
Hari minggu adalah hari di mana mereka bertiga megikrarkan janji sehidup semati mereka. Namun saat ini sudah hari sabtu, dan Fariz masih sibuk kesana kemari untuk menemui clien. Rupanya bukan untuk BIRMA saja Fariz bertemu clien, tapi juga untuk perusahaan SATYA yang menaunginya.
Projeck yang ada seelum rencana pernikahan ini di putuskan. Fariz hanya ingin bertanggung jawab dengan apa yang sudah di mulainnya. Hari cerah berganti gelap pekat karena sekarang memang sudah jam sepuluh malam.
Fariz pulang ke rumah langsung mempersiapkan keperluan untuk esok hari. Pernikahan yang biasanya di lakukan di rumah mempelai perempuan. Fariz memilih untuk ke masjid besar, itu karena mempelai perempuannya lebih dari satu.
Di usia tujuh belas tahun lebih beberapa hari itu sudah akan menikahi kedua wanita yang bermula menjadi temannya. Jam sudah menunjukkan di angka delapan pagi, keluarga Mentari dan juga keluarga Wina sudah berada di masjid.
Acara akad nikah yang di rasa sangat singkat dan terkesan sangat lancar memberi kesan seperti mimpi. Mimpi anak muda yang sangat tamak akan kasih sayang juga cinta. Tapi ini semua bukan dirinya yang menginginkan.
Ketika dirinya hanya ingin setia pada satu pasangan. Pasangannya malah tak mau jika harus menjadi egois untuk memilikinya sendiri. Keputusan gila berikutnya adalah dukungan para orang tua.
Fariz kembali pada dirinya, merasakan setiap aliran darah yang mengalir dalam dirinya. Menutup mata dan merasakan jika ini memang bukanlah mimpi. Membuka mata dan melihat bergatian kedua istrinya.
“Nak Fariz, apa kamu yakin bisa adil pada kedua istrimu?” tanya pak ustad secara pribadi.
“Saya tak yakin pak ustad. Saya itu lelaki paling tamak di dunia ini, tapi saya gak punya pilihan.” jawab Fariz menundukkan kepala di samping kedua istrinya.
“Terus bagaimana kamu akan melalui malam pertamanya? Apa kamu akan langsung dengan keduanya?” pertanyaanmenjebak pun terlontar dai bibir pak ustad yang sedikit tersenyum padanya.
“itu juga yang kini saya fikirkan pak,” jawaban jujur Fariz malah mengundang tawa dari para orang tua dan juga saksi.
“Kalau itu yang harus di lakukan, kenapa enggak. Iya gak Tar?” kali ini godaan berasal dari si soak Wina.
“Mana kuat aku,” jawaban reflek terlontar begitu saja dari bibir tipis Fariz.
“Hahahaha, makanya satu satu aja kalau mau narik mah. Gak akan kayak gini jadinya,” kini gelak tawa yang terlontar dari bibir Satya membuat Fariz ingin menangis.
“Abang, maunya gitu. Tapi kalo milih salah satu malah gak gapet semuaya, itu gimana? Emang abang bisa milih kalo kaya gitu pilihannya?” Fariz mengadu namun hanya tawa yang di dapat sebagai jawaban.
Sesuai dengan apa yang di janjikan oleh Revan. Fariz mendapatkan rumah dengan nama usaha dia sendiri. Sebenenya sih sama saja, hanya cara mendapatkannya saja yang berbeda.
Karena Revan sudah mendapatkan hadiah rumah sebagai bonus menang tender kemarin. Maka dari pihak Affandi memeberikan mobil honda City sebagai bonus pencapaian targetnya.
Sebenarnya ingin menolak, hanya saja Satya mengancam tak akan memberikan beasiswa kuliahnya jika tak mau menerima mobil itu.
“Fariz, ini mobil yang tak terbilang mahal. Hanya ini cukup untuk mengangkut kedua istrimu,” itulah ucapan yang Affandi lontarkan.
“Ah ayah, terima kasih. Ini semua rejeki yang Tuhan berikan padaku,” ucap syukur Fariz akan semua hadiah yang di dapatkan.
“untuk kuliahnya Wina nanti, papa akan membantu tapi gak penuh. Mengerti?” itu adalah janji dari Revan.
