
Kepulangan Vindya di sambut gembira oleh sanak keluarga yg berada di kota yg sama. Semua keluarga berkimpul selain Vano yg harus menunggui Nadin di rumah sakit.
Setelah seminggu akhirnya Nadin bisa mengunjungi kakak iparnya dan menggendong keponakan yg masih bayi itu. Bayi kecil yg hanya bisa mengeliat dan mengeleng gelengkan kepala di dalam bedongan itu membuat Nadin meneteskan air mata.
"Kenapa lo nangis Nad? Jangan sedih, nanti malem kita buat sendiri ya." Ucapan Vano mendapat lemparan bantal dari sang kakak.
"Bini lo baru keluar dari rumah sakit juga masih aja mau lo hajar?" Sewot Vindya.
"Tau nih vulgar banget lo jadi orang dek, gak tau situasi." Affandi cemberut.
"Lah ngapa lo jadi marah bang?" Tanya Vano
"Dia kan puasa Van." Jelas Vindya yg membuat Vani dan Nadin kompak tertawa dan membuat bayi kecil dalam pangkuan Nadin itu menangis.
__ADS_1
"Kan nangis jadinya, kalian sih brisik bangat. Siniin biar kakak tidurin dulu di kamar." Kata Vindya sambil mengambil putranya dari gendongan adik iparnya.
"Ngomong ngomong siapa namanya kak?" Tanya Nadin.
"Fajar alwa satya."
"Bagus banget bang, oh iya kemaren mama ke rumah sakit katanya ada kesalahan ya. Kesalahan apa itu bang?" Tanya Nadin.
"Kesalahan nama bayi, beda sehuruf aja sih. Oh iya kapan kalian nyusul? Kalian udah lulus sekolah lo." Pertanyaan yg membuat Nadin gelagapan.
"Siapin diri dulu Nad jangan pikirin mama. Lo juga Van, lo harus bisa lebih dewasa lagi. Jangan kaya lo pas SMA, Lo sekarang udah kuliah. Udah bisa di bilang masyarakat bukan siswa lagi. Kasian Nadin kalo lo masih suka maen perempuan." Ucap Vinyda yg berjalan dari kamar si kecil.
"Iya kak, Vano udah kapok gak akan lagi mengulangi. Cukup Nadin satu untuk Vano bukan yg lain. Vano akan lebih giat lagi bekerja agar Nadin gak kerja terus bisa jaga anak kami nantinya." Ucapan Vano membuat nadin terharu.
__ADS_1
"Van merinding gue dengernya. Kita pulang yuk bikin yg kaya gitu atu aja masak 2 tahun gak jadi jadi sih. Penasaran gue." Ucapan Nadin dapat getokan dari Affandi.
"Lo berdua itu sarap ato apa sih? Ni lagi baru keluar rumah sakit mau tancap gas aja. Inget depan ada pengkolan, nyebur selokan lo entar." Omelan Affandi aontak membuat Vindya tertawa.
"Biarin aja sih mereka tancep gas, selama masih boleh." Kata Vindya " Apa mau kakak telfonin mama sekarang Van biar di bawain ke apartemen lo?" Goda Vindya.
"Jangan kak, Nadin yg tersiksa." Ucapan Nadin membuat Vindya teringat akan ulah mamanya pada Vano waktu dulu.
Percakapan akrab mereka berempat tak seperti seorang kakak ipar dengan adik ipar tapi selayaknya seorang sahabat. Memang Vindya maupun Fandi tak memberi batasan terhadap adik adik mereka. Menikah di usia muda memang membutuhkan dukungan dari keluarga maupun lingkungan. Vindya selalu memposisikan diri sesuai dengan keadaan. Ketika menghadapi masalah Vindua berperan sebagai seorang kakak yg akan mencoba menengahi dan mencarikan solusi. ketika bahagia atau sedih, Vindya memposisikan diri sebagai sahabat untuk menampung curhatan. Dan saat lemah Vindya memposisikan diri sebagai seorang pendukung yg selali berada di belakang mereka berdua.
_____________TAMAT______________
Trimakasih ya buat para pembaca. komen maupun like kalian sangan sangat mendukung buat saya. Bisa bercanda meski tak kenal bisa menyegarkan kembali otak saya yg kadang buntu tak menemukan kang inspi. tapi percayalah kalian sangat sangat membantu saya untuk menyelesaikan novel saya.
__ADS_1
Novel ini menurut saya di akhir lebih menyoroti kehidupan Vano dan Nadin dari pada tokoh utamanya Affandi dan Vinya. Maka dari itu lebih baik Tamat dari pada menghilangkan tokoh utama.