Kesetiaanmu

Kesetiaanmu
Mencuri


__ADS_3

Sepanjang hari Satya mendiamkan Bian dengan rasa bersalahnya. Jam istirahat pun Satya memilih untuk berdiam diri di dalam kelas. Entah apa yang membuat dirinya menjadi sangat pendiam seperti saat ini.


Nurul yang duduk di sampinya pun merasakan atmosfer yang begitu berbeda. Kemaran Satya membuat kelas semakin hening. Rasa takut yang semua orang rasakan pun membuat Bian tak tahan lagi akan kediaman Satya.


“Satya, kalo lu ada masalah sama gue. Tolong jangan buat orang sekelas menanggung kemarahan elu,” ucap Bian yang membuat Satya tersentak dari lamunannya.


“PD banget sih lu!! Brisik.” Satya membentak Bian yang berusaha baik padanya.


“Gua gak lagi marah sama elu,” ucap Satya santai lalu menyandarkan diri pada sandaran kursinya.


“Terus, kenapa elu diem dan gak mau duduk sama gue?” Tanya Bian yang tak merasa canggung lagi.


“Lu liat cewek yag duduk sendirian itu kan? Dia bilang gak suka kalo gua deket - deket sama elu. Makanya gua pindah dari bangku sono.” Jawab Satya sambil menunjuk ke arah Ayumi.


“Dia cewek elu? Semalem dia juga nanya ke gue,” ucap Bian terputus.


“Tanya apaan?” Tanya Satya yang penasaran.


“Apa gue itu pacar elu.” Jawab Bian sambil meminum - minuman yang di bawanya.


“Hmmm” Satya membuang nafas besar sambil mengusap wajahnya kasar.


“Pacaran yuk,” ucap Satya yang mengagetkan Bian.


“Enak aja lu ngomong. Maaf tuan, diri saya terlalu mahal untuk anda yang berjiwa arogan,” Bian yang mendapat serangan mendadak pun tak menyiapkan jawaban yang manis semanis kurma.


“Hallo Nona, jiwa arogansi saya yang sangat tinggi juga menolak anda sebenarnya. Tapi hanya dengan anda, gadis itu merasa cemburu terhadap saya.” Satya meninggikan dirinya sendiri.


“Apa hubungan elu sama gue sih? Sampek harus di cemburui?” Tanya Bian penasaran.


“Pikir sendiri, udah ah sono lu. Sebelum lu jawan pertanyaan gua, jauh - jauh lu sama gua.” usir Satya pada Bian yang sebenarnya tak tau apa - apa.


“Lu suka sama dia? Ungkapin oon, bukannya di hindari dan mencari orang yang di cemburui. Setres lama - lama gue deket elu.” omel Bian yang merasa tak terima sudah di usir oleh Satya.


“Bukan urusan elu, pokoknya selama elu belum jawab pertanyaan gua. Tolong jangan deket - deket sama gua!!” kali ini Satya sedikit membentak Bian.


“Hallo sarap, kalo elu mau nembak orang itu yang romantis. Bukan kaya preman yang main nodong kaya gini!!” kini suara Bian tak kalah tingginya dari Satya yang membuat seisi kelas menyoraki mereka.


“Ciiiieeeeeee, ada yang lagi di rampok ni hatinyaaaaaaa,” ucap salah satu celetukan teman sekelas mereka.


“Diem kalian!” seru Satya.


“Cih galaknya.”


Jam pelajaran pun berakhir dan semua siswa meninggalkan kelas, termasuk Bian dan juga Satya. Satya terlihat memandang ke depan, memandang seorang gadis yang kini tengah berada di dalam rangkulan seorang pemuda.


Pandu sengaja menungguinya di parkiran, duduk di atas kap mobilnya. Pandu sesekali mencium gadis di pelukannya. Dengan menunjukkan cincinya di jari manis miliknya.


“Pecundang memang lah pecundang. Kelihatannya kuat, tangguh, perkasa dan berkuasa. Tapi kalah dari seseorang yang sering di kalahkan.”  perkataan yang membuat Satya ingin sekali menantangnya balapan sekali lagi.


