Kesetiaanmu

Kesetiaanmu
Kehamilan Bian


__ADS_3

Alfarizi adalah seorang remaja yang berusaha bersama dengan sang ibu untuk mewujudkan impiannya. Seorang pelajar di salah satu sekolah menengah atas Negri terbaik melalui jalur beasiswa. Mengambil jurusan IPA karena dirinya bercita cita menjadi seorang dokter.


Fariz bertemu dengan Satya kala itu saat ibunya melamar pekerjaan sebagai pembantu di rumahnya. Setelah mendengar kisah kehidupan mereka setelah di tinggal sang Ayah. Membuat Satya tersentuh dan menawari Fariz untuk bekerja ikut dia sepulang sekolah di cafe miliknya.


Fariz seorang pegawai yang terbilang rajin. Tapi Satya tak mau memberinya beban sebelum anak itu merawa mampu. Fariz sebagai murid terpintar di sekolahnya, membuatnya mendapatkan keringanan atau beasiswa atas prestasinya.


“Sudah Fariz gak apa apa, biar saya yang bersihkan,” Fariz merasa malu ketika bosnya mengerjakan pekerjaannya.


“Ya sudah pak, nanti kalau butuh bantuan lagi panggil saya saja. Jangan di kerjain sendiri,” ucap Fariz masih dalam rasa canggungnya.


“Ya sudah kalau kamu merasa kekurangan kerjaan. Bisa bantu saya untuk membeli tespeck?” Satya mengetes Fariz apa dirinya akan menilak atau menerima permintaan tolong dari dirinya.


“Seperti apa bentuknya pak? Dan di mana saya harus mencari?” Tanya Rafis tanpa menanyakan untuk apa itu.


“Seperti ini belikan 2, belinya di apotek." Satya memberikan gamar yang ada di layar ponselnya.


Berbekal gambar pada ponsel bosnya, Fariz ke apotik sesuai arahan sang bos. Bembeli 2 biji sesuai jumblah yang di minta oleh bosnya.


Awalnya Fariz sempat di tertawai oleh pegawai apotek. Namun karena dirinya bertekat untuk membantu maka Fariz menghilangkan rasa malu yang ada di dalam diri.


Fariz selalu mengingat pada Satya yang membantu dirinya selama setahun belakangan. Kepergian sang Ayah memang terasa berat baginya juga sang ibu. Tapi Tuhan lebih menyayangi Ayahnya dari pada dirinya. Jadi harus mengihklaskan Ayah tercintanya kembali di sisi-NYA terlebih dulu.


Fariz membawa apa yang di pesan oleh Satya. Melihat Fariz dengan tatapan yang mencari tau apakan ada rasa malu saat di suruh membelikan Tespeck pun membuat Satya kembali kagum.


“Apa kamu gak malu saat membeli ini tadi?” Tanya Satya pada pemuda yang baru menginjak lima belas tahun itu.


“Buat apa saya malu?” Tanya Fariz.


“Ini kan untuk wanita yang hamil, sedangkan kamu masih sekolah,” Satya menjelaskan apa maksud dari pertanyaannya.


“Kenapa harus malu? Suatu saat nanti aku juga akan membantu ibu ibu melahirkan,” jawab Fariz mantab.


“Kamu mau jadi dokter?” Tanya Satya melihat kesungguhan seorang pemuda belasan tahun dengan semangat juang yang membuatnya kagum.


“Iya, maka dari itu saya harus lebih giat lagi bekerja untuk menabung,” Jawab Fariz mantab.


“Baiklah kalau begitu, Saya akan bantu kamu masuk perguruan tinggi. Asalkan kamu bisa menjamin nilai kamu gak turun dan masih tetap bekerja disini,” Satya menjanjikan masadepan pada Fariz.


“Terima kasih pak Satya. Saya akan lebih berusaha lagi untuk meningkatkan nilai nilai saya,” ucap Fariz sebelum meninggalkan ruangan bossnya.


Bian yang mendengarkan apa yang di perbincangkan suami dengan OBnya merasa bangga. Bian bangga pada suaminya yang mau menolong sesamanya dengan menyuruhnya berusaha untuk mendapat bantuannya.


