
Perusahaan selama beberapa ini di pegang langsung oleh pewaris bersama dengan sang menantu. Tapi saat menghadapi ujian akhir sekolah, Wina dengan tegas meminta kepada sang papa dan mama untuk mengambil alah. WIna mau selama dua bulan kedepan dirinya dan sang suami lebih fokus pada ujian akhir.
Fariz mengejar beasiswa dari Satya, sedang Wina mengejar impiannya untuk membuka butik yang tak pernah di impikan oleh keluarga Rizal atau Alibaba yang lainnya.
Wina ingin menjadi disainer terkenal, dia tidak tertarik dengan ekpor impor. Baginya itu sangat membingungkan. Bermain dengan angka dan juga janji yang belum pasti.
Dirinya hanya tertarik dengan seni yang mengekspose keindahan dalam diri. Melalui baju rancangannya, Wina ingin berhasil membuat pemilik dari baju yang ia rancang merasa cantik.
Mimpi Wina tak menjadi desainer yang terkenal, tapi cukup bajunya di pakai oleh semua kalangan. Itulah mimpi dan cita cita Wina yang ingin ia raih saat ini.
“Sayang, kalau aku kuliah di Paris gimana?” Tanya Wina mendekati sang suami.
“Ya gak apa apa, emangnya kenapa?” Fariz balik bertanya.
“Kamu ngelepasin aku gitu saja?” Kembali Wina bertanya.
“Kejar cita citamu, aku gak akan melarangmu. Aku yang akan membiayaimu dengan keringatku sendiri,” Fariz tersenyum dengan kejujuran sang istri yang ingin mengejar impiannya.
“Kamu di sini sama siapa?” Tanya Wina manja yang kini sudah duduk di pangkuan sang suami.
“Ya paling aku milih tinggal di apartemen kalau kamu gak ada,” jawab Fariz
“Kenapa di apartemen? Memangnya di sini kenapa?” Wina di buat bingung oleh sang suami.
“DI sini terlalu besar sayang. Aku bukan orang yang suka dengan keberadaan orang lain selain orang yang aku inginkan,” Jawab Fariz.
“Pasti kamu mau lebih bebas ya gak ada yang ngawasin kamu?” Tuduh Wina lagi.
“Terus mau kamu akuharus bagaimana sayang? Aku mengurusi rumah ini sendirian juga gak bakalan sanggup,” jelas Fariz dengan mencium pundak Wina yang terekpose di depannya.
“Ikut saja yuk,” cicit Wina.
“Kalau aku ikut, siapa yang kerja? Lagian aku juga kuliah sayang, aku pingin kita itu berusaha sekarang jadi nanti kalau sudah waktunya kita punya anak, kita bisa meluangkan waktu untuk anak anak kita,”
Bush
Ucapan Fariz mengandung api yang membuat Wina kepanasan juga perutnya serasa di penuhi bui. Wina masih belum bisa mendengarkan ucapan ucapan masa depan jangka panjang berdua. Karena selama ini mereka hanya membahas tentang kita berdua untuk saat ini saja.
Sedangkan pembahasan anak tak pernah di fikirkan oleh gadis yang menikah di usia tujuh belas tahun ini. Fariz melihat tingkah istrinya itu hanya merasa gemas dan ingin sekali menggoda wanitanya itu.
“Ayolah Wina, memangnya kau tak ingin memiliki anak dulu?” Tanya Fariz yang semakin menggoda sang istri.
“Aku malu Fariz, aku masih belum memikir ke sana,”
“Kenapa?” Bisik Fariz membuat wajah Wina semakin memerah.
“Tak tau,” WIna menundukkan kepala.
“Hei, apa yang kau sembunyikan dariku?” Tanya Fariz yang mengangkat waja merah istrinya.
“Apa sih Fariz, aku mau belajar lagi,” Wina berusaha melepasan diri dari dekapan sang suami.
“Yang nyuruh duduk di sini siapa? Cuma mau menggoda saja?” masih dengan bisikan yang membuat bulu bulu halus Wina berdiri.
“Jangan gitu Fariz,” Wina masih berusaha untuk keluar dari pelukan suaminya yang semakin kencang.