“Kekalahan apa yang gua dapet dari elu? Pecundang kok teriak pecundang.” Balas Satya yang membuat darah muda Pandu mendidih.


“Lu liat baik - baik jari manis gua, dan setelah itu lu liat jari manis Ayumi. Lu kalah telak dari gua Satya. Hahaha” Dengan bangganya Pandu mengatakan bahwa dirinya sudah meminang sang kekasih.


Pandu ternyata mendengar apa yang di katakan oleh Satya pada Ayumi tadi pagi. Pemuda yang selalu di kalahkan oleh Satya itu tidak terima.Ketika Pemuda pintar di sekoahnya akan merebut sang tunangan.


“Sudahlah Pandu, kita pulang saja.” Ajak Ayumi menengahi peraduan mulut kedua pemuda yang ada di depannya.


“Siapa bilang Satya pecundang!! Dan Satya gak memiliki perasaan apa - apa pada gadis mu tuan. Karena saya Zahra Fabian adalah pacar dari Fajar Alwa Satya terhitung mulai saya masuk di sekolah ini kemarin.” Bian datang dari arah belakang dengan langsung menggenggam tangan Satya.

__ADS_1


Semua yang ada di parkiran pun tak percaya akan apa yang di ucapkan Bian. Karena Satya sama sekali tidak pernah menerima cinta atau menyatakan cinta pada siapapun. Termasuk Ayumi yang belakangan di ketahui menjadi gadis yang mengisi hatinya.


“Jangan bicara omong kosong nona. Buktikan jika memang kalian itu sudah pac….” Tanpa menunggu Pandu menyelesaikan ucapannya, Bian sudah mencium Satya di depan umum.


“Apa anda sudah puas?” Bian menarik Satya untuk menjauhi orang - orang yang lagi bengong akan tindakan frontal yang di lakukan oleh Bian terhadap Satya yang terkenal bersih.


“Gilaaaa,” gumam salah satu teman Pandu sambil menggeleng gelegkan kepalanya.


“Kalian mikir apa? Cepat masuk dan kita harus ke rumah Ayumi buat bantuin mengepak barang yang akan di pindah ke apartemen gua.” Pandu menyuruh teman - temannya untuk masuk kedalam mobil.


Sedangkan Ayumi masih belum percaya jikan Satya, orang yang suka bermain dalam imajinasinya sudah di miliki oleh seorang Bian. Siswi pindahan bawaan kepala sekolah barunya.


Di depan pintu gerbang sekolah, Bian menghentikan taksi dan menyeret Satya yang masih tak percaya dengan apa yang di lakukan oleh gadis terhadapnya. Bian terlihat biasa saja, tapi Satya seperti mendapat serangan jantung namun tidak pingsan. Tapi kesadarannya yang di serang.


“Kenapa lu lakuin kaya tadi sih?” Tanya Satya yang sudah mampu menguasai kesadarannya.


“Hello, ciuman doang gitu lo.” jawaban santai yang di berikan oleh Bian membuat Satya berfikir, kehidupan macam apa yang kepala sekolahnya berikan pada putri ketiganya. “Jangan bilang ini ciuman pertama elu,” tebak Bian yang membuat Satya semakin mati kutu.


Sesampainya di rumah Bian, mereka di sambut oleh kedua kakaknya yang ternyata adalah kembar. Bian di todong berbagai pertanyaan, namun dia malah diam seribu bahasa dan pergi meninggalkan Satya di ruang tamu bersama kedua sodara kembarnya.


“Nih kunci mobil lu, mobilnya di garasi.” Bian menyerahkan kunci mobil Satya dengan membawa segelas air minum di tangannya.


Bukannya menyerahkan minuman itu pada tamu, tapi malah di minumnya sendiri. Santai sekali Bian meminum minuman yang terlihat sangat segar di mata Satya. Tanpa ragu lagi Satya meraih gelas di tangan gadis yang sudah mencuri ciuman pertamanya.


“Anda harus tanggung jawab nona, dengan apa yang anda lakukan tadi di depan yang lain.” Bisik Satya di depan kedua kakak Bian.


“Siapa takut!” Merasa tertantang, Bian pun menyanggupi apa yang di katakan oleh Satya.


