
Kebiasaan Satya dan teman temannya adalah berkumpul di cafe miliknya sebelum pulang ke rumah setelah ngampus.
Namun kali ini ada perubahan dari formasi anggota. Setelah Ratna gabung dengan Nurul dan teman temannya demi terus bersama Satya, yaaaa mesti sering di cuekin. Kini Bian mengajak Arkan gabung bersamanya dan teman teman yang lain.
Arkan yang memiliki sifat dingin dan terkesan cuek. Membuatnya susah dalam mendapatkan teman. Tapi karena Bian dan juga Arkan memiliki kesamaan, yaitu suka blak blakan dalam berbicara. Membuat mereka berdia sangat kompak.
“Oh iya Ar ini kenalin temen temen gue. Lu kenal dia kan? Dia Satya laki gue, sebelahnya Nurul. Terus sampingya Ratna, sampingnya Sasa dan Satunya Michael. Mereka ini berteman semenjak SD.” Bian memperkenalkan pada Arkan.
“Hai, gue Arkan teman sejurusan Bian. Oh iya Bi, lu gak masalah laki lu di pegang pengang cewek lain?” Tanya Arkan to the poin meski baru kenal dengan Nurul.
“Oh, dia? Gak masalah kalau sama dia, asal bukan sampingnya aja. Kalo dia itu uler kepala dua,” Jelas Bian sambil melirik Ratna.
“oh, salam kenal semua ya,” kembali Arkan mencairkan suasana yang sudah membeku karena perkataannya.
“Ya sudah kalian pesan apa aja silahkan. Gua ke dalam dulu ya,” pamit Satya yang memang sedang di tunggu oleh seseorang.
“Ya sudah, aku yang temanin mereka,” Bian menunjukkan kemesraannya di hadapan semuanya.
Sepeninggalan Satya, suasana kembali mencair karena kegokilan Bian dan juga teman teman yang lainnya. Bian bercerita tentang masa kecilnya yang hidup di Kalimantan.
“Eh tunggu, elu gak tinggal di hutan ‘kan BI?” Tanya Arkan setelah mendengar cerita Bian yang hidup di salah satu pulau yang menjadi paru paru dunia.
“Enak aja lu nuduh gue orang utan. Gue udah idup di perkampungan. Sialan lu ya kadang kadang,” Mendengar jawaban Bian dengan penuh emosi malah membuat Arkan tertawa.
“Manis banget senyum elu,” tanpa sadar Nurul mengatakan hal yang yang tak pernah di lakukan pada lelaki manapun.
“kalau lu suka, gue bakalan senyum tapi di depan elu aja,” Goda Arkan dengan tampang lurus karena sudan kembali menyimpan senyumannya.
“Eh”
Nurul pun terlihat malu malu dan pipinya merona merah. Bian yang menyadari pun memberi kode pada Sasa yang duduk di sampingnya.
Bian dan Sasa bertukar pesan di layar ponsel miliknya. Sasa ternyata juga merasa hal yang sama, akhirnya bersepakat untuk mendekatkan Nurul dengan Arkan.
Nurul yang memiliki sifat seperti anak kecil yang manja. Bertolak belakang dengan Arkan yang bersifat cuek dan terkesan kejam dan tajam dalam berkata. Apa bisa mereka berdekatan?
Bisa di ibaratkan Nurul itu dengan minyak dan Arkan adalah air. Maka harus ada mama lemon di antara mereka yang bersifat menyatukan keduannya.
Sekitaran satu jam Satya meninggalkan teman temannya yang di temani sang istri. Akhirnya keluar dengan seorang lelaki di sampingya.
“Papa,”
“Om”
Arkan dan Nurul menyapa lelaki gagah di samping Satya berbarengan.
“Oh, Nurul apa kabar kamu nak? Lama gak ketemu, bagaimana kabar papamu?” tanya pak Soni Zulkarnain yang biasa di panggil om Zul oleh Satya.
__ADS_1
“Baik Om, kapan Om main kerumah lagi?” Tanya Nurul sambil memeluk lelaki itu dengan manja selayak papanya sendiri.
