Kesetiaanmu

Kesetiaanmu
Lamaran untuk Fariz


__ADS_3

Pagi ini seperti hari minggu biasanya. Fariz mengajak mein si kecil Idham Al khafi Satya, putra dari Fajar Alwa Satya. Ruang tengah yang sudah di jadikan tempat bermain untuk si bayi kecil.


Fariz menidurkan bayi berumur dua minggu itu di kasur yang ada di lantai depan televisi. Dengan segudang mainan yang masih belum bisa di mainkan oleh bayi kecil itu. Fariz mengambil beberapa foto dan di posting di akun instagram miliknya.


“Lucunya putra pak Fariz, aku mengira bapak masih single,” itulah koment pertama yang masuk di notifikasi instagramnya.


“ini anaknya Pak Satya, bukan anak saya mbak Desy. Aku masih SMA kelas dua,” balasan Fariz pada kolom komentar instagramnya.


“Yak! Gak sekalian ngaku jomblo sayang?” itulah balasan dari Wina yang bernamakan Princess Alibaba.


“Maaf, sayang aku gak berani mengaku itu. Cintaku hanya untuk kalian berdua,” tak mau menimbulkan masalah lagi, Fariz mengakui mereka berdua secara adil.


“Kalian berdua?” kali ini muncul notif dari nama Almas Baganta.


Fariz tak mau memperpanjang lagi cerita cinta ‘KALIAN BERDUA’ yang dia tulis sendiri. Fariz meilih untuk Off, sedangkan masih banyak juga tanda tanya yang masuk di barisan komentar. Fariz menggendong bayi kecil itu ke teras dengan bantuan sang ibu yang mengikatkan seledang di pundaknya.


Satya datang dari arah belakang dengan membawa pot berisikan bunga mawar yang sudah memiliki batang yang kokoh. Ya… karena permintaan Bian, Satya memindahkan pohon mawar yang dulu di tanam oleh Fariz ke pot yang lebih besar lagi dan menanamnya di depan.


Satelah selesai memindahkan beberapa bunga mawar tanaman Fariz dulu. Satya mencuci tangannya sebelum mencium putra tersayangnya.


“Bang Satya, Fariz mau ngomong serius masalah cewek,” ucap Fariz.


Fariz sudah membiasakan diri dengan memanggil Satya dengan sebutan Abang setelah beberapa kali di omeli oleh papa muda yang menggoda beberapa cabe saat mampir ke cafenya.


“Serius kah?’ Tanya Satya melihat ekspresi dari adik angkatnya.


“Sangat,” jawab singkat Fariz.


“Ke ruang kerja, Idham kasi ke mbak mu sana,” kata Satya menunjuk ke arah Bian yang kini tengah menikmati teh hangatnya di depan televisi.


Setelah menyerahkan si baby pada emaknya, Fariz menyusul satya ke ruang kerjanya. Satya membuka berkas yang ada di tas kerjanya, sedangkan Fariz duduk di depan Satya.


“kamu mau ngomong apa?” Tanya Satya maih fokus pada berkas yang ada di depannya.


“Gini bang, Mentari kan sudah pulang ke rumah. Memang sih masih belum sembuh total, tapi dia mengikuti kemo terapi. Semalam itu kan ketemu……” Fariz menceritakan semua yang terjadi semalam.


Fariz bahkan tak melupakan untuk menceritakan tentang Almas juga. Satya hanya manggut manggut pertanda dirinya mengerti.


“Terus apa masalahnya sekarang? Kan mereka baik baik saja,” tanya Satya yang melihat Fariz seperti orangfrustasi.


“Nah, masalahnya itu. Mentari dan Wina minta di duakan. Kalau aku memiliki niatan untuk menikahi Wina, maka aku juga harus memiliki niatan yang sama pada Mentari. Intinya itu aku gak boleh meninggalkan satu di antara mereka berdua.” pungkas Fariz yang mencertakan masalahnya.


“Gila, itu hati apa pagar beton? Kuat banget nerima madu di antara dirinya dengan orang di sayangnya,” cibir Satya yang tak percaya dengan apa yang di alami oleh Fariz.


“Terus Fariz harus gimana Bang?” Tanya Faris yang masih saja galau akan perasaannya.


“Ya mau gak mau kamu harus terima itu dengan senang hati. Inget Fariz Tuhan itu tak akan memberikan ujian pada hambanya di luar kemampuannya. Yakin saja Tuhan pasti membantu kamu dalam masalah ini.” tutur Satya atas masalah yang di alami oleh remaja yang baru berumur tujuh belas tahun, empat hari lagi.