Satya masuk kedalam mobilnya, menghidupkan dan memanasi mobilnya sebentar sebelum akhirnya meninggalkan garasi rumah yang lumayan mewah untuk seukuran kepala sekolah.


“Haaaahhhhh sial, ciuman pertama gue.” gumam Bian dengan membuang nafas penyesalan setelah Satya sudah pergi jauh dari rumahnya.


“Kenapa ciuman pertama lu?” Tanya Kedua kakaknya yang ternyata sedari tadi menunggu Bian dan Satya dari balik pintu dengan rasa penaarannya.


Sesampainya di rumah, Satya terus memegangi bibirnya sambil senyum - senyum sendiri. Vindya dan Fandi yang duduk di teras menikmati teh hangat di sore hari merasa herang dengan keadaan putra semata wayangnya.


Keanehan yang di tunjukkan Satya tak berhenti di sore hari sepulang sekolah saja. Tapi saat makan malam pun Satya terlihat banyak bengong seperti seorang suami yang di tinggal istrinya.


“Yah, ayah liat Alwa kan? Bunda khawatir putra kita nanti bisa gila lama - lama yah,” ucap Vindya yang menghawatirkan putranya.


“Malam semuanya,” Vano adik dari Vindya datang dengan Nova dan juga putri mereka yang baru berumur sepuluh tahun.


“Nadin mana Van?” Tanya Vindya yang tak melihat adik ipar satunya.


“Sini ikut makan ayo Nov, hai Vani sama ayah Fandi sini.” Affandi memeluk gadis cantik namun tak bisa bicara yang di lahirkan dari istri kedua seorang Vano, adik iparnya.


Nadin masuk ke dalam rumah dan langsung duduk di samping Satya. Nadin sepertinya sudah tidak merasa sakit hati lagi dengan pernikahan sang suami. Nadin melihat Saya yang menurutnya juga sedikit aneh.


“Kenapa itu bibir di pegangin aja?” Tanya Nadin tanpa ragu yang membuat Vindya dan Affamdi tercengang.


“Abis di curi ini ma, rasanya masih nempel.” jawab Satya membuat Affandi dan Vindya menahan tawanya.


Ketika sang kakak menahan tawa , Vano malah terang - terangan menertawakan sang keponakan.


“Hahahaha, kamu di cium cewek apa cowok?” Pertanyaan aneh dari om yang di panggil Papa oleh Satya pun mendapat pukulan dari sang bunda pemuda yang di tanyainya.


“Anak gue normal kali, semalem aja dia bawa pulang anak gadis,” Bela Vindya namun membuat Affandi kaget.


“Apa? Bawa pulang anak perawan?” goda Affandi yang juga terkejut.

__ADS_1


“Papa, Alwa gak tau dia perawan apa enggak. Kan belum di cobain” pukulan dari sang mama mendarat di kepalanya. “ Mama Nadin ini sakit kepala Alwa, kalo sampek gagar otak mama Nadin harus tanggung jawab.” protes Satya pada Nadin yang di panggil mama setelah kehilangan sang putri akibat kecelakaan.


“Dih, ogah. Otak kamu kan udah hilang separo itu Alwa,” ucap asal Nadin pada putra sang kakak.


“Masih utuh kok tadi Alwa liatnya.” Kata Satya dengan memegangi kepalanya.


“Mana ada, itu kepalamu setengahnya udah di bawa cewek yang udah mencuri ciuman pertama mu,” Jelas Nadin membuat Satya memanyunkan bibirnya.


“Udah ah, Alwa mau tidur aja. Ngobrol sama mama juga Papa itu gak guna, apa lagi sama tante Nova. Tambah gak mood lagi,” kata Satya yang memang benci sekali dengan Nova.


“Kok tante di bawa - bawa” protes Nova pada Satya yang terlihat jelas membenci istri ke dua dari omnya.


“Udah tau suka arisan, masih aja gangguin rumah tangga orang.”


“Alwa!!” bentak Affandi pada putranya.


“Belain aja terus, jangan - jangan ayah juga ikut nanem saham lagi. Secara sayang banget sama tu anak bisuk,” ucap Satya keberatan.


“Ck, hmmm” Affandi hanya membuang nafas tanpa memarahi atau menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi sebenarnya.


