Kesetiaanmu

Kesetiaanmu
Tidak tau


__ADS_3

Hari hari Bian kini hampir dua puluh empat jam di habiskan hanya untuk bersama dengan Satya. Seorang suami yang menikahinya tanpa cinta, kini berubah menjadi seorang suami yang sangat posesif.


“Bang, tau enggak setiap bintang di langit itu bisa di ibaratkan dengan kebahagiaan dari orang yang sudah meninggal?” Tanya Bian pada suaminya yang kini tengah berbaring menatap langit di taman belakang tiduran di atas rumput.


“Enggak, tapi setau Abang bintang itu kamu yang sedang tak bersama dengan Abang. Biar jauh, tetap Abang bisa melihatmu dan merasakan cintamu,” ucap Satya yang tak mau kalah dengan istrinya.


“Ih Abang gombal deh,” Bian membenturkan pelan kepalanya pada suaminya tang tidur di sampingnya.


“Kapan Abang gombal sama Adek? Abang serius ini sayang,” Satya meyakinkan Bian jika dirinya sedang tidak merayunya.


“Tau gak Bang, banyak kata cinta yang Bian dengar darimu. Tapi Bian hanya menunggumu bilang, Abang kangen Dek,” Bian berbisik pada suaminya.


“Kan sudah setiap malam Abang kangen Adek.” Bian tersenyum mendengus mendengar suaminya paham dengan apa yang di maksudnya.


“Kalian itu gak takut kena Ulat apa?” Vindya yang gemas dengan apa yang di lakukan anak anak dalam keluarganya.


“Mantumu itu ulatnya Bunda,” Gerutu Satya yang langsung bangun dari tidurannya di atas rerumputan di bawah sinar bulan purnama.


“Halah, kamu yang seneng ‘kan kalo mantu Bunda yang jadi uletnya?” cibir Vindya pada putranya yang baru saja melewati tempatnya berdiri.


“Ini loh demi baktiku pada Bunda,” Satya berjalan menuju meja makan.


“Apa hubungannya bakti sama kelakuan kalian yang semakin hari semakin aneh?” Tanya Vindya masih belum paham.


“Buat menyenangkan Bunda. Memberikan mainan baru yang pasti,” Affandi hanya tersenyum mendengar perkataan putra semata wayangnya.


Suasana makan malam yang selalu rame. Karena Nadin hanya mau makan malam di rumah kakak iparnya. Selama hamil, Nadin sangat manja sekali pada Vano. Bahkan tak seharipun Nadin membiarkan Vano menemui Nova sang istri kedua.


Nadin sangat menyayangi putri yang di lahirkan oleh istri kedua suaminya pun memintanya untuk tinggal dengannya. Satya yang tadinya benci dengan Putri pun perlahan mulai menerimanya. Dengan bantuan Bian pastinya.


Putri tau jika dirinya bukanlah anak kandung dari Papanya. Karena Nova memang menjebak Vano dengan kehamilannya yang di dapat dari orang lain. Putri tau karena pernah di ajak untuk menemui Papa kandungnya.


Pertama gadis berusian sebelas tahun itu tidak terima. Di usia tujuh tahunnya, dia sudah mengetahui jika papanya yang sebenarnya bukanlah Vano. Putri menyembunyikan hal ini karena tak mau kehilangan keluarga yang di sayanginnya.


“Putri, makan ini. Kamu harus tumbuh dengan sehat dan juga cantik.” ini adalah kali pertama Satya menyambut Putri dalam meja makan.

__ADS_1


Gadis tuna wicara ini tersenyum bahagia dengan perlakuan kakak misannya. Semua keluarga bahagia dengan Satya yang sudah menerima Putri.


Sebenarnya ini bukan kali pertama interaksi keduanya. Karena sifat jahil yang di miliki Satya yang selalu mengerjai gadis cantik nan tingi di sampingnya.


“Mama juga mau dong,” Nadin dengan manjanya menyodorkan piring ke arah Satya.


“Hadeh mama, nanti istri Satya cemburu loh,” Satya menggerutu namun masih tetap menuruti apa yang di mau oleh wanita hamil tiga bulan ini.


“Gak usah banyak ngoceh, kalau Bian hamil juga bakalan tau rasanya ‘kepingin’.” Nadin menggerakkan dua jari dari kedua tangannya membentuk tanda kutib.


“Ahhh, Mama kenapa di ingetin sih? Bian capek hari ini, pengen tidur nyenyak,” rengek Bian membuat semua tertawa.


Malam berlalu seperti biasanya, perguatan panas yang selalu di lakukan Bian dan Satya tiga kali seminggu. Bian bangun dengan badan yang sangat lemas dan juga sedikit malas.


