Kesetiaanmu

Kesetiaanmu
Rebutan mantu, tapi Farisnya?


__ADS_3

Faris sangat terkejut mendengar pengakuan seorang Levin Baganta. Dirinya tak menyangka kalau orang yang pernah menemaninya tidur ini adalah putri singa. Keterkejutan Fariz terlihat jelas di mata Satya dan juga Affandi selaku bossnya.


“Apa kau mengenalnya Fariz?” Tanya Affandi yang merasa terkejut.


“Maaf, kami hanya sekali ketemu pas…” ucap Fariz menggantung.


“Ya aku tahu, jangan di lanjutkan, bagaimana untuk cafe yang di mall A pak Levin?” Tanya Satya yang mencoba mencairkan suasana yang sedikit canggung akibat ulah Fariz.


“Oh iya karena Fariz sudah mengenal putri saya. Mungkin dia nanti yang akan menjadi pelaksananya, dan ini untuk proposal pembukaan cafe bersama di daerah kampus XY,” Levin menyerahkan kertas berisikan sebuah deretan angka dan huruf yang sangat membingungkan.


Fariz langsung mengambil dan membacanya secarateliti. Sebelum akhirya mereka di kagetkan dengan kedatangan seorang wanita yang sangat cantik. Ya…. Billa datang dan bergabung dengan meeting mereka.


“Hai Fariz,” tanpa sungkan lagi Fariz langsung mencium tangan calon mertuanya.


“Oh, rupanya kalian sudah saling mengenal,” Rizal berpendapat di sela kebingungannya.


“Sama calon menantu ya harus saling mengenal dong Pa.” pungkas Billa sebelum membahas keuntungan dan kerrugian yang akan di dapat oleh kedua belah pihak.


Sekitar dua jam mereka membahas tentang proyek, rupanya Fariz menemukan beberapa kejanggalan.


“Maaf yang ini akan merugikan kedua belah pihak kalau tetap di lakukan dengan anggka yang terlalu besar. Setau saya ini bisa di perkecil hingga setenghanya,” Fariz menunjukkan kejanggalan itu pada Billa.


“Oh iya, memang teliti kamu. Revan sengaja mengubah ini dan benar kamu bisa menemukan kejanggalan ini. Katakan apa lagi yang kamu temukan?” Tanya Billa.


“Apa kalian sengaja mencobaku? Kalau saya tunjukkan semua, apa gak malu dari pihak ibu?” Tanya Fariz yang menghormati Billa sebagai lawan bisnisnya.


“Katakan saja. Calon cucu menantuku harus berani mengungkapkan apa yang seharusnya, bukan menyembunyikan karena takut pihak lawan malu.” pungkas Rizal menantang Fariz.


“Bagaimana pak?” Tanya Fariz pada Satya.


“Lakukan,” dengan senyum bangga Satya mengijinkan Fariz mengekspose kesalahan kesalahan yang memang di sengaja oleh Revan selaku pembuat proposal.


Setelah menunjukkan semuanya dan mendapatkan solusinya juga. Fariz mengakhiri presentasinya, presentasi dadakan lebih tepatnya.


“Memang gak salah Revan melihat kamu,” Billa kembali terpesona dengan otak yang di sembunyikan oleh Satya dan juga Affandi.


“Aku bisa pastikan kau akan bergabung dengan BIRMA nantinya untuk menggantikan Revan,” pungkas Billa sebelum mengakhiri meeting yang di lakukan kurang dari empat jam.


“Maaf, saya masih ingin mengabdi pada majikan saya Bu,” tegas Fariz.


“Hahaha, baru kali ini lu dapat penolakan Bill. Abang jadi tertarik, apalagi dia kenal dengan anak nakal itu.” Levin menujuk putrinya dengan dagunya.


“Benarkah?” Tanya Billa dalam obrolan santai setelah meeting.


“Wina yang mengenalkanku bu,” jawab bohong Fariz yang tak mampu di terima Billa.


“Aku tak percaya, tapi itu urusan kalian.” pungkas Blla.


“Bisakah kita bersaing dengan sehat mendapatkan mutiara hitam ini?” tantang Levin pada adiknya.


“Kau tak bisa melakukan itu bang, Wina sudah gila karena dia, apa kau tega menghancurkan keponakanmu sendiri?” geram Billa mendapat tandtangan sang abang.