“Eh gadis, kenapa elu demen banget nemplok sana nemplok sini sih?” Tanya geram seorang Arkan.
“Arkan! Yang sopan kalo ngomong dengan cewek. Pantesan kamu jomblo mulutmu kaya silet, tajem” Soni pun memarahi putranya di hadapan teman temannya.
“Oh Arkan ini putra Om Zul to?” Tanya Bian yang memang mengenal baik dengan lelaki yang tengah menjalin kerja sama dengan suaminya.
“Iya nak, kenapa kalian bisa mengajak si banci ini sih?” Tanya frontal seorang Soni pada Bian dan teman temannya.
“Banci dari mana sih om? Orang Arkan manis gini,” Nurul membela Arkan secara terang terangan.
Bian menyenggol Satya suaminya dengan memberi kode untuk tetap diam.
“Dia itu suka masak, di suruh kuliah jurusan managemen malah ngambil jurusan masak. Hadeee, pantas aja mulutnya tajem. Orang temennya pisau dan cabe, TAJEM DAN PEDES!!” seru Soni yang menekankan kata di akhir kalimatnya.
“Arkan itu gak banci kok Om. Dia itu ngambil jurusan tata boga karena mau membantu Om mengurus cafe, iya kan Arkan?” Nurul merayu lelaki yang di peluknya membela Arkan dengan mengerjap ngerjapkan matanya memberi kode pada Arkan.
Arkan yang mengerti isarat Nurul pun mengangguk anggukkan kepalanya di hadapan papanya. Sedangkan Bian dan yang lainnya hanya tersenyum sambil menunduk melihat kelakuan Arkan yang tunduk pada seorang Nurul. Gadis manja yang mungkin salah satu type yang di jauhi oleh seorang Arkan pemilik sifat cuek.
“Ya sudah kalau gitu Papa tunggu senin depan untuk mengelola cafe. Satya aja bisa sambil kuliah, masak kamu gak bisa,” ucap tegas seorang ayah pada anaknya.
“Om jangan galak galak, kasian tau Arkan nya.” kembali Nurul bermanja membela Arkan.
“Kamu gak tau sih, Arkan itu anaknya susah di atur.”
“Ya sudah, mulai senin depan kita nongkrognya pindah di cafenya Arkan aja. Sekalian gua bisa mengajarinya sampai dia paham,” ucap Satya seakan mengerti apa yang di takutkan Arkan.
“Teria kasih ya sudah mau jadi guru buat anak banci ini,” Soni masih terus menggoda putranya yang memang memiliki hobi memasak.
“Papa sudah dong jangan sebut Arkan anak banci lagi,” kata Arkan malu malu.
“Ya makanya ajak pacarmu pulang ke rumah. Jangan main bawang merah aja. Sekali sekali maen cabe caben juga boleh kok,” goda Soni lagi.
“Ya sudah nak Satya nitip Arkan ya.” pamit Soni sebelum meninggalkan segerombolan pemuda yang tengah berkumpul.
“Iya om ati ati,” jawab Satya sambil mengangguk sopan.
Setelah kepergian papa dari Arkan pun semua pandangan langsung berpusat pada Nurul. Terutama Arkan yang menatapnya dengan tajam.
“Sejak kapan gue mau ngurusin cafe bopak?” Tanya Arkan dengan tatapan membununya,
“Elu itu harusnya berterimakasih. Gue itu cuma mau nolongin elu dari amukan Om Soni,” kilah Nurul yang masih mendapat tatapan mengintimidasi dari teman temannya.
“Sejak kapan anak bawang kek elu kenal Om Soni orang penting itu?” Tanya Satya yang mendapat anggukan dari beberapa temannya.
“Papa gue itu sahabat kentelnya om Soni. Mereka sering liburan bareng, juga kadang saling berkunjung. Tapi anehnya gue gak pernah ketemu manusia banci ini di rumahnya on Soni,” jelas Nurul dengan ikut ikutan memanggil Arkan manusia banci.
