
Banyak kata yang terangkai
Banyak hati yang berusaha mengetuk
Hanya satu kata yang selalu ku tunggu
Berharap tak ‘kan melukai hati
Kata cinta yang terucap
Hanya berharap bahagia
Bukan untuk saling menyakiti
Atau memberi luka di hati
Jangan pernah meninggalkanku
Meski aku memiliki luka di hati
Karena bukan luka darimu
Yang membuatku trauma lalui hari.
Sepenggal puisi yang terletak di atas nakas di bawah ponsel Satya. Puisi tulisan tangan milik Bian untuk suami tercintanya. Merasa malu dan juga kecewa yang di rasa Bian mendorongnya untuk pergi meninggalkan kamar hotel yang di pesan oleh suaminya.
Emosi Bian rupanya kembali memuncak ketika melihat vidio yang ada di ponsel suaminya. Satya yang melihat kertas itu pun langsung membacanya. Setelah membaca Satya langsung bergegas pergi meninggalkan kamar hotel.
Satya menghabiskan waktu hampir tiga jam menyusuri jalanan mencari Bian, istrinya. Satya pulang dengan keadaan lemas dan mata yang membengkak akibat menangis. Lelaki yang kehilangan istrinya itu tak lupa menghubungi teman temannya untuk meminta bantuan.
Baru masuk ke dalam rumah, Satya sudah di sambut dengan aroma masakan yang sangat lezat. Satya masuk ke dalam rumah setengah berlari mencari sumber aroma lezat berasal.
Melihat wanita bar bar yang mengenakan baju oblong tanpa lengan ukuran big size di padu dengan hot pant berbahan denim tengah menyiapkan piring di meja makan. Satya langsung memeluknya.
“Kenapa lama sekali pulangnya?” Tanya Bian yang ternyata sudah dari tadi menunggu suaminya di rumah mereka.
“Kemana saja kamu, sayang?” Tanya Satya yang semakin mengeratkan pelukannya.
“Gak kemana mana, aku dari hotel tadi mampir supermarket terus belanja. Habis itu masak ini semua,” Jawab Bian santai yang sebenarnya menyembunyikan tangisannya.
“Abang takut kamu pergi lagi, cukup sekali saja abang melepas kepergian elu.” Satya tak tahan lagi menahan air matanya.
Bian melepas pelukan Satya dan mengajaknya duduk di meja makan. Bian melayani suaminya, dari mengambil nasi sampai lauk pauknya. Bian tak lupa mengambilkan iar putih ke daour yang jaraknya sedikit jauh dari meja makan.
Makan malam Bian dan Satya terkesan sedikit canggung namun semuanya baik baik saja. Bian merasa bersalah dan juga malu dengan apa yang sudah menimpa dirinya.
Sebelum pulang ke rumahnya tadi, Bian berfikir untuk meninggalkan Satya. Tapi dia juga berfikir lagi, kemana dia akan pergi. Pulang ke rumah orang tuannya? Terakhir dia pergi dari rumah itu kan sudah berjanji gak akan balik lagi. Dan dirinya juga menantang perang pada kakak kedua.
Bian memutuskan untuk kerumah mertua dan menceritakan semua pada Bunda mertuannya. Saat Bian baru sampai, bertepatan dengan datangnya sang Ayah mertua. Setelah menceritakan masalahnya, Vindya menyarankan untuk kembali ke rumah.
Mertuannya yakin, Satya tidak akan memikirkan hal itu. Dan Putrannya itu bukanlah orang yang menutup mata pada kesalahan orang. Terutama kesalahan yang bukan di lakukan atas unsur kesengajaan seperti kasusnya.
Apa yang di fikirkan mertuanya ternyata benar. Satya bahkan menangis saat tak mendapati dirinya ada di sampinya. Sungguh bodoh jika memiliki pemikiran untuk meninggalkan suaminya.
Suami yang seperti Satya itu susah untuk di dapat. Mungkin jika lelaki lain sudah tidak akan menerima istrinya kembali. Bian menyembunyikan berita besar dalam hidupnya.
