Kesetiaanmu

Kesetiaanmu
Ujian kesetiaanmu


__ADS_3

Banyak kejadian yang tak dapat di ceritakan. Tak sedikit cerita yang bisa di sampaikan. Seperti hubungan Ayumi dengan Pandu dan juga Satya.


Sebuah cinta segi tiga yang banyak mengandung penghianatan dan juga kemunafikan. Satya tau, tapi memilih untuk diam.


Hingga suatu saat ada sebuah vidio yang menghancurkan hubungan yang di percayai akan indah pada waktunya. Harapan yang di bangun tinggi oleh seorang Fajar Alwa Satya hancur oleh kata penghianatan yang di sematkan oleh seorang Pandu Prabu Salwa.


Karena sebuah kata dendam, mampu menghancurkan masa depan seorang Ayumi. Rayuan manis yang di berikan oleh Pandu, telah menggoyahkan kesetiaan Ayumi.


Bukan kata maaf yang Satya butuhkan setelah kejadian tersebut, tapi teruslah bersamaku. Kata yang Satya harapkan tidaklah terucap hingga gadisnya memilih meninggalkan dirinya tanpa kata putus.


Setahun sudah kejadian vidio yang membuat seorang Satya yang tadinya sangat ramah dan hangat menjadi gunung es. Bukan gumpalan es balok yang susah untuk mencair lagi, tapi seperti gundukan salju yang kapan saja bisa mendatangkan badai.


Hingga datang seorang Zahra Fabian yang seperti sinar mata hari. Membawa sinar yang menghangatkan bagi Satya. Putri kesayangan kepala sekolah baru di sekolahan satya, telah memberi banyak warna baginya.


Menunjukkan pelangi setelah turunnya hujan. Dan memberikan kesejukan ketika pagi mengganti hawa dinginnya malam. Seperti tak cukup menjadi matahari bagi Satya, Bian juga menjadi rembulan di kala malam tiba.


Lengkungan bulan sabit mengigatkan Satya pada senyum gadis pemilik lesung pipi. Dan bulan purnama mengingatkan pada gadis itu saat matanya berbinar akan sebuah hadiah yang di berikan padanya dari Satya.


Seakan hanya ada Zahra Fabian yang berada di lingkaran orbit Satya. Fabian atau Bian itu bukan lah seorang yang sepecial bagi siapapun. Bahkan fisik yang tak setinggi Ayumi pemilik tinggi 170, tapi Satya sangat menyayangi gadisnya ini.


Pemilik rambut hitam, lurus dan juga sangat tebal ini mampu memikat hati Satya. Bahkan menggeser, oh tidak. Tapi menggantikan posisi Ayumi di hati Satya.


Kehidupan malam yang di sukai oleh Satya, telah di lepaskan sehari sebelum menikahi matahari sekaligus rembulannya. Dunia malam yang memacu adrenalin dengan memecah keheningan jalan meggunakan mobilnya.


Pernikahan yang di dasari dengan rasa ingin mendapatkan lebih dulu dari pada rivalnya, Pandu. Pernikahan tanpa adanya Cinta di antara keduanya pun terjadi. Hanya kenyamanan yang di berikan satu sama lain.


Bian seperti tidak keberatan dengan pernikahan tanpa cinta di antara mereka. Tapi, keraguan tetap ada di antara keduanya ketika cinta mengetuk hati masing-masing dari orang lain.


Seperti saat ini ketika ospek baru saja berakhir. Satya merasa tertarik dengan seorang gadis di kampusnya dengan jurusan yang sama dengannya. Sedangkan sang istri hanya mampu menerima pengakuan Satya dengan lapang dada.


Tidak ada yang salah memang jika rasa itu hadir di hati Satya sebelum adanya ikatan suci bernama pernikahan. Bian tak mampu menghalagi perasaan suaminya, karena dia beranggapan pernikahan ini hanyalah kesalahan baginya.


“Maafkan aku yang gak bisa menjaga hatiku,” ucap Satya dengan bersujud di hadapan Bian setelah sholat Isya.


“Apa yang perlu di maafkan? Jika saat itu aku tidak datang ke rumahmu. Pernikahan ini juga gak akan pernah terjadi.” Satya sedikit terkejut mendengar jawaban sang istri.


