
Hari minggu Satya dan Bian di habiskan di rumah Oma Agnes bersama dengan Ayah dan Bundanya. Tak ada yang sepecial menurutku, tapi ada yang menarik di saat Bian dan Satya pamit untuk pulang sebelum gelap.
Satya seperti merasakan sesuatu terjadi, tapi tidak tau apa itu. Hingga dirinya sudah berada di dalam Mobil dan merasakan juniornya benar benar terasa sesak. Di lihatnya sang istri juga dalam keadaan duduk namun tidak tenang.
“Kamu kenapa sayang?” Tanya Satya mencoba menyembunyikan apa yang dia rasakan.
“Enggak tau Bang, rasanya badanku sedikit panas,” Bian terus menipas ngipaskan tangannya di dadanya yang semakin panas.
“Kita berhenti di hotel situ dulu yuk,” Ajak Satya yang rupanya juga sudah tak sanggup menahan adik kecinya yang masih terkurung.
“Gak usah Bang, adek pengen cepet pulang aja. Gak enak rasanya badan Adek,” ucap Bian yang membuat Satya hanya menurut dan menahan lebih lama sedikit rasa yang menyiksa di dalam sana.
Perjalanan empat puluh lima menit sudah membawanya kembali ke rumah besar yang kini di tempati Bian dan Satya.
Entah apa yang merasuki Bian. Tiba tiba gadis polos itu menyerangnya di dalam mobil yang baru saja memasuki garasi. Bian ******* bibir Satya seperti ada yang ingin merebutnya. Selain itu, Bian juga meraih tangan Suaminya agar menyentuhnya.
Satya tau apa yang di mau istrinya dan juga seperti dirinya juga menginginkan itu.
“Kita masuk aja dulu yuk, Abang sudah gak tahan,” bisik Satya di telingah istrinya yang sudah setengah sadar.
Ini sudah pasti kerjaan Oma Agnes! Sumpah kurang kerjaan sekali Oma satu ini. Hadeeehh menyiksa ini namanya. Gerutu Satya dalam hati.
“Abang!! Adek gak kuat lagi, rasanya gemeteran kaki Adek,” pekik Bian yang menghentikan suaminya masuk ke dalam rumah meninggalkan dirinya.
“Iya, sebentar, Abang bawa masuk ini dulu ke dalam. Baru menggendongmu Sayang,” Satya tau apa yang di maksud oleh istrinya.
Bener bener nenek gila, gak kasian apa sama cucunya yang tersiksa seperti ini. Satya terus saja mengomel karena memberinya obat tanpa mengerti kesibukan yang di gelutinya.
“Hallo Bunda,” Satya terpaksa menelfon Bundanya karena merasa kasihan pada istrinya.
“Iya sayang, ada apa?” Tanya Vindya yang tak tau apa apa.
“Mantumu di kerjai emakmu, ini gimana solusinya?” Tanya Satya yang tak segan lagi karena sudah sangat kasihan pada istrinya.
“Apa? Keras kah?” Tanya Vinya yang tau maksud dari putranya.
“Kakinya sampai gemeteran Bun, Bunda sini deh tolongin.” Pinta Satya yang tak mengatakan jika dirinya juga merasakan hal yang sama, namanut tak terlalu parah.
“Kamu bantuin aja sekali nanti selepas salat Isya Bunda akan ke sana,” Akhir dari telfon, Satya mengikuti apa yang di maksud Bundanya.
Satya membawa Bian ke kamarnya di lantai dua. Bian terus mengatakan panas dan tak henti meminta Satya untuk menyentuhnya. Gairah Satya pun akhirnya bangun karena rangsangan yang di berika oleh sang istri.
Ciuman yang terus menghujani Bian, kini terhenti ketika Bian meminta Satya untuk memasukinya. Junior Satya yang sudah meminta sedari tadi pun tak segan untuk memasuki pintu surga dunia milik sang istri.
Halal memang, hanya saja tak bisa menikmati karena obat sialan ini. Satya bukan orang yang terbilang baik, bahkan dia terkesan mesum. Jika itu harus berduaan dengan gadis bar barnya, tapi saat ini? Satya cukup banyak mengumpat.
Satya merasa sangat sangat tidak menikmati. Terutama itu karena sudah menyiksa sang istri. Dirinya menangis di pojokan tempat tidurnya, setelah melakukan hal itu. Melihat istrinya yang tak berdaya hanya akan menyakiti hatinya.