__ADS_1
“Kamu itu maunya apa hem? Ini sudah terkunci, bagaimana mau keluar? Sudah gak bisa lagi sayang,” goda Fariz yang malah asih memainkan wajah merah sang istri.
Wina mengalah dan manut apa yang di inginkan oleh sang suami. Pergulatan di tengah persiapan ujian akhir sekolah mereka lalukan sebagai penyemangat. Wina kadang tak tau kenaa suaminya belakangan ini suka sekali membuatnya tak berdaya.
Selain tingkahnya yang terkesa lebih manja, Fariz juga tak jarang mengeluarkan jurus gombalnya. Awalnya Wina asik asik aja, tapi lama lama baper juga, ah suamu ku…”
“Bagu sayang, ini sudah pagi. Mau di bikinin sarapan apa kamu yang aku jadiin sarapan?” bisik Fariz yang seakan tak memberi Wina waktu istirahat.
“Bikinin sarapan saja sayang,” Wina buru buru bangun agar tak di lahap kembali oleh sang suami.
Senyum Fariz mengembang dengan ketakutan sang istri yang langsung berlari ke kamar mandi. Rasa sayang yang selalu Fariz curahkan untuk membuat Wina melupakan akan orang tuanya. Melupakan orang tuanya yang menggilai keja, bukan melupakan untu meninggalkan orang tuannya.
Fariz menyiapkan sarapan selama Wina bersiap untuk ke sekolah. Sedangkan Fariz sudah memakai seragam sekolah sedari tadi sebelum menyiapkan sarapan simple mereka.
Roti bakar dengan telur mata sapi kesukaan Wina sudah siap di meja makan. Fariz tak pernah mengeluh karena istrinya tak bisa melayaninya di dapur, karena dirinya mencari istri untuk di manjakan. Bukan mencari istri untuk di jadikan pembantunya, harus bisa masak, nyuci dan membersihkan rumah.
Jangankan membersihkan rumah yang gede banget begitu, nyapu kelas aja gak besih. Kata orang kalau nyapunya gak bersih maka dapet suami yang brewokan. Tapi Wina malah dapet suami yang mulus banget wajahnya.
Setelah memakai seragam dan menyipakan buku miliknya dan juga milik suaminya, WIna turun dengan membawa tiga tas dan tak lupa dengan papper bag berisikan baju ganti miliknya dan juga Fariz.
Semenjak ikut bekerja, Wina selalu membawa baju ganti untuknya dan juga milik suaminya. Wina tak lupa juga menyiapkan peralatan mandi di dalam mobil. Wina tak bisa melayani Fariz di urusan tertentu, tapi dirinya mampu melakukan hal hal yang kecil.
Menyiapkan tas kerja juga tas sekolahnya, atau bahkan mengambilkan sepatu untuk sang suami. Wina sangat beruntuk saat bertemu dengan Fariz yang sudah mengetahui jika dirinya tak bisa melakukan apa apa. Terutama pekerjaan yang menyangkut rumah tangga.g ybh yh
“Sayang, sarapan dulu. Untuk bahagia seharian kita butuh sarapan yang bergizi,” pagi pagi sudah sarapan gombalan Fariz yag receh.
“Bisa gak sih biasa aja? Gak usah isi gombal?” Wina menatap dengan tatapan tajam yang membuat Fariz seperti anak kucing.
“Bisa sayang bisa, asal kau bahagia,” Fariz mengerlingkan sebelah matanya.
“Mau ngasih dolar juga gak bisa sayang,” Fariz mengambilkan roti bakar untuk istrinya.
Sarapan romantis ala anak alay pun selesa di jam enam lima belas menit. Wina dan Fariz berangkat ke sekolah lebih pagi karena mereka berencana untuk mampir dulu ke sebuah minimarket.
Saat sedang di minimarket, Wina dan Fariz lupa kalau dirinya membawa jaket saat keluar tadi. Dengan cueknya wina langsung masuk dan mencari mesin ATM yang terleak di salah satu sudut toko. sedangkanFariz lebih memilih membeli jajan dan dirinya menyisipkan alat kontrasepsi di antara barang belanjaan itu.
Mbak mbak penjaga toko pun terkaget saat ada anak masih berseragam. Masih sangat pagisudah membeli beberapa kotak alat kontrasepsi. Saat membayar di kasir malah Wina yang mengeluarkan uang, otomatis membuat mbak kasirnya melongo.
