
Hari pernikahan Almas Baganta dengan Mustafa Arby telah berjalan dengan lancar. Hambatan yang tadi sudah berlalu dengan sendirinya. Tak ada yang mengetahui selain Levin, Kliene dan istri mereka.
Wina dan Fariz kembali ke rumahnya dengan wajah yang tak singkron. Fariz dengan wajah sumringahnya, sedangkan sang istri dengan wajah suramnya. Apa sebenarnya yang terjadi di antara keduannya?
Wina langsung masuk ke dalam kamar. Sedangkan Fariz masuk ke dalam ruang kerjanya untuk menyelesaikan kerjaan yang kemarin di antarkan oleh sekertarisnya di BIRMA. Karena Fariz menduduki jabatan sebagai Direktur utama di BIRMA dan juga sebagai sekertaris pribadi di SATYA.
Wina mengganti gaunnya dengan baju rumahan biasa. Setelan celana pendek dengan kaos oblongnya. Wina menghampiri Fariz yang tengah bekerja.
“Sayang, itu kerjaan gak keburu buru kan? Jangan terlalu mementingkan pekerjaan lagi. Kamu akan di gaji sama kok biar kamu gak seperti kemaren kemaren,” ucap Wina duduk di meja ruang kerja Fariz.
“Karena aku di bayar sama lah yang membuatku tak boleh bersantai santai. Gaji itu harus sesuai dengan kerjaan,” Fariz memegang tangan Wina.
“Ya sudah sak karepmu ae sayang. Jangan lupa minum obatnya saja, juga inget istirahat. Aku gak mau kamu seperti kemaren,” Gerutu Wina yang masih duduk di meja kerja Fariz.
Tak berapa lama, kerjaan yang di kirimkan oleh sekertarisnya itu sudah di kirim balik. Setelah mengerjakan kerjaannya, Fariz berniat untuk mengadakan meeting online. Namun sebelum itu Wina menuruh lelakinya untuk minum obatnya terlebih dulu.
“Terima kasih sayang,” ucap Fariz dengan senyum yang terus mengembang, namun istrinya itu masih enggan untuk tersenyum.
Saluran pun sudah konek dengan para bawahan di kantor. Fariz memimpin meeting jarak jauhnya dengan mertua yang bergabung dengan para bawahan di kantornya.
“Baiklah pak Fariz, apa yang hendak bapak sampaikan?” Tanya Monik selaku sekertaris mertuanya yang mewakili untu bertanya dan berbicara sesuai topik.
Setelah menerangkan dengan apa yang di rasa kurang, Fariz pun memberikan pendapatnya untuk proyek kerja sama itu. Fariz dengan hati hati menjawab pertanyaan yang di lontarkan para peserta meeting termasuk pertanyaan Monik selaku juru bicara dari mertuannya.
“Ya, seperti itu yang saya mau sebenarnya. Tapi itu semua tergantung dari bapak Revan sendiri dengan usul saya.” akhir dari usul Fariz.
“Biar saya yang jawab,” Revan merasa ini terlalu besar penanganan dan juga dampaknya, maka dia sendiri yang akan menjawabnya.
“Baik Pak,” ucap Monika.
“Kapan kamu ada waktu? Saya akan bahas ini dulu sebelum kita share dengan yang lain.” tanya Revan yang di angguki oleh Feriz.
“Setiap hari saya bisa pak, apa bapak mau Fariz ke rumah bapak?” Jawaban Fariz membuat Revan tersenyum lebar.
“Hahaha, biar papa yang ke sana saja. Papa kangen sama anak nakal papa,” Jawaban yang membuat semua orang terperangah tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
Sebenarnya siapa Fariz ini? Kenapa bosnya memanggil dirinya papa untuk Fariz? Bukankah bosnya ini cuma anaknya cuma satu. Itulah yang di fikirkan Monika dengan yang lainnya.
“Ya sudah kalau begitu pa, nanti Biar Fariz kasi tau Wina biar gak kemana mana,” itu lah yang di sampaikan Fariz yang semakin membuat semua bertanya tanya, apa hubungannya Fariz dengan Wina?
Tak ada yang berani bertanya kepada pentolan BIRMA itu. Mereka hanya menelan pertanyaan itu dengan jawaban sesuai asumsi dan opini mereka masing masing.
