Kesetiaanmu

Kesetiaanmu
Oops


__ADS_3

Hari masih panjang setelah kepulangan Saly. Bian dan Satya menghabiskan hari mereka dengan berkeliling hingga mereka sampai di rumah Vindya dan Affandi.


Dari kejauhan terlihat seorang kakek tengah menikmati teh hangat di tangannya. Sesekali meniup gelas berisi air berwarna kuning kemerahan yang mengepulkan asap tipis. Satya mendekati lelaki tua itu setelah turun dari mobilnya.


Bian menyalaminya lalu menyerahkan bingkisan yang di pesannya sebelum ke rumah orang tuannya. Bian langsung masuk setelah menanyakan keberadaan sang mertua.


“Bundaaaaaa Bian kangen,” teriak Bian menuju dapur di mana mertuanya berada.


Vindia selalu ada di dapur karena memang memasak adalah kegemarannya setelah menjadi seorang ibu rumah tangga. Merasa memiliki hobi dan kegemaran yang sama, kedua wanita ini selalu menghabiskan waktu di dapur.


Membicarakan hal hal yang sedikit tak penting sampai menggosipkan tetangga. Semua itu mereka lakukan di dapur sambil membuat sesuatu.


Tak ada yang special memang di antara kedua orang ini. Hanya memang sepemikiran sehingga mereka menjadi terlihat sangat kompak.


“Sayang, Sasa tadi dari sini. Dia memberi mama ini dong,” Vindya menunjukkan celemek buatan Sasa.


“Sasa gak menitipkan untuk Bian Bun?” Tanya Bian yang sedikit kecewa karena tidak di buatkan juga oleh sahabatnya.


“Dibuatkan juga dong, ini,” Vindya memberikan celemek yang sama dengan miliknya.


“Yeeee kita kembaran Bun,” girang Bian setelah memakai celemek buatan tangan sahabatnya.


“Jangan loncat loncat sayan. Gak baik untuk kandunganmu,” Vindya memperlakukan Bian seperti orang yang tengah hamil muda.


“Bian gak hamil Bunda,” ucap Bian lesu.


“Belum sayang. Kalian harus berusaha lebih lagi, dan jangan terlalu capek. Ayah sudah bilang ke suamimu supaya gak terlalu mikirin kerjaan juga, Ayah juga bakalan bantu ngurus asal kalian tak setres.” Vindya menjelaskan pada menantunya jika kesehatan mereka berdua lah yang terpeting.


Satya masuk ketika kedua wanita tersayang nya tengah berpelukan hangat. Satya ikut memeluk keduannya, namun sang bunda malah memukulnya.


“Ngikut aja ini dah,” gerutu Bunda tersayangnya.


“Di luar adem ngobrol ma kakek Bun, makanya sekarang nyari yang anget, hahaha” Jawab Satya dengan tawanya.


Satya dan Bian sudah berada di dalam kamar mereka yang dulu di tempatinya sebelum pindah kerumah mewah. Bian duduk di tempat tidur dan bersandar di kepala dipan ranjang Satya.


Sedangkan suaminya tidur di pangkuannya dengan memainkan lubang robekan celana jins milik istrinya itu. Bian memainkan rambut lelaki yang tengah tidur di pangkuannya.


Tak ada kata dan tak ada suara selain belaian belaian yang di lakukan mereka berdua. Entah apa yang membuat Bian merasakan libidonya tengah naik saat ini.


Perlahan Bian mencium rambut Satya dan kembali membelainya. Satya merasakan apa yang di lakukan Bian pun menaikkan kepalanya dan melihat istrinya lekat sebelum menciumnya.


Bian tak menunjukkan apa yang di rasa secara terang terangan. Tapi naluri lelaki Satya yang menyadari semua itu.


Pergulatan di sore hari pun di mulai dengan saling memberi ciuman hangat. Satya yang berada di bawah Bian pun terus menekan tengkuk Bian dan ciuman pun beralih ke leher dalam Bian.


CEKLEK


“Maaf… maaf…” Vindya langsung menutup kembali pintu yang baru saja di buka olehnya.


Secepat kilat Vindya meninggalkan kamar putranya.