“Kenapa kamu menyalahkan dirimu sendiri?” Tanya Satya yang masih bingung dengan cara fikir istrinya.


“Aku gak pernah menyalahkan siapapun, diriku juga. Karena semua ini bukan kita yang minta, tapi takdir lah yang membuat kita saling mengenal.” Bian membelai lembut rambut sang suami yang besimpuh di pangkuannya.


“Aku gak bisa mengembalikan apa yang sudah aku ambil darimu.” kini suara Satya sudah mulai berat, seakan menahan sesuatu.


“Bukan kamu yang mengambil, tapi orang lain. Akulah yang tak bisa menjaga untuk suamiku sebelum pernikahan,” ucap Bian setegar mungkin di tunjukkan pada lelaki yang menikahinya setahun ini.


Cobaan orang ketiga memanglah sangat tidak di harapkan bagi seorang yang sudah berumah tangga. Tapi apa daya jika pernikahan tidak di landasi dengan rasa cinta.


“Jangan pernah berubah setelah ini,” ucap Satya.


Terdengar sangat egois bukan? Dirinya menghadirkan wanita idaman lain, tetapi tak mengijinkan wanita yang di nikahinya berubah. Perubahan itu akan ada sayang, dan itu datang dari dirimu terlebih dulu.


Seseorang yang di selingkuhi, biasanya tidak akan berubah. Jika tidak ketahuan, tapi Bian sudah mendengar langsung dalam doa suaminya sudah tidak lagi menyebut namanya.


Menangis? Marah? Untuk apa? Apa akan merubah semua keadaan dan perasaan Satya padanya. Bian memilih untuk dian dan berusaha untuk menerima hingga akhir waktunya.


Waktu di mana suaminya akan kembali kepadanya atau dirinya akan tersisih oleh wanita idaman lain itu. Dengan sabar Bian mencoba menerima semua kemungkinan yang akan terjadi di masa akan datang.


“Sekarang sudah malam, besok aku akan kuliah pagi.” Bian tersenyum dan berusaha untuk memindahkan kepala Satya.


“Ya sudah besok aku akan mengantarkanmu,” Satya merapikan sajadah yang di gunakannya.

__ADS_1


“Gak usah, besok kan Abang masih harus ke cafe. Biar Adek berangkat bareng Sasa saja naik bus.” tolak halus Bian agar tak membuat Satya sakit hati.


Bukan sakit hati, tapi Satya merasa jika istrinya mulai membangun dinding pembatas antara dirinya dengannya. Satya membiarkan istrinya dengan benteng yang baru di bangunnya. Satya merebahkan diri dan meletakkan lengannya di bawah kepala Bian seperti biasanya.


“Kepalaku sering pusing jika tidur seperti ini,” ucap Bian pelan dan seketika membuat hati Satya terasa sangat nyeri.


“Maaf,” hanya itu yang mampu Satya ucapkan pada Bian sang istri.


Satya sadar jika diriya sudah menyakiti hati istrinya. Jadi wajar saja jika istrinya berlaku seperti itu terhadapnya. Tapi Satya sunggu tidak menyangka jika akan secepat itu perubahan yang terjadi di antara mereka.


Satya tidur dengan memunggungi istrinya. Ini adalah kali pertama Satya tidur tidak dengan mencium kening Bian. Istrinya itu lebih cepat menghindar dari pada ciuman mendarat di dahi yang di tutup dengan poni milik Bian.


Bian bukanlah gadis cantik bila di bandingkan dengan Ratna Fadilah incaran sang suami. Paras ayu Ratna tak sebanding dengan wajah kalem Bian. Tingginya pun jauh lebih tinggi dari pada Bian yang hanya memiliki tinggi 150 cm.


Pagi hari Satya bangun sudah melihat istrinya merapikan mukena. Satya kaget dengan apa yang di lakukan Bian. Bian langsung keluar kamar dan membantu mertuanya menyiapkan sarapan.


“Pagi sayang, suamimu sudah bangun?” Tanya Vindya menyambut pagi sang menantu.


“Pagi Bunda,” Jawab Bian sapaan mertuanya tapi tak menjawab masalah suaminya.


Bian menyiapkan sarapannya di atas meja, setelah itu pamit untuk bersiap ke kampus. Vindya merasa ada sesuatu yang terjadi pun hanya bisa mengamati sebelum menanyakan langsung apa yang terjadi di antara mereka berdua.