Satya mengelap Tubuh yang baru saja di nikmati dengan ganarnya menggunakan air hangat. Memakaikan baju tidur yang biasa di pakai istrinya, dan menyelimuti tubuh munggil di depannya.
Satya segera membersihkan diri sebelum salat isya. Setelah sedikit reda dan tak seberapa mendesak lagi juiornya. Satya menyiapkan bubur untuk istrinya sebelum bangun. Tak lama setelah buburya matang, Bunda dan Ayahnya datang dengan membawa makanan.
“Bunda….” Rengek Satya yang hanya di sambut tawa oleh Ayah dan Bundanya.
“Tega sekali kalian menertawaiku. Bian badannya panas sekali sekarang Bunda,” adu Satya yang tak tega pada istrinya.
“Hahaha iya… iya Alwa, dulu Ayah juga gitu. Om Papa juga, semua pernah. Tapi gak separah kalian. Mungkin dosisnya sama, tapi kalian yang gak kuat. Memang sangat menyiksa, tapi sekali dua kali sudah baik kok,” Goda Affandi yang semakin membuat Satya berdecak sebal.
“kalian para orang tua itu tak tau, Bian ini sedang program hamil dan gak boleh sembarangan minum obat atau jamu.” Gerutu Satya yang membuat orang tuanya kaget.
“Program?” Tanya vindya kaget.
“Iya Bun, Bian kandungannya sangat lemah. Itu yang membuat dia keguguran sebelum tau akan kehamilannya.” jelas Satya.
__ADS_1
“Ya sudah, mana sekarang istrimu,” Tanya Vindya yang merasa sedikit menyesali apa yang di lakukan oleh mamanya.
Niatnya baik untuk membantu memberi sesuatu, Tapi apa daya jika tubuh cucu menantunya tak sanggup menerima ramuan cintanya.
“Ada di kamar Bunda,” Satya menunjukkan di mana istrinya saat ini.
Vindya melihat menantunya tengah terlelap yang sesekali memanggil putranya. Seakan takut di tinggalkan oleh suaminya, Bian terus memintanya agar tak meninggalkan dirinya.
Sedikit kaget dengan apa yang di gumamkan sang menantu pun Vindya hanya mengerutkan keningnya. Satya hanya menjawab dengan gelengan kepala.
“Selalu seperti itu dari dulu Bun, kalau lagi sakit. Dia gak mau di tinggal, dan seperti terjadi traumatik dalam dirinya. Tapi Alwa gak tau itu apa,” Mendengar jawaban dari sang putra, Vindya dan juga Affandi mengerti.
Ya, Satya tidak pernah tau siapa yang mengambil prawan istrinya. Bahkan orang tuanya sendiri pun ikut merahasiakan semua itu dari sang putra. Bukan kenapa menyembunyikannya. Tapi Vindya tau seberapa keras putranya. Dirinya takut Satya akan hilang kendali dan berakibat buruk di akhir.
Mengingat kembali jika lelaki ******** itu sudah menjadi menantu tersayang di rumah mertuannya sebagai menantu kedua.
Setelah memberikan beberapa sendok madu dan mengompres menantunya. Vindya dan Affandi pamit pulang. Vindya berjanji akan menjenguknya lagi besok ketika putranya akan berangkat kuliah.
Malam Satya berlalu dengan rasa nyeri pada juniotnya yang terkurung dalam keadaan menegang. Beberapa kali sudah di bikin lemas, namun tak kunjung menyusutkan ukurannya. Melihat istrinya tergolek lemah pun timbul rasa iba pada gadisnya.
Pagi hari Bundanya sudah datang dengan membawakan sarapan untuknya dan juga bubur untuk istrinya.
“Bang, Badan Adek sakit semua. Rasanya juga masih lemas,” Rengek Bian pada saat Satya suaminya bersiap untuk ke kampus.
“Kamu di rumah saja, ada Bunda yang akan menemanimu sayang,” usap halus pada rambut Bian.
“Jangan tergoda sama wanita lain Bang, Adek gak sanggup jika harus membagimu dengan yang lain.” Pesan Bian yang selalu di ucap setiap hari setelah kejadian Ratna.
“Tenang sayang, Cinta abang hanya untukmu. Cepat sembuh, nanti kita ke kampus bersama,” ucap Satya penuh kasih dan sayang.