“Mohon tidak bertengkar karena Fariz, kerena saat ini dia masih milik kami.” Affandi ikut berargumen.


“Maaf. Untuk masalah pribadi tolong jangan di campur adukkan dengan masalah pekerjaan, itu akan mengganggu dan seperti tak profesional dalam bekerja,” ucapan Fariz yang membungkam kedua kakak beradik itu.


Keadaan hening sejenak menetralkan suasana yang sedikit keruh. Ucapan Fariz merupakan tamparan yang sangat keras bagi kedua kakak beradik ini. Karena memang mereka berdua melupakan yang namanya keprofesionalan dalam bekerja.


Sumpah dia adalah intan yang belum ter-asah. Tapi hatinya masih ragu sejauh aku melihat. Apa yang sebenarnya menjadi keraguan dirinya? Itu lah batin Levin yang melihat setiap kali menyinggung tentang pilihan hatinya.


“Permisi, boleh bergabung?” Tanya gadis yang sedari tadi menghibur para tamu dengan suara merdunya.


“Silahkan,” Fariz yang berada di samping kursi kosong pun mempersilahkan Almas untuk duduk.

__ADS_1


“Hei apa kabar? Lama tak bertemu, apa kau sudah memilih di antara keduannya?” Tanya Almas mengagetkan semua yang ada di meja itu, termasuk Fariz.


“Sudah,” jawab singkat yang menunjukkan ketidak sukaannya.


“Baiklah, kakek bolehkah aku melihat proyek yang akan aku tangani?” Tanya Almas yang membuat Fariz sedikit tersentak.


Dari mana Al tau kalau projeck ini akan dia tangani? Itulah pertanyaan yang kini tengah memenuhi kepalanya.


“Maaf, ini sudah jam pulang kerja. Bolehkah saya untuk permisi terlebih dulu?” ucapan Satya seakan menjadi dewa penolong bagi Fariz.


“Oh iya silahkan,” jawab Rizal mengijinkan relasi kerjanya undur diri.


Di tengah perjalanan, ponsel Fariz terus berbunyi dan menunjukkan satu nama. Mentari. Ya… nama itu sudah di buka blokirannya karena merasa sangat kasihan.


“Angkat saja telfonnya. Siapa tau itu sangat penting.” itulah kata Satya yang membuat Faris seperti ada aliran listrik menyengat di dalam hatinya.


“Hallo,”


“Akhirnya kau mengangkatnya, bisakah kau ke rumah sakit sekarang juga?” ini bukan Mentari yang berbicara.


“Baiklah,” Fariz menutup panggilan telfonnya dan kembali memasukkan ke dalam kantong jasnya.


“Siapa?” Tanya Satya penasaran.


“Gak penting.” begitulah jawaban Fariz sebelum keheningan kembali menyusup di antara mereka.


Kediaman di antara mereka berlangsung hingga memasuki ke dalam rumah. Fariz melihat bayi yang di gendong ibunya pun membuatnya gemas untuk mencubit pipinya.


(Bian melahirkan di usia kandungan memasuki bulan ke tujuh dan di percepat ceritanya)


“Jangan kau lukai anakku, susah bikinnya itu.” Satya memukul tangan Fariz yang masih mencubit pipi gembul bayi laki laki berumur satu minggu itu.


“Ck, baru bayinya yang di cemol udah kebakaran jenggot bagaimana kalao aku cemol mamanya,” goda Fariz pada Satya yang langsung membulatkan matanya.


“Dasar posesif, tidakkah bapak menyadari sedari tadi mereka memperebutkan aku? Aku adalah ancaman bagi bapak, tahu tidak?” ucapan PD dari seorang Fariz membuat Satya tersenyum lebar mengingat pertengkaran kakak beradik tadi.


“Sial kau, bahkan aku pun tak ada yang memperebutkan selain gadis gadis alay di jaman ku. Bahkan masih harus bersaing dengan artis,” Satya merangkul Fariz untuk masuk ke dalam rumahnya.


“Hahaha maka dari itu bapak harus mengakui kalau aku lebih dari bapak. Bahkan aku tak menginginkan mereka,” PD nya Fariz.


“Tapi aku selangkah lebih gentle dari pada kamu. Setidaknya aku masih berani mengungkapkan perasaanku pada Mbak mu itu,” Bangga Satya.