Satya yang masih sibuk dengan kerjaan di ruang kerja sang papa, membuatnya lupa akan persoalan dengan istrinya. Keluar dengan terburu-buru, Bian berpamitan pada mertuanya jika hari ini ada kuis dan tak sempat untuk sarapan.


“Hati-hati sayang, nanti pulangnya jangan sore-sore sekali.” pesan Bunda mertuanya.


Setelah sudah di dalam bus Sasa menanyakan kenapa pagi sekali di minta berangkat.


“Lagian kenapa sih, elu. Aneh banget tau enggak?” Tanya Sasa heran.


Ya, hari ini tidak ada kuis. Tapi Bian sengaja untuk menghindari Satya.


“Gue mau ngasih kejutan dong ke suami, besok itu anniv gue yang pertama, lu lupa apa?” bohong Bian pada sahabat suaminya.


“Gue mau nyiapin makan malam romantis, tapi kagak di sini. Mungkin di puncak,” ucap Bian dengan menunjukkan wajah antusiasnya.


“Wiiiihhhh keren, pasti Satya bahagia banget dengan elu ya.” Sasa bahagia karena sahabatnya mendapat istri yang baik untuknya juga keluarganya.


Sasa sering mendengar pujian dari bundanya Satya tentang temannya ini. Vindya selalu membanggakan Bian di manapun ketika pada membahas menantu. Menantuku rajinlah, menantuku pinter masaklah, menantuku ini lah, menantuku itulah, bla bla bla.


Sesampainya di kampus, Bian dan Sasa di sambut oleh Nurul yang sejurusan dengan Sasa. Nurul membawa apa yang di minta oleh Bian, sebuah bunga mawar merah sebanyak sembilan puluh sembilan tangkai.


“Buat apaan sih semua ini?” Tanya Nurul yang sama keponya dengan Sasa.


“Buat kejutan besok untuk Satya,. oh iya sepertinya entar gue gak pulang ke rumah deh,” ucap Bian dengan aura yang sangat lain di bandingkan tadi.


“Lu mau langsung ke puncak?” Tanya Sasa kepo.


“Enggak, gue mau ke hotel, nanti elu kasi kabar ke Satya ya suruh nyusul nanti gue WA kamarnya.” Bian pergi  meninggalkan ke duansahabatnya.


“Lu gak masuk kelas?” Tanya Sasa sedikit teriak.


“Gua gak ada kelas hari ini,” Jawab Bian sambil teriak.


Bian janjian dengan seseorang yang mencoba untuk berubah. Bian meminta tolong padanya untuk membantu dirinya.


Pandu rival dari Satya yang sekarang tengah berubah karena keberadaan calon putra di perut Ayumi yang sudah berusia enam bulan. Bian meminta persetujuan Ayumi juga, untuk melancarkan rencananya.


Bian menghias kamar hotel yang di pesannya dengan nama nona Fabian, bukan Nyonya Satya.

__ADS_1


Jam sudah menunjukkan di angka tujuh malam di mana Bian meminta Satya untuk menjemputnya di hotel. Bian mengenakan baju atas yang memperlihatkan bahu dan celana hot pans yang menunjukkan paha mulusnya.


Sedangkan Pandu hanya mengenakan boxer sesuai permintaan Bian. Di kamar sebelah ada Ayumi yang memantau melalui kamera yang di pasang oleh Bian. Sengaja agar Ayumi mempercayai sandiwara kedua orang itu.


Ceklek


Suara pintu di buka dan Pandu berpura tidur di samping Bian, sedangkan Bian tidur di lengan Pandu. Tanpa banya omong lagi, Satya langsung menyeret Pandu untuk turun dari tempat tidur.


“Apa-apaan ini?” Bian bangun dengan mengenakan selimut untuk menutupi badannya.


Ketika hendak memukul Pandu, Bian menggantikan posisi lelaki yang sudah membantunya, untuk menerima pukulan dari suaminya.


“Apa maksudnya ini? Elu rela menggantikan Pandu menerima pukulan gua hah!! dasar wanita jal lang!! Sekali gampangan tetap saja gampangan. Sekarang dengarkan saya hai kau Zahra Fabian binti Darmawan Ical. Aku Fajar Alwa…”


“Jangan kau menceraikan Bian, ini salah paham.” Teriak Ayumi dari arah luar.