“Heem Bang, Maafin Bian ya gak bisa melayanimu dengan baik.” Bian mengingat kejadian semalam yang menghentikan pergulatan panasnya akibat rasa sakit di sekujur tubuhnya.
“Gak apa apa sayang, Masih ada banyak waktu untuk kita saling memperbaiki diri,” Satya mengecup dahi istrinya sebelum pergi meninggalkannya.
“Bunda, makasih ya, Satya masih belum bisa tanpa bantuan Ayah dan Bunda.” Satya memeluk Vindya seakan menumpahkan semua beban yang ada di pundaknya.
“Bunda cuma punya kamu dan Bian, kalau kalian kenapa kenapa Bunda sama siapa?” Tutur lembut Bunda Vindya sambil mengelus punggung yang bidang milik putranya.
“Nitip Bian Bun, Alwa berangkat dulu.” Satya pamitan setelah menitipkan istri tercintanya.
Tiga puluh menit membawa Satya ke kampus tempatnya menuntut ilmu. Di parkiran Satya di hadang oleh seorang gadis cantik yang berbeda jurusan dengannya.
Seorang senior yang selalu menunggu Satya di parkiran. Dan kini seniornya yang mencoba mendekatinya itu terang terangan mengutarakan rasa sukanya pada lelaki yang sudah beristri.
Satya bukanlah satu satunya mahasiswa popular di kampus. Hanya saja, dia satu satunya yang popular sejurusannya. Banyak yang penasaran dengan lelaki dingin dan juga pemilik tinggi sempurna bagi orang lokal. 180 cm merupakan tinggi yang sangat di idam idamkan banyak kaum lelaki dan juga kaum hawa untuk melindunginya.
Memiliki tubuh tinggi dengan berat badan 65 kg membuatnya terlihat seperti tiang penyanggah jemuran. Satya tak memiliki ABS atau roti sobek, namun perutnya juga tak buncit.
Banyak mahasiswi yang terpikat dengan paraanya yang tampan dan berkulit bersih dan sedikit terang dari teman teman yang lainnya.
“Kakak mau apa lagi?” Tanya Satya yang semakin di dekati oleh gadis tinggi dan putih pemilik pekerjaan sampingan sebagai model.
“Gue mau tawarin elu untuk masuk agensi gue,” Cindy menyodorkan kartu namanya yang juga tertera nomer telfon agensinya.
“Maaf kak, gue gak minat. Kerjaan gue udah banyak,” Tolak Satya halus dengan senyuman yang baru kali ini di lemparkan pada gadis yang mengejarnya selama setahun ini.
“uuuuhhhhh meleleh gue sama senyuman elu,” Cindy berpegangan pada Satya seperti hendak terjatuh.
“Kakak, kakak… kakak gak apa apa?” Tanya Satya dengan membantu gadis itu agar tetap berdiri di kakinya sendiri.
“Senyuman elu sumpah meluluhkan semua tulang yang menyanggah kaki gue.” Rengek Cindy yang membuat Satya tertawa sedikit mengejek, entah sadar atau enggak.
“Ya sudah kakak mau kemana? Biar Satya antar,” Satya memapah Cindy sampai di kelasnya.
__ADS_1
“Terima kasih ya, kalau misalnya kamu berubah fikiran kamu bisa menghubungi nomer ini,” Kembali Cindy menyerahkan kartu namanya.
“Terima kasih kak, tapi memang kerjaan gue emang banyak banget. Selain tugas tugas kuliah gue juga harus ngurus cafe sepulang kuliah.” kembali Cindy mendapat penolakan dari sang lelaki pujaannya.
“Ya sudah kalau begitu kasi gue nomer WA elu,” kembali Cindy beruaha untuk mendapatkan nomer pribadi Satya.
Dengan senang hati Satya memberikan nomer WA pada gadis yang dia tau tengah mengejarnya selama setahunan ini. Satya bukannya memberikan nomernya, namun memberi nomer Bian pada gadis cantik nantinggi yang mengejarnya.
Satya bukan orang yang suka mengumbar nomor atau kata gombal pada lawan jenis. Tapi entah mengapa para gadis itu suka mengejar ngejarnya. Kadang Satya juga heran sendiri, padahal dirinya sering berkata kasar pada cewek cewek itu.