“Kenapa Bun?” Tanya Affandi yang melihat istrinya lari larian dengan wajah memerah juga senyum yang tak bisa di artikan olehnya.


“hihihi, Anakmu…..” Vindya masih belum sanggup untuk melanjutkan ucapannya.


“Ada apa dengan Alwa? Biar Ayah yang lihat,” ucap Affandi yang penasaran namun di cegah oleh Vindya.


“Jangaaaannnnn,” tahan Vindya.


“Ada apa sih?” Tanya Affandi yang semakin penasaran.


Belum sempat Vindya menjawab, Satya sudah duduk di antara mereka. Mengambil potongan kue yang di buat oleh Bundanya pun Satya memandang ke arah Bundanya dengan tatapan jengkel.


“Mana istrimu?” Tanya Affandi pada putranya.


“Lagi istirahat,” Satya masih memandang ke arah Vindya yang tersenyum menahan tawanya.

__ADS_1


“Kalian ini kenapa?” Tanya Affandi yang tak sanggup berada di antara kedua orang yang seakan sedang berseteru.


“Bunda tu Yah, ganggu aja.” seru Satya yang masih tak trima aksnya di gagalkan oleh Bundanya sendiri.


“Ganggu?” Tanya Affandi yang mulai paham, Bukannya melanjutkan ucapannya tapi malah tertawa terbahak bahak.


“Besok besok kunci kamarnya biar ga di ganggu. Apa jangan jangan di rumah sana kalian sudah terbiasa gak mengunci pintu ya?” Selidik Vindya yang membuat putranya semakin merasa jengkel.


Satya hanya diam saja sampai makan malam pun tiba. Bian keluar dengan paksaan dari Satya. Malu, pasti. Tapi mau gak mau tetap harus di hadapi.


“Vindya hanya tersenyum melihat menantunya yang hanya tertunduk malu.


“Sudah jangan di pikirkan lagi yang tadi, sekarang makan sudah gitu kalian pulang lah ke rumah kalian,” ucap Affandi yang menengahi kecanggungan yang ada.


“Ayah mengusir Bian?’ Tanya Bian yang sepertinya salah paham akan sikap yang Affandi ambi.


“Bukan begitu sayang, Ayah gak mau hal seperti ini terjadi lagi. Dan cepatlah berikan Ayah sama Bunda cucu,” ucap Affandi menenangkan Bian yang tengah tersipu malu lagi.


“Doakan bulan depan garis dua, kalo masih belum ya Ayah doakan lagi untuk bulan depannya dan bulan depannya lagi sampai garis dua,” ucap Satya yang seperti memberikan harapan kosong pada sang Ayah,


Setelah makan malam bersama keluarga Satya, kini Bian dan Satya pulang kekediamannya. Sampai di rumah, Bian terlihat sangat malas sekali dan berasa sangat lemas.


“Abang sayang, gendong Bi dong. Rasanya malas sekali buat jalan,” kata Bian yang tengah merebahkan diri di sofa ruang tamunya.


Satya yang baru masuk pun langsung mengunci pintu karena memang sudah sangat malam ketika mereka masuk rumah. Jam setengah sepuluh memang sudah terlalu malam untuk Satya dan Bian, terutama jika sudah berada di rumahnya berdua saja.


“Bi, Abang juga males, gimana dong?” Satya sudah ikut merebahkan diri di samping Bian.


“Ya sudah kita ngesot aja yuk, dari pada bobok di sini sama kayak ngasih nyamuknya prasmanan,” ucap Bian yang membuat Satya mendegus


Satya dan Bian akhirnya memilih tidur di kamar tamu yang ada di lantai bawah. Bian pamitan untuk mandi sebelum ikut tiduran di kasur bersama sang suami.


Selesai mandi, Bian keluar masih mengenakan handuk kimononya. Mungkin benar Satya sangat kelelahan sehingga dirinya tak sanggup lagi menggendongnya kekamar.


Bian membelai rambut Satya yang tengah tertidur pulas bahkan sebelum mandi. Bian meninggalkan Satya tidur sendiri di kamar tamu. Sedangkan dirinya kembali ke lantai atas di mana kamar mereka berada.