Hal ini di lakukan oleh Satya karena dia yakin harga diri seorang Fariz akan terluka jika memberinya dengan percuma. Seseorang seperti Fariz mengedepankan usaha dari pada meminta. Dirinya berfikir, ketidak mampuan gak harus membuatnya meminta minta seperti yang di lakukan sebagian orang di jalanan atau di lampu merah.


“Aku bangga dengan apa yang kamu lakukan untuk Fariz. Tetap menjadi pribadi yang baik untuk keluarga kita yang akan datang ya Bang,” ucap Bian sesaat setelah Fariz keluar dari ruangannya.


“Iya. Abang janji kesalahan sepeti dulu gak akan pernah terjadi lagi. Sekarang coba kamu tes dulu. Siapa tau hasilnya sesuai dengan harapan,” Satya memberikan apa yang telah di belikan Faris padanya.


“Jangan terlalu banyak berharap. Aku takut kamu akan kecewa nantinya,” ucap Bian agar suaminya tak terlalu berharap pada apa yang belum pasti.


“Kalau kamu terus pesimis seperti ini. Aka menyakiti dirimu sendiri. Sudah sekarang kamu tes aja, apapun hasilnya kita terima bersama.Satya balik menasehati istrinya yang selalu berfikiran negatif.


“Karena memang hal ini bukanlah yang pertama,” Bian dengan malas menjawab suaminya.


“Kalau gagal ya coba lagi. Sudah jangan mikir panjang kali lebar yang buat kamu terkurung di dalam volume,” Satya sedikit mendorong istrinya untuk masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam ruangannya.


Sudah sepuluh menit Bian berada di dalam kamar mandi membuat Satya tak tenang bekerja. Satya langsung menghampiri sang istri ketika melihatnya keluar dari kamar mandi.


Dengan wajah lesunya Bian menyerahkan benda pipih dan kecil berarti besar pada sang suami. Melihat ekspresi Bian membuat Satya engan untuk melihat hasilnya lagi.

__ADS_1


“Sudah kita coba lagi lain kali ya sayang jangan pernah kecewa dengan apa yang masih belum di takdirkan untuk kita,” Satya memeluk Bian dan memenangkan istrinya yang seperti orang linglung.


“Bisa antar aku periksa ke rumah sakit saat ini juga,” kata Bian mengagetkan Satya yang masih memeluknya.


“Kamu kenapa? Kenapa kamu semakin pucat seperti ini?” Tanya Satya yang melihat istrinya semakin pucat dari sebelumya.


“Dengartkan detak jantung Adek, Bang.” Satya semakin ketakutan dengan tatapan kosong Bian


“Ayo kita ke rumah sakit sekarang juga,”


Tak mau membuang waktu lagi Satya langsung mengajak wanitanya untuk periksa ke rumah sakit sesuai dengan keinginan sang istri.


Secepat dia bisa, Satya membawa istrinya ke rumah sakit terdekat dari cafenya berada.Bian yang masih terlihat pucat pun membuat Satya semakin takut. Satya langsung menarik istriya duduk di tempat yang di sediakan untuk pengunjung yang mendaftar untuk berobat.


Setelah melakukan pendaftaran di poli umum. Satya di anjurkan untuk memeriksakan istrinya ke dokter umum karena untuk Poli umum sudah tutup.


Bian dan Satya di antarkan ke lantai dua menuju ruangan specsalis kandungan setelah dari dokter umum. Satya semakin bingung karena sedari tadi hanya mutar mutar tak tentu arah. Lempar sana lempar ini, keruangan sana ke ruangan sini. Akhirnya Bian dan Satya sudah berada di ruangan dokter spesialis kandungan.


“Maaf ibu, kapan terakhir ibu datang bulang?” Tanya dr, Rina yang tertulis di name tagnya.


“Kapan ya, Saya lupa dok.” Jawab Bian yang memang melupakan kapan dirinya datang bulan.


“api yang jelas bulan ini belum, eh sepertinya bulan lalu juga belum deh,” kembali Bian mengingat samar tentang datangnya tamu bulanan bulan kemarin.


“Ibu, ini usia kandungannya sudah lebih dari dua belas minggu lo. Dan sudah sangat jauh dari tanggal menstruasi ibu. Apa ibu tidak merasakan ganjalan saat berhubungan intim? Atau berasa begah saat makan?” Tanya Dr Rina.


