
Vindya merasa sakit perutnya di pagi hari. Perut besarnya mengeluarkan cairan bening mengalir seperti air. Acara 7 bulanan untuk Vindya menjadi hari di mana semua orang di buat kalang kabut karena Vindya pecah ketuban.
"Mama tolong Vindya." Teriak Affandi yg kala itu berada di rumah keluarga Sofyan karena acara 7 bulanan.
"Vano mana? Suruh dia siapin mobil Nad." Suruh mama Agnes yg di sampingnya Nadin memegangi tangan kakak iparnya.
"Iya Ma." Nadin mencari Vano di halaman belakang yg menyiapkan tempat untuk siraman.
"Yang, kak Vindya mau melahirkan. Cepet siapin mobilnya." Kata Nadin terburu buru.
Vano dan sang papa langsung menyiapkan mobil keluarga yg biasanya di gunakan untuk pergi beramai ramai. Sesampainya di rumah sakit Affandi langsung menggendong Vindya menuju ke ruang ICU. Affandi panik takut juga gelisah. Affandi terus berdoa akan keselamatan ibu dan anaknya.
Tak lama keluarga Biantara datang ke rumah sakit. Mama Dita menenangkan Affandi yg terlihat cemas sekali menunggui istrinya di dalam. Affandi berniat mendampingi sang istri melahirkan. Tapi setelah melihat darah yg keluar Affandi langsung pingsan.
__ADS_1
"Bang minum dulu, abang abis pingsan jangan terlalu cemas nanti pingsan lagi." kata Nadin.
"Makasih dek, Vano mana?" Tanya Affandi.
"Tadi kak Vindya manggil manggil Vano kata dokter makanya sekarang dia di dalam mendampingi kak Vindya." Jelas Nadin
Nadin mencium sesuatu yg membuatnya lemas akhirnya memilih duduk di samping mama Agnes mertuanya. Wajah pucat Nadin membuat mama Agnes khawatir.
"Sayang kenapa kamu pucet banget?" Tanya mama Agnes.
Semakin lama pundak mama Agnes semakin berat. Mama Dita melihat Nadin memejamkan mata membuatnya panik.
"Jeng Nadin jeng." Mama Dita mengguncang guncangkan tubuh Nadin yg tak bereaksi.
__ADS_1
Affandi memanggil perawat yg kebetulan lewat dan membawanya menggunakan kursi roda di samping pintu yg tadi di gunakan oleh Vindya. Nadin masih pingsan mama Dita dan mama Agnes menunggui Nadin di ruang rawat. Sedangkan Affandi menunggui Vindya bersama papa Sofyan juga papa Biantara.
Dokter keluar setelah Vindya melahirkan seorang bayi laki laki. Sedangkan di dalam Vano menyaksikan kakaknya memperjuangkan bayinya dengan mempertaruhkan hidup dan matinya. Vano menerima bayi yg baru lahir yg penuh darah untuk di berikan kepada sang kakak sebelum perawat memandikannya. Suara tangisan dari bayi kecil penuh darah itu membuat hati Vano sakit mengingat kelakuannya terhadap Nadin.
Vindya yg kelelahan melihat Vano adiknya yg menangis menggendong anaknya malah tersenyum. Vindya menerima bayi kecil itu lalu menyusui sebentar sebelum di serahkan kembali pada perawat untuk di bersihkan.
Setelah mengeluarkan semua darah kotor, Dokter memulai untuk menjahit **** ***** Vindya. Vano masih setia menunggui kakaknya karena permintaan sang kakak. Setelah selesai Vindya tertidur akibat kelelahan. Vindya di pindahkan ke ruang rawat.
Affandi mengambil putra kecilnya dari box bayinya dan mengadzaninya. Vano mencari Nadin karena setelah keluar dari tempat persalinan Vano di beri kabar bahwa Nadin pingsan.
"Gimana ma Nadin kenapa?" Tanya Vano sambil membelai lembut rambut Nadin.
"Hasil pemeriksaannya masih belum keluar, tadi dokter menyuruh nunggu sebentar. Nadin juga baru sadar, habis ini ajak istri kamu pulang kasian." Ucap mama Agnes yg khawatir akan menantunya.
__ADS_1
"Nad, maafin gue sudah menyakiti hati lo." Vano kembali menangis.