
Satya sampai di sekolahan ketika hujan sudah turun dengan derasnya. Satya turun dari mobil berbarengan dengan Pandu yang membukakan pintu mobil untuk Ayumi. Pandu sebenarnya seperti seorang tunangan pada umumnya sih. Menjada dan mempertahankan kekasihnya, dan membuatnya senyaman mungkin berada di sisinya.
Tapi rupanya hal itu tidak berkenaan di hati Satya. Rasa iri yang membuatnya mengatakan Lebay pada hal yang di lakukan oleh seorang Pandu.
“Pagi - pagi drama.” Satya meninggalkan Pandu yang tersenyum kemenangan akan mendapatkan kekasih hatinya.
Pandu melangkah berdua dengan Ayumi ke kelas yang berbeda dengan Satya. Satya selain terkenal karena ketampananya, juga terkenal sebagai murid yang sangat jenius kebanggaan sang guru. Seperti yang di ketahui, Satya juga mendapat kepercayaan penuh dari kepala sekolah untuk menjaga putrinya.
“Minggir lu sono,” ucap Satya mengagetkan Bian yang tertidur di kursi Satya.
“Ah, ganggu saja. Bukannya kemaren elu sudah pindah bangku?” Tanya Bian yang mersa jengkel sudah di ganggu saat tidurnya.
“Pindah bangku lu inget, tapi mencuri ciuman gua lu gak inget!” seru Satya dengan menghembaskan diri di kursi yang tadinya diduduki oleh Bian.
“Di inget juga untuk apa?” Gerutu Bian yang seolah tak menganggap ciuman pertama Satya itu tak berharga.
“Sial, lu. Itu ciuman pertama gua asal lu tau,” Satya mendorong Bian ke arah dinding yang ada di sampingnya.
Bangku Satya dan Bian memang ada di sisi sebelah kanan dari meja guru mepet dengan tembok nomer tiga dari depan dan belakang. Bian merasa kali ini Satya sangat menyeramkan hanya bisa menundukkan kepalanya.
“Kenapa menunduk? Takut?” Tanya Satya membuat Bian menangkat kepalanya.
“Laper,” Satu jawaban yang membuat Satya jengah, dan di tambah dengan bunyi perut Bian. Teman duduknya itu malah tertawa lepas.
“Aduh kekasihku sedang kelaparan rupannya.” Satya mengeluarkan sekantong kresek yang ada di dalam tasnya, berisi makanan dan cemilan penuh.
“Bian, hari ini mata pelajaran bahasa inggris. Gua benci banget dengan mata pelajaran ini. Kita bolos yuk,” ucap Satya yang mengagetkan Bian.
“Sumpah, lu juga demen bolos mata pelajaran?” Tanya Bian yang merasa dirinya memang memiliki teman satu gaya dengannya.
“Ck, sebenarnya gua pengen bolos meski bakalan ketauan. Tapi kalo di pikir - pikir lagi. Pasti menyenangkan kalau bolosnya ada temen,” Bian memperhatikan Satya dengan mata berbinar - binar.
“Ngapa lu liatin gua kek gitu?” Satya merasa canggung dengan tatapan Bian yang di rasa sangat mengintimidasinya.
“Bokab gue percayain gue ke elu itu, biar gue sembuh dari kata bolos dan berurusan dengan guru BK. Gak taunya elu malah mau main - main.” Jawab Bian dengan perasaan tak percaya.
“gua gak suka sama gurunya, tu orang suka nyuruh gua buat nerangin di depan. Dan gua udah belajar duluan semalem. Maka dari itu gua benci pelajaran bahasa inggris.” Jawab Satya yang bisa di terima oleh Bian.
“Mau bolos satu mata pelajaran apa mau bolos seharian?” Tanya Bian yang mengabaikan alasan Satya setelah berpanjang lebar menerangkan.
“Seharian,” Satu jawaban Satya membuat satu senyuman yang mengembang di bibir Bian.
Satya dan Bian segera mengambil tasnya dan juga langsung keluar sekolahan dengan menggunakan mobil Satya. Di dalam mobil, Satya di suguhkan dengan keberanian seorang Bian yang mengganti bajunya.