Merasa tak ingin memberikan beban lagi pada suaminya. Bian tak mengatakan apa apa tenntang keputusan D.O yang di turunkan oleh pihak kampus padanya.
Bian menyadari jika kasusnya memang menjatuhkan nama baik unuversitas di mata masyarakat. Terutama yang sudah melihat video tentabf dirinya.
Malam telah berganti pagi. Dengan beralasan malu untuk pergi ke kampus, Bian meminta ijin untuk tetap di rumah. Satya bukan orang yang buta akan situasi, jadi dirinya mengijinkan istrinya untuk istirahat di rumah.
__ADS_1
Nurul datang dengan membawa bahan makanan ke rumah Satya. Setelah mendengar kabar jika Bian sudah ketemu pun membuat Nurul bahagia.
“Biiiii, ajarin gue masak dong. Kata Abang elu lagi gak ngampus, dan kebetulan gue juga gak ada kelas.” Jelas Nurul setelah kepergian Satya.
“Is anak bawang ini. Ya sudah ayok,” ucap Bia yang mengajak Nurul masuk ke dalam rumahnya.
Di dalam rumah Nurul hanya diam tak seperti biasanya. Bian menanyakan apa yang tengah mengganggu gadis manja yang tiba tiba menjadi gadis pendiam.
“Kenapa kamu? Tumben gak rusuh?” Tanya Bian yang melihat mimik wajah sahabat suaminya.
“Gue tau siapa yang menyebar vidio elu Bi, Gue salah gue minta maaf.” Nurul menangis karena merasa bersalah.
“Bukan elu yang salah, sudah lah. Rul, elu adek gue yang paling manja. Gue gak bakalan menyalahkan elu cuma karena masalah kecil ini, bahkan elu gak tau hal ini sebelumnya.” Bian menenangkan gadis yang seumuran dengannya, namun terlihat seperti anak kecil.
“Tapi elu masih mau temenan sama gue kan?” Tanya polos Nurul yang membuat Bian tambah gemas padanya.
“Apa sih yang di liat Arkan dari elu? Bisa bisanya gitu ngajak elu kawin lari,” ledek Bian
“Gak tau juga Bi, pas pulang itu dia bilangnya jalan jalan doang. Eh gak taunnya malah nyampek Semarang. Pagi pagi gue udah tidur di samping dia, uuuhhhh beneran waktu itu gue pengen teriak kasi tau dunia kalo gue itu lagi seneng. Tapi gue malu Bi, gue pikir kan di apartemen dia. Gak taunya di rumah neneknya.”
“Terus kan gue mandi, setelah mandi gue lagi tanya tu si Arkan. Mau apa ngajak gue ke rumah neneknya, eh dia malah balik nanya. Lu mau gak kalo besok pagi nikah sama gue…. ‘kaaaaann Biii gue demen, langsung aja gue jawab iya. Bodo amat gue di bilang murahan juga, secara siapa gitu yang nolak calon suami yang ganteng kaya dia. Uuuuhhhhh sumpah, setelah menikah dia itu perhatian banget. Beda sama yang biasanya Biii,” Cerita Nurul dengan semangat 45 tentang kenekatan suaminya.
“Terus malam pertama elu gimana?” Taya Bian penasaran.
“Rahasia dong hehehe,” ucap Nurul dengan mimik wajah yang sudah memerah.
“Dih gitu aja lu malu malu. Kita ini kan sama udah ada suami, jadi biasa aja cerita gituan,” Pancing Bian pada Nurul yang memang polosnya kebangetan.
“Ya katanya Arkan gak boleh bilang kalo masalah dia suka cium cium gue,” Jawab Nurul polos.
Bian yang menyiapkan bumbu bumbu pun hanya tertawa. Emang ya, polos sama bodoh itu bedanya tipis banget. Saking tipisnya sampek gak bisa bedain gue mana be*gok mana polos. Batin Bian sambil tertawa.
Acara masak masak pun selesai, Bian dan Nurul berniat untuk ke cafe Arkan untuk mengantar makan siang. Satya dan Arkan memang lebih banyak menghabiskan waktu di cafe milik pengantin baru itu.