“Sedikit nyeri sih dok ketika suami menghentak terlalu keras. Tapi saya gak merasakan begah saat makan.” Jawab Bian.


“Bapak juga, apa gak merasa kasihan pada bayinya kalau main terlalu keras?” Dr Rina beralh memarahi Satya yang sedari tadi hanya melongo tak tau harus berekspresi seperti apa.


Tiga bulan itu bukan waktu yang sebentar. Tapi bagaimana bisa Bian tak merasakan keanehannya. Dan apa gak terlihat sedikit atau agak banyak perubahan pada perutnya yang sedikit menonjol?


Setelah mendengar sendiri apa yang di ucapkan oleh dokter Rina tentang kehamilan Bian. Kini Satyalah yang paling bahagia. Setelah lima tahun pernikahannya, mereka mendapatkan apa yang di tunggunya.


Satya langsung mengajak Bian pulang ke rumahnya setelah mengabari seluruh keluarganya. Tidak terkecuali mengabari keluarga dari Bian. Memang tak akrab seperti ke keluarganya, tapi Satya mau memberi kabar bahagiannya kepada sang mertua karena masing menghormatinya.


“Satya, mana Bian?’ Teriak Vindya ketika memasuki rumah besar yang hanya di huni empat orang tersebut.


Vindya dan Affandi langsung menemui anak anak mereka setelah mendengar kabar bahagia dari Satya. Kebahagiaan yang di tunggu tunggu bertahun tahun lamanya.


Satya tak mengijinkan Bian melakuka aktifitas apapun. Satya belajar dari pengalaman yang mengatakan jika istrinya ini memiliki kandungan lemah. Bian mengikuti dengan malas apa yang di ucapkan oleh sang suami.


“Mulai sekarang, Bunda akan lebih sering kesini demi kamu. Dan jangan lagi ikut Satya kerja, kasian kandunganmu.” omel Bundanya yang terlihat lebih protec terhadap sang menantu.


“Bunda, Bian merasa sangat bosan jika harus di kurung sperti ini terus. Dan selama ini juga gak terjadi apa apa kan sama kandunganku,” bantah Bian.


“Sudah jangan berdebat lagi, sekarang minum vitaminmu.” Satya menyodorkan beberapa butir vitamin pada istrinya yang di dapatkan dari rumah sakit tadi.


Tanpa bisa menolak lagi, Bian akhirnya hanya mampu menurut dan meminul obat yang di sodorkan Satya. Bian langsung beristirahat setelah meminum obat dari Dr. Rina.


Dengan wajah yang masih memancarkan kebahagiaan. Satya menyambut kedatangan orang tua yang merelakan putrinya untuk mendampingi dirinya seumur hidup.


Setelah berbasa basi sebentar, Darmawan Ical beserta sang istri menjnguk Bian di kamarnya. Selain orang tuannya, Zahra dan Zahira berserta suami mereka berdua pun ikut menjenguk Bian.


“Aku harap itu beneran anak Satya,” celetuk Fais saat menemui Bian bersama yang lainnya di kamar.


“Maksud kamu apa nak” Tanya Darmawan yang tak mengetahui jika putrinya sudah tak suci lagi ketika menikah dengan suaminya.


“Putri papa yang satu ini kan sangat murahan,” tanpa babibu lagi, Satya langsung menghantam pipi mulus sang kakak ipar.

__ADS_1


“Alwa, jangan membenci siapapun. Ingat istrimu tengah hamil,” Affandi yang tau siapa lelaki yang di pukul oleh putranya pun hanya menyuruhnya bersabar.


“Alwa bisa jaga diri tapi Alwa gak bisa melihat istri Alwa di hina oleh lelaki hina dina ini Ayah,” Kembali pukulan mendarat pada diri Fais.


“Jangan ada yang di tutupi lagi. Tolong jangan buat aku seperti orang bodoh diantara kalian,” seru Darmawan seakan tak di anggap ada oleh yang lainnya.


“Satya meniduri Bian sebelum menikahinya Pa,” ucap Satya mencoba menyelamatkan Bian dan membungkam mulut Fais.


“Jadi ini alasa kamu menikahi Bian hari itu juga?” Tanya Darmawan murka.


“Sekarang papa bayangin saja jika papa mengajak masuk wanita yang di sukai ke dalam kamar. Apa yang akan terjadi jika bukan memadu kasih?” pungkas Satya yang tak mengetahui apa yang akan di lakukan oleh Fais kembali.