“Ada lagi mas?” Tanya mbak kasinya.
“Sudah mbak, ymbak ini scan duluan.” Fariz menyodorkan bebrapa kotak itu pada mbak kasirnya.
“Kenapa beli pagi pagi sih yang?” Tanya WIna heran.
“Takut lupa entar,” Jawab Fariz santai.
“Emang di rumah habis?” Tanya WIna yang membuat mbaknya hanya menunduk malu.
“Habis sayang, kemarin kamu di suruh beli malah gak beli,” sewot Fariz karena dirinya jadi gak bisa namah pagi pagi.
“Mama di titipin malah gak di beliin di bilang lupa, terus kamu gak minta lagi kan. Ya udah aku kira kamu udah beli,” Jawab Wina santai, tapi tidak dengan si embak kasirnya.
Ya ampun anak SMA modelan sekarang kenapa makin bobrok sih? Batin mbak kasir bergidik ngeri.
Setelah membayar belanjaannya, Wina dan Fariz segera keluar dari minimarket yang buka 24 jam itu. (maaf ini ceritanya tak terpengaruh dengan adanya virus korona)
__ADS_1
Mereka berdua berangkat ke sekolah dan Wina meletakkan kotak kotak keramat itu di dalam mobil. Fariz yang terlihat santai malah membuat WIna gemas sendiri. Wina menyandarkan kepalanya di bahu sang suami.
Kehidupan yang teramat sempurna untuk anak seumuran mereka. Mobil mewah, nilai sempurna, Otak di atas rata rata, materi berlimpah dan visual yang sempurna mengikat banyak hati lawan jenis. Dan tak lupa dengan kehidupan yang tak tersentuh dengan omelan orang tua.
Di sekolah, Wina itu terkenal dngan seorang yang sangat posesif pada pacarnya. Bahkan kalau boleh saat Fariz ke toilet pun dia juga ikut masuk. Sungguh keposesifan yang sangat menyesakkan dada.
Sedangkan Fariz yang di kenal sebagai si jenius nan tampan membuatnya di gilai banyak siswi. Fariz sadar tapi lebih memilih untuk mengabaikan mereka, dari pada dirinya membuat sang istri marah.
Ujian kelulusan akan segera tiba beberapa minggu lagi. Sedangkan perusahaan SATYA sedang oleng karena orang dalam. Terpaksa Faris menggunakan haknya sebagai anak angkat untuk menelusup ke dalam mencari tau boroknya.
Satu minggu menghadapi ujian namun perusahaan SATYA belum sepenuhnya berdiri kokoh seperti sebelumnya. Fariz tak bisa sepenuhnya membantu karena fokusnya terpecah oleh ujian yang sminggu lagi akan di hadapi.
Satya mengerti apa yang saat ini di rasakan Fariz pun merasa sangat kasihan. Satya berjanji pada dirinya sendiri, mau berapapun nilai Fariz dia akan tetap memberikannya biaya kuliah Fariz. Sebegitu sayangnya Satya pada adik angkatnya itu, sehingga dirinya tak pernah menganggapnya sebagai orang lain.
“Kan, Fariz seminggu kedepan gak ngantor dulu. Bener bener mau fokus sama ujian,” itulah kata terakhir saat Fariz di kantor milik Satya.
“Ayah bisa membantu kalau untuk membangunlagi Fariz, terimakasih untuk bantuan kamu. Seandainya kamu tak bisa lagi membantu perusahaan ini, mungkin sekarang perusahaan ini sudah luluh lantah,” Satyz memeluk adik angkatnya dengan mengucapkan ribuan terimakasihnya.
“Sudah lah sudah, sekarang kita makan saja. Itu Wina sepertinya juga sudah datang,” Ayah Affandi melerai pergulatan hangat kedua putranya.
Ya…. Affandi selalu menganggap kedua lelaki itu adalah anak dia sendiri. Tak jarang juga Affandi memanggil secara pribadi Fariz untuk menjaga Satya saat dirinya pergi nanti.
Fariz dan Satya itu sedah seperti adik dan kakak yang terpisah lama. Keduanya salalu saling mendukung satu sama lain, seperti saat Fariz hampir setres karena di suruh menikahi kedua cewek sekaligus.
