Kesetiaanmu

Kesetiaanmu
Nadin


__ADS_3

Vano tiba di sekolah 15 menit sebelum bel berbunyi. Motor gede Vano terparkir indah di parkiran sekolah. Vano tak datang sendirian, karena Vano selalu membonceng cewek cantik yg di ketahui namanya Nadin pacar dari Vano.


Nadin yg punya sifat berbanding terbalik dengan Vano membuat banyak teman temannya tak percaya kalo mereka sedang pacaran. Vindya sebagaai kakak Vano pun kadang masih tak percaya. Pasalnya Vano yg irit ngomong dengan orang lain itu bisa dapat cewek sebaik secantik semenarik Nadin. Tapi apalah daya karena memang kenyataan dengan sifat konyol Nadin yg mampu membuat seorang Vano bertekuk lutut di hadapannya.


"Nad kok lo bisa sih jadian sama gunung es itu?" Tanya Maria teman sebangku Nadin.


"Bisa lah.... siapa sih yg gak pengen jadian sama Vano cowok ganteng baik pinter perhatian? cewek bodoh yg gak pengen dapetin cowok kaya Vano Mar." tutur si Nadin.


"Ok ganteng pinter tapi dia itu gunung es, pasti bosenin dah gaya pacaran lo karena kecuekan dia tentunya." tambah Maria


"Lo gak tau aja Mar aslinya si gunung es itu. Cowok itu bener bener peratian sama gue dia selalu manjain gue, ngejaga gue. pokoknya gue banget dah si Vano itu." Nadin sambil senyum senyum sendiri.


"Gila lo." Maria melangkah pergi.


Tak lama maria pergi Vano menghampiri ceweknya yg tengah asik dengan buku bukunya. Tanpa banyak bicara Vano langsung duduk di bangku sebelah Nadin dengan meletakkan kepalanya di atas bangku meja dengan mata menatab Nadin.

__ADS_1


Nadin yg menyadari itu langsung meletakkan buku yg tengah ia baca. Perlahan Nadin membelai rambut Vano dengan manja.


"Kenapa pagi pagi pengen di manjain hem?" Tanya nadi dengan tangan masih membelai rambut Vano.


"Gue tadi liat Vindya tumben tumbenan dia masak bikin sarapan buat suaminya yg pagi ini jemput dia." Vano mulai bercerita dengan memainkan rambut panjang Nadin.


"Bagus dong sayang bererti kak Vindya emang sayang sama suaminya." Nadin memutar duduknya menghadap Vano.


"Iya sih mama sempet nangis juga tadi di buat Vindya." tangan Vano beralih merapikan rambut Nadin.


"Baperlah gara gara tu si Vindya anak manja jadi seorang istri yg sigap melayani suaminya. Nad bisa gak ya nanti gue kaya abang ipar gue yg membimbing bini gue kaya gitu?" tanya Vano sambil membalai rambuk Nadin.


"Pasti bisa. Tapi sayang....?" Nadin tiba tiba duduk dan menghentikan aktifitas Vano.


"Tapi kenapa?" Vano penasaran.

__ADS_1


"Nanti yg jadi binikmu.... gue bukan sih? Kalo bukan gue. gue sumpahin gak bisa berubah." Ucapan konyol Nadin membuat Vano tertawa lepas.


"Gitu banget lo hemm. Kalo gue nikahnya sama orang lain lo mau dateng kalo gue undang?" Tanya Vano menggoda.


"Dateng lah Van sambil bawa goloknya jaka sembung." Sungut Nadin dengan memajukan bibirnya.


"Sadis amat buk." Godanya lagi.


"Iya sebelum dia jadi binikmu udh gue cincang duluan kalo ngelirik lo." Nadin membuat bergidik seorang Vano.


"Baru tau gue kalo gue pacaran sama psycopat." Ucap Vano sambil mengacak rambut Nadin.


"Ya abisnya tu cewek main rebut cowok gue gitu aja.... gak bakalan gue biarin lah perjuangan gue 3 tahun di rebut gitu aja sama cewek lain. Dan lo lagi kalo ketauan selingkuhin gue, gue mutilasi tu burung jadi 4." Ucap Nadin sambil beranjak pergi dan Vano reflek pegangin burungnya.


"Segila itu ya cinta lo sama gue Nad" Ucap Vano pada dirinya dengan senyumannya. karena Nadin sudah tak terlihat lagi.

__ADS_1


__ADS_2