Kesetiaanmu

Kesetiaanmu
Ojek


__ADS_3

Nadin kembali kekelas. Setelah melihat pemandangan yg membuat darahnya mendidih Nadin memutuskan untuk pulang. Dari selesainya ujian kenaikan kelas memang sudah tak ada pelajaran lagi. Di tengah perjalanan Nadin bertemu dengan abang iparnya Affandi dengan istrinya Vindya.


"Bang dari mana?" Tanya Nadin.


"Dari peiksain kakak. Mana Vano kok lo naik ojek?" Tanya Affandi.


"Lah emang sekarang Nadin sama Vano emang naik ojek kemana mana. kalo engga ya naik angkot." Mendengar itu Vindya kaget.


"Kenapa bisa gitu? Mana Vano?"


"Vano masih di sekolah kak masih ada urusan katanya." Nadin menutupin apa yg ia lihat tadi.


"Vano menjual motornya kak buat modal usaha. Udah sekitar sebulanan Vano buka usaha." Terang Nadin.


"Usaha apa dia Nad, kenapa dia gak bilang ke kakak." Ucap Vindya


"Vano pengen melakukannya sendiri kak. bahkan mama sama papa kayanya belum tau. Vano buka warung gerobak jual es kelapa sama jus buah di deket pasar tradisional yg bersebelahan dengan sekolah SMP kita dulu." Terang Nadin yg mendapat anggukan dari Vindya.

__ADS_1


"Kenapa gak beli motor biasa saja?" Tanya Affandi.


"Waktu ini sempet beli motor matic bekas bang harganya lumayan murah tapi gak lama di curi orang. jadi ya kami sepakat menggunakan transportasi umum saja." Affandi mengangguk paham akan iparnya itu


"Bukanya jam berapa kalo kalian sekolah?" Tanya Vindya.


"Vano mencari seseorang pegawai kak jadi masih tetep buka biar di tinggal sekolah. malem tutup jam 9 kak."


Vindya mengambil ponsel di dalam tasnya dan langsung mencari nama adiknya. Vindya menelfon Vano dan menyuruhnya ke rumah. Tadinya Vano menolak namun Vindya bilang bahwa Nadin sedang main ke rumahya.


"Lo ngadu apa sama Vindya. Lo taukan Vindya dalam keadaan tak baik baik saja. Jadi lo gak usah macem macem." Ancam Vano.


Nadin tercengang dengan peryataan Vano. Nadi merasa malas bertemu dengan Vano, namun Nadin tak mampu berbuat apa karena hubungan mereka bukan lagi pacaran. Dengan langkah berat Nadin mengekor Vano.


"Duduk lo Van. Kakak mau tanya sama lo." Vindya dengan keripik singkong di depannya menyuruh adiknya ikut duduk di karpet dengan makanan di depannya.


"Ada apa ini kak? Banyak banget cemilannya." Tanya Vano

__ADS_1


"Lo makan aja apa yg ada. Kalo lo mau lo boleh bawa pulang." Vindya tau Vano memang seneng ngemil. Jadi Vindya gak bisa membayangkan kehidupan yg di pilih oleh adik tersayangnya ini.


Dari jualan di dekat pasar tradisional hingga kemana mana naik transportasi umum. Ini bukan Vano banget. Pikir Vindya. Vano yg tak suka kotor juga bau matahari bisa berlama lama di bawah terik matahari di samping pasar yg sudah pasti itu kotor sekalii.


"Kemana motor lo Van?" Tanya Vindya saat Vano asik memakan keripik tempe di depannya.


"Gue jual kak buat usaha. Vano gak papa kok." Vano cepat cepat menepis pikiran Vindya.


"Kakak bangga sama lo Van, tapi kenapa lo gak kerja lagi di perusahaan papa sih? Lo itu harapan terakhir papa." Tanya Vano.


"Vano pengen merasakan namanya berjuang kak, Berjuang dari 0 bener bener dari yg tak punya pengalaman sampai gue harus bisa belajar dari kehidupan kebanyakan orang. Bukan langsung enaknya doang. Kan Affandi dulu juga gitu kan sebelum buka cafe. Vano tau." Ucap Vano membuat Nadin terharu.


"Lo mau pakek mobil kakak?" Tanya Vindya.


"Ogah mobil lo udah gak virgin. Rombakan semua. Ibarat artis ni ya udh banyak melakukan operasi plastik. Cantik tapi buatan." Vano melirik Nadin yg tengah menyeka air matanya.


Entah kenapa dari Nadin memergoki dirinya yg akan membelai rambut Nova, Vano sangat sangat dan sangat jengkel pada Vindya.

__ADS_1


__ADS_2