Kesetiaanmu

Kesetiaanmu
Gagal Lagi?


__ADS_3

Masa liburan di Bali telah berakhir. Tak ada yang sepecial di antara keduanya selain lebih berani mengungkapkan keinginan satu sama lain. Fariz sendiri rupanya orang yang gampang tergoda, meski masih belum tau harus apa setelah itu.


Kini mereka telah di dalam kamar rumah mereka yang full sinyal. Kembali ponsel Fariz tak berhenti berdering, dari masalah pekerjaan hingga obrolan bisnis yang santai.


Tujuan awal ingin meluangkan waktu untuk sang istri, Fariz rupanya lebih sibuk dari biasanya. Wina merasa kasihan dan juga jengkel dalam sekali rasa. Kasian suaminya yang belum beristirahat sedari dirinya masuk rumah. Jengkel karena apa yang di inginkan, tak kunjung terealisasikan.


“Dasar OMDO,” gerutu Wina yang sedikit kencang sehingga Fariz mendengar itu.


“Sabar, Aku janji. Nanti malam tak akan ter ganggu lagi,” bisik Fariz tepat di telinga sang istri yang di akhiri dengan ciuman di leher.


“Tapi aku maunya sekarang,” rengek Wina yang membuat Fariz malu sendiri juga gemas.


“Iya, ini papamu lagi bicara. Tunggu sebentar,” bisik Fariz yang tak enak jika terdengar oleh sang mertua.


“Papa, mau cucu apa enggak sih? Ah, lama sekali ini ngobrolnya.” Wina merebut ponsel yang di pegang oleh sang suami.


“Ya ampun Wina, emangnya yang kemaren itu kurang apa? Kalian sampek gak bisa di hubungi?” Revan menggoda putrinya.


“Bulan madunya gagal pa, Wina datang bulan,” bohong Wina yang tak mau orang tuanya mengetahui kebenarannya.


“Hahaha, maaf maaf. Ya sudah kalau begitu papa kasih waktu liburan lagi tiga hari deh, tapi papa mau kalian jadiin” itulah kata Revan yang merasa gemes dengan sang putri.


Rasa sayang yang di miliki oleh Revan dan Billa pada Wina sangatlah besar. Bahkan jika Wina mengadu apapun, mereka tak membutuhkan yang namanya penjelasan. Mereka langsung mengeksekusi sang tertuduh, seperti kasus Fariz tempo hari.


Wina memang lahir di keluarga yang jauh dari Fariz. Fariz mencoba untuk mengikuti apa yang bisa membuat sang istri bahagia. Hanya itu yang bisa di tunjukkan Fariz pada anak sultan yang di nikahinya.


“Fariz, ayok tidur. Aku capek sekali,” rasa capek selama perjalanan membuat Wina semakin jengkel dan tak mau di tinggal oleh suaminya.


Kemanjaan Wina semakin menjadi jadi. Terkadang kalau di fikir ini sangatlah keterlaluan, tapi Fariz bisa apa?


“Mau mandi bareng?” Tanya Fariz


“Enggak, aku sudah mandi sayang,” kata Wina yang duduk di pinggiran tempat tidur.


“Ya…. kenapa aku di tinggal sih? Kan aku gak bisa melihat bidadariku mandi dong,” seperti orang yang tengah merajuk, Fariz memanyunkan bibirnya seperti burung.


“Hahaha, ya sudah nanti sore kita mandi bareng ya,” Wina melepas kancing kemeja sang suami agar cepat masuk ke kamar mandi.


Setelah semua kancing kemeja itu terlepas, Fariz langsung masuk ke dalam kamar mandi. Tak membutuhkan waktu lama Fariz untuk mandi. Cukup sepuluh menit saja untuknya menyelesaikan ritual wajib itu.


Fariz mengambil baju santainya sebelum berbaring di samping sang istri yang lagi main hendphone nya.


“lagi main apa sih?” Tanya Fariz mengintip istrinya.


“Astaga sayang, kamu ninton apa itu?” Fariz langsung merebut ponsel milik istrinya.


“Aku pengen yang kayak gitu sayang. Aku gak mau gagal lagi, makanya aku nonton,” jawab polos dari Wina yang tak canggung mengatakan hal tabu.