“Ya sudah deh, mending kita pulang saja,” Ajak Nadin yang merasa suasana menjadi canggung.


Setelah semua pulang, Vindaya merapikan meja makan di bantu oleh Affandi sang suami.


“Sepertinya kita memang harus nambah anak cewek deh Bun, biar ada yang bantuin Bunda di dapur.” Goda Affandi yang membuat bentakan dari Satya.


“Gak usah macem - macem deh Yah, Alwa bisa malu kalo beneran Bunda hamil lagi.”


Karena mendengar penolakan yang di lontarkan oleh Satya, Ayah dan Bunyanya hanya saling pandang. Vindya kaget dari mana datangnya keberanian Satya membentak Ayah dan Bundanya.


Satya ternyata keluar kamar hanya untuk mengisi air di dalam gelasnya yang kosong. Setelah mengisi gelasnya dengan air, Satya kembali lagi ke kamarnya. Dirinya tak menyangka harus mendengarkan penuturan Ayahnya yang menginginkan anak perempuan.


Meski keluarga Affandi dan Vindya tergolong dalam keluarga yang harmonis. Tapi Satya sangat jarang untuk berkumpul dengan Ayah dan Bunda setelah makan malam. Satya lebih banyak menghabiskan waktunya untuk belajar di kamar jika tidak balapan.


Di dalam kamar Satya bukannya belajar seperti biasanya, Tapi dia terus memikirkan kejadian tadi sore yang di alaminya. Satya membuka buku tapi bukan untuk membaca atau menulis. Satya masih terus kepikirah hingga akhirnya tertidur hingga subuh.


Setelah sholat subuh, Satya bersiap untuk ke sekolah. Jika biasanya Satya yang sangat bersemangat, maka lain halnya dengan hari ini. Satya terlihat sangat malas sekali untuk mengawali hari. Langit yang terlihat mendung menambah semakin malas untuk berangkat sekolah.


“Bunda, sepertinya mau turun hujan. Alwa gak usah berangkat sekolah ya Bun,” Rengek Satya pada bundanya.


“Kamu ke sekolah naik apa?” Tanya Vindya yang membuat Satya sedikit bingung.


“Naik mobil Bun, kenapa?” Jawab Satya sambil melanjutkan sarapannya.


“Terus apa hubungannya sama hujan, Bambang?” Gemas Vindya pada putranya.


“Namaku itu Alwa apa Babang sih Bun? Perasaan ganti - ganti mulu namaku Bun.” Gerutu Satya dengan panggilan Bundanya.


“Bunda gak mau tau, kamu harus berangkat sekolah dan iya, ajak gadis yang sudah mencuri ciuman pertamamu itu pulang kerumah nanti sore.” Vindya penasaran seperti apa gadis yang berani terhadap putranya yang di ketahui jarang memiliki teman, apakah benar gadis itu yang di bawanya kemarin malam.


“Bunda ada - ada aja deh, dia itu bukan gadis sembarangan.” Jengkel Satya dengan ucapan Bundanya.


“Oooo, jadi dia bukan gadis sembarangan? Tapi Ayah kok heran ya, kok bisa Cium kamu sembarangan gitu?” Kini giliran sang Ayah yang menggoda Satya.


“Dia gak sembarangan kok Yah,” Belum selesai Satya membela gadisnya Affandi langsung mematahkan ucapannya.


“Gak sembarangan, cuma suka mencuri, apa jangan - jangan anak Ayah yang terlalu menggoda?” Godaan sang Ayah membuat Satya sangat marah.


“Udah ah, Alwa berangkat saja dari pada di rumah malah di kecengin terus seperti ini.” Satya berangkat sekolah dengan beragam rasa. Jengkel terhadap orang tuannya yang terus menggodanya. Juga rasa sedikit malas karena harus bertemu dengan gadis yang membuatnya kehilangan ciuman pertamanya.

__ADS_1


 


Bantu Author dengan like dan koment untuk lebih bersemangat untuk melanjutkan cerita Satya dengan beberapa gadis yang akan hadir dalam hidupnya. menghiasi masa mudanya, dan juga membuat rumit masa mudanya.


__ADS_2