
Jam pulang sekolah telah berbunyi. Karena sekarang adalah mulai ujian kenaikan kelas. BIRMA maupun SATYA meliburkan Fariz dari kerjaannya.
Karena terbiasa untuk kerja, Fariz yang kini telah liburan panjang.di manfaatkan olehnya untuk bertanam tanaman di kebun belakang. Karena Fariz menyukai mawar, dirinya sudah mencari bibit mawar di pasar sepulang sekolah tadi.
Fariz tengah sibuk dengan tanamannya saat Wina datang dengan membawakan cemilan untuknya. Kedua pembantunya melihat majikan nya tegah rukun pun berasa bahagia. Tapi kadang terlihat menjengkelkan kalau lagi akur, suka ngasih tugas dadakan.
“Fariz, beneran kamu gak pernah ngapa ngapain sama kak Almas?” Kembali pertanyaan itu membuat Fariz seolah jengah.
“Terserah kamu lah,” Fariz yang merasa sedikit cuek meninggalkan istrinya sediri di taman belakang.
“Fariz, jawab dulu pertanyaanku,” kembali Wina meninggikan suaranya.
Fariz hanya melihatnya dengan sedikit jutek, di tambah lagi dengan tatapan yang semakin tajam. Wina pergi meninggalkan Fariz yang kini mematung di dekat pintu masuk. Degan hanya melewatinya begitu saja, Wina terlihat lebih marah padanya.
Wina pergi ke kamarnya dengan setengah berlari. Entah apa yang di fikirkan Wina saat ini, yang dia tau hanya dirinya harus segera menghubungi mamanya.
“Hallo ma, ini Wina.” kata Wina setalah sambungan telfonnya tersambung.
“Iya sayang ada apa?” Tanya Billa pada putri semata wayangnya.
“Ma, Fariz itu ngambek. Wina gak tau harus bagaimana,” adu Wina yang meminta solusi untuk suaminya.
“Waduh sayang, biasanya mama yang ngambek bukan papamu. Jadi mama gak tau bagaimana itu caranya buat ngibur orang ngambek,” jawab jujur Billa.
“Lah, terus ini Wina gimana ma?” Wina sudah seperti mau menangis kalau di lihat dari rengekannya.
“Cup cup cup sayang. Coba tanya Oma, kalo Oma itu ratunya gombal,” Saran mamanya langsung di patuhi oleh anak yang selama ini di besarkan dengan kemanjaannya.
Wina menghubungi nenek tersayangnya itu dengan harapan mendapat solusi dari neneknya.
“Hallo,” kata pertama yang terucap saat panggilan telfonnya tersambung.
“Assalamualaiku Wina, ini Maria. Nenek masih masak, ada yang mau di sampaikan?” Tanya gadis cantik seusianya yang di besarkan di lingkungan pesantren dengan kakek dari pihak mamanya.
“Oh Maria, aku sangat meridukanmu. Kapan kamu datang?” Tanya Wina bahagia saat mendengar teman kecilnya itu pulang ke rumahnya.
Seakan melupakan tujuan awalnya menelfon neneknya.Wina malah asih bertukar kabar dan tak lupa menceritakan kisah masing masing. Hingga akhirnya Fariz masuk ke dalam kamar dan melihat istrinya sedang tengkurap di atas tempat tidur. Asik mengobrol dengan gawainya sampai melupakannya.
Tak tahan di abaikan oleh istrinya, Fariz ikut berbaring di tempat tidur dengan berbantalan punggung WIna.
TUNGGU!
Bukankah dirinya yang ngambek? Terus kenapa dirinya yang tak tahan di cuekin? Apa ini sudah terbalik? Ah sudah lah, mereka ini yang rasakan bukan aku. Kalau aku ya masih aja diem sampek gak masak.
Sudah hampir setengah jam Fariz menunggu para wanita bercanda dan bergurau. Masih dengan posisi yang sama, Fariz mulai menggoda gadis di atasnya. Dengan mamainkan jarinya di pinggang sang istri, sampai akhirnya Wina tak tahan menahan geli karena jari itu terus naik turun.