“Ya sudah, nanti malam aku akan belajar. Tapi kita tidur dulu sekarang, aku capek banget,” Fariz mencium dahi istrinya, membawanya ke dalam pelukannya.

__ADS_1


Rasa capek yang di rasa oleh keduanya membuat mereka lebih cepat untk mengarungi alam mimpinya. Menjemput impian yang indah, ketika kenyataan tak seindah mimpinya.


Hari yang terang kini sudah berganti dengan gelapnya malam. Rumah yang di tinggali oleh dua orang di malam hari ini, terlihat sangat sepi. Billa datang mungkin di saat yang kurang tepat, karena rumah ini terasa sepi dan terkesan tek berpenghuni.


Billa melangkah lebih dalam menyusuri lantai mengkilap rumah anak dan menantunya. Menaiki anak tangga yang lumayang banyak, jika di hitung dengan jari tak akan cukup. Samar samar terdengar rintihan putri tersayangnya.


Billa yang berlari menuju lantai atas dengan tergesa membuat Revan ikut berlari mengejar istrinya. Semakin dekat denga sumber suara, Billa semakin mempercepat larinya.


Revan yang sadar dengan suara itu segera mencegah sang istri untuk tak mengganggu anak dan menantunya.


“Billa… Billa sayang, kita turun ya. Kita pulang saja, besok kita kembali ke sini. Kasian mereka capek dari perjalanan jauh sayang,” Revan menghentikan langkah Billa.


“Gak bisa Van, ini anak lagi nangis malah mau di tinggal,” Tak mau mengerti Billa mendorong sang suami yang berusaha menghalanginya.


Sedangkan di dalam kamar, Fariz yang berusaha keras untuk memasukkan si junior merasa kesulitan.


“Sabar dulu sayang, tahan dulu. Tadi katanya emang sakit di awal, tapi abis itu gak terasa sakit,” Bisik Fariz mencoba menenangkan sang istri yang sudah menangis.


“Tapi ini sakit sekali, emangnya belum ya?” Tanya Wina yang memerah menahan rasa sakitnya.


“Belum sayang, tahan dulu ya. Sebentar lagi aja bakalan penuh kok,” Bisik Fariz yang juga merasakan perih sama seperti Wina.


“Aku gak kuat….” ucapan Wina terhenti oleh gedoran pintu dari luar.


“Keluar kalian!!! Wina… Wina …. mama datang sayang, kamu aman sekarang,” dengan penuh amarah Billa menggedor pintu kamar putri dan menantunya.


“Mama?” Kaget WIna dan Fariz yang langsung terlonjak.


Billa melihat keadaan menantunya yang acak acakan, dengan keadaan kamar yang sedikit berantakan. Menghentikan langkahnya yang hendak masuk ke dalam kamar. Wajah merah Billa menunjukkan betapa malunya dia.


Mengganggu menantu dan putrinya merupakan hal yang paling di sesalinya. Sedikit melirik kearah dalam, Billa dapat melihat sang putri tengah merapikan tempat tidurya yang seperti kena badai.


“Maaf, silahkan lanjutkan. Mama pulang dulu ya,” Billa langsung menggandeng suaminya untuk lekas keluar rumah.


“Gak usah ma, mama tunggu di luar aja dulu sebentar. Wina mau mandi,” teriak Wina dari balik pintu.


“Hah?” merasa cengoh dengan apa yang di katakan sang istri, membuat Fariz kaget.


Ini sudah tegang, mau di tinggal begitu saja? Batin Fariz yang membuat kepalanya semakin tak karuan.


Melihat istrinya yang sudah mandi dan juga memakai baju lengkap. Fariz hanya membatin, TEGANYAAA. Habis manis sepah di tinggal, kalo butuh di cari lagi.huh istri tak tahu kasian sama suami.


Fariz memilih untuk mengikuti permainan sang istri. Dia juga mandi setelah itu menemui sang mertua sengkleknya. Di bawah, Fariz melihat mertua dan istriya tegah menikmati makan malam keluarganya.


Fariz sedikit kangen dengan ibu yang tak mau di ajaknya untuk tinggal bersama. Kecewa sih, tapi hati mamanya sudah menyatu dengan Idham, putra tersayang Satya.


Setelah makan malam Revan masih sempat membahas sedikit pekerjaan pada menantunya. Meski sudah mengatakan memberinya libur untuk menantunya selama tiga hari.