Bian memakai baju tidur berbahan satin warna biru muda dengan model kemeja panjang selutut. Bian tidur di ranjang yang biasa di tidurinya dengan sang suami. Seperti seorang suami istri yang tengah bertengkar saja pisah ranjang, pikir Bian.


“Kenapa ninggalin aku sendiri di kamar bawah?”


Mendengar kalimat itupun Bian tersenyum dalam gelap. Mengikuti permainan sang suami pun menjadi pilihan yang sangat tepat. Bukan pasrah,tapi menikmati setiap inci dalam diriya di cumbui sang suami.


Tak tahan lagi Bian membantu sang suami untuk menyegerakan ibadah di malam jumatnya. Setelah satu jam bergelut panas dengan sang suami, keduanya akhirnya mencapai puncaknya bersamaan.


Satya yang kelelahan pun langsung tertidur pulas. Lain halnya dengan Bian yang memilih untuk membersihkan diri sebelum menyusul suaminya.


Satya dan Bian tidur hingga adzan subuh menyapa mereka. Satya bergegas ke kamar mandi untuk bersuci diri sebelum menjalankan ibadah wajibnya menjadi imam untuk makmum halalnya.


Seperti hari biasanya Bian menyiapkan sarapan sebelum berangkat ke kampus. Yang selama seminggu ini Bian hanya menjadi penunggu rumah dengan alasan malas ke kampus.


Kini dia lah yang paling bersemangat kembali ke kampus. Padahal setiap hari Jumat itu hanya separoh hari saja mereka ngampus.


Satya selalu sibuk di pagi hari. Selain menyiapkan keprluannya kuliah, Satya juga harus menyiapkan berkas penting untuk di bawanya ke cafe.


Seperti saat ini, Satya terlihat sangat kesulitan membawa barang barangnya yang terlalu banyak. Seperti biasa Arkan akan meminta sarapan di rumah besar yang di huni oleh kedua sahabat yang sudah di anggap sebagai kakaknya sendiri.


Bukan tak mampu untuk menyiapkan sarapan atau tak bisa. Tapi kedua orang yang memiliki sifat dan watak yang bertolak belakang ini biasa makan bersama dengan banyak orang.


Seperti mendapat tenaga tambahan. Arkan membantu Satya membawa barang barangnya yang teramat sangat banyak hari ini.


“Untuk apa semua ini Bang?” Tanya Arkan penasaran.


“Ini untuk karyawan yang selama enam bulan ini bekerja dengan rajin. Makanya Abang memberikan hadiah ini untuk mereka.” jawab Satya dengan membawa semua ini dalam mobil besarnnya yang di pinjamkan oleh Ayahnya.


“Mulai dari sembako juga baju, ini untuk reward?” Tanya Arkan yang semakin penasaran.


“Mereka sudah menuliskan keinginan mereka sebelum gue membelikannya. Semua di tunggu selama enam bulan lamanya,” Jelas Satya pada Arka caa kerja di cafe yang di jalankannya untuk meningkatkan kinerja para stafnya.

__ADS_1


“Pelajaran baru yang patut di tiru,” Gumam Arkan yang terdengar oleh Satya dan membuatnya tersenyum bangga akan cepat tanggap dari lelaki yang selama ini di ajarinya.


“Arkaaa, perut ku gak enak sekali,” Teriak Nurul yang sempat memuntahkan apa yang di makannya pagi ini.


“Kamu kenapa?” Tanya Arkan khawatir.


“Tadi dia muntah muntah, mungkin dia masuk angin,” Jawab Bian yang membantunya saat di kamar mandi.


“Ya sudah biar mama temanin aja ya, kamu di rumah aja istirahat.” Nasehat Arkan yang tidak di setujui oleh gadis manja yang kini sudah memeluknya.


“Aku gak mau sama mama kamu, Takut,” rengek Nurul yang membuat Bian tersenyum geli.


“Mama gak galak kok sayang, mau ya?” Kembali Arkan membujuk istrinya yang memang takut terhadap mamanya.


“Takut,” kini Nurul sudah akan meneteskan air matanya membuat Arkan lebih panik lagi.


“Ya sudah, maunya gimana?” Tanya Arkan lembut menuruti apa yang di mau oleh Nurul.


