Kesetiaanmu

Kesetiaanmu
Amarah


__ADS_3

Vindya dan Affandi masih di rumah sakit namun keadaan vindya sudah membaik. Dua hari sudah Vindya di rawat di rumah sakit. Selama itu juga Affandi menemani Vindya. Affandi mencoba mengerti dengan menguatkan Vindya agar tetap mau makan dan tak terlalu menyalahkan diri sendiri.


"Sayang, Sudah dong jangan nangis terus kakak ikutan sedih ini." Affandi memeluk Vindya yg saat itu kembali melepaskan cairan bening dari matanya.


"Kak maafin Vindya. Vindya bukannya tak mau menjaga tapi Vindya di dorong kak." Mendengar pengakuan istrinya itu Affandi menjadi murka.


"Katakan sama kakak siapa yg mendorong kamu sayang? Kakak akan cari dan akan kakak tuntut orang itu." Affandi melepaskan pelukan


"Vindya hanya sekilas melihat kak. Vindya yakin dia orangnya karena cuma ada orang itu yg di deket Vindya selain kakak." Vinyda kembali mengingat ingat kejadian itu.


Vindya di ijinkan untuk pulang . Sesampainya di rumah Affandi menuntun istrinya ke kamar untuk beristirahat. Tak lama Affandi menunggui Vindya kini terlelap dalam tidurnya berkat bantuan obat tidur yg terkandung di dalam obat obatan Vindya.


"Bang Anton gue minta tolong bang. Gue yakin lo bisa bang. Ini masalahnya menyangkut calon anak gue bang. Gara gara orang itu bini gue keguguran." Terang Affandi pada orang di sebrang telfon sana.


(....)


"Iya bang gue ngerti. lo Wa in aja nanti hue sediain. Berapapun itu."


Affandi pun menutup telfonnya.

__ADS_1


"Tak akan aku biarin siapapun hancurin rumah tangga gue."Gumam Affandi.


***


Di sekolah


"Van kok gue gak liat kak Vindya ya dari kemaren. padahal kurang lagi seminggu lo ujiannya." Vano yg tengah menikmati bakso pun menghentikan aktifitasnya.


Tanpa banyak tanya Vano langzung mengambil ponsel milik Nadin di depannya dan mencari kontak Affandi. Vano sudah dari kemarin merasa berdebar debar gak karuan sebenarnya sudah menghubungi sang kakak tanpa istrinya tau.


"Bang di mana lo?" Tanya Vano.


"Vindya mana bang?" Vano dengan nada dinginnya mencari tau.


"Ada tidur ni." Jawaban santai dari abakng iparnya membuatnya geram.


"Lo gak mikir bang seminggu lagi Vindya ujian nasional. Kenapa lo kekep hah?" Ucap Vano penuh penekanan meski terkesan dingin.


"Bisa ke sini? Nanti abang jelasin semua." Vano langsung menutup telfon lalu beranjak dari duduknya.

__ADS_1


Nadin yg merasa ganjal hanya mengikuti Vano dari belakang tanpa bertanya. Motor Vano melesat dengan kencang. Nadin yg merasa takut di belakang Vano hanya bisa memeluk Vano dari belakang dan berdoa akan keselamatan mereka. Tak butuh waktu lama, Vano dan Nadin pun sampai di kediaman kakaknya.


"Bang bang" Teriak Vano.


"Jangan teriak lagi dek Vindya lagi tidur."


Vano mengikuti abang iparnya menuju sebuah kamar di mana Vindya beristirahat. Vano melihat kakak tersayangnya itu tertidur pulas dengan wajah pucat dan sedikit tirus dari yg terakhir mereka bertemu.


"Vindya keguguran" Ucapan Affandi sontak membuat Vano geram dan seketika ingin menghadiahi abang iparnya itu bogem mentah.


"Van Van Van tenang sedikit, jangan gegabah. Kita denger dulu penjelasan kakak ipar." Nadin mencoba menahan Vano yg tengan emosi.


Mendengar ribut ribut Vindya akhirnya terbangun. Kembali Vindya menangis, namun kini menangis di pelukan adik sematawayangnya.


"Lo kenapa gak angkat telfon gue kak? Gue cemas sama lo yg gak ada kabar. Hati gue terus gemetar dari kemarin." terang Vano di pelukan kakaknya


"Kakak takut Van, kakak jahat gak bisa pertahanin anak kakak." Vindya menangis dalam pelukan adiknya.


"Ada yg berniat buruk sama kakak mu. Vindya di dorong saat mau turun lewat eskalator di mall tempat kakak kerja." Jelas Affandi dengan penuh amarah.

__ADS_1


"Abang juga tenang nanti kita cari tau siapa yg tega sama kakak. Nadin minta tolong papa untuk kasus ini." Ucap Nading yg papanya bekerja sebagai pengacara terkenal di kota.


__ADS_2