“Apa maksudnya ini?” Tanya Satya dengan penuh emosi.


Ayumi membuka selimut Bian dan memperlihatkan jika Bian masih berpakaian lengkap. Pandu dan juga Bian kaget dengan apa yang di lakukan oleh Ayumi.


Ayumi hanya memikirkan hal ini tidak adil bagi semuanya.


“Jika ada masalah tolong selesaikan dengan kepala dingin. Jangan lagi menghancurkan nama baik suamiku lagi,” ucap Ayumi.


Bian langsung mengambil  tasnya lalu meninggalkan kamar hotel dengan hanya memakai dalaman. Satya seperti mengerti apa yang di lakukan Bian ini juga karena dirinya.


Hati istri mana yang akan kuat jika suaminya mengatakan  menyukai wanita lain. Satya menangis dalam hati dan mengutuki apa yang sudah pernah di katakan pada istrinya.


Satya mengejar Bian hingga di Lobby lalu memeluknya. Tak ada kata lagi di antara keduanya, hanya keheningan seperti hati mereka. Bian membiarkan badan kasarnya di peluk oleh suami yang tidak mencintainya selama ini.


Tak ada kata maupun air mata yang keluar dari diri Bian. Diam dan membisu adalah hal yang paling benar di lakukan saat ini.


Mobil yang biasanya penuh dengan celotehan Bian. Kini hanya deru mesin yang terdengar di antara keduanya. Satya memakaikan kemeja yang di kenakan pada Bian yang tidak memakai baju sedari tadi di hotel.


Bian masuk kedalam rumah, namun keadaan rumah kini sedang kosong. Satya menggandeng tangan Bian yang hanya diam saja di tegah pintu.


“Aku mau menginap di rumah papa, aku kangen dengan Papa,” ucap Bian menghentikan langkah Satya.


“Kamu masih memiliki kewajiban yang harus di kerjakan,” Satya tak menghiraukan Bian lagi, dan langsung mengajaknya ke dalam kamar.


Setelah di dalam kamar Satya menghempaskan Bian keatas kasur besar miliknya. Hanya mampu pasra, Bian menerima perlakuan kasar Satya sebagai seorang suami.


Selama Bian hidup menjadi istri Satya, baru kali ini suaminya bertindak kasar padanya. Kali ini, bukan cuma hati tapi juga fisik Satya menyakiti Bian.


Dalam genangan air bathup Bian menghitung berapa luka lebam yang di berikan oleh suaminya di lengan dan juga tubuhnya yang lain. Derai air matapun tak mampu menghapus rasa sakit yang di rasa oleh Bian.


Ingin cerai, tapi takut. Ingin pergi, tapi kemana? Bian hanya bisa pasrah dengan apa yang akan terjadi di depan. Bian tak memperdulikan lagi dengan perasaannya. Dalam sakit hatinya Bian berjanji dirinya akan mulai membuang rasa sakit atau rasa cintanya untuk sang suami.


Satya yang merasakan kekosongan di sampingnya pun terbangun. Mencari Bian ke luar kamar hingga ia berfikir untuk ke kamar mandi.


Benar saja, Bian tertidur di dalam genangan air. Satya melihat dengan jelas luka biru di bibir dan juga lenggan membuatnya menangisi tindakannya.


Betapa bodohnya aku menghalanginya untuk meninggalkan aku sementara. Sekarang apa yang harus aku sampaikan pada orang tuanya dan juga orang tuaku jika mengetahui ini?


Batin Satya menangis dengan memapah istrinya yang tertidur lelap. Dengan telaten Satya mengelap tubuh basah Bian dengan handuk, sebelum memakaikannya baju tidur. Satya menciup pelan bibir yang sedikit biru akibat ulahnya.


Sinar matahari menerobos masuk melalui cela-cela tirai yang terbuka. Dan ketukan pintu membangunkan Satya.


“ini sudah sangat siang,” ucap satya membangunkan Bian setelah melihat jam dinding bertengger di angka sembilan siang.

__ADS_1


“Bian bangun, sudah siang ini.” Kembali Satya membangunkan Bian.


“Badanmu panas sekali, Bian bangun… Bian… Bian…”


__ADS_2