“Rupanya memang sudah di cicipi dulu. Pantas dia menolakku,” Begitulah ucapan pelan yang hanya di dengar oleh Zahra kakak pertama sekaligus kakak iparnya.


Zahra sontak kaget mendengar apa yang di ucapkan oleh Fais adik iparnya. Zahra langsung menyeret Fais keluar kamar adik tersayangya itu.


Selama ini hanya Zahra yang sering menemui Bian secara sembunyi sembunyi setelah pernikahannya dengan pengusaha. Zahra memutuskan untuk tidak ikut tinggal bersama dengan orang tuannya.


“Apa maksud dari ucapanmu?” Tanya Zahra yang membuat Fais terkejut.


“Maksudnya apa kak?” Tanya Fais yang berbelit belit.


“Jangan menutupi apapun dariku Fais jika kamu masih mau mendapatkan investasi dari suamiku untuk usaha kamu,” ancam Zahra yang membuat Fais menceritakan semuanya sampai dirinya sudah meniduri adik iparnya.


“Begitu kejamnya dirimu pada adikku Fais, membusuklah kau di neraka jahanam!!” murka Zahra yang membuat Fais takut jika inves yang di lakukan suaminya akan di tarik.


Fais mengejar Zahra yang hendak meninggalkannya dan bersimpuh di bawah kakinya untuk meminta maaf.


“Jangan meminta maaf padaku tapi minta maaflah pada Bian dan suaminya,” ucap Zahra yang benar benar meninggalkan Fais sendirian di belakang.


Zahra kembali ke kamar Bian dan mendapati seorang pemuda asing baginya membawa minuman. Yang Zahra tahu pembantu dari Bian adalah wanita yang tak memiliki suami. Tapi, siapa pemuda yang satu ini? Gak mungkin keryawan Satya ‘kan?


“Satya, dia siapa?” Tanya Zahra yang tak tahan menahan rasa ingin tahunya setelah mendengarkan cerita Fais, dirinya sangat takut.


“Oh, dia anak dari Bu Ani pembantu disini. Dia kerja di cafe sebenarnya, tapi aku suruh ke sini untuk bantuin ibunya ,” jelas Satya memperkenalkan Fariz pada kakak iparnya.


“Jangan pernah meninggalkan Bian dengan lelaki lain,” ucap Zahra dengan segala ketakutannya.


“Tenang kak, dia sudah seperti adikku sendiri. Dia juga di ajari beladiri sama Bian, tapi untuk saat ini harus aku hentikan.” tutur Satya yang duduk di sebelah Bian.


“Iya, jangan pernah biarkan Bian kecapekan lagi. Mbak juga takut kejadian waktu itu terulang lagi.”


“Biiiiiiaaaaaaaaaaaaannnnnn”


Nurul datang dengan sedikit berlari mninggalkan suaminya yang tengah menggendong putraya.


“Hati hati sayang, nant kamu jatuh lagi. Kamu itu baru saja sembuh,” tutur Arkan lembut pada istrinya yang baru saja sembuh dari sakit tifus.


“Iya ayang, tapi aku lagi seneng ini….” Nurul langsung memeluk calon mama muda itu.


“Kalo kenapa kenapa elu gue santet Rul,” ucap Satya yang gemas dengan kelakuan sahabatnya yang gak pernah beruba.


“Mama muda ini memang selalu menyerang siapa saja,” celetuk Fariz yang membuat Arkan memanyunkan bibirnya.


“Sssstttt jangan buka kartu Riz nanti gak di kasi jatah gue,” ucap Nurul yang membuat seisi ruangan menjadi tertawa.


“Hahaha ups maaf kelepasan, Abimanyu ayo ikut kakak Fariz,” ajak Fariz pada anak umur dua tahun yang berada di gendongan papanya.


“Anak gue itu jangan lu ajarin jadi playboy,” celetuk Arkan pada Fariz tak suka.

__ADS_1


“Tenang pak boss, gak bakalan di ajari playboy.” jeda Fariz yang melihat ekpresi yang di tunjukkan oleh papa dari anak laki laki yang kini berada di gendongannya. “Paling di ajarin gaet mama muda saja,” goda Fariz


__ADS_2