakak iparnya.
"Minum dulu kak, memangnya kaka mmpi buruk apa, kak?" tanya Yona yang masih penasaran.
"Kakak bermimpi, bahwa mas Darma dihajar oleh seseorang yang memusuhinya. Mas Darma mengerang kesakitan, dan wajahnya penuh lebam akibat pukulan dari seseorang yang menghajarnya." Jawab Arsy dengan wajah penuh ketakutan. Sedangkan Yona sendiri ikut ketakutan, yang dimana dirinya ikut dalam rencana kedua orang tuanya. Namun Yona segera menepis pikiran buruknya.
__ADS_1
"Hanya bunga tidur kak, mungkin kakak merindukan kak Darma. Jadi terbawa mimpi, bagaimana kalau besok pagi kak Arsy telfon kak Darma. Kalau sekarang sudah larut malam, nomor telfonnya pun pasti dimatikan." Ucap Yona mencoba membujuknya. Arsy pun hanya mengangguk dan kembali tidur.