Kesetiaanmu

Kesetiaanmu
Gorok


__ADS_3

"Tolong jelasin"


"Kak stop salahin Nadin, semua ini kesalahan Vano. Vano sudah menghianati Nadin kak, Vano sayang sama Nadin tolong jangan pisahin kami." Ucao Vano masih memegangi kaki Nadin.


"Minggir Van gue mau pergi. Cukup gue diem selama ini Van." Kata Nadin menggoyang kan kakinya menyuruh Vano minggir.


"Jelaskan dulu, Gue gak mau kalian pisah tanpa gue tau permasalahannya." Affandi mencoba menengahi keributan yg ada.


Kali ini Vano bangkit dan mengajak Nadin Duduk di sofa bersama nya dan kakak kakaknya. Vano bercerita dan Vindya mulai marah mendengar kesalahan yg di lakukan Vano. Vano memohon untuk membantunya agak Nadin memaafkannya.


"Van kesalahan yg lo buat kali ini emang bener bener fatal di mata abang. Abang gak bisa bayangin seberapa kuatnya Nadin ngadepin lo. Nad coba lo fikir ulang, gue tau kesalahan Vano memang besar tapi masa depan lo yg akan berantakan nanti kalo lo sampek cerai. Hukuman yg lo kasi ke Vano setimpal kok dengan perbuatannya." Ucap Affandi mencoba memberi pengertian pada Nadin.


"Gak gue gak setuju dengan kakak. Nadin begitu tersiksa lahir batin karna Vano. Vano harus mendapat hukuman yg lebih dari ini." Vindya menunjukkan taringnya.

__ADS_1


"Kak lo mau apa ambil piso itu?" Tanya Vano ketika mengejar kakaknya yg berlari ke arah dapur.


"Memotong burungmu mau kakak buat sup. Lo itu kurang ajar Van" Melihat istrinya di selimuti amarah membuat Affandi kesusahan menenangkannya.


"Kak ampuni Vano lah, jangan kaya gitu. Gak sampek di potong juga, Nadin gak jadi pergi kalo kakak kaya gini. Bisa bisa kakak tengah malem dateng ke sini buat gorok tu burung, lagi." Kata Nadin memeluk Vano.


Affandi berhasil mengambil pisau dari tangan istrinya. Affandi mendudukkan Vindya di kursi kayu yg tak jauh dari tempatnya berdiri. Vano mengambilkan minum untuk Vindya dengan Nadin memeluk Vano erat. Nadin terus menatap was was ke arah Vindya, membuat Affandi menahan tawa.


"Kalo lo ulangi lagi, kakak sendiri yg akan motong burung lo. Gue cincang gue jadiin kikil bakso." Ancam Vindya.


"Udah dong kak Nadin ngeri dengernya. Kasin Vanonya." Kata Nadin yg masih setia memeluk Vano. Affandi tersenyum kecil melihat kedua ABG di depannya.


Orang tua Vano dan Vindya pun akhirnya datang juga. Papa Sofyan melihat ada bantal dan selimut di sofa membuatnya berdecak sebal. Mama Agnes melihat Nadin memeluk Vano membuatnya tersenyum dan berfikir betapa harmonisnya keluarga kecil dari putra bungsunya.

__ADS_1


Ketika hendak menyajikan makanan Vindya melototin Vano dan membuat Nadin makin erat memeluk Vano. Risih sih sebenernya tapi melihat adik iparnya menunjukkan rasa sayangnya terhadap Vano adiknya. Membuat Vindya kehabisan kata kata dan hanya ingin tertawa terbahak bahak.


"Nadin lepasin dulu Vanonya, makan dulu nanti lanjutin lagi." Kata mama Agnes menggoda Nadin.


"Enggak ma, Nanti burung Vano di potong kak Vindya!!" Seru Nadin dengan memandang tajam ke arah Vindya.


"Sudah sudah kakakmu gak akan berani ngapa ngapain, selagi ada pawangnya." Kata papa Sofyan di selah makannya.


Nadin masih tidak melepas pelukannya pada Vano. Membuat Vano menyuapi Nadin makanan di piring yg sama dengannya. Vindya melihat Vano dan Nadin Risih sebenernya tapi juga seneng akhirnya Nadin tak jadi pisah dengan adiknya.


"Bucin banget sih lo Nad" Cibir Vindya.


"Bodok, dari pada Vano kehilangan penerus." Mendengar itu seluruh orang yg sedang menikmati makanan langsung tertawa terbahak bahak.

__ADS_1


__ADS_2