
"Assalamualaikum ya Khumirrah"
"Waalaukumsalam ya Habib"
Vindya molai terbiasa dengan kalimat kalimat yg menurut x menggelitik. Namun menyejukkan jika di ingat kalimat itu yg sering di ucap Nabi Muhamad untuk istrinya.
"Kakak kenapa makin malam pulangnya?" Tanya Vindya sambil mencium tangan Affandi.
"Kangen ya? Di cafe molai rame sayang jadi ya mau gak mau harus lebih lama di sana. kasian mas Bima ngatur sendirian." Affandi menjelaskan.
"Iya gak pa pa cuma kakak harus jaga kesehatan juga. ya sudah ayo makan keburu dingin." Ajak Vindya yg sudah mulai belajar masak.
Malam harinya Vindya merasa sakit perut tiba tiba. Mereka memang memutuskan untuk tidur bareng karena mereka merasa gak munafik juga jadi muda mudi di mabuk asmarah maunya ingin selalu barengan. Vindya yg tak ingin membangunkan Affandi berusaha kekamar mandi sendiri. Tapi saat sudah di dalam kmar mandi Vindya malah tak kuat bangun.
Affandi yg terbangun karena tak merasa adanya keberadaan sang istri akhirnya kebingunan mencarinya. Affandi terus memanggil sang istri tapi tak mendapat jawaban karena Vindya memang sudah tidak tahan lagi akan sakitnya. Affandi terus mencari keluar kamar, ke dapur ke ruang tamu, ruang tv sampai keluar rumah.
Saat sudah di luar rumah Affandi tersadar bahwa dia belum mencari kekamar mandi. Affandi langsung menuju kamar mandi yg berada di kamar tidurnya. Terang saja dia mendapati Vindya yg terduduk lemas dengan wajah pucat pasih. Affandi langsung mengangkat Vindya dan menggendongnya kembali ke ranjang. dengan cepat Affandi menghubungi dokter pribadi keluarga mereka.
30 menit Affandi menunggu dengan cemas, Akhirnya dokter Doni datang juga. Dengan sigap dokter Doni langsung memeriksa kondisi Vindya. Vindya terbangun setelah merasakan dinginnya stetoskop saat dokter Doni memeriksanya.
"Apa memang seperti ini saat datang bulan...???" Tanya dokter doni.
"Biasanya hanya nyeri sebentar tapi kali ini bener bener sakit seperti bukan lagi datang bulan dok." Jelas Vindya dengan suara sedikit serak.
"Ya sudah minum air hangat banyak banyak dan ini saya kasih vitamin." lanjut dokter.
__ADS_1
Setelah memberi obat kepada Vindya, dokter Doni pamit pulang. kala itu memang masih tengah malam. Affandi tidur di samping istrinya dengan tangan mengelus ngelus perut Vindya yg katanya lebih baik saat di elus elus.
Paginya Affandi dan Vindya berangkat sekolah seperti biasa. Hanya saja yg biasanya Vindya mengendarai mobilnya sendiri tapi kali ini dia bareng bersama Affandi.
Di tengah perjalanan Vindya membeli sarapan untuk dirinya dan suaminya. sesampainnya di sekolah Affandi langsung bersiap untuk acara pelepasan masa jabatan yg di lakukan pagi ini juga.
Vindya masuk ke dalam kelas sesantai biasanya. Tapi tidak dengan tatapan teman teman di kelasnya. Vindya mengabaikannya meski sebenernya dia merasakan tatapan cewek cewek itu tertuju padanya sudah seperti pisau belati yg siap menghujam.
Sedangkan di depan pintu seorang cowok memanggil manggil Vindya. Setelah tau siapa yg memanggilnya, Vindya langsung menghampirinya karena.
"Kenapa kak?" Tanya Vindya.
"Ya Humairah bisa bantu suamimu ini bersiap?" Bisik Affandi.
Vindya pun mengikutinya dari belakang. Vindya tau kalo sekarang Affandi sedang mempersiapkan acara pelepasan. setelah sampai di ruang Osis semua mata tertuju pada tangan Vindya yg di gandeng sama si ketua Osisnya.
"Harus dong masak cuma di sepik doang sih." Sindir Affandi pada Ahmad yg tanpa teman temannya tau sudah bertunangan dengan Nadia.
"Biarin dan yg penting habis ini di halalin." celetuk Ahmad sambil melirik Nadia yg tersipu malu.
Setelah selesai bersiap seluruh anggota Osis baru maupun yg lama menuju lapangan untuk upacara pelepasan. Acara berjalan lancar tanpa hambatan sehingga upacara cepat selesain.
"Kak nanti kakak ke cafe?" Tanya Vindya saat jam istirahat makan siang.
"Iya Habibah, cafe rame.... kenapa? kamu mau ikut?" Terang Affandi dengan membelai lembut rambut Vindya.
__ADS_1
"Emang boleh kak?"
"Boleh dong. siapa yg berani melarang bu boss?" Affandi menggoda Vindya.
"Ya sudah nanti aku ikut. tapi kasi makan di sana ya." Jawab Vindya sambil merapikan rambut yg habis di acak acak Affandi.
"Woe... ini manusia makin hari makin mesrah aja.... gak liat banyak yg jomblo akut...???" Suara Ahmad memecah keramaian kantin.
"Sialan lo gue kira siapa. Wajar lah gue punya pacar. kalo jomblo emang mau mesrah mesrah sama siapaaa...?" Tabokan Affandi mendarat di lengan Ahmad.
"Udah sih kalian gak usah rame, lo lagi Fan. jangan pacaran aja inget minggu depan udh mulai try out lo." Jelas Nadia.
"Anjrit gue lupa, sibuk terus gue di cafe. malah sekarang malem malem pulangnya."
"Banyak alesan lu." Balas Ahmad menabok Affandi.
" Tu tanya Vindya kalo gak percaya."
"Dih kok Vindya....???? Emang lo tinggal bareng dengan Vindya...???"
"eng ng ng...."
"Tiap hari kan vc an sama kakak jadi tau lah." Jawab Vindya santai menetralkan Affandi mulai panik.
"Mau aja di boongin. lo gak tau sih kalo Affandi itu buaya buntung kadal burik." Kata nadia
__ADS_1
"Vindya percaya kak Affandi kok jadi kalo dia boong tinggal di sembelih aja pakek kurban... lumayan dapet pahala." Jawab Vindya yg dapet Jitakan dari Affandi.
"Dosa tau lo ngorbanin gue." Kata Affandi di sambut gelak tawa oleh Nadia dan Ahmad.