“Kamu kenapa sayang?” Tanya Vindya yang melihat Bian sedikit pucat.


“Bian sepertinya gak enak badan deh Bunda,” Bian duduk di kursi sebelah Vindya.


“Badan kamu panas sekali Bian,” Vindya menempelkan punggung tangannya di dahi menantunya.


“Alwa mana? Masih tidur?” Tanya Vindya sedikit panik.


“Tadi Abang lagi mandi pas Bian keluar kamar Bunda.” Bian terlihat pucat dan semakin lemas.


Semakin lama Vindya merasa pelukannya semakin berat. Vindya terlihat sangat kesusahan denga Bian yang ternyata sudah tidak sadarkan diri.


“Alwa, bantuin Buanda,” Vindya sedikit brteriak melihat putranya sudah keluar kamar.


“Bian kenapa Bunda?” Tanya Satya ketika sudah berada di dalam kamarnya.


“Gak tau, sekarang panggil tante Nadia aja biar di periksa. Kayaknya kalau jam segini belum ke klinik.”


Nadia adalah istri dari Ahmad teman dari Affandi. Satya menghubungi wanita yang dua tahun lebih tua dari Bundanya.


Setelah memeriksa keadaan Bian. Nadia memandang ke arah Satya dengan menggeleng gelengkan kepalanya samar.

__ADS_1


“Kenapa tante?” Tanya Satya penasaran.


“Bian harus di bawah ke rumah sakit, dia keguguran di usia kandunganya baru memasuki minggu kedua.” Nadia menepun nepuk pelan pundak Satya yang sudah di anggap sebagai putranya sendiri.


Satya jatuh terduduk di samping tempat tidurnya. Air mata yang jatuh karena tak mampu  lagi di tahannya. Vindya melihat betapa hancurnya sang putra akan kehilangan buah hati yang berupa gumpalan darah sebesar biji salak.


Vindya memeluk putranya dan menguatkan agar tak menunjukkan kelemahannya di depan sang istri. Bian yang masih belum sadar pun langsung di bawa ke rumah sakit.


Tiga jam bian di ruang bersalin untuk proses pembersihan dan juga pengambilan janin yang sudah meninggal dalam perutnya. Tak ada yang tahu apa penyebab Bian keguguran. Karena tak ada tanda tanda Bian tengah hamil sebelumnya.


Setelah selesai di pembersihan, Bian sempat sadar sebelum di lakukan kuret. Masih dalam pengearuh obat bius, bian sudah di pindahkan ke ruang rawat.


Dengan setia Satya menunggui Bian yang masih belum tahu akan kegugurannya. Gadis yang di nikahinya hampir dua tahun ini belum di kasi tau untuk apa dia di bawa ke rumah sakit.


Bukan untuk merahasiakan, namun ini lah yang terbaik untuk saat ini. Teman teman Bian dan juga Arkan pun datang menjenguk di sore harinya.


“Bian, ini ada Sasa. Bangun dulu yuk,” Satya membangunkan Bian Dengan lembut.


“apa Bian sudah tau?” Tanya Sasa yang sudah mengetahui kenapa istri sahabatnya itu di rawat di rumah sakit, tapi Satya melarang keras untuk memberi tahu ke teman yang lainnya.


“Belum, biarkan dia tidak tahu dulu. Sampai dia pulang dari rumah sakit dan keadaannya membaik,”ucap Satya yang di pahami oleh Sasa.


“Kalian ini kenapa repot repot sih?” Tanya Bian dengan suara seraknya.


“Buat elu apa yang enggak sih say, ini kita bawain buah kesukaan elu. Katanya kemaren lu minta setrowberry,” Sasa membawa sekotak mika setrowberry.


“Kalian memang yang terbaik, tapi gue udah gak penge lagi,” Bian menjawab dengan senyuman.


Setelah dua hari diawat, Akhirnya Bian di ijinkan untuk pulang. Sesampain di rumah Bian mendengarkan semua cerita dari bunda mertuannya tentang kegugurannya.


Kecewa itu pasti, tapi bagaimana lagi jika memang sudah tak ada lagi. Bian menyesal tidak menyadari kehamilan yang selama ini sudah di tunggu tunggu.


Bian merasa gagal menjadi seorang ibu dan juga istri. Tapi Satya menguatkannya jika memang, kehilangan kali ini bukanlah kesalahan dirinya danjua kesalahan istrinya.


Keluarga Satya dan juga Bian menganggap kejadian ini hanya kesalahan kecil. Dan berharap segera di lupakan saja.

__ADS_1


__ADS_2