__ADS_1
“Enak aja ngatain gue banci. Buat lu bunting pun gue bisa kali,” ucap kesal Arkan yang membuat teman temannya beralih menatapnya.
Merasa mendapat tatapan tak mengenakan, Arkan pun mencoba buat meluruskan ucapannya. “Maksud gue, gue… gueee itu jantan… iya gue jantan dan suka sama lawan jenis, bukan banci. Lagian kebanyakan shef itu laki laki, dan mereka juga memiliki istri dan anak.” Arkan membela diri.
“Bener juga ya, shef Juna keren dan pinter masak,” ucap Sasa yang membenarkan ucapan Arkan kali ini.
Setalah lama minuman dan makanan yang di pesan habis. Michael dan teman temannya pun pamit pulang.
“Ya sudah kalian hati hati ya, habis ini gua sama Bian juga balik kok.” Satya mengantar teman temannya ke depan pintu.
***
“Kamu yakin mau mendekatkan Nurul dengan Arkan?” Tanya Satya yang sudah berada di ruangannya bersama Bian.
“Iya, mereka itu seperti memiliki apa yang tidak mereka miliki dalam diri masing masing.” Bian menceritakan rencananya bersama Sasa pada sang suami.
“Maksudnya apa Sayang? Bukannya mereka seperti berbanding terbalik? Satunya manja dan satunya cuek.”
“Maka dari itu Bang. Sekarang abang perhatikan deh, mata koin itu ada dua yang tak sama. Seperti ada siang pasti ada malam, ada hitam ada putih, ada panas dan ada dingin. Begitu aja abang gak tau sih?” Bian menjadi jengkel sendiri menjelasakan pada suaminya yang tak kunjung mengerti.
“Hmm, terus abang bisa bantu apa untuk mereka sayang?” Tanya Satya mendekati istrinya yang mulai melancarkan aksi ngambeknya.
“bantuin adek buat ngomong ke Om Zul masalah ini,” kata Bian semangat.
“Apa kamu tau kalo Arkan itu sudah di jodohkan? Dia menggantikan abangnya yang sudah meninggal dunia dek,” ucapan Satya membuat Bian kecewa.
Rasa kecewa sangat terlihat dalam raut wajah Bian. Satya berusaha menghibur istrinya, namun tetap saja gagal.
Hari ini begitu melelahkan bagi Bian. Pertengkarannya dengan sang kakak hingga rasa kecewanya pada seorang Arkan yang sudah di jodohkan dengan orang lain.
Satya memarkir mobil yang dikendarai oleh istrinya di garasi khusus di mall A. Sekarang mereka berdua pulang ke rumah Satya.
Sesampainya di rumah, Bian dan Satya di sambut oleh Bundanya yang terkejut.
“Ya ampuuuunnnn menantuku sayaaaang, bunda kangen sayang,” Peluk cium telah menghujani wajah mungil milik menantunya.
“Bunda, jangan di habisin. Nanti Alwa gak kebagian,” ucap Satya pada Bundanya yang tak hentinya menciumi sang istri.
Padahal baru di tinggal seminggu sudah kayak gini, apa lagi di tinggal selama dua tahun. Bisa bisa gue tidur samping Bian, di usir sama emak gue. Pikir Satya dalam senyumannya.
“Biarin, Bunda kangen banget sayaaaanng,” Vindya masih terus memeluk dan menciumi menantunya.
“Bunda, masuk yuk. Bian capek,” Manja Bian pada mertuannya.
“Oh iya Bunda sampek lupa kalao lagi di tengan pintu,” ucap Vinda sambil menarin Bian masuk ke dalam rumah.
Senyuma yang belakangan ini menghilang dari paras ayu seorang Vindya pun, kini sudah kembali. Affandi yang melihat menantunya kembali pun juga ikut bahagia.
__ADS_1
Keceriaan dan kehangatan yang selalu di rindukan oleh Bian pun kembali di genggamnya. Kebahagiaan sang Bunda pun langsung menghapus ingatan Bian akan pertengkarannya dengan sang kakak