“Maunya ikut kamu aja,” Jawab Nurul dengan kemanjaannya.


“Tapi aku ada kelas, sedangkan kamu kan kosong hari ini sayang,” Arkan membelai manja sang istri yang lagi kumat manjanya.


“Gak apa, nanti aku nunggu di kantin aja,” rengekan Bian membuat Arkan luluh juga.


“Ya sudah kalau begitu, tapi janji jangan kemana mana ya,” Arkan terlihat sangat menyayangi Nurul.


Dari cara Arkan memperlakukan Nurul dengan sangat telaten. Juga tak pernah membentak Nurul sama sekali di setiap rengekan hanya di senyumi dan di tanya apa yang di mau wanita manjannya.


Sungguh sabar Arkan pada kemanjaan Nurul. Tapi akan sangat berbeda jika harus berhadapan dengan orang lain. Terutama cewek yang suka menggodanya, dia akan terlihat seperti bom atom yang kapan saja bisa meledak.


Mulut bagaikan pisau belati dan kata katanya yang pedasnya melebihi cabe satu kilo. Bahkan hanya jalan di sampingnya saja, hawa dingin Arkan sudah menyerang. Kehangatan dan juga senyuman mungkin memang hanya akan di nikamati oleh Nurul seorang.


Bahkan orang tuannya saja jarang melihat senyuman yang sering di tunjukkan pada Nurul. Sungguh, Nurul bagaikan sinar matahari yang menerangi gurun es dalam diri Arkan.


Sesampainya di kampus, Arkan dan Bian yang memang di jurusan yang sama pun masuk ke dalam kelas bersamaan. Sasa menemani Michael yang satu jurusan dengan Satya, sehingga Nurul tidaklah sendirian menunggu suaminya di kantin.


“Sa, gue pengen es itu deh,” Nurul menunjuk ke arah akang yang jualan es doger di pinggir jalan.


“Lu tunggu sini biar gue yang beliin buat elu,” ucap Sasa yang tak pernah membiarkan sahabat kecilnya ini membeli apapun sendiri.


Bukan gak bisa, hanya Nurul suka kalap kalau beli sesuatu. Sasa kembali dengan dua gelas es doger yang di mau Nurul. Satu untuk Nurul dan satunya untunya sendiri.


Baru menghabiskan setengah gelas, Nurul kembali memuntahkan apa yang di makannya. Nurul terlihat lebih pucat membuat Sasa ketakutan.


“Elu gak kenapa?” Tanya Sasa ketakutan.


“Gue gak apa apa Sa, hanya saja dari pagi gue muntah muntah mulu. Mungkin memang lagi masuk angin seperti kata Bian.” Terang Nurul.


“Dari kapan elu muntah muntah Rul?” tanya Sasa semakin khawatir.


“Dari pagi ini di rumah Bian pas di sarapan,” ucap Nurul sambil memegangi perutnya yang semakit merasa tak karuan.


“Kita ke klinik yu,” ajak Sasa yang sangat takut.


Sampai saat ini Sasa dan juga Michael belum tau jika Nurul sudah menikah. Sasa meminta dokter yang berjaga untuk memeriksa sahabatnya ini.


“Maaf, apa anda sudah datang bulan?” tanya Dokter itu membuat Sasa merasa takut.


“Saya lupa dok, sebentar saya akan tanya Arkan dulu,” jawaban polos seorang Nurul membuat Sasa mengernyitkan dahinya.


“Apa maksudnya kamu menanyakan pada Arkan?” Tanya Sasa penasaran.


“Dia yang selalu mengingat tanggal mens aku SA,” kembali jawaban Nurul membuat Sasa tak bisa berfikir logis lagi.


“Kenapa harus Arkan? Kenapa buakan orang tuamu aja?” tanya Sasa geram.


“Kan sekarang Nurul tinggalnya bareng Arkan. Bukan dengan Mama sama Papa,” Merasa dirinya keceplosan pun Nurul cepat cepat menutup mulutnya.

__ADS_1


“Eh gue salah ngomong Sa,” Nurul berusaha buat memenarkan apa yang di sampaikan pada sahabatnya.


“Ada apa sebenarnya Rul?”


__ADS_2