
Nadia dan Ahmad yg baru saja datang langsung di sambut pemilik rumah dengan hangat. Mama Agnes mengobati tangan Vindya di dalam kamar Vindya dan yg lain ngobrol santai di ruang tamu. Setelah makan siang mereka pamit pulang.
"Ya sudah Om Affandi pamit ya." Ucap Affandi.
"Iya hati hati. Oh iya Affandi salamin ke papa kamu. bilang kalo om menagih janji." Kata Papa Sofyan.
"Janji apa om...?" Tanya Affandi penasaran.
"Janji orang tua.... anak anak gak usah ikut campur. bilang om tunggu di cafe kamu nanti malam ya." Kata papa Sofyan lagi.
"Baik om" Affandi
Mereka bertiga berlalu dan papa Sofyan pun kembali ke dalam rumah. Papa Sofyan menghampiri Vindya yg lagi asik nonton tv di ruang tengah di temani mama Agnes
"Vindya anak papa sama mama. kamu sudah gede sekarang ya. Kamu sama Affandi pacaran?" Tanya papa Sofyan mengagetkan Vindya.
"Hah....???" Vindya kaget. "Mana ada pa... kalo beneran Vindya pacaran sama Kak Affandi gak mungkin Vindya diem saja di bully. Lagian Vindya pengennya tu pacaran dalam pernikahan." Lanjut Vindia sambil menerawang sembari senyum senyum kecil.
__ADS_1
Papa Sofyan bergidik melihat tingkah putrinya. Papa Sofyan melirik ke arah mama Agnes seperti memberi kode.
"Dasar anak SMA kebanyakan baca novel gak mendidik lo." Celetuk Vano sang adik yg tiba tiba muncul membuyarkan lamunan sang kakak.
"Biar aja sih dari pada buat dosa mending di halalin sekalian." Jawab Vindya di angguki oleh orang tuannya.
****
Malam ini sesuai janji papa Sofyan dan keluarga bertemu dengan keluarga bapak Biantara. Affandi selaku pemilik Cafe memang tidak pernah mengenakan baju resmi. Dia selalu memakai baju casual yg menurut dia nyaman. Tapi tidak untuk Vindya hari ini yg di paksa menemani orang tuannya bertemu dengan keluarga Biantara.
"Ini lo sob anak gue, udh gede sekarang. lo inget janji lo ka." Kata papa Sofyan santai.
"Anak siapa dulu dong.....?" sombong papa Sofyan yg langsung di samber papa Biantara.
"Bakal mantu gue..." srobot papa Biantara di barengin gelak tawa para orang tua.
Namun ucapan itu mampu membuat Vindya mematung seketika. Vindya berusaha memahami ucapan dari orang tua itu namun malah gagal focus ke arah Affandi yg datang membawa pesanan.
__ADS_1
"Nah ini anak gue.... ganteng kan." Ucap papa Biantara lagi sambil menepuk nepuk lengan Affandi.
"Iya udah tau gue... tadi dateng ke rumah nganterin Vindya." Jawab Papa Sofyan.
"Ya sudah kalo gitu minggu depan dah langsungin. gak perlu isi lamar lamaran kelamaan." ucap papa Biantara mengagetkan kedua remaja itu.
Tidak di pungkiri lagi kalo Affandi memang suka Vindya. Tapi Vindya yg selalu menghindari Affandi belakangan ini membuatnya takut akan penolakan dari Vindya.
"Gimana Vindya Affandi.... kalian setuju kan seminggu lagi untuk menikah?" Tanya papa Biantara yg seakan mengerti isi hati sang anak.
"Iya om Vindya setuju... tapi Vindya masih belum bisa apa apa dan masih sekolah. apa itu tidak jadi permasalahan nantinya?" Jawab Vindya membuat hati Affandi lega.
"Yg penting lo mau dulu... masalah yg lain bisa menyusul kok." Ucap Affandi yg balik mengagetkan para orang tua.
" Yg ini ni yg buat orang tua gemes.... kirain bakalan nolak eh malah kesenengan hahahaha." Kata mama Nisa yg merasa was was dari tadi seakan mendapat lotrean.
Pernikana anak SMA ini memang bersifat tertutup. Sehingga mereka harus melaksanakan ijab kabul di rumah nenek dari Affandi. Sehari setelah melangsungkan ijab kabul mereka kembali ke rutinitas. Karena seminggu lagi Affandi harus menyiapkan untuk pelepasan masa jabatan ketua Osis yg di sandangnya selama setahun ini.
__ADS_1
Vindya dan Affandi yg memilih tinggal berdua di banding ikut dengan salah satu orang tua mereka. Affandi di sibukkan dengan acara pelepasan masa jabatan dan kerjaan di cafe. Sedangkan Vindya menyibukkan diri dengan belajar menjadi istri yg baik setelah pulang sekolah. Vindya memang kurang begitu akrab dengan temen sekelas. Dia hanya memiliki Anya sebagai teman baiknya yg juga cuek namun terlalu perhatian pada Vindya.