“Aku tau itu Bang. Hanya aku masih ragu sama keluarga mereka berdua itu.” takut Fariz semakin terlihat jelas.


“Santai saja, mereka berdua itu anak tunggal. Jadi mereka akan menggunakan caranya sendiri untuk merayu orang tuannya. Jadi kamu tenang dan nikmati apa yang Tuhan berikan ini padamu,” Satya meninggalkan Fariz di ruang kerjanya sendirian untuk merenungi takdirnya.


Fariz menegrjakan apa yang di tinggalkan Satya ketimbang memikirkan perasaannya. Dalam keheningan, Fariz hampir menyelesaikan pekerjaannya selama seminggu. Setelah menyelesaikan pekerjaannya Fariz berniat untuk mengisi perutnya yang sedari pagi belum tersentuh oleh nasi.


Baru menikmti setengah makannya, pintu rumah di ketuk oleh tamu yang tak di harapkan. Nurul, tetangga manjanya itu berniat untuk menitipkan si kecil Abimanyu putranya pada Fariz.


“Fariz sayangku, bisa ajak Abi kan jalan jalan? Aku mau pergi dulu ke rumah sakit buat periksa,” ya setelah sakit tipes yang di deritanya Nurul memang di haruskan untuk periksa rutin ke rumah sakit.


“Siap, Abi gak boleh nakal sama kakak ya,” ucap Fariz dengan cekatan memangku lelaki kecil berumur dua tahunan itu.


“Ya sudah aku berangkat dulu ya,” pamit Nurul yang sudah di tunggui oleh Arkan di luar.

__ADS_1


“Siap, hati hati mama muda,” goda Fariz.


Setelah menyelesaikan makannya, Fariz mengajak Abimanyu main di kamarnya. Abimanyu memang lebih suka main di kamar Fariz karena banyak mobil mobilan koleksi Fariz yang bisa di mainkan oleh anak kecil itu.


“Baiklah Abi, kamu tunggu dulu di sini ya. Kakak mau mandi dulu sebentar, apa kamu mau ikut kakak mandi?” Tanya Fariz pada anak kecil yang baru bisa mengatakan ya ntak mama juga papa saja.


“Entuk ai, (ikut mandi)” itulah kata Abimanyu menjawap pertanyaan Fariz.


“Ya sudah, sekarang lepas dulu bajunya baru kita mandi, ok?” Tanpa mendengar jawaban lagi, Fariz langsung melucuti baju beserta popok sekali pakai model celana anak kecil itu.


Fariz mengajak Abimanyu bermain bui di bath up yang ada di kamar mandinya. Memang kamar tempat Faris tidur bukan seperti kamar milik pembantu, tapi seperti kamar tamu. Anak itu cukup bermain bersama dengan Fariz hingga bui yang ada di dalamnya hampur lenyap karena terlalu lama.


Fariz mengganti baju Abimanyu, tak lupa memberikan minyak kayu putih agar tak masuk angin karena kelamaan main air. Setelah rapi kembali, Fariz mengajak Abimanyu ke rumah Mentari untuk mengecek keadaan wanita itu.


“Mentari mana mbak?” Tanya Fariz pada pembantu rumah Mentari.


“Ada di belakang mas, tumben maen mas?” tanya bibik itu kepo.


“Embak kangen ya sama saya?” Tanya Fariz menggoda pembantu Mentari seperti biasanya.


“Ih mas Fariz bisa saja.”


Fariz langsung masuk ke rumah mentari dan menuju ke taman belakang bersama dengan Abimanyu. Fariz melihat wanitanya tengah berjemur di samping kolam renang.


“Hei, ngapain di situ?” Tanya Fariz mengagetkan Mentari yang sudah duduk di kursi sebelahnya memangku Abimanyu.


“Hei, kegiatan rutin aku harus berjemur. Hey Abimanyu gantengnya mami Nurul ya?” setelah menjawab Fariz, Mentari beralih pada lelaki kecil nan imut di pagkuan kekasihnya.


Kebersamaan mereka harus terhenti karena ponsel Fariz yang berdering menunjukkan adanya panggilan masuk.


“Siapa?” tanya Mentari.


“Maminya Abi, sebentar ya sayang.” ucap Fariz yang sudah membiasakan diri untuk memanggil Mentari Sayang atas permintaan Wina.