Ini anak punya otak apa enggak sih? Gua rasa urat malunya sudah di gadaikan di pasar ikan kayaknya. Perkataan dalam hati Satya yang tak membuat Bian menghentikan membuka kancing bajunya. Setelah terbuka semua kancing bajunya dan menunjukkan dalaman warna hijau, Bian mengambil baju kaos dari dalam tasnya sebelum membuka baju seragam atasnya.
Hanya mampu menelan salivahnya, Satya hampir melupakan jika dirinya kini sedang mengemudi di jalanan besar. Setelah Bian mengganti seragamnya dengan kaos yang di bawanya, Satya menghentikan mobilnya di pinggir jalanan yang termasuk sepi.
“Apa anda sedang menggoda keimanan saya Nona?” Tanya Satya tanpa rasa canggung lagi.
“Maksud anda apa tuan?” Tanya Bian yang masih belum mengerti apa yang di maksud oleh supir yang kini membawanya keluar dari lingkungan sekolah.
“Kamu liat ini,” Satya menunjuk ke arah bawah. “Kenapa dari kemarin lu seenaknya aja terhadap gua?” protesan Satya malah di tertawakan oleh Bian.
“Hahaha, mulai sekarang lu harus terbiasa menahan adik lu buat beraksi saat sama gue. Gue gak akan sungkan untuk membuka baju di depan mu. Tapi jangan harap lu bisa menyentuhnya, karena gua pemegang sabuk hitam selama di Kalimantan,” ucapan Bian membuat Satya tersentak.
__ADS_1
“Sepertinya berteman dengan elu memanglah kesalahan terbesar dalam hidup gua. Harus mempertebal iman dan juga menjadi seorang yang tersiksa.” Gerutu Satya yang kembali menjalankan mobilnya sebelum di hadang oleh bapak - bapak polisi yang terhormat.
Perjalanan panjang yang di lakukan oleh Bian dan Satya, akhirnya mereka tiba di sebuah tepi pantai yang jauh dari rumah atau sekolah mereka. Lokasi yang dituju Bian memang di luar kota, entah dari mana gadis ini tau ada pantai yang sangat indah dan juga sepi di daerah ini. Satya hanya menikmati pemandangan di samping mobilnya yang masuk sedikit dalam kedalam pantai.
“Mau mandi?” Tanya Bian mengagetkan Satya yang sedari tadi termenung memandang damai ke arah pantai.
“Silahkan Lu aja, gua gak bawa baju ganti.” Jawab Satya yang memang tak merencanakan kebolosannya saat ini.
Bian mendekati Satya, dengan berani membuka kancing baju pemuda yang terlihat mematung karena perlakuannya. Satya tak mampu bergerak karena terus menerima serangan mendadak dari gadis yang baru tiga hari di kenalnya.
“Gue sudah tebak, cowok kaya elu itu gak mungkin gak memakai baju daleman.” Bian membuka seragam Satya dan meninggalkan baju putih polos yang di kenakan oleh Satya.
“Sebulan bersama dengan elu, bisa bisa gua udah gak perjaka lagi karena di perkosa sama elu,” ucapan Satya malah membuat Bian tertawa geli.
“Pikiran mu memang minta di ruqiah Tuan,” Bian menyeret Satya ke arah air asin yang sesekali menghampiri bibir pantai.
Kali ini Satya dan juga Bian benar - benar seperti anak TK yang baru saja bertemu dengan air laut. Saling menceburkan lawan ke dalam air membuat mereka berdua basah kuyup. Hari semakin sore, dan matahari sudah berandak ke peraduannya. Menyisakan warna jingga di langit sebelum berganti dengan gelapnya malam.
Bian dan Satya mencari rumah makan yang berada di dekat sana. Bian menghentikan mobil Satya di sebuah kedai ikan bakar. Dengan baju yang masih sedikit basah pun membuat pedangnya melihat kearah mereka sambil tersenyum simpul.
Setelah makan ikan bakar yang sangat menggugah selera, pemuda dan pemudi itupun melajukan kendaraannya kembali ke dalam kota.
“Dari mana saja kamu Fabian?” Tanya papa Bian yang terdengar oleh Satya diari luar pintu.