Sedangkan Bian mengenakan celana jins sobek sobek dengan kaos warna merah kegedean. Di padu dengan sepatu vans warna merah senada dengan kaosnya.
Dengan mengendarai si Black, Bian bersama Nurul memecah jalanan ke cafe yang terletak tak jauh dari kampus mereka.
Sesampainya di cafe, Bian dan Nurul di sambut oleh teman temannya. Sasa yang ternyata juga tengah makan siang bersama Michael di cafe milik suami Nurul.
“Kalian, kok ke sini bawa rantangan sih?” Tanya Sasa yang mersa heran dengan apa yang di lakukan keduannya.
“Ini hasil masakan Nurul, dia pengen ngasi ke Arkan,” ucap Bian yang tak mengetahui jika Nurul menyembunyikan pernikahannya dari Michael dan Sasa.
“Arkan? Kalian ada hubungan?” Tanya Sasa terlihat kaget.
“Hehehe" Hanya senyuman yang di lontarkan oleh Nurul sebelum meninggalkan Bian bersama kedua sahabatnya.
Di dalam ruangan kerja Arkan sedang serius membahas tentang perombakan konsep cafe mereka berdua. Sebelum masuk kedalam ruangan, Nurul tak lupa untuk mengetuk pintu terlebih dulu.
Pintu terbuka dan menampakkan wajah serius dari lelakinya dan juga sahabat yang sudah di anggapnya sebagai Abangnya. Sekilas, senyuman Arkan mengembang yang melihat kedatangan istri manjanya.
Namun berbeda dengan Satya yang seakan mengerti situasi. Lelaki tinggi besar ini memilih untuk keluar ruangan setelah menanyakan keberadaan sang istri.
Satya menghampiri istrinya dan kedua sahabatnya yang tengah berbincang hangat. Tanpa sengaja Satya melihat sepasang suami istri yang terus memperhatikan istrinya.
Tak ada ragu lagi Satya langsung menghampiri kedua orang yang duduk di sudut ruangan. Bian melihat amarah di wajah siaminya pun langsung menghampirinya.
“Tolong jangan membuat masalah, cukup kamu percaya sama aku.”Bisik Bian yang menghentikan langkah Satya.
Emosi Satya tak begitu saja mereda, tapi Bian tau cara meredakan amarah suaminya.
__ADS_1
“Kita pulang,” Bian membelai lembut dada Satya untuk meredakan suaminya.
Tanpa banyak kata lagi Satya mengikuti kemauan istrinya. Menggunakan mobil sport hitam yang di kendarai oleh Bian, Satya pulang ke tumah yang hampir dua bulan di tempatinya.
Tanpa perlawanan gadis bar bar itu menggandeng suaminya masuk kedalam rumah. Di rumah besar yang hanya di huni oleh dua manusia ini pun. Membuat keduanya tak ragu untuk bermesraan di manapun, seperti saat ini.
Mereka berdua tengah meluapkan emosi dalam diri dengan caranya. Bian mendudukkan Satya di sofa depan tv, di ambilnya remot untuk menyalakan layar datar yang menempel di dinding rumahnya. Menekan tombol media lalu mencari film yang sudah di simpan olehnya.
Pertama muncul seekor kucing yang tengah menunggu keadaan rumah sepi dan berlari mendekati telefon rumah. Tapi kegiatannya terhenti ketika mendengar suara dari meja makan, di lihatnya seekor tikus berwarna coklat tengah menikmati keju yang tersedia di dalam mangkok. Melihat hal itu Kucing pun memukul kan sendok tepat di kepala tikus coklat, memastikan tikus itu pingsan sebelum kembali ke tujuan awal.
Yupz film Tom and Jerry mampu meredakan amarah yang tengah membakar hati Satya. Di temani dengan es syrup berisi potongan buah semangka buatan sang istri mampu mendinginkan kepalanya.
Tak ada yang lebih menyenangkan selain menikmati dinginnya syrup berwarna merah. Di temani film favorit dan pelukan istri tercinta. Seandainya bisa untuk seperti ini sepanjang waktu, pastinya Satya tidak akan keberatan.
Namun kenyataannya berkata lain. Banyak tugas dan juga kerjaan yang harus di selesaikan oleh lelaki pemilik rambut lurus sedikit panjang berwarna hitam pekat.
