
"Nad dosa gak sih kalo gue apa apain lo?"
Ucapan Vano membuat Nadin menghentikan sejenak untuk berfikir. Nadin mulai mencerna apa yg di tanyakan Vano.
"Lo ngomong apa sih Van?" Pertannyaan Nadin tak mendapatkan jawaban dari Vano.
Vano menundukkan kepala seperti orang yg tengah frustasi. Nadin menyadari ada yg aneh dalam diri Vano.
"Lo kenapa Van? Lo gak pa pa kan? Kita ke dokter yuk." Pertanyaan Nadin masih Tak mendapat jawaban.
Vano yg hanya diam dari tadi kini lebih memilih memeluk istrinya dari pada memberi jawaban. Nadin merasakan kepanasan yg tadi dia rasakan muncul lagi. Namun entah, kali ini jauh lebih panas dari yg tadi dia rasakan.
"Tadi lo minun minuman pait itu juga?" Pertanyaan Vano berhasil membuat Nadin terkejut dan hanya mengangguk.
Tak menunggu lama lagi Vano mengambil hp yg ada di meja rias. Hanya dengan mengenakan handuk di bagian pinggang hingga lututnya itu Vano menghubungi seseorang.
__ADS_1
"Ma... mama tega banget sama Vano ma." Ucap Vano setelah mendengar sahutan di balik telfonnya.
"Tega gimana sayang?" Tanya mama cuek.
"Mama ini sakit banget rasanya gak bisa di tahan. kenapa mama bisa setega ini sama Vano."
"Ya tinggal salurin aja kan beres lah lagian juga ada Nadin, apanya yg di takutin sih?"
"Ma Vano sama Nadin itu masih sekolah, jadi gak mungkin melakukan ini ma."
"Apanya gak mungkin sih? Kalian itu sudah menikah sah lo. Kalo kalian gak memenuhi kewajiban kalian itu akan dosa. Lagian kalo kalian masih menunda untuk dapat momongan kan bisa pakek alat kontrasepsi." Jelas mama Agnes.
"Tinggal beli di minimarket kan gampang, apa sih yg susah." Mama menutup telfon paksa.
Setelah Vano selesai bicara dengan mamanya. Vano langsung memakai baju yg di siapkan istrinya. Vano menarik Nadin untuk ikut bersamanya.
__ADS_1
Sesampainya di mini market dekat rumah Vano. Nadin turun dari motor lebih dulu dengan pertanyaan.
"Yang untuk apa kita ke sini? Cemilannya masih banyak lo." Tanya Nadin.
"Mau beli sesuatu." Ucap Vano dingin.
Vano meninggalkan Nadin di luar. Vano mengambil 2 kotak kecil benda bertuliskan F**** dan langsung membayar ke kasir. Tanpa Vano ketahui Maria teman sebangku Nadin melihat Vano. Dari dia mengambil benda itu sampai membayar di kasir.
Pandangan Maria mengikuti Vano pergi dan mendapati Nadin di luar. Maria berlari kecil menuju pintu keluar namun tak ingin keluar. Maria melihat Nadin selaku teman sebangkunya yg di anggap polos itu duduk di belakan Vano. Maria tak percaya dengan apa yg dia lihat.
"Nadin terjerumus pergaulan bebas dan itu dengan gunung es." Guman Maria tak percaya.
Sesampainya di apartement Vano langsung menggandeng Nadin. Vano mengunci semua pintu, dari pintu masuk, pintu balkon, juga pintu kamar setelah Vano mengajak Nadin masuk kamar.
"Vano ada apa sih? Tumben lo kunci semua pintu?" Tanya Nadin kebingungan.
__ADS_1
Vano melempar kotak kecil yg ia beli di minimarket tadi ke ranjang di samping Nadin. Mata Nadin terbelalak melihat itu. Vano membuka kaos yg ia kenakan dan kini telanjang dada mendekati Nadin. Nadin melonjak mendapati Vano di sampingnya dengan bertelanjang dada.
"Yang gue gak maksa lo untuk melakukan ini sekarang. tapi jujur gue tersiksa dari tadi di rumah Vindya setelah meminum jus dari mama. Punya gue tegang gak mau tidur biar sudah gue cobak sendiri tadi. Gue beli itu di suruh mama. Kalo lo masih belum siap, gue mohon bantu gue pakek tangan lo." Ucap Vano lirih namun terdengar seperti sambaran petir bagi nadin.