“Maaf pak, saya yang mengajak Bian untuk bolos. Tolong jangan salahkan Bian dalam hal ini,” ucap Satya dari belakang Bian berdiri.
“Kamu Fajar Alwa Satya kan?” Tanya kepala sekolah yang sedikit tersenyum ramah pada Satya yang membuat Bian mengerutkan dahinya.
“Iya benar pak, Saya merasa pusing dengan rutinitas yang saya jalani selama ini. Makanya saya mengajak Bian untuk bolos hari ini,” ucap Satya tegas.
Keheranan yang di rasakan Satya pun membuatnya merasa canggung.
“Maaf pak, saya yang salah dalam hal ini.” Satya mengulang kembali permintaan maafnya pada kepala sekolahnya itu.
“Saya mau kali ini adalah bolos kalian untuk yang petama dan terakhir saya dengar. Dan sebagai hukumannya, tolong ajari putri saya dalam belajar.” Kali ini terlihat pak Darmawan sangat serius saat meminta Satya untuk mengajari Bian.
“Ba…baik pak.” Jawab Satya sedikit terbata.
“Ya sudah, ayo kita makan malam dulu sebelum pulang.” Ajak Pak Darmawan yang mendapat persetujuan dari Satya.
“Maaf pak, saya takut kalau ayah dan bunda akan mencari ku,” tolak Satya dengan halus ajakan kepala sekolahnya.
“Hallo bapak Affandi Satya? Iya saya kepala sekolah nak Fajar Alwa Satya, iya mereka baru saja pulang dan saya meminta ijin untuk mengajaknya makan malam sebentar sebelum pulang. Boleh ‘kan pak?” Tanya pak Darmawan dalam panggilan telefonnya.
Betapa kagetnya Satya mendengar percakapan kepala sekolahnya dengan sang Ayah. Sudah pasti sebelum panggilan kali ini sudah terjadi panggilan - panggilan lain di antara kedua orang tua ini. Satya semakin takut untuk pulang ke rumah, mengingat seberapa kemarahan sang Bunda nantinya.
“Pak, Satya sudah selesai makan malam. Ijinkan saya untuk pamitan pulang. Ayah sama Bunda pasti akan khawatir.” Kini Satya di ijinkan untuk pulang denga syarat agar segera datang kemari mengajak orang tuanya untuk saling mengenal.
“Maaf pak, untuk apa ya orang tua saya di suruh ke sini?” Tanya polos seorang Satya pun di sambut tawa oleh lelaki yang setaunya seumuran sang Ayah.
“Bilang ke Ayah kamu. Ayah, bapak Darmawan Ical ingin bertemu dengan ayah.” Kepala sekolah itu malah tertawa dan memukul sekilas pundak sang murid.
“Baik pak,” Kali ini terpaksa untuk menyetujui dan tidak bertanya lagi.
Setelah Satya berpamitakn, Satya pun pergi meninggalkan rumah megah itu. Selama di perjalanan, Satya terus berfikir jika dirinya tidak usah pulang ke rumah karena takut. Tapi saat melihat handphone miliknya yang terus berdering, membuatnya semakin takut jika tidak pulang.
__ADS_1
Setelah mengalahkan pergulatan dalam diri yang membingungkan pun. Akhirnya Satya pulang ke rumah. Di depan rumah, sudah di sambut oleh Ayah dan Bundanya.
“Sejak kapan kamu berani membawa pergi anak perawan, Alwa?” Tanya Affandi membuat Satya hanya tertunduk bersalah.
“Ayah, kita masuk kedalam rumah, jangan disini. Malu di lihat tetangga,” ucap Vindya yang di rasa ada benarnya juga.
“Sekarang katakan pada Ayah, kamu bawa kemana anak perawan orang?” Tanya Affandi kembali.
“Maaf Ayah, kali ini Alwa sudah membuat Ayah malu.” Bukannya menjawab, Satya malah meminta maaf pada sang Ayah akan kesalahannya kali ini.
“Kalau kamu bilang sama Ayah, kalau kamu ada masalah di sekolahan, pasti Ayah ijinkan kok kamu gak masuk sekolah, tapi tidak dengan membolos dan membawa pergi anak perawan orang,” ucap Affandi panjang lebar dan hanya di respon dengan anggukan kepala dari sang putra.
