
Seminggu sudah Mentari menginap di rumah sakit. Seminggu pula hubungan Wina dan Fariz berjalan. Seminggu pula Fariz ikut dengan Affandi atas rekomendasi Satya.
Mentari hari ini pulang ke rumah dengan di bantu Fariz yang kebetulan libur kerja di hari sabtu. Fariz menjemput Mentari atas permintaan Mentari karena merasa Fariz sudah mengabaikannya.
Setelah hasil tes darahnya keluar, keluarha Mentari selalu menuruti apa yang di mau oleh putrinya. Mentari hanya minta adanya Fariz sebagai penghiburnya, tak jarang Fariz melakukan Vidio call saat bekerja.
“Fariz, apa kamu sudah makan?” Tanya Mentari saat Fariz menyuapinya makan di kamar gadis lemah ini.
“Sudah, kamu saja yang makan. Oh iya, kamu masih ingat pak Mustafa” Tanya Fariz mengalihkan perhatian Mentari.
“Lelaki tua itu setiap hari mengunjungiku bagaimana aku akan lupa? Bahkan dia terlihat berbeda ketika tak mengenakan baju rapinya.” kata Mentari yang menyembunyikan wajah merahya.
“Beda bagaimana?” Tanya Fariz pura pura tak tau jika gadis ini tengah menyembunyikan wajah terpesonanya.
“Ya, terlihat lebih tampan saja kalau sudah pakai kaos sama jaket celana sobek sobek.” kini Mentari tak lagi menyembunyikan rasa kagumnya.
“Apa kau sudah menyukainnya?” Tanya Fariz dengan senyuman menisnya.
“Ya, aku rasa aku menyukainya , tapi dia sangat kejam saat di sekolah. Itu membuatku takut Fariz,” Mentari memang malu, tapi dia tak pernah menyembunyikan apapun dari Fariz.
“Benarkah? Dia pasti akan merubah itu jika kamu memintanya.” kata Fariz yang terus menyuapkan buah setelah bubur gadis ini sudah habis.
“Benarkah? Tapi aku takut dia akan semakin jahat lagi Fariz,”
“Gak akan, Mentari. Apa lagi kamu yang memintanya, percayalah padaku,” ucap sombong Fariz.
“No, aku gak mau percaya padamu. Kau itu suka sekali bohong, aku benci itu” Mentari berpura merajuk pada Fariz membuatnya terlihat lebih imut dengan wajah yang masih pucat.
“Maaf lah. Kamu harus tahu kalau aku harus mencari banyak rupiah untuk kehidupanku nanti. Kasian ibuk kalau terus mejadi pembantu, di tambah lagi Mbak Bian terlihat sangat sungkan menyuruh ibu. Aku mengambil kerjaan ini juga untuk kebaikan semua,” terang Faris.
“Tapi aku masih belum memaafkan mu yang diam diam pacaran dengan Wina,” kali ini Fariz lah yang menyembunyikan rona merah di wajah tampannya.
“Tahu dari mana kamu?”
“Dari papa, om Revan tak henti memujimu. Dan aku sampai muak mendengar cerita papa. Sehebat apa kau ini hah! Hanya seorang Fariz yang suka mengomel saja terus di banggakan hah!” Goda Mentari yang tak mau melewatkan wajah malu yang di tunjukkan oleh Fariz, satu satunya teman yang di miliki.
“Sudah lah cukup menggodaku, atau mau aku tinggal kamu sekarang juga?” ancam Fariz.
“Hai bung, jangan suka kau mengancam ku. Kalau tidak aku tidak akan mau minum obatku dan kau akan menyesal kehilangan aku selamanya,” gantian Mentarilah yang mengancamnya.
“Jangan begitu berat mengancamku, aku meninggalkanmu sekarang untuk membawa piring makanmu yang sudah kosong dari tadi nona,” Kata Fariz menunjukkan piring kosong di tangannya.
“Biar mbaknya saja yang mengambil ini nanti. Temani aku tidur dulu,” pinta Mentari mengagetkan Fariz.
“Permintaanmu ambigu nona, arti mana yang harus aku ambil ini?” Tanya Fariz menggoda Mentari.
“Jelas yang mengandung arti positif lah yang harus kau ambil,” jengkel Mentari dengan otak ngeres Fariz.
“Apa? Kau mau positif, dan itu dengan ku?” dengan nada menggoda gadis yang masih lemas untuk melakukan apa apa.