“Kami tau kamu pasti mampu membiayai kuliah istri istrimu. Tapi kami hanya memiliki satu putri jadi ijinkan kami untuk membantu sedikit saja,” ucap Billa yang seperti mengetahui apa yang ada di fikiran Fariz.
“Untuk Mentari, biarkan saya yang akan menanggung semua biaya pengobatanya,” kali ini dari keluarga mentari.
“Sekalian saja kalian ambil lagi putri kalian, saya gak apa apa kok.” ucapan Fariz seperti sebuah tamparan untuk para orang tua.
“Bukan seperti itu nak, pengobatan Mentari itu sangat mahal. Dan penyakit Mentari itu ada sebelum dia menikah denganmu,” jelas papa Mentari.
“Memangnya saya harus melahirkan Mentari dulu untuk mengambil semua hidupnya?” kembali pertanyaan Fariz seakan membungkam para orang tua.
“Kalau kalian mau membantu saya tidak keberatan, tapi jangan semua kalian yang nanggung. Seharusnya itu menjadi tanggung jawab saya, seperti pendidikan Wina maupun pengobatan Mentari.” pungkas Fariz sebelum mengajak kedua istrinya untuk pulang ke rumah baru mereka.
Ibu Fariz memilih tidak ikut dengannya, karena merasa kasihan pada Bian yang mengurus Idham sendiri. Fariz menghormati keputusan ibunya, dengan satu syarat yaitu harus mau jika Fariz menginginkan ibunya menginap.
Fariz juga masih menjadi karyawan Affandi sebagai sekertaris pribadi Satya yang saat ii mengambil alih. Fariz masih belum mau untuk mewarisi BIRMA Indonesia, karena dirinya merasa elum pantas. Selain itu Revan juga masih mampu mengelolahnya.
“Aaaaahhhh akhirnya bisa melepas ketegangan ini semua,” ucap Wina yang sudah duduk sofa ruang tamu.
“Sekarang mau apa kalian?” Tanya Fariz menatapkedua istrinya yang duduk di sofa berbeda darinya.
“Percayalah aku tak bisa mengurus rumah rumah atau memasak,” ucap Wina yag memang tertahir dengan segala kemewahan yang orang tuannya miliki.
“Apa lagi aku,” timpal Mentari.
__ADS_1
“Aku tau itu, kalian menikah denganku bukan untuk menjadi pembantuku. Aku sudah berjandi akan memberikan beberapa orang untuk membantu kalian. Mungkin besok akan baru akan bekerja,” ucap Fariz seakan mengerti apa yang harus di persiapkan.
“Tapi aku lapar Fariz,” rengek Wina.
“Kita pesan sayang,” uca lembut Fariz membuat gadis manja itu tersipu malu.
“Fariz aku capek pengen istirahat,” Mentari sedikit lemas.
“Pembagian kamarnya ini gimanaaaaa?” Tanya Fariz lagi, karena bingung membagnya.
“Tidur bareng bareng aja bertiga, gak ada masalah kan,” usul Wina.
“Jangan gila, mending kita tidur sendiri sendiri aja. Lagian kamarnya kan banyak ini,” usul Fariz yang tak terima dengan usulan gila Wina.
“Ya, sama aja dong kalau tidur sendiri sendiri. Gak ada yang ngelonin,” gerutu Wina.
“Yang minta nikahnya cepetan siapa? Bapak kamu kan, ya sudah sonoh minta kelon bapakmu,” cibir Fariz.
“Auto di gantung mama akunya,” jawab Wina masih dengan bibirnya yang manyun kedepan.
“Sudah kita tidur bertiga saja sapai seminggu. Nah, setelah itu kan Fariz kerja baru kita tidur terpisah. Sehari Fariz nemenin Wina dan besoknya nemenin aku. Khusus hari minggu kita tidur bareng bareng lagi. Gimana?’ Mentari menengahi perdebatan mereka berdua.
“Hmmm setuju aku itu mah,”
Gampang banget setujunya kalo udah Mentari yang usul, pikir Fariz.
“Ya sudah kalau begitu. Kalian silahkan pilih kamar masing masing,” perinta Fariz.
“Aku di bawah saja, soalnya pasti capek kalo harus naik turun tangga,” ucap Mentari.