“Dari mana dapat celana sobek sobek ini?” Tanya Satya yang memegangi setiap sobekan celana Bian yang memang terlalu lebar sobeknya, hingga bagian paha.
“Ya beli lah, masak iya Nyonya Satya mencuri. Gak banget,” Gerutu Bian sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
“Gak nyadar juga kalo dirinya pencuri,” cibir Satya pada istrinya yang terlihat tengah memanyunkan bibirnya.
“Ya enggak lah, kan emang aku gak pernah mencuri,” Jawab Bian yang sedikit jengkel.
“Yakin?” kembali Satya menanyakan keyakinan Biayang tak penah mencuri.
“Yakin,” jawab Bian jutek.
“Terus siapa yang udah nyuri hati Abang, dek?” Bisik Satya dengan mencolek dagu Bian yang sudah tertunduk malu.
“Jerry mungkin,” Gelak tawa dari lelaki yang lupa akan amarahnya pun memenuhi seluruh ruangan.
“Abang, mandi dulu sana gi,” Bian menyuruh suaminya untuk mandi sebelum salah Asyar.
“Bareng aja kenapa? Sunah tau sayang.” Bisik Satya menggoda bian yang tersenyum malu.
“Ibadahnya nanti saja dulu Bang, Adek mau nyiapin makan buat Abang. Tadi kan belum makan,” ucap Bian yang di angguki oleh Satya.
Satya akhirnya bekerja dari rumah. Satya meminta Arkan mengirim berkas berkas miliknya yang tadi di bawa ke cafenya.
Satya menikmati makan siangnya di jam setengah empat sore. Setelah meredakan gejolak jiwa yang membakar hatinya.
Suami mana yang tak tersulut emosi ketika melihat seorang lelaki yang sudah menggagahi istrinya? Mengambil paksa keprawanan yang seharusnya menjadi miliknya. Satya tak menyalahkan istrinya sepenuhnya, hanya dirinya ingin memberikan keadilan padanya.
Satya ingin seluruh dunia tau, jika tak mudah untuk merendahkan seorang Zahra Fabian Nyonya Fajar Alwa Satya. Memang tak mampu mengembalikan keprawanan istrinya, tapi seenggaknya mampu mengembalikan harga diri yang sudah di injak injak oleh orang karena lelaki biadap itu.
Tak bisa mengembalikan hal yang sudah hilang, tapi bisa membenahi apa yang salah. Dendam perlahan sudah tumbuh dalam diri Satya. Dendam yang tak tau kapan akan di balaskan.
Kepala Satya pusing jika harus memikirkan hal itu. Bian yang tidur di sampingnya pun terbangun karena Satya yang terus bergerak ke kiri dan ke kanan.
Sakit kepala Satya sunguh sangat menyiksannya. Sakit yang di timbulkan oleh rasa kecewa dan juga rasa sakit hati membuat Satya sangat tersiksa. Mau di balas itu kakak iparnya, gak di balas itu sudah melukai hati istri tercintanya.
“Bian, bisa peluk aku?” Tanya Satya mengibah.
“Tentu saja, kenapa dengan kamu?” Tanya Bian yang merasa suaminya sedang tidak dalam keasaan baik baik saja.
“Bian, aku sakit hati. Aku gak trima biadab itu kamu bebasin begitu saja,” Mendengar ucapan Satya, Bian merasa ada sedikit rasa nyeri di dalam dadany.
“Apa kamu kecewa karena menikahi perempuan yang sudah tak prawan?” Tanya Bian yang merasa terluka.
“Bukan itu maksud gua, lu gak tau sih Bi apa yang gua rasain sekarang.” Bentak Satya yang ternyata masih terselimuti oleh amarah dalam dirinya.
__ADS_1
“Cukup tau saja,” Bian kembali ke posisi semula.
Merasa salah bicara, Satya buru buru minta maaf. Tapi hati Bian sudah terluka terlalu dalam. Ucapan adalah pedang paling tajam yang dapat menggores hati tanpa melukai badan kasar pemilik jiwa yang terluka.