“Baiklah Mobika, kamu ikut saya kita ke rumah Fariz. Dia habis kecelakaan gak baik kalau di suruh masuk kerja. Oh iya Uli mana? Ajak dia sekalian kita menjenguknya.” kata Revan membuat semua semakin bertanya tanya.
Uli adalah sekertaris Fariz yang membantunya bekerja. Jam masih di titik dua belas siang pun membuat keduanya mampir ke sebuah rumah makan untuk memesan makanan.
Wina menyambut kedatangan papanya dengan pelukan manja dari gadis SMA kelas dua. Kedua wanita yang di bawa oleh papanya hanya bisa tersenyum dan juga menggelengkan kepala. Betapa manjanya nona kecil ini pada papanya.
“Suamimu mana?” Pertanyaan yang membuat Monika membulatkan matanya.
Wina sudah menikah? Itu lah pertanyaan yang tak bisa di ungkapkan oleh Monika ataupun Uli.
“Ada di dalam pa, mari masuk Mbak.” Ajak Wina pada kedua wanita yang di bawa oleh papanya.
Dengan membawa tentengan makanan di dalam kantong plastik. Kedua wanita yang di bantu oleh kedua pembantu Wina masuk ke dalam rumah.
“Papa, sudah datang. Oh mbak Monika sama Uli ikut juga,” Fariz muncul dari ruang kerjanya.
“Kita makan siang dulu,” ucap Revan yang menggiring kedua tamunya ke meja makan.
__ADS_1
“Oh ini rumah pak Fariz?” Uli memecah keheningan.
“Iya, sekarang kan sudah tau. Jadi bisa ngirim langsung ke sini gak perlu lewat kurur kalau sifatnya sangat rahasia. Itu sangat berbahaya. Kalau saya lagi gak ada, Wina istri saya selalu di rumah.” kata Fariz pada sekertarisnya.
“Siap pak,” ucap Uli mengerti.
Monika hanya diam saja seperti ada sesuatu yang tengah di fikirkan. Masih dalam keheningan dan kediamannya, Monika menikmati makanannya dengan pikiran melayang entah kemana.
“Sepertinya memang lebih enak kalau ngomong bisnis itu sambil makan gini ya. Rasanya sangat santai,” Revan memulai berbicara maksud dantujuannya mengunjungi rumah menantunya.
“Iya pa, jadi kenapa Fariz mengusulkan itu. Karena Mr, Smit sudah sepakat dengan dananya yang lumayan besar juga. Beliau juga bilang kalau dia tidak keberatan dengan usul yang Fariz sampaikan ke papa itu,” jelas Fariz yang membuat Revan hampir tersedak.
Uhuk
Uhuk
“Jadi ini dari Mr. Smit? Dari mana kamu bisa kenal investor itu?” Tanya Revan yang tak percaya jika menantunya mengenal dengan orang yag di incarnya selama ini.
“Gak sengaja kalau anaknya itu teman sekolah Fariz pa, setelah Fariz bilang tengah bekerja di BIRMA beliau langsung menawarkan investasinya.” cerita singkat Fariz membuat tak percaya Revan dan kedua wanita di depannya.
“Siapa sih yang?” Tanya Wina yang membuat Monik sedikit tak suka.
“Rojali Adam Smit. Beruntung aku ketemu papanya terlebih dulu sebelum pihak Baganta yang bertemu dengannya,” kata Fariz pada istrinya.
“Kenapa ke Baganta?” tanya Revan tak mengerti.
“Rojaii itu pacaran dengan Arin Baganta, putri kedua dari Levin Baganta.” jelas Fariz yang membuat Revan semakin bangga pada menantunya.
“Baiklah kita sudah mencapai sepakat. Kita akan memakai apa yang sudah ada di dalam proposal. Tinggal mencari tanda tangan dari Mr. Smit saja,” Revan mengakhiri makan nikmatnya.
“Papa berarti belum melihat semua isi email yang sudah Fariz kirimkan?” Tanya Fariz yang melihat mertuannya heran.