“Aku di kamar yang itu samping Mentari,” pinta Wina menunjuk salah satu kamar yang berdekata dengan kamar pilihan Mentari.
“Baiklah, demi kalian aku akan berlaku adil. Yaitu aku tinggal di lantai atas, jauh dari kalian berdua.”
Setelah kesepakatan akan tidur di mana selama seminggu ini. Fariz mengajak kedua istrinya memasuki kamarnya yang ada di lantai atas. Mentari membuka bajunya dengan bantuan Wina, begitupun sebaliknya.
Rasa lelah yang menyerang mereka selama seminggu ini. Membuat lebih cepat untuk memejamkan mata. Fariz berada di tengah kedua istrinya tidur
Sore menyapa mereka dan Fariz memutuskan untuk memesan makanan. Seperti tadi siang mereka makan siang. Tak ada obrolan yang berat di antara ketiganya selain rencana kedepannya.
“Mentari akan berhenti sekolah saja,” Mentari memulai pembicaraan di ruang tamu setelah makan malamnya.
“Untuk apa?” tanya Fariz yang merasa sedikit heran.
“Aku terus merasa capek kalau berfikir, belum lagi kalau harus kemo rasanya mengantuk terus.” jawab Mentari mengutarakan apa yang di rasakan selama pengobatannya.
“Oh, kalau begitu ya mending kamu kalo kami tinggal ke sekolah. Mending kamu aku antar ke rumah ibu apa ke rumah orang tuamu saja, biar ada yang menemani.” tegas Fariz memikirkan kondisi istrinya yang satu.
“Gak usah, katanya mama akan ke sini setiap kalian berangkat kesekolah,” ucap Mentari membuat keduanya merasa lega.
Sejujurnya Wina mengetahui penyakit Mentari dan juga batas yang di miliki oleh wanita itu. Awalnya Wina mengusulkan ide gila untuk terus besama dengan Mentarii, karena Fariz. Ya… Fariz terihat sangat menyayangi Mentari melebihi sayang yang di tujukan padanya.
Namun setelah mengetahui kenyataan dari Baskah yang menjadi dokter pribadinya Mentari menjadi terharu. Wina tak sanggup jika harus melihat orang yang di cintai suaminya ini merasakan sakit yang lebih dari penyakitnya.
“Wina, aku mau menghirup udara segar di balkon. Apa kau mau ikut denganku?” Tanya Mentari.
“Ikut dong,” Wina tak bisa mengatakan tidak pada wanita yang menjadi istri dari suamuinya.
“Kalau begitu, aku ke ruang kerja ya. Senin aku harus kerja,” ucap Fariz melupakan kebijakan dari Affandi yang menyuruhnya libur satu minggu.
“Bukannya kamu tengah libur sayang?” Wina mengingatkan.
“Aaaaahhhh aku lupa, ya sudah aku akan belajar deh kalau gitu,” Fariz mencari alasan agar dirinya tak mengganggu waktu para istri yang tak mengajaknya.
Mentari dan Wina kini sudah berada di balkon kamar Fariz. Benar dugaan dari Wina, jika wanita ini memiliki pembicaraan yang hanya untuk mereka berdua.
__ADS_1
“Wina, aku yakin kau sudah mengetahui tentang aku semuanya,” tebak Mentari.
Bukannya menjawab, Wina malah memeluk dan menangis di pelukan Mentari.
“Jangan menunjukkan kalau kau akan meninggalkan kami Mentari, aku gak sanggup,” ucap Wina dalam pelukan Mentari.
“Aku gak sekuat yang kau bayangkan Win. Belakangan ini aku merasa benar benar lelah, selalu ingin tidur,” ucap Mentari.
“Aku selalu ada untuk kamu Mentari. Fariz juga selalu ada untukmu,” Wina memeluk mentari semakin erat.
“Berjanjilah kau tak akan meninggalkan Fariz bagaimanapun keadaannya. Jaga dia untukku, untuk cintaku,” Mentari membalas pelukan WIna dengan hangat.
Setelah mengatakan itu semua, Wina mengajak mentari untuk masuk ke dalam kamar. Sudah hampir satu jam mereka berdua bercerita tentang masa kecilnya, namun Fariz belum juga masuk kedalam kamar.