Sebelum ke kelasnya, Satya menyempatkan diri ketemu dengan teman teman yang lainnya di kantin. Satya melihat Nurul yang sempat menghilang dua hari pun langsung menanyainya.
“Dari rumah Abang kamu kemana?” Tanya Satya protektif.
“Ke Semarang Bang, ke rumah si mbah,” Jawab Nurul sedikit gugup.
“Sama siapa?” Tanya singkat Satya mengintimidasi gadis yang biasanya manja padanya itu.
“Sama gue,” Jawab Arkan dari arah belakang Satya.
“Bagus bener ya lu bawa anak orang tengah malem dan gak ijin orang tuannya,” Satya menyerang Arkan, dan saat akan memukulnya Nurul menahan lelaki yang di anggap sebagai abangnya sendiri itu.
“Bang, tunggu. Ini bisa di bicarain baik baik, jangan main kekerasan seperti ini Bang.” Nurul menahan tangan Satya yang hendak mendarat di wajah suaminya.
Nurul dan Arkan menceritakan semuanya sebelum Sasa dan Michael bergabung dengan mereka bertiga. Bukan berniat merahasiakan, hanya saja Nurul masih belum siap jika di serang oleh penggemar dari suaminya.
Arkan memang tak sepopuler Satya karena Satya juga termasuk pemain basket. Tapi Arkan juga memiliki penggemar karena Arkan memiliki paras dan juga IQ yang tak di ragukan lagi.
Setelah mendengar pengakuan kedua orang di depannya. Akhirnya Satya pun memberi selamat dan juga memberikan dukungan penuh bagi mereka berdua.
“Abang doakan yang terbaik buat kalian berdua. Abang sangat bahagia jika adek manja Abang sudah ada tempat manjanya sendiri. Dan Arkan, tolong jaga baik baik Nurul,” Pesan Satya di ingat dalam hati Arkan baik baik.
“Pasti Bang, dan abang juga harus mengajariku lebih lagi.” Kata Arkan yang membuat tawa Satya pecah.
“Iya, Abang kan sudah janji. Terus di mana kalian akan tinggal?” Tanya Satya karena setaunya apartemen Arkan di tempati oleh mantan tunangannya dulu.
“Mungkin akan tinggal di depan rumahmu Bang, kemaren Papa sudah membeli rumah itu katanya buat kado pernikahan,” Jawab Arkan malu malu.
“Itu lebih bagus. Tau kan istrimu ini manja banget,” Satya terus mengembangkan senyum menggoda pada adik kecilnya.
“Karena kemanjaannya lah bang gue tertarik sama dia,” Lirik Arkan membuat Nurul tertunduk malu menyembunyikan wajah merahnya.
Setelah mereka puas menggoda anak manja dalam persahabatannya. Michael dan juga Sasa datang dengan bergandengan tangan.
“Ada apa ini?” Tanya Satya yang tercengang dengan keadaan mereka berdua.
Sasa dan Michael menunjukkan cincin yang tersemat di jari manis masing masing. Ya mereka rupanya sudah melangsungkan pertunangan, tanpa mengabari satu sama lain.
“Gila!!! hal ini kalian lakukan di saat Bian tengah terkapar di tempat tidur.” Seru Satya yang menyesalkan sakit sang istri yang tak tepat momentnya.
“Bian kenapa?” Tanya Sasa dari bahagia berubah khawatir.
“Kekencengan sih elu Sat maennya,” Michael menepuk sedikit keras pundak Satya.
“Saaakkkiiiiittt beegok,” Balas satya dengan memukul paha lelaki yang tengah menikmati kebahagiaannya setelah mendapatkan cintanya.
“Bian program hamil, terus kemaren minum jamu buatan Oma Agnes, jadinya seperti overdosis dia.” jelas Satya.
“Kalau gitu mending pulang kuliah kita ke sana deh jengukin Bian,” Ajak Nurul yang rupanya masih menempel pada Satya.
“Tapi gue absen ya, cafe lagi rame ramenya.” Arkan yang memang mau fokus pada kerjaan pun mencoba untuk komit.
“Ya gue wakilin tenang aja, pasti Bian juga paham kok,” ucap Nurul dengan segala kemanjaannya menutupi wajah merahnya di balik lengan Satya.
__ADS_1
Satya hanya tersenyum melihat tingkah adik kecilnya.