“Mati kau Fariz, otak mu itu kenapa isinya hal hal yang gak berguna sih!” dengan nada suara yang masih lemah Mentari berusaha teriak.
Sedangkan orang yang di teriaki hanya tertawa senang. Sedangkan Mentari merasa sedikit sakit di kepala, namun tak berani untuk mengungkapkan pada Fariz. Mentari tak tau penyakit apa yang di derita saat ini, mama papanya semakin aneh adanya.
Sejam sudah Fariz menunggui mentari yang sudah tertidur pulas. Fariz yang tadinya sibuk dengan chatnya bersama Wina juga rekan kerjanya. Fariz melihat ke arah Mentari yang tertidur layaknya bayi.
“Seandainya kamu bukan anak orang kaya yang cerewet dan juga ngeselin. Mungkin aku akan mengejarmu dan memperjuangkanmu seperti saat ini aku memperjuangkan Wina. Selamat tidur Matahariku,” Fariz mencium lembut kening Mentari yang tertidur pulas.
Fariz meninggalkan kamar Mentari dengan hati hati takut membangunkan gadis itu. Fariz menemui orang tua Mentari yang berada di ruang tengah dengan air mata yang seperti baru saja di hapus.
“Permisi Tante, om. Kenapa menangis?” Tanya Fariz sebelum melihat kertas berserakan di meja.
__ADS_1
Dengan cepat papa Mentari menyingkirkan kertas yang berserakan di meja.
“Apa yang om dan tante sembunyikan dari ku? Apa itu tentang penyakit Mentari?” tanpa memandang kesopanan lagi, Fariz meraih kertas dengan paksa.
Fariz membaca diagnosa dokter dan semua hasil tes Mentari semua secara teliti. Kangker darah yang tertera di kertas membuat Fariz menuntut penjelasan dari kedua orang tua yang tak mampu lagi menahan tangis.
“Tolong sembunyikan ini dari Mentari,” pinta mama Mentari.
“Bagaimana harus menyembunyikan ini hah!! katakan padaku tante!” teriak Fariz dengan penuh amarah.
“Maafkan kamu Fariz, tapi penyakit Mentari sudah di stadium akhir. Makanya dia terlihat sangat lemah dan lebih sering pingsan dan juga mimisan. Selama di rumah sakit juga sudah hampir setiap hari dia mengeluarkan darah dari hidungnya.” terang mama dari Mentari.
“Kenapa gak ada yang memberi tahuku tentang hal ini?” Tanya Fariz dengan sedikit kecewa.
“Maafkan kami nak, kami mikir kamu sedang memperjuangkan hal yang lain dan kami gak mau memberi beban kamu dengan keadaan putri kami. Sudah cukup selama ini kamu menjaga Mentari dengan sangat baik. Pergilah dan cari bahagiamu nak, kami sudah tak berharap lebih dari ini. Kami kasian padamu yang selalu capaek menjaga Mentari,” ucap Papa Mentari.
Mendengar papa Mentari mengatakan hal itu Fariz merasa dirinya tak berguna. Kebahagiaan yang ia kejar rupanya tak membawa kebahagiaan untuk teman tercintanya. Fariz pergi meninggalkan rumah mentari tanpa pamit.
Di dalam mobil Fariz merasa dirinya sangat tak berguna dengan apa yang di genggamnya. Fariz mengarahkan mobilnya tanpa tujuan, dengan harapan ingin meluapkan emosinya dengan jauh dari semua orang.
Di sini saat ini Fariz mencari ketenangan dan kedamaian hati yang tengah kacau. Hamparan padang rumput yang entah kenapa tempat sebagus ini tak ada pengunjungnya, padahal hari ini adalah weekend.
“Maaf mas, taman ini sedang tutup karena ada pembangunan,” Salah satu petugas menegur Fariz yang menerobos taman tanpa melihat ada peringatan sedang ada pembangunan.
“Pantas saja sepi, tapi bolehkan saya di sini sebentar saja? Saya janji gak akan membuat keributan.” pinta Fariz.
“Asal jangan bunuh diri saja silahkan mas,” jawab petugas itu.
“Terima kasih pak.”
Fariz menghabiskan sekitaran satu jam untuk menenangkan diri di tempat itu. Merasa dirinya masih belum juga merasa tenang dan membuat moodnya kembali bangkit. Fariz memutuskan untuk ke tempat yang selama ini tak pernah di kunjungi seumur hidup.