Wina menyudahi obrolan dirinya dengan kembarannya yang berbeda ayah ibu maupun beda rahim. Ya… Wina, Maria, Arin dan Arvy lahir di hari yang sama dan juga tanggal yang sama. Entah apa yang membuat ketiga wanita itu bisa melahirkan di hari yang sama.
“Kamu tau namanya geli gak sih?” Tanya Wina yang merubah cara tidurnya menjadi miring dan membuat Fariz kepalanya terjatuh ke atas kasur.
“Masak geli?” goda Fariz lagi.
“Coba kamu yang di gituin sekarang,” kali ini gantian Wina yang membalas suaminya dengan menggelitiki suaminya.
“Iya ampun ampun ampuuuunnn,” Fariz memang gampang geli kalau ada yang memegang perutnya.
“Makanya jangan suka godain kalau gak mau di balas,” kini keduanya sudah duduk di atas tempat tidur.
__ADS_1
“emangnya kamu telfon dengan siapa? Seru sekali rasanya,”Tanya Fariz penasaran.
“Ke rumah Oma yuk, ada sodara yang baru pulang dari pesantren. Nanti aku kenalin deh,” Ajak Wina yang kini sudah menggeret geret suaminya.
“Aku mandi dulu ya, gak enak bau keringet ini,” ucap Fariz
Wina seperti gak iklas dengan Fariz meninggalkan dirinya mandi. Dia mandi hanya untuk mengulur waktu atau dia menolak halus? Wina hanya melihat ke arah suaminya.
“Hmmm gak percayaan amat sih, ayo sini barengin mandi.” Fariz menarik paksa istrinya untuk mengikutinya
Tak bisa menolak dan juga sudah terlanjur sebel juga sedikit gondok di dadanya. Wina mengikuti saja apa yang di mau suaminya.
Meski sering melihat suaminya telanjang dada, namun melihat seluruh tubuh suaminya bulat bulat? Baru kali ini. Malu berdebar debar dan entah apa lagi yang di rasa wanita itu melihat yang belum pernah di lihatnya.
Fariz mendekati istrinya yang tengah mematung di samping pintu. Lelaki itu membantu membuka baju sang istri hingga menuntunnya tepat di bawah guyuran air hangat. Masih dalam keadaan terpesona atau kaget bahkan shook. Wina masih saja diam, padahal Fariz sudah membersihkan dirinya dengan sabun.
Setelah selesai Fariz mengeringkan badan istrinya yang masih mematung dengan handuk. Memakaikan handuk kimono untuknya dan menggendongnya keluar kamar mandi.
“Wina sayang, mau di pakekin daleman yang mana?” Tanya Fariz yang sengaja di dekatkan pada telinga sang istri.
“Aaaaahhhh gak usah, aku bisa ganti baju sendiri,” ucap Wina dengan sedikit teriak dan ngos ngosan seperti habis lari seratus mater.
Fariz yang sudah berpakaian lengkap memilih menunggui istriya yang mengganti baju di tempat tidurnya. Masih dengan memperhatikan istrinya yang terlihat gugup, Fariz malah memaikan ponselnya. Sesekali terseyum melihat tingkah istrinya, ayolah kita sudah sah masa iya masih malu malu.
Setelah selesai bersiap, kedua orang itu berpamitan pada kedua pembantunya. Wina dan Fariz mengendarai mobil yang di belinya dari Satya dengan rasa bangga. Sesekali Wina melihat ke arah Fariz yang terus tersenyum, sedangkan dirinya masih merasa malu.
Sesampainya di rumah neneknya, Wina langsung di sambut oleh Cinta dan Rizal.
“Aduuuuhhhh cucu Oma, sini cium dulu,” Cinta memeluk dan mencium cucunya,
“CINTA LASHIFA” begitulah Opanya selalu mengingatkan Omanya.
Posesifnya sang opa tak pernah berubah dari dulu hingga sekarang. Bahkan manjanya orang tua itu mengalahkan Fariz, cucu menantunya.
“Ya ampun mas, ini tumben lo Cinta punya cucu menantu gak seperti kulkas berjalan,” protes Cinta.
Ya memang benar, jika menantu, cucu menantu bahkan anaknya juga kulkas bahkan freezer berjalan. Fariz adalah satu satunya anggota baru yang terkesan hangat dan juga bersahabat.