“Ayah, sudah jangan di perpanjang lagi. Alwa juga sudah pulang dan baik - baik saja,” kali ini Bunda Vindya mencoba menenangkan Ayah Affandi yang sudah terlalu emosi.
“Ya sudah, kamu sudah makan malam di rumah perawan itu ‘kan. Kamu istirahat sana, sudah malam.” Affandi beranjak dari duduknya.
Namun sebelum jauh berjalan Satya kembali memanggil sang Ayah.
“Yah, tadi dapat salam dari bapak Darmawan Ical. Kapan katanya Ayah dan Bunda datang ke rumahnya,” ucapan Satya menghentikan langkahnya.
“Di mana kamu ketemu dengan mahluk itu?” Tanya Affandi yang sedikit mengembangkan senyumnya.
“Beliau kepala sekolah Alwa Yah,”
“Ok, besok Ayah akan mengantarkan kamu ke sekolah, dan pertemukan Ayah dengan kepala sekolah alienmu itu,” ucap Affandi yang terlihat sudah tidak marah lagi.
Satya merasa sedikit heran namun tak mau tau karena itu urusan orang tua, jadi tak terlalu di ambil pusing. Satya pergi ke kamar dan membersihkan diri. Satya mengingat kembali kejadian tadi siang. Dari serangan dadakan untuk iman dari gadis yang menurutnya imut, hingga pengalaman yang belum pernah di rasakan selama ini.
“Gadis seperti apa dia, benar - benar tidak memiliki perlindungan diri. Bisa mati muda gua terus berteman dengan gadis bar - bar itu.” Gumam Satya saat membayangkan gadis pemilik senyum dimple yang di bawanya seharian ini.
Saat sedang memikirkan gadis yang memberikan warna terbaru dalam hari - harinya belakangan ini. Satya di kejutkan dengan nyanyian dari ponsel yang di simpannya di atas nakas tempat tidurnya.
“Lu belum tidur 'kan Sat?” Tanya seorang gadis dari balik sambungan telfon milik Satya.
“Manggil gua yang lengkap, Sat Sat Sat, lu pikir gua Satbang?” Gerutu Satya namun tetap tersenyum.
“Santai brader, gue sekarang sudah di depan rumah elu.” perkataan yang mengagetkan dari gadis yang di pikirkan sedari tadi membuat Satya kelabakan.
“Lu di sebelah mana?” Tanya Satya yang bangun dari rebahannya dan membuka pintu teras yang menghubungkan kamarnya dengan taman kecil samping rumahnya.
“Gue di depan gerbang,” Bian melambai - lambaikan tangannya.
“Lu gila? Ini sudah malem, lu ngapain ke rumah gua?” Tanya Satya yang merasa kaget dengan kedatangan Bian
“Gue kabur dari rumah,” ucap Bian yang tanpa di persilahkan tapi sudah masuk ke dalam kamar seorag pemuda.
“Terus ngapain elu kaburnya malah kesini, oneng?” jengkel Satya pada gadis yang kini sudah tiduran di kasurnya.
“Lu tau gue gak punya temen selai elu 'kan? Ya jelas gue kabur ke rumah elu, masak iya gue malam - malam begini tidur di kolong jembatan. Bisa di perkosa preman gue,” ucap asal Bian dan Satya hanya melonggo membulatkan mulutnya sebagai rasa kagetnya pada pemikiran gadis gila di dekatnya ini.
“Lu di sono takut di perkosa sama preman, tapi lu malah masuk ke kamar cowok. Kira - kira gua bakalan lu tabok gak sih kalo gua bilang lu sarap?” pertanyaan yang langsung mendapat tabokan dari Bian.
“Jelas lah gue tabok. Sekarang gini deh pikir, kalo gue tidur di kolong jembatan terus di perkosa preman. Kaya apa jadinya entar anak gue? Kalo di kamar elu kan seenggaknya gue tau harus kemana kalo misalnya gue hamil.” jawaban ngaco yang di lontarkan Bian membuat Satya merasa semakin Gila.
__ADS_1