“Emmm belum, papa malas membuka email dari kamu Fariz. Apa lagi yang perlu di cek? Semua sudah bener,” Revan mengelap mulutnya sebelum mengambil buah jeruk sebagai pencuci mulutnya.
“Hahaha, iya iya maaf, memangnya SATYA juga begitu?” Yaya Revan seakan tak mengetahui itu.
“Pak Satya yang mengambil alih semua sih pa, cuma ada apa apa masih mengajakku berdiskusi bareng ayah Affandi. Jadi Fariz berasa juga bagian dari perusahaan mereka.” jawab jujur Fariz.
“Mereka memang orang orang yang baik Fariz, mereka tak menganggapmu orang lain,” Revan menatap haru pada hubungan dirinya dengan majikannya dulu yang kini menjadi rekan kerjanya.
Akhirnya ketiga orang itu kembali ke kantor setelah mencapai mufakat. Hasil diskusi yang tak pernah di tebak oleh Revan. Sempat dirinya berfikir untuk kembali ke Jerman dan menetap bersama sang istri tercintanya.
Namun hal itu kembali di tepisnya ketika mengingat putrinya yang paling dia sayangi. Dan istrinya juga tak akan pernah mau meninggalkan putrinya dengan lelaki lain.
Hari sudah berganti dengan malam yang dingin. Fariz masih terlihat sangat lemah, masa pemulihan yang sangat membosankan.
Wina melayani Fariz selayaknya seorang istri yang sangat mencintai suaminya. Dengan umur yang masih sangat muda, harusnya dia bermain ke sana kemari dengan teman sebayanya. Tetapi Fariz dan Wina harus mengikat diri dengan pernikahan dini.
“Wina, kamu masih belajar?” Tanya Fariz.
“hmm,” jawab Wina.
Tak biasanya dia mendiamkan aku seperti ini, ada apa ini? Fikiran Fariz mulai tak tenang.
Fariz turun dari tempat tidurnya dan berjalan mendekati istrinya yang tengah duduk di meja belajarnya. Fariz mendekatinya dan membelai lambut lembutnya. Tak hanya itu, Fariz pun sesekali mencium rambut wangi itu.
“Besok lagi ya, sekarang sudah malam. Dan katakan padaku, apa yang kamu pikirkan sampai kau mengabaikan aku,” Fariz menggendong Wina yang sedikit berontak.
“Turunkan aku Fariz, kau masih belum sembuh benar,” Wina berusaha untuk turun dari gendongan sang suami.
__ADS_1
“Jangan banyak bergerak, lenganku sakit,” Wina akhirya nurut dan segera turun ke tempat tidur.
“Sudah tau sakit, masih gendong aku. Siniin tangannya,” Wina menciumi lengan Fariz yang di gunakan untuk menggendongnya.
“Geli, jangan coba kau menggodaku. Sekarang cukup kau katakan saja apa yang kau sembunyikan dariku,” Fariz membelai Wina dan membawanya ke dalam dekapannya.
“Jawab jujur Fariz, ada hubungan apa kamu dengan kak Almas?” kini air mata tak sanggup lagi di tahan oleh Wina.
Tangisan Wina pecah ketika mendengar apa yang di ceritakan oleh sang suami. Percaya atau tidak, tapi itu lah yang sebenarnya terjadi. Almas dan Fariz pernah satu ranjang dengan keadaan yang tak bisa menjelaskan semua.
“Aku tanya lagi, apa yang sudah kamu lakukan saat malam bersama dengan kakak?” Tanya Wina yang membuat Fariz memejamkan mata.
“Segitu tak percayanya kamu sama aku? Aku gak ngapa ngapain sayang, bahkan sampai sekarang pun aku masih takut untuk melakukan itu dengan kamu. Hanya kamu istriku yang bisa aku sentuh,” Fariz mencoba meyakinkan istri tercintanya.
“Apa buktinya kalau kau tak ngapa ngapain dengan kaka?” Cicit Wina yang seakan memberi kode, aku juga mau itu juga.
“Bukti apa Wina sayang? Aku tak tau bagaimana cara aku membuktikannya terhadapmu. Apa kamu mau aku melakukan itu terhadapmu?” Tanya Fariz dengan sedikit godaan untuk istrinya.