“Iya aku akui itu, tapi bapak lakukan itu karena takut keduluan yang lain kan?” Fariz mengembalikan cemesan kata kata dari Satya.


“Sial kau Fariiiiizzzzz.”


Beginilah jika mereka tengah berada di rumah untuk menghibur diri. Tak jarang umpatan dan juga kata tak pantas terucap dari bibir mereka berdua.


Mereka benar benar seperti adik kakak kandung. Namun kenyataannya mereka tak memiliki ikatan darah. Selalu rebutan makanan selalu di lakukan oleh mereka berdua, bahkan mereka tak jarang rebutan tidur di pangkuan ibu rumah ini. Yaitu Bian.


“Pak, Fariz ngantuk mau tudur cepat malam ini.” ariz bukan capek dengan pekerjaan, tapi dia lebih capek menghadapi kehidupannya.


“Kamu sakit?” Tanya Satya yang kini berada di meja makan bareng dengan yang lainnya menikmati makan malamnya.


“Tidak, besok mulai masuk sekolah di kelas sebelas pak,” Jawan Fariz asal.


“Baiklah, setelah sebulan kau mengenakan kemeja dan jas, kini kau kembali ke kehidupan normalmu. Memakai baju putih abu abu dengan setumpuk buku tugasmu.” jawab Satya.


“Ck, gak usah mendramatisir semuanya. Aku geli mendengarnya pak,” ucap Fariz


Fariz kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Namun gagal karena ponselnya kembali berbunyi dan masih menunjukkan nama Mentari. Senyum manis yang di miliki mentari dengan bibir pucat yang menjadi avatar whatsapp nomer wanita itu.


Tiga kali sudah panggilan dari nomer yang sama. Membuat Fariz sedikit terganggu.

__ADS_1


“Ya,” tanpa banyak basa basi Fariz langsung menanyakan tujuannya menghubungi.


“Aku mohon padamu Fariz, tolong datanglah sekarang juga ke rumah sakit. Aku memohon untuk dia, datanglah saat ini juga.” itulah permohonan seorang Mustafa yang tak sanggup melihat wanitanya terbaring tak berdaya di ruangan dengan alat alat yang menempel pada badannya.


“Apa bapak tidak sadar jika saya ke sana juga gak ada gunanya? Saya bukan Tuhan yang bisa menyembuhkan istri bapak. Bapak ini salah, jangan di teruskan,” ucap Fariz tegas yang membuat Mustafa putus asa.


Tak kehabisan akal, Mustafa memberi gambaran Mentari saat ini pada Fariz. Fariz sangat terkejut melihat gadis itu di tempeli beberapa kabel di tubuhnya. Bahkan ada selang yang di masukkan ke dalam mulutnya dengan mata yang tertutup.


Tak mampu berfikir lagi, fariz langsung menyambart jaket yang ada di gantungan. Memakainya dengan berjalan cepat keluar kamarnya.


“Mau kemana kau terburu buru begitu Fariz?” tanya Satya yang berpapasan di ruang tengah.


“Mentari di rumah sakit,” jawab Fariz khawatir.


“Aku akan mengantarkanmu, tunggu sebentar.”


“Aku tak sanggup lagi untuk menunggumu pak,” Fariz tak mau menunggunya.


Satya mengikuti Faris dari belakang dan langsung menyambar kunci mobilnya. Dengan mengenakan baju rumahan Satya mengantar Fariz ke rumah sakit.


Fariz tak mengatakan apa apa ketika kemudi di kuasai oleh raja jalanan yang tak pernah di yakini. Ya harusnya Fariz yakin karena Satya mantan pembalap liar.


 Hanya memerlukan waktu setengah jam, Satya dan Faris sudah berada di parkiran rumah sakit. Dengan masih mengenakan baju tidurnya, Fariz berjalan cepat menuju ruangan ICU di mana Mentari terbaring.


Mustafa yang menungguinya selama dua puluh empat jam, menyambut kedatangan Fariz. Dengan harapan yang baru, Mustafa tersenyum dan menyuruh Fariz untuk masuk menemui Mentari.


“Temui dia, suruh dia bangun. Aku tak sanggup melihatnya terus tertidur seperti ini,” ucap Mustafa pasrah.