“Iya, mbak. Fariz sekarang lagi ada di rumahnya Mentari, mau di anterin apa mbak yang ke sini?” Tanya Fariz pada wanita yang menjadi tetangga reseknya.


“...”


“Oh ya sudah kalau begitu, saya tunggu di sini mbak.” Fariz menutup telron dari Nurul.


“Bagaimana?” Tanya Mentari.


“Mau di jemput ke sini katanya. Ini sudah siang lo, ayo masuk katanya Wina juga akan ke sini.” Fariz memberi tahu pada Mentari.


“Iya, dia juga bilang mau ke sini. Mau ngomong penting katanya,” ucap mentari membuat Fariz ketar ketir.


“Membahas apa memangnya?” Tanya Fariz penasaran.


“Nanti juga kamu akan tahu,” Mentari membelai lembut pipi Fariz untuk yang pertama kalinya.


Sedari tadi Fariz merasakan jika cara bicara Mentari juga sedikit lembut padanya. Tidak seperti biasanya yang terkesan to the poindan kasar. Fariz merasa semua ini sangat aneh selama bertahun tahun menggunakan bahasa kasar dengan wanita ini. Tiba tiba berubah menggunakan bahasa halus.


“Mentari, aku gak suka kamu berubah menjadi orang yang lembut seperti ini,” ucap Fariz


“Apa aku tak pantas, kah?” Tanya Mentari sedikit merasa hatinya sakit bak tertusuk duri.


“Bukan tak pantas, hanya aku yang gak nyaman. Karena aku nyaman dengan ucapan ucapan kamu yang bar bar,” Fariz menjelaska apa maksudnya.


“Baiklah kalau begitu, jangan pernah mengeluh aku mempermalukan kamu,” Mentari menerima apa yang di mau oleh kekasihnya.


Tak berapa lama Nurul datang untuk menjemput putra semata wayangnya. Bukan Nurul namanya kalau tak meninggalkan godaan untuk Fariz dan Mentari. Ya… mereka berdua memang sudah kenal baik dengan Nurul juga Arkan.

__ADS_1


Itu karena Nurul selalu menitipkan Abimanyu pada Fariz, yang tak jarang di ajaknya main ke rumah Mentari. Seperti saat ini tentunya bukan hal yang pertema.


Sekitar setengah jam Fariz berdua dengan Mentari di dalam kamar. Seperti biasaya Fariz menyuapi Mentari makan setelah itu memberikan obat secara teratur. Wina datang di saat mentari baru saja meminum obatnya.


“Hai haiiiii aku sudah datang dong yaaaa….” Teriak Wina seperti biasanya.


Jika Mentari terkesan to the poin dan pedasa dalam berucap. Lain halnya dengan Wina yang lebih lembut dan rame orangnya. Bahkan tak jarang jika Wina menganggap ucapan serius sebagai bercandaan.


“Hisss kau ini Win, gak bisa gitu gak usah teriak teriak?” kumat kan ucapan mentari yang di bungkus sama sambel mercon. Pedes!


“Maaf maaf, soalnya lagi seneng banget ini,” kali ini, Wina sudah memeluk Fariz.


“Apaan yang buat kamu seneng?” Tanya Fariz yang memangku Wina kini.


“Tau, papa sama mama sudah setuju dengan yang kita sepakati semalam. Kata papa, Fariz dan keluarganya harus segera ngelamar aku. Dan kamu juga harus ikut Mentari sebagai tanda kamu menerima aku untuk berada di antara kalian berdua.” kabar yang sangat mengagetkan bagi Fariz namun itu kabar yang membahagiaa bagi kedua wanita itu.


“Benar kah? Papa juga setuju lo,” ucap Mentari menimpali ucapan Wina.


“Gila, apa sih yang ada di fikiran orang tua kalian? Bahkan aku belum mengatakan apapun pada ibu. Dan lagi, aku baru bisa membeli apartemen bukan rumah, apa kalian gak bisa memberiku waktu?” Tanya Fariz kaget.


“Tunangan saja sih, kita gak minta untuk di nikahin cepet cepet. Oh iya, kamu sudah membeli apartemen?” Tanya Wina dan mentari ikut mendekatkan diri pada Fariz.


“ Baru tahap melihat lihat, belum sreg juga. Soalnya di lantai empat, takut ibu gak mau ikut tinggal di sana karena ketinggan,” ucap Fariz menundukkan kepala.


“Berapa uang yang kamu punya Fariz? Saat ini,” tanya Wina sedikit serius.