“Ya sudah, mama sama papa jangan ke sini selama tiga hari ke depan. Bikin sebel aja sih,” gerutu Wina tak suka.

__ADS_1


“Hahaha iya iya, mama minta maaf ya,” Billa pamit pulang setelah puas mencandai putrinya.


Rumah itu kembali sepi setelah kepulangan kedua perusuh itu. Wina dan Fariz kembali ke kamarnya, Wina membawa beberapa buah ke dalam kamar. Melihat sang suami tengah membaca buku di tempat tidur, Wina mencoba menggoda Fariz dengan ilmu yang di dapat dari sang nenek.


“Sayang, kamu tau tidak di luar itu gelap bangat?” Wina mendekat dengan merebahkan kepalanya di pangkuan sang suami.


“Ya karena ini sudah malam sayang,” jawab Fariz sedikit gemas.


“Bukan sayang, itu karena malam ini rembulan hanya bersinar untukku.” dengan santainya memakan semangka yang sudah di potong kecil kecil.


“PD banget kamu,” nada Fariz sedikit meremehkan.


“Iyalah, karena kamu lah rembulan ku.”


Blush


Wajah Fariz memerah dengan apa yang di ucapkan istrinya. Tak menyangka jika istrinya bisa juga untuk menggombal.


“Tau kah kamu sayang, rembulan itu malam ini tengah redup. Menantikan bintang setianya mendampingi mengarungi malam?” Wina kembali mengatakan hal puitis yang tak bisa di jawab oleh Fariz.


“Tenang lah, bintang itu sebenarnya tetap ada di sampingnya. Meski terkadang tidak pernah terlihat,” Wina menyuapkan buah pepaya potong pada sang suami.


“Jangan terus menggodaku kalau kamu belum siap di serang sayang,” ancam Fariz sedikit menggoda.


“Aku selalu siap sayang, tapi jangan buat aku sakit.” tantang Wina.


“Ya emang awalnya aja itu katanya, tapi setelahnya enggak sakit kok,” bujik Fariz yang membuat WIna mikir


Enaknya di mana kalo kaya gitu aja belum bisa di katakan jebol. Ah rasanya sakit, tapi kenapa orang orang suka. Sampek anak anak kecil pun juga penasaran hal itu? Kepala wina sakit seketika jika memikirkan hal itu.


Perlahan Fariz mendekatkan diri lagi pada sang istri yang tidur di pangkuannya. Di kecup mesrah istri cerewetnya. Tak lupa Fariz juga membelai rambut lurus itu dengan lembut.


Membawa wanita itu dalam kenyamannan adalah hal yang paling utama. Memberingkan di sampingnya dengan terus berciuman. Setelah semua baju terlepas semua, Fariz menyelimuti Wina bersama dengan dirinya.


Fariz berusaha untuk memberikan kenyamanan dan juga rasa tenang pada sang istri. Saat sudah sangat terbuai, rasanya dengan gampang Fariz menerobos pertahanan sang istri. Hanya sekali hentakan pun sudah mampu membobol gawang lawan.


Faris berhenti sejenak untuk memberikan rasa nyaman pada istrinya. Dengan tetap membuai, Fariz melakukan permainanya.


“Fariz, aku mau pipis, minggir dulu,” WIna menghentikan permainan saat merasa dirinya merasa sangatgeli.


“Sama, tapi gak bisa di tahan.” Fariz juga merasa ingin mengeluarkan air dari dalam dirinya.


“Yaaaa Tuhan Fariz, aku ngompol,” Wina menghentikan Fariz yang masih di atasnya.


“Aku jugaaaa,” dengan terengah engah, Fariz menjawab Wina.


Mereka berdua langsung lari ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah mandi Fariz menggati seprei yang di gunakan tadi. Wina mencoba mencari bekas ompol yang di tinggalkan.


“Aneh, kenapa gak ada bekas ompolnya ya?” Tanya Wina yang masih mencari bekas ompolnya.

__ADS_1


“Besok di jemur aja lah kita tidur di kamar bawah saja malam ini,” Fariz mengajak  istrinya itu untuk tidur di kamar yang pernah di tempatinya.


Malam ini merupakan malam bersejarah bagi WIna dan juga Fariz. Meski tak begitu mengerti semuanya.


__ADS_2