Fariz langsung masuk dan mengenakan baju khusus untuk menemui pasien.


“Tidakkah kau mau melepaskan aku mencari kebahagiaanku sendiri?” tanya Fariz dengan air mata yang tak mampu di bendung lagi.


“Kau sangat egois Mentari, aku gak akan pernah melupakan keegoisanmu ini. Selama ini kau hanya menyakiti hatiku, tahu tidak kamu?” ucapan penuh amarah untuk dirinya sendiri ia luapkan untuk gadis yang kini terbaring tak berdaya.


“Aku sakit Mentari melihat mu di cium lelaki lain. Aku sakit melihatmu menjadi milik orang lain!! aku menyukaimu aku mencintaimu! Tapi saat ini, maaf hatiku sudah terkinci untukmu. Aku harus mengabaikanmu, tolong jangan mencariku lagi!” ucap Fariz dengan terus menunjuk dirinya yang sakit.


Tanpa di sadari Fariz tangan Mentari bergerak pelan. Fariz segera meninggalkan ruangan yang penuh dengan peralatan canggih rumah sakit. Fariz menghapus kasar air mata sebelum keluar dari ruangan itu.


Memang tidak menujukkan air mata yang keluar, namun hidung dan mata yang memerah cukup menunjukkan betapa derasnya air yang keluar dari matanya.


“Aku sudah menceraikan Mentari sehari setelah pernikahan. Kau bebas menunggui Mentari.” Ujar Mustafa katika melihat Fariz handak pergi meninggalkan dirinya.


“Apa kau memberikanku bekasmu pak? Maaf aku tak menerima sedekah dalam bentuk apapun.” tegas Fariz yang kini sudah menghadap pada guru BK nya.


“Aku tak mengatakan jika Mentari adalah sedekah, tapi aku mau mengatakan kepada ketua kedisiplinan yang aku bimbing langsung. Jika aku tak mau meminta hati yang bukan untukku, dan selama menikah aku tak pernah menyentuk gadis itu.” jelas Mustafa lagi.


“Aku serahkan Mentari kepadamu, aku sudah capek untuk memperjuangkan yang memang bukan milikku,” ujarnya lagi.


Fariz dan Satya menatap punggung bidang milik Mustafa semakin menjauh dari mereka berdiri. Mustafa benar benar meninggalkan Mentari pada Fariz yang kini dalam kegalauan hati.


“Bagaimana aku harus mengatakan pada Wina? Aku tak sanggup untuk melukai gadis baik sepertinya. Bolehkah aku saja yang berada di posisi Mentari? Aku tak tega jika harus memilih salah satu,” air mata yang sempat di hapus secara kasar, kini kembali turun dengan derasnya.


Satya tahu jika hal ini sangat sulit baginya, karena dirinya pernah berada di pilihan yang sama. Melepas atau mempertahankan, melepas orang dia cintai saat itu. Atau mempertahankan wanita yang sudah di nikahinya selama satu tahun.


Nafas berat keluar dari hidung mancung namun mungil milik Fariz. Dirinya tak sanggup untuk memilih biar bagaimana pun keadaannya. Fariz selalu membayangkan Wina terluka karena dirinya, karena dia lah yang selama ini ada mendampinginya.


Fariz terus memikirkan hal ini sendiri, karena memang dirinya sendirilah yang memulai semuannya. Fariz kembali masuk ke dalam ruangan setelah Satya pamit pulang padanya.


Fariz menatap wajah Mentari yang di sisipi selang di mulutnya. Memegang tangan pucat dan lemas milik gadisnya. Fariz mencium mesrah tangan yang ada di genggamannya saat ini dan membayangkan masa masa yang telah di lalui mereka berdua.


Tak tahan dengan gejolak hati yang di miliki, Fariz memilih untuk tidur di samping Mentari sengan menggenggam tangan gadis itu. Mata yang terasa semakin berat dan memanas akibat air mata yang hampir tak pernah keluar selain saat itu.


Di tengah tidurnya, Fariz merasakan tangan memebelai rambunya pelan. Semakin menikmati sentuhan itu, Fariz semakin terlelap dalam tidurnya. Mengistirahatkan badan kasarnya yang merasa lelah, dan juga melupakan sejenak kekacauan hatinya.

__ADS_1


__ADS_2