Karena tinggi badan Faris yang tinggi dan juga terlihat seperti orang dewasa membuat security meloloskannya masuk. Kesan pertama yang muncul di benak Fariz adalah bising, brisik dan gak tau di bilang mendapatkan ketenangan dari mana jika sudah masuk ke dalam tempat ini.
“Mas, kasi saya minuman penenang.” itu lah kata yang terlontar dari mulut Fariz.
“Baru?” Tanya bartender yang tengah meracik minuman Fariz.
“Iya, ini bar pertama buatku mas, jangan buat saya mabuk. Karena saya datang sendirian mas,” jujur Fariz.
“Siap,”
Bartender itu menyerahkan minuman yang berwarna bening dan yang bawahnya ada warna biru seperti pepsi namun rasanya seperti membakar tenggorokan. Sekali menenggaknya memang seperti hendak membakar diri, namun setelah merasakan yang ke dua dan ketiga rasa panas itu pun membuat badan Fariz terasa sangat ringan.
Faris mengikuti aluna musik dan berjalan ke arah kerumunan orang yang asik berjoget mengikuti alunan musik DJ. Musik yang menghentak dan juga suara gemuruh yang tadi di bilang berisik dan juga bising. Perlahan membawanya terbang dengan melupakan semua perasaan yang di bawanya.
Fariz meluapkan kekesalannya dengan menenggak kembali minuman racikan bartender muda. Dj yang memainkan musik menghentak pun tanpa sengaja melihat ke arah Fariz, yang terlihat asing baginya.
Setelah pergantian DJ, pemandu musik itu mendekati Fariz. Dengan menggunakan baju kaos dengan leher di gunting asal dengan memakai dalaman singlet hitam membuat penampilan DJ cantik itu terkesan sexy.
Menggunakan celana jins sobek hampir di semua kakinya. Di padu dengan sepatu vans warna hitam bercorak papan catur menambah santai penampilan gadis berwajah bule itu.
“Baru?” Tanya DJ itu dengan mengalungkan tangannya di leher Fariz.
“Hmm, mau apa kamu?” tanya Fariz sedikit takut namun di tutupi dengan sikap dinginnya.
“Aku tertarik dengan kamu,” ucap DJ tadi.
“Tapi aku hanya tertarik dengan musikmu, keren,” puji Fariz dengan kepala yang sudah kosong. Hanya menikmati iringan musik yang semakin menghentak.
“Almas, di panggil Boss,” salah satu body guadr sudah mencolek pundak Almas dari belakang.
__ADS_1
“Tunggu di sini, aku akan segera kembali.”
Sepeninggalan Almas Dj cantik berparas indo. Fariz kembali menenggak minuman yang di sodorkan padanya. Tak lama Almas menemui Fariz yang tengah menikmati minumannya.
“Gas, seperti biasa satu.” pinta Almas pada bartender yang sudah di kelanya.
“Al, kamu mau pulang dulu? Atau nungguin aku?” Bagas yang meracik minumandi depannya.
“Mangsa baru Gas,”
“Almas, gak kapok kamu dengan ancaman papa Levin kamu ya? Mau kamu di suruh berhenti ngeDJ?” Bagas mengingatkan Almas.
Ya. Dia adlah Almas, putri pertama LEvin dan juga Queen yang rupanya mengikuti jejak sang papa menjadi DJ dan juga mengisi hari harinya dengan bermain musik di cafe kakek dan juga papanya.
Dan bartender itu adalah Bagas putra kembar tiga nomer bontot anak dari Kliene dan Ayu. Sungguh sial hidupnya Faris yang bertemu dengan keluarga taman safari di manapun dia pergi.
Fariz yang setengah sadar di bawa pulang ke apartemen milik Almas yang tak jauh dari tempat mereka dugem. Sedikit kerepotan Almas membawa Fariz dengan berat badan yang lumayan.
Pagi menyapa dan Fariz merasa kepalanya sangat sakit setelah merasa kepalanya kosong dalam semalam. Fariz kaget karena di sampinya tidur seorang wanita yang tak di kenalnya. Fariz melihat ke badannya dan rupanya masih terbungkus dengan baju lengkapnya.
“Hei kau bangun,aku di mana ini?” Tanya Fariz seraya membangunkan wanita yang ada di depannya.
