
Mendengar percakapan akrab mereka membuat Vindya dan Vano terdiam curiga. Kecurigaan itu semakin di perkuat dengan pengetahuan papa Sofyan akan cafe baru Affandy.
"Tunggu deh ini saya yg pusing. Tadi papa tanya kabar papanya kak Affandi karena mungkin lama gak ketemu. Itu di perjelas dengan pertanyaan kak Affandi akan kebenaran papa ini temen papanya ato bukan. Tapi kenapa papa tau kalo kak Affandi buka cafe...??? gak lucu dong ini kalo main drama, cz ini ancur berantakan dramanya. Cafe baru buka seminggu udh gag ngenalin aja." Kata Vindya yg di iyakan oleh adiknnya.
"Bukan gitu sayang. Papa emang lama tak ketemu nak Affandi dan keluarganya. Sekitar 3 tahunan lah..." kata papa Sofyan yg belum selesai langsung di sosor pertanyaan oleh Vindya.
"Terus kenapa bisa tau kak Affandi buka Cafe....???"
"Di majalah ini sudah tertulis semua jadi tak perlu papa ketemu langsung orangnya sudah tau." Kata papa Sofyan menyodorkan majalah bisnis ke hadapan putrinya yg nyrocos dari tadi.
"Oh kirain."Kata Vindya sambil mengambil majalah itu.
Di tempat lain, tepatnya di sekolah. Ahmad dan Nadia bersiap untuk pulang setelah melakukan rapat kecil.
"Gimana udh di bales sama Affandi?" Tanya Nadia
"Udah Nih." Kata Ahmad sambil menunjukkan hpnya.
__ADS_1
Mereka masuk ke dalam mobil Vindya keluar dari parkiran sekolah dan menuju ke alamat yg tertera di layar hp Ahmad.
"Nad gue boleh tanya sesuatu gak....?" Tanya Ahmad memecah keheningan di dalam mobil.
"Boleh.... mau tanya apa...?" Jawab Nadia.
"Yg lo bilang di ruanh Osis itu bener?" Tanya Ahmad.
"Yg mana...?" Tanya Nadia bingung..
"Bener. Emang kenapa? Emang lo mau jadiin gue pacar lo?" jawab Nadia tak kalah santainya.
"Buset dah tu mulut renyah amat sih....??? Lo nembak gue kaya lagi ngemilin kuaci tau...." Kata Ahmad sedikit berteriak dan dia merasa gugup.
"Biasa aja kali Mad gak usah nge gas gitu lo ngomongnya. Gue yg nembak kenapa lo yg gugup sih." Kata Nadia sedikit sewot.
"Iya lo yg nembak dan gue yg di tembak. ini tu kebalik Nad.... harusnya gue yg nembak lo." kata Ahmad yg masih dengan nada tinggi. "Harga diri Nad harga diri gue sebagai cowok." lanjutnya.
__ADS_1
"Ya elo sih gak nembak nembak. Udah di kode kodein tetep gag peka." Jawab Nadia. sebel.
"Ya sudah kalo gitu Nadia putri mau gak kamu jadi istri aku Ahmad syarif?" Kata Ahmad dengan menggenggap tangan Nadia setelah meminggirkan memarkirkan mobil Vindya tepat di belakan mobul Affandi.
"Loh.... kok jadi istri bukan pacar....?" Tanya Nadia mulai gugup.
"Nadia putri.... aku mau kita pacaran di dalam pernikahan. Lo gak liat gaya pacaran anak jaman now....???? Aku juga mau tapi aku takut dosa. Makanya aku ngajak nikah kamu." Kata Ahmad sambil mengeluarkan sebuah kotak berisi cincin yg selalu dia bawa namun tersimpan rapi di dalam tasnya.
"Lo niat banget ya sampek bawa cincin segala. Jujur dari kapan lo siapin ini semua dan untuk siapa? gak mungkin kan pas di jalan tadi aku gak liat kamu berhenti." Kata Nadia bingung.
"Ya enggak lah.... Sebenernya aku nyiapain ini udh lumayan lama terus maunya ngelamar kamunya pas acara api unggun. Tapi ternyata gagal karena kerjaan banyak. pokoknya gak sesuai prediksi aku.... ya gitu dah ceritanya.... intinya cincin ini emang buat kamu. di terima ya." jelas Ahmad yg berhasil membuat Nadia menjebol pertahanan air matanya.
"Ok, kalo lo serius datang ke rumah gue besok malem. ajak keluarga lo dan lamar gue di hadapan orang tua gue." kata Nadia sambil menyeka air matanya.
"Ya udh kalo gitu besok aku ke rumah kamu sama mama papa. jangan nangis lagi dong jelek tau kalo nangis. dan lagi jangan pkek elo gue lagi ya." Kata Ahmad sambil melepas sabuk pengamannya lalu keluar menuju rumah Vindya.
"Iya aku usahakan"
__ADS_1