“Tapi sayang, kamu itu gak harus kok peluk peluk dia kayak gitu. Sini mas peluk kalau kamu pengen di peluk,” Rizal langsung memeluk istrinya yang semakin tua semakin ganjen.
Terutama ketika dirinya menyadari jika semua lelaki yang ada di keluarganya itu bibit unggul semua. Mau menantu atau cucu menantunya. Entah apa yang membuat para lelaki tampan itu berkumpul di rumahnya.
“Aduh mas, pelukanmu itu gak ada tandingannya. Biar yang lebih dari kamu itu banyak, tetap kau lah yang aku pilih,” benar ucapan mamanya, kalau neneknya itu ratunya gombal.
Tak salah memang kalau mama Billa merekomendasika Oma Cinta untuk berguru bucin.
“Karena hanya aku yang mampu menyentuh hatimu sayang. Jangan kau lupa jika hanya ada satu matahari meski bintang banyak bertaburan,” Giiiillllaaaaaa orang tua ini lancar banget untuk saling memuji satu sama lain.
Wina hanya terpaku dengan apa ayang di lakukan kedua orang tua itu. Bukan hal hal mesrah yang mengundang hasrat. Tapi kata kata cinta yang asling membanggakan diri maupun pasangan. Geli memang kalau baru mendengarkan nenek nenek sama kakek kakek saling bertukar rayuan. Tapi itu sangat menyejukkan, dan tak pernah terdengar adanya keributan.
Wina mempelajari kata demi kata yang terlontar oleh kedyua orang tua itu. Sifat kakek Rizal itu sama dengan Fariz, hangat. Mungkin saja cara itu bisa membuat mereka berdua tak memberi cela untuk sang pelakor masuk ke dalam kehidupan mereka berdua.
Setelah makan malam, Wina dan Fariz pamit untuk pulang ke rumahnya. Puas ngobrol dengan Maria yang rupanya takut bertemu dengan suami Wina. Maklum, Maria belum pernah berdekatan atau berbicara langsung dengan lelaki yang bukan keluarganya.
Gadis cantik berhijab dengan wajah bersih selayaknya barby. Tak ada yang bisa menolak pesona gadis pemilik senyum memikat itu. Tapi sayangnya dia itu buta tuli dan juga bisu.
Buta akan dunia luar karena waktunya dan hari harinya di habiskan di dalam pesantren. Bahkan sekolah pun dia di dalam pesantren. Dengan ajaran dan juga kurikulum yang standart sekolah aliah.
__ADS_1
Tuli akan semua kebisingan dunia yang terkadang menyesatkan. Kalau Almas itu hidup di tengah kebisingan dunia. Maka Maria hidup dalam ketenangan dunia.
Bisu akan ucapan ucapan kotor yang biasa di ucapkan oleh remaja remaja pada umumnya. Mengumpat atau bahkan misuh misuh oleh hal hal sepele. Maria hanya akan menggunakan suaranya untuk mengaji atau berkata yang baik dan lembut.
Wina masuk kedalam kamarnya dengan sedikit gontai. Dia merasa sedikit malu dengan kakek dan neneknya. Bukan karena hal negatif, tapi dalam hal keromantisan mereka. Dalam keadaan marah pun, kedua orang tua itu masih bisa melontarkan dengan kata kata yang sangat indah di dengar.
Bukan kata kasar atau tingginya suara mereka, tapi dengan rayuan. Memang sih, rayuan itu terkesan membanggakan diri. Tapi itu hanya untuk mengingatkan pasangan, hanya dirinyalah yang mencintainya paling tulus. Hanya cinta dariya lah yang mampu mengimbanginya.
Seperti sebuah cambukan yang di terima oleh Wina. Dirinya selalu meninggikan suaranya pada sang suami. Bahkan dirinya tak pernah memasak untuk sang suami, sedangkan neneknya….Menyambut sang kakek dengan berbagai macam makanan kesukaan di atas meja makan.
Malu sungguh malu Wina, jika di bandingkan dengan sang kakek dan nenek.
“Fariz, apa kamu mau meminta hak kamu sebagai seorang suami?” Tanya Wina yang mmbuat lelakinya tadinya tertidur kini malah membelalakkan matanya.
