Kesetiaanmu

Kesetiaanmu
Jamu


__ADS_3

Vano, Affandi, Vindya juga Nadin memutuskan untuk merahasiakan lebih dulu dari para orang tua. Vindya seperti orang linglung membuat prihatin Vano selaku adiknya. Nadia mengerti akan perasaan Vano hanya mampu mengelus dada Vano untuk menenangkan. Affandi mendapat telfon dari seseorang yg bernama Anton.


"Gimana bang? Sudah ketemu petunjuk?"


(....)


"Ck gampang itu bang. Ato abang mau gue ke sana sekarang?"


(....)


"Siap bang. Makasih ya." Affandi memutus saluran telfon dari hpnya.


"Gimana bang? Dapet kabar apa?" Tanya Vano antusias.


"Besok kita dapet yg paling akurat. Sekarang masih penyelidikan. Sudah ketemu orangnya tapi dia masih belum mau buka mulut siapa yg menyuruhnya."Kata Affandi membuat Vano bernafas lega.


"Vindya Affandi... di mana kalian nak?" Suara yg berasar dari pintu depan membuat semua yg berada di sana kelabakan.


Papa Sofyan yg datang di waktu yg tidak tepat. Fikir Vano.


"Papa mama silahkan masuk.... tumben berkunjung ma pa." Affandi buru buru menyambut mertuanya itu sebelum merasa curiga.


"Mama sama papa ke sini ya karena kangen lah sama kalian. Loh Vano di sini juga?" Kaget mama Agnes.

__ADS_1


"Tadi pulang sekolah numpang makan ma, Kangen masakan kakak." Vano berbohong.


"Lah mana kakakmu sekarang Van?" Tanya papa Sofyan.


"Tidur pak katanya capet kan sudah mendekati ujian nasional makanya sedikit kelelahan dia." Affandi beralasan.


"Ya sudah biarin dia istirahat. Itu prnting untuk dia." Kembali mama Agnes bersuara dengan terus melangkah ke arah dapur.


Di dapur mama Agnes melihat menantu perempuannya sedang membuat minuman. Mama Agnes membantunya dengan membuka bungkusan yg dia bawa.


"Nadin sayang minum ini nak, terus kasi ini untuk Vano nanti malem ya." Mama Agnes memberikan bungkusan kecil minuman berwarna coklat kehitaman.


"Apa ini ma?" Tanya Nadin curiga.


"Ini minuman bervitamin tradisional. dulu papa sama mama juga minum ini. Vindya sama Affandi juga minum. ini minuman turun temurun dari mertua mama." Jelas mama dengan nada lirih terkesan dengan berbisik.


"Untuk kamu iya di minum sekarang di depan mama." Titah sang mertua.


Tanpa berusaha membantah lagi Nadin meminum minuman pait itu. Nadin tak berani memuntahkan minuman yg sangat sangat paiy itu karena tatapan mama mertuanya tak lepas dari nya.


Mama Agnes datang denga Nadin yg membawa minuman warna orange di tangannya. Nadin langsung meminum bagiannya hingga kandas demi menghilangkan rasa pait tadi.


"Kapan Vano minum ini ma?"Tanya Nadin tersenyum licik.

__ADS_1


"Nanti kalo kalian sudah mau pulang baru Vano minum." Jawab mama Agnes membangkitkan rasa kepo Vano.


"Jus sayang, mama buatin jus untuk kita berdua." Affandi yg mendengar itu teringat akan sebuah minuman pait yg dulu di berikan oleh mertuanya itu sontak membuat dedeknya bereaksi sangat lama, mungkin sampai pagi.


Tak lama kedua orang tua itu berpamitan tanpa menemui Vindya. Hal itu membuat lega Vano Affandi juga Nadin.


"Minuman apa sih yang penasaran gue."


"Gue mau lo janji dulu harus meminum jus buatan mama sampai habis." Ucap Nadin


Jus buatan mama kan sangat enak. Gak mungkin gue gak abisin. Batin Vano.


Vindya mengambil bungkusan plastik kecil dan memberikan pada suaminya setelah mengocok miniman itu. Vano mengeryitkan dahi dengan bertanya minuman apa itu. Namun Vindya lagi lagi hanya menjawab jus.


Vano yg sudah berjanji menghabiskan minuman itu pun langsung menenggak habis minuman di plastik kecil.


"Jus apaan ini pait banget." Ucap Vano seakan mau memuntahkan namun tak bisa.


"Di deket tempat sendok ada madu Van, sana ambil." Kata Affandi dengan senyuman.


Vano langsung mencari madu yg di maksud abang iparnya itu. Namun langkahnya terhenti ketika merasakan perubahan dalam dirinya. Terutama si junior.


"Yang pulang yok" Ajak Vano dengan wajah yg sudah memerah.

__ADS_1


"Tapi yang..."


"Kasian Vano sudah sana kalian pulang besok kakak kabari lagi." Ucap Affandi memotong pembicaraan Nadin.


__ADS_2