Wina berinisiatif untuk memanggil suaminya, karena Mentari sudah tidur sedari tadi. Namun, baru membuka pintu, rupanya Fariz sudah berada di tangga paling atas.
“Mau kemana?” Tanya Fariz,
“Mau menyusulmu, aku kira kamu lupa kalo sudah punya istri,” goda Wina.
“Sudah kangen?” Fariz ikut menggoda.
“Halah, kau ini hanya berani di bibir saja.” cibir Wina.
“Kau menantang suamimu yang lagi menahan untuk tak menyerang mu?” ucap Fariz yang terlihat seperti menahan sesuatu.
“Sudahlah ayo kita tidur, kasian Mentari sudah menunggu,” Fariz mencoba meenenangkan dirinya dan juniornya tentunya.
Wina mengambil tidur di pinggir di samping Fariz yang berada di tengah. Malam ini berlalu begitu saja, tanpa ada yang namanya malam pertama. Sulit sih bagi Fariz, namun itu semua harus bisa di tahan karena tak mau mengecewakan kedua istrinya.
“Kalian di sekolah baik baik ya, terutama kamu Fariz. Kau itu selalu menggoda cewek cewek, ingat kalau aku tak suka itu.” pesan Mentari dengan memasang kancing Fariz, sdangkan Wina menyiapkan buku buku Fariz yang akan di bawanya.
“Siap laksanakan,” goda Fariz.
Hari ini ada dua pembantu yang melayani mereka. Satunya untuk memasak, sedang yang satunya untuk membersihkan rumah. Kedua orang yang di pilih Fariz itu akan pulang di waktu sore hari, karena mereka berdua memiliki keluarga yang masih di urusnya.
Fariz dan kedua istrinya itu sarapan sebelum berangkat kesekolah. Agar tidak mencolok mata, Fariz memakai mobil yang biasa di gunakannya ke sekolah.
“Aku berangkat dulu ya sayang, baik baik di rumah. Kalau ada apa apa langsung telfon aku, inget jangan terlalu capek. Ok!” Fariz mencium kening itrinya yang tinggal di rumah sebelum berangkat ke sekolah.
“Siap boss” jawab Mentari megantar keduanya ke depan pintu.
“Hati hati ya,” Mentari melambaikan tangan ke arah keduanya.
Tak butuh waktu lama, Fariz dan WIna sudah memasuki area sekolahan. Sebelum keluar dari mobilnya, tiba tiba kap mobilnya yang membuat Wina kaget. Masih belum selesai akan keterkejutannya, Wina di kejutkan lagi dengan ciuman yang mendarat di pipinya.
“Apa apaan sih kamu ini,” ucap Wina malu malu.
Wajah merah dan senyuman yang terus bergelayutan di bibir gadis pemilik tinggi badan seratus enam puluh itu. Melangkah dengan wajah bersemu merah muda memesuki kelasnya meninggalkan suaminya sendiri di dalam mobil.
Tanya dari rekan sekelasnya pun di acuhkan olehnya. Hingga teman sebangkunya menempelkan punggung tanganyan di dahi Wina.
“Hey, jangan lakukan itu. Apa kau mikir aku gila?” tanya Wina dengan nada yang masih eerti orang gak jelas.
“Kau sudah seperti orang tak waras apa kau tahu itu hah!” jengkel teman Wina yang duduk di bangku yang sama.
“Maafkanlah aku hai temanku, aku sangat bahagian untuk hari ini. Kamu tau kan Fariz, dia mencium ku dong,” Cerita Wina tanpa mengatakan apapun lagi.
“Seriusan kau di cium Fariz? Ah, aku jadi ngiri tau gak….” jawab teman Wina dengan ucapan manjanya.
“No, gak boleh! Fariz itu hanya untukku sendiri,” ucap Wina posesif.
“Gila posesif anget kamu jadi cewek Win? Awas lo nanti ketikug di pengkolan depan.” teman Wina memperingatkan.
“Berani macam macam terhadapku? Tinggal tunggu ajal saja,”
__ADS_1
“Gila kamu ya, Fariz saja masih belum mau tuh mengakui kamu sebagai pacarnya. Eh, untungnya Mentari sudah gak sekolah lagi ya. Kalau enggak, kamu pasti gigit jari,” menanggapi itu Wina hanya mencebikkan bibirnya saja.