“Tidak, aku tidak meminta kau melakukan apa apa. Aku hanya memintamu untuk membuktikannya padaku,” ucap Wina yang sudah terlihat memerah.
“Cara membuktikannya bagaimana sayang?” Goda Faris dengan segala trik liciknya membuat sang istri malu sendiri.
“Sudah ah aku au tidur,” Wina memalingkan wajahnya dan berusaha untuk menghindari tatapan lelaki paling di cintainnya.
Bukannya seharusnya dia marah dan juga memaksa Fariz untuk mengakui kesalahannya. Tunggu. Kesalahan? Kesalahan apa? Apa mungkin kakak sepupunya hanya asal menebak atau memang sudah terjadi malam terpanas antara suaminya dengan kakak sepupunya itu?
Ah sudah lah, yang terpenting sekarang dia sudah mengetahui. Dan sebisa mungkin harus menghalangi mereka bertemu berdua saja.
Sedangkan yang tengah di curigai, kali ini tengah menikmati malam terindahnya. Melupakan kejadian pagi tadi, yang membuatnya menangis hampir pingsan.
Di bawah kungkungan sang suami, Almas kini tengah menikmati surga dunia. Entah mendengar atau enggak, samar samar sebelum mencapai puncak kenikmatannya. Almas tengah menyebut nama Alfarizi.
Sebenarnya apa yang di miliki oleh lelaki yang terpaut lima tahun lebih itu? Sehingga bisa membuat banyak wanita yang bersedia menjatuhkan dirinya hanya untuk bersamanya?
Jangan melupakan Wina memilih untuk di madu atau di selingkuhi demi tetap bersama dengan lelaki itu. Bahkan Wina sendiri yang menawarkan lelaki itu untuk menikahi juga wanita yang di cintainya, Mentari.
Gila memang, tapi ya begitulah memang Fariz. Menggoda tanpa dia harus mengucapkan kata kata gombal atau rayuan yang terkesan menjijikkan.
Malam panjang penuh keringat di lalui oleh sepasang pegantin baru itu. Namun tidak dengan WIna dan juga Fariz.
Pasangan suami istri yang kini tengah menghadapi ujian keaikan kelas. Di jaga langsung oleh pengantin baru yang juga merupakan guru BK nya. Jangan kan untuk mencontek, terlihat menoleh ke arah samping pun langsung mendapat notifikasi dari guru killer itu.
“Sumpah ini guru kenapa matanya banyak sekali ya? padahal itu mata cuma ada dua, tapi bisa gitu langsung tdes ke siswa yang mau nyontek,” ucap Rojali yang tadinya hendak meminta jawaban pada Fariz.
“Ya kamu sih gak tau, itu guru kan keturunan mahadwa,” jawab Arin yang duduk di samping Roali.
“Aku sampek in kamu ya, inget itu kakak ipar kamu sekarang, hahaha” goda Wina yang menakut nakuti adik kandung dari Almas.
“Sialnya hidupku kalau beneran mereka akan tinggal serumah sama mereka,” jawab Arvy yang tiba tiba ikut gabung dengan mereka.
Arvy itu orang yang hampir tak pernah keluar dari kelas. Namun karena mereka sedang ujian, jadi kelas harus benar benar kosong di saat jam istirahat.
“Hahaha, ikut tinggal di rumahku aja. Kamu bebas di sana mau ngapain aja,” Wina menertawakan apa yang di keluhkan oleh kakak sepupunya.
“Ogah, bisa di cekik Fariz entar.” kembali Arvy berpendapat.
“Tenang, si Fariz udah jinak kok. Kalian berdua tinggal aja. Di rumahku, sumpah rumah itu kek kuburan kalo malam.” keluh Wina.
“Beneran udah jinak? Kalo belum entar aku di sate gimana?” kembali Arvy menghawatirkan yag tidak tidak.
__ADS_1
“Apaan dah ini bahas aku udah jinak apa belu? Jangan macam macam kau Arvy,” ancam Fariz yang malah di tertawakan oleh teman temannya.
Di luar keseriusan kerja Fariz, dia tetaplah seorang remaja yang masih suka kumpul kumpul dan bercanda dengan teman teman yang lainnya. Hingga adanya sepasang mata yang tak suka melihat ke dekatan antara Wina dengan Fariz.