“Jangan membahas yang kamu sendiri juga belum siap,” Fariz membelai lembut pipi halus milik Wina.
“Apa kamu punya yang lain di luar sana?” Tanya Wina hati hati.
“Apa kamu takut kehilangan aku?” pertanyaan yang di balas dengan pertanyaan, jengkel tapi yaaaa memang itu lah perbincangan.
“Jelas aku takut kehilangan kamu Fariz, aku takut kamu tergoda oleh wanita lain,” jawab Wina jujur.
“Aku tak akan pernah tergoda wanita lain. Aku bukan type orang yang bisa mendua begitu saja. Aku akan mempertahankan apa yang sudah aku miliki, bukan mencari yang lain untuk mencari kesempurnaan. Aku sempurna bersamamu, belum tentu aku akan sempurna di mata orang yang lebih sempurna darimu. Aku tak akan mencari yang lain,cukup kamu satu bidadariku,” pelan namun berkesan.
Ucapan Fariz mampu mencuri hati Wina yang sudah tinggal setengah untuknya. Kini Fariz sudah mendapatkan seluruh hati wanita itu. Tapi wanita itu tak pernah sadar jika setelah kepergian madunya. Hanya dialah pemilik hati sang suami seutuhnya.
“Jangan pernah ada keraguan dalam hatimu untukku sayang,” kecupan di pipi dan juga dahi Wina menutup hari yang melelahkan ini.
“I LOVE YOU WINA ALIBABA SAHID” bisik Fariz membuat Wina semakin erat memeluknya.
“I LOVE YOU TOO ALFARIZI” ucap Wina dalam hati.
Malam ini berlalu dengan sedikit rasa yang membuat Wina terbang ke udara. Berharap tak akan pernah kembali dengan cara di hempaskan oleh saang lelaki. Wina hanya mampu berdoa dan mencoba untuk mengerti sang suami.
Pagi ini Wina rupanya masih di ajak terbang oleh sang suami. Bangun tidur yang masih dalam keadaan memeluknya erat.
Suami istri itu kadang lupa diri jika mereka masih kelas dua SMA. Tapi mau bagaimana lagi? Cinta dan kedewasaan tidak pernah melihat umur dan juga kelas.
Pekerjaan Fariz yang menuntutnya untuk terlihat lebih dewasa lagi dari pada umurnya. Sedang cinta yang hadir di antara dirinya dan juga sang istri harus di jaga untuk tetap mekar.
Pertengkaran dan pertikaian lebih sering terjadi dari pada kemesraan mereka berdua. Wanita, itulah masalah yang selalu hadir di pasangan muda mudi yang menikah muda. Godaan itu selalu hadir di antaranya, karena ekonomi sudah bukan kendala bagi keduannya.
Tak bisa di pungkiri memang, waktu juga kadang di eluhkan oleh keduannya. Kurangnya waktu berdua kadang membangkitkan pertengkaran di antara keduannya.
Fariz sering mengatakan jika Wina haruslah lebih percaya padanya dari pada selalu menuduhnya. Memiliki sekertaris yang catik dan juga kadang di pasangkan dengan teman yang cantik saat cerdas cermat. Itu mampu membangkitkan rasa cemburu pada diri Wina.
Anak kecil yang hanya mementingkan egonya saja. Meski Fariz sering mengalah, namun Wina masih saja sering menuduhnya. Besarnya cinta di antara merekalah yang mampu menyelamatkan pernikahan mereka berdua.
Rasa sayang yang Fariz miliki kadang di manfaatkan oleh Wina untuk membuatnya memilih. Memilih dirinya atau pekerjaannya. Sedangkan kerjaan dia terlalu banyak umtuk ukuran manusia sendiri.
“Sayang, nanti kalau kamu sudah selesai duluan. Tungguin aku ya, aku mau kita keluar kelas barengan,” pinta Wina dengan mata manjanya.
“Iya, kamu jangan suka cari gara gara sama kakak kelas ya,” kata Fariz memperingatkan sang istri.
“Aku gak suka kalau kakak kelas itu menyentuhmu. Pasti itu menyakitimu,” ucap Fariz lagi sambil membelai rambut sang istri manjanya.
“Iya sayang,”
__ADS_1