Tak ada keluarga lain memang, bagi Fariz keluarga Satya adalah malaikat yang di kirim Tuhan untuknya di saat bapaknya baru saja meninggal dunia. Tuhan maha adil ketika kita menyerahkan semua kepadanya.
Fariz dan Satya berjalan menyusuri lorong ruangan, mencari di mana para istri berada. Menyiapkan makan malam bersama dengan para sebagian karyawan yang masih ada di kantor. Memang belakangan ini hampir seluruh karyawan itu kerja lembur.
Memandang wajah teduh Bian dengan mata mengerling saat tersenyum. Satya seakan melupakan beban yang dia pikul di pundaknya. Di samping terlihat sang Bunda yang memangku Idham putra semata wayangnya karena Bian tengah mengandung besar.
Di samping Vindya ada Vano yang duduk di antara Nadin dan juga putranya yang berusia lima tahun dan putri anak dari Nova yang entah kemana wanita itu tak pernah pulang. Wina yang duduk bersama ibu dari Fariz di sebrang Bian dan Vindya duduk.
Menyambut dengan kedatangan ketiga lelaki yang hampir sebulan ini terus bekerja tak kenal waktu. Membangun kembali perusahaan yang baru saja oleng akibat orang orang tak bertanggung jawab. Hanya memikirkan perut mereka sendiri tanpa memikirkan rekan kerjanya yang juga bekerja bersama.
Fariz selaku anak angkat dari Affandi membantu sebisa mungkin dengan bantuan sang mertua tentunya. Mencari investor kesana kemari seperti pengemis untuk mendapatkan sokongan dana. Di tolak kesana kemari bahkan Fariz merasa malu ketika menemui mertuanya di tengah perjuangannya.
Dengan menuliskan nominal paling kecil, Fariz menyerahkan proposal pada BIRMA. Bukan karena perusahaan besar itu tak percaya. Tetapi, Faris terlalu malu untuk meminta bantuan. Fariz mengajukan proposal itu agar sang mertua merasa di anggap ada.
Bahkan Levin sendiri juga meminta proposal dari Fariz karena merasa percaya pada kemampuanya. Satya juga bukan orang yang receh bagi Levin, karena Satya juga memiliki koneksi yang cukup kuat. Ide ide yang dia miliki itugampang di terima oleh semua kalangan.
Itulah yang membuat Levin juga Rizal menggelontorkan dana yang tak sesuai dengan proposal. Di proposal Fariz tak pernah menulis dengan angka besar karena sangat malu. Tapi hal itu di pahami oleh AIRA, BIRMA, BAGANTA dan yang terakhir adalah perusahaan Mr. Smit.
Sungguh sangat beruntung Fariz mengenal para pengusaha pengusaha muda itu. Menerima anak SMA untuk menyalurkan apresiasinya dalam sebuah kerja nyata.
Fariz harus mengubur impiannya untuk menjadi seorang dokter karena orang orang yang sudah menolongnya. Fariz tak merasa kecewa atau berkecil hati ketika cita citanya terkubur dalam. Pengabdiannya untuk membalas kebaikan orang orang itu lah yang paling utama saat ini.
***
Ujian akhir sekolah baru saja terlewati dan Fariz sudah kembali ke perusahaan dan bekerja sebaik mungkin. Wina sudah sibuk dengan urusan pendaftarannya di negri orang, untuk menggapai impiannya.
Rojali mulai bekerja karena itu adalah syarat utama untuk mempersunting sang gadis pujaan. Yohanes baru saja melangsungkan pernihannya, dan akan segera terjun ke perusahaan orang tuannya. Sedangkan Arvy masih di pusingkan dengan kedua tunangannya yang ternyata tak mau mengalah.
*Menikah itu bukan hal yang harus di takutkan oleh siapapu. Tapi takutlah pada dosa yang akan kalian lakukan jika tak di segerakan. Jangan memikirkan masalah nafkah jika kamu masih mau berusaha. Allah akan selalu membukakan pintu rizki bagimu yang mau berusaha. Membahagiakan istri adalah itu juga salah satu cara melebarkan puntu rizki yang Tuhan berikan padamu. Jadi menikah muda bukan pilihan yang buruk.
Salam Alfarizi
__ADS_1