“Diam lah kau anak kecil, semalaman kau tak mengijinkan aku tidur karena kau terus meneriakkan nama Wina dan mentari. Kalau kau mau mendua itu siapkan hati, bukan pergi ke tempat terkutuk itu,” omel Almas yang masih menutup matanya.
“Mana aku tau kalau aku mengganggu tidurmu. Tapi aku gak memintamu untuk membawaku kemana ini. Apa jangan jangan kau mau memperkosaku?” Tanya Fariz masih dengan nada tak wajarnya.
“Enak saja aku memperkosamu. Aku hanya kasian saja dengan kamu, kalau ada masalah kamu bisa bercerita padaku. Jangan datang lagi ke tempat itu. Aku melihat tanpa pengenalmu, kamu itu asih kecil, masih seumuran adikku. Mungkin kau kenal adikku yang juga sekolah di sekolah yang sama dengan mu.” Ya Almas melihat tanda pengenal dari kartu pelajarnya.
“Siapa namanya?” Tanya Fariz penasaran.
“Arin dan Arvy Baganta,” jawab Almas kini sudah bangun dan membuatkan kopi untuk Fariz.
“Aku sekelas dengan Arin Baganta, tapi tidak dengan Arvy. Dia susah di dekati,” ucapan Fariz menerima kopi dari gadis di depannya.
“Terus yang kamu maksd Wina itu jangan bilang anaknya Revan?” Tebak Almas.
“Kamu kenal dia?” Tanya Fariz kaget.
“Kenal lah, dia anak dari papaku.”
Mati, keluar dari kandang macan masuk mulut buaya. Itulah istilah yang cocok dengan keadaan Fariz saat ini. Fariz mengusap kasar wajahnya dan merenungi nasibnya yang begitu jelek.
“Bagaimana aku bisa keluar dari lingkungan orang orang hebat seperti kalian? Tahukah kamu, kalau aku sekarang dilema?” Tanya Fariz terkesan menyesali takdirnya.
“Dilema karena susah memilih Mentari atau Wina?” Tebak Almas lagi.
“Bukan begitu. Aku ini anak pembantu yang tak tahu diri menyukai anak anak sultan. Pertamanya aku menyukai Mentari, tapi setelah tau dia anak dari pengusaha textil aku mundur. Setelah itu aku melihat Wina sangat sederhana. Pertamanya aku mengira dia itu sama sepertiku, masuk sana karena beasiswa prestasi. Aku mengejarnya hingga di terima seminggu yang lalu. Dan aku baru tau kalau Wina juga anak Sultan yang sering di ceritakan majikanku. Sungguh sial kan nasibku?” cerita Fariz di simak dengan seksama oleh Almas, orang baru di kenalnya.
“Hmm, Om Revan gak pernah berpandang pada segi materi setau ku, tapi gak tau lagi sih. Terus Wina tau keadaan kamu yang sebenernya?” Tanya Almas.
“Tau, dia menerimaku setelah aku mengatakan jika aku anak seorang pembantu.” aku Fariz.
“Sudah begitu, apa lagi yang kamu takutkan? Tapi memang aku sempat meragukan kamu kalau kamu itu anak pembantu dari kendaraan yang kamu pakai dan juga penampilan kamu.” Almas ikut meragukan Fariz.
“Mobil itu aku beli dari bosku karenaaku tak mau emakainya pas di surh memakai sesuka hati. Beliau meminta uang sepuluh juta untuk mobil itu.” Jelas Fariz.
“Dari mana kamu punya uang segitu banyak. Dan tadi aku juga melihat dompetmu tebal sekali sebagai pelajar.”
“Sudah aku katakan jika aku ini anak pembantu. Aku juga bekerja di cafe milik majikanku itu sebagai cleaning servis dengan gaji tiga juta sebulan. Aku tak membayar sekolah, karena aku mendapat beasiswa di bidang prestasi. Selama seminggu ini malah aku membantu Pak Affandi kerja di perusahaannya, sebagai sekertaris pribadinya.” terang Fariz lagi.
“Pantas saja Om Revan menerimamu, rupanya memang kau calon orang besar juga rupannya. Tenang, restu orang tua Wina sudah kau kantongi.” ucap Almas sambil mencari bajunya.
__ADS_1
“Ingat, datanglah kemari kalau ada masalah seperti ini lagi. Jangan kau pergi ke tempat itu, aku akan meminta Bagas datang ke sini untuk kita pesta,” ucapnya lagi sebelum hilang di telan pintu kamar mandi.