“Tabungan ku baru empat ratus juta. Itu sudah di tambah sama ibuk jual tanah yang ada di daerah YM. Tadinya mau sewa dulu apartemen atau kontrak rumah, tapi berhubung calonku itu kalian para anak sultan. Aku gak mau di rendahkan oleh keluarga kalian karena mengajak kalian susah,” itulah ketakutan yang di rasakan oleh Fariz.


“Aku ada satu, kamu punya berapa Mentari?” Tanya Wina


“Aku cuma punya lima ratus, soalnya kemare aku bantu papa buat bayar pengobatan.” ucap Mentari yang membuat Fariz kembali tersadar jika dirinya harus membiayai pengobatan Mentari yang gak sedikit itu.


“Kita kontrak saja dulu ya, atau jual mobil dulu biar cukup untuk kita hidup damai dan kalian gak harus kerja.” ucap Fariz dengan hati yang sedikit terluka.


“Endak, aku gak mau. Itu akan memberi beban kamu jauh lebih berat lagi,” kembali Wina menunjukkan ketidak sukaannya.


“Kalau aku setuju dengan usul Fariz,” ucap mentari.


“Kenapa?” Tanya Wina.


“Win, Fariz itu kepala rumah tangga nantinya, dan dia harus menjamin hidup kamu dan aku untuk tetap hidup nyaman. Kalau uang yang kita miliki itu di habiskan untuk beli rumah, Fariz akan malu menghadapi orang tua kamu. Nah untuk masalah rumah kita sewa saja di dekat sini, aku lihat ibu juga gak bisa lepas dari Idham,” jawaban Mentari membuka hati Wina yang terkesan ingin semua instan seperti apa yang di dapat selama ini.


Diam diam pembicaraan serius mereka bertiga di dengar oleh orang tua Mentari. Mereka tak mengira jika kegagalan pernikahan pertamanya tak membuat Mentari kehilangan kebahagiaan di akhir akhir hidupnya.


Orang tua mentari mengetahui vonis dokter yang mengatakan jika hidup Mentari sudah tidak lama lagi. Meski dirinya mengikuti kemo terapi. Air mata orang tua mentari mengalir melihat dan mendengar tawa putrinya di akhir hayatnya.


Kurang dari satu tahun adalah waktu yang di miliki oleh Mentari untuk merasakan kebahagiaan. Maka dari itu orang tuannya tak menghalanginya untuk menjadi orang ketiga di antara Wina dan Fariz.


Orang tua Wina yang juga mengenal orang tua Mentari seakan mempermudah mereka utuk mengambil keputusan untuk putri mereka.


Melalui telefon, kedua orang tua itu menetapkan tanggal untuk menikahkan ketiga orang itu di hari yang sama . hal itu di lakukan karena orang tua Mentari takut sudah tidak punya kesempatan untuk membahagiakan putrinya.


Kebahagiaan putrinya adalah hal yang paling utama saat ini. Dirinya akan melakukan apa saja untuk Mentari. Tanpa sepegetahuan ketiga orang yang kini tengah asik berdiskusi tentang masa depannya. Para orang tua kini tengah berkumpul di rumah Satya.


“Maaf, bagaimana Bu?” Tanya Revan setelah menyampaikan maksud dan tujuan yangmembawa mereka berempat datang ke rumah Satya.


“Tapi pak, apa bapak bapak sekalian mengetahui jika Alfarizi anak saya? Anak seorang pembantu?” dengan rendah diri ibu Fariz menanyakan tentang statusnya pada orang tua kedua wanita yang melamar putranya.


“Kami tau pasti itu. Karena sebelum Fariz menerima kedua wanita itu juga mengatakan hal yang sama. Dan kami juga tahu seberapa kejujuran putra ibu, maka dari itu kami melamar putra ibu untuk kedua putri kami.” Revan mewakili orang tua Mentari yang seakan tak sanggup mengatakan semua itu, karena mengingat peyakit putrinya.


“Pak Revan, kalau seperti itu kejadiannya, besok saya akan mengajak Fariz untuk meminang nak Wina. Baru besoknya akan ke rumah bapak, untuk meminang Mentari,” Jawab Satya mewakili ibu dari Fariz setelah berbicara sejenak.

__ADS_1


“Kami gak mau seperti itu. Kita lakukan pertunangan dan juga pernikahannya secara bersamaan di hari dan tempat yang sama,” jelas Revan kebaratan.


“Hah!” kaget Satya dengan keputusan Revan.


__ADS_2