Kesetiaanmu

Kesetiaanmu
Puisi untuk Vano


__ADS_3

Vindya kemabali masuk kekelas dengan ijin dan perlindungan pak samsul. Vindya terlihat pucat namun tak terlihat lelah. Penampilan Vindya yg di rubah dari hampir dua tahunan itu memang mebuat banyak murid cowok berdecak kagum akan kecantikannya. Namun hari ini wajah Bindya pucat pasih membuat teman teman Vindya terutana Arief menjadi bingung dan khawatir.


"Lo kenapa dah Vind?" Tanya Riska.


"Emang kenapa gue?" Vindya kebingungan.


"Lo pucet banget kaya manusia gak berdarah." Ucap Ridge.


"Zombi kali gue manusia gak berdarah. Sini gue esep darah lo." Vindya menyerang Ridge yg duduk di sampingnya.


"Yg ngisep itu bukan zombi tapi Vampir. Ato lo udah jadi vampir kali ngisepin si kak Affandi buahahahahaha" Kini Arief yg melucu tapi tak di respon teman temannya.


Iya, yg tau masalah Vindya sudah menikah dengan Affandi cuma Arief dan yg lain taunya mereka adik kakak.


"Maksudnya apa ini?" Tanya Ridge.


"E.... e.... Arief ngaco lah tau kan tu anak kalo ngomong ngelantur." Vindya yg kelabakan menyaci alasan membuatnya salah tingkah.


"Bener Arief yg ngaco ato lo yg lagi nyembunyiin sesuatu dari kita Vin?" Riska yg tadinya focus dengan bukunya kini beralih pandangan ke Vindya.


"Nah lo Rief gara gara lo ni, anak anak pada curiga sama gue. Tanggung jawab lo" Kini Vindya mengalihkan pembicaraan dengan candaan dengan Arief.


"Ya elah emank gue apain lo sampek lo minta tanggung jawab sama gue? Emang bapaknya gue?" Arief yg menyadari kesalahannya kini bermain kata dengan Vindya tanpa tau kebenarannya.


" Ya elo kan sering curi pandang ke gue.... kali aja pandangan lo mengandung sesuatu gitu" Celetuk Vindya agar temen temennya tak lagi membahas tentang Affandi.


"Cih kalian ini.... becanda aja bisanya. kirain si Vindya udh gak virgin gara gara keseringan ngisep si kakak kelas." Ridge menimpali.


"Emang ngisep bisa ngilangin perawan apa?" Tanya Riska.

__ADS_1


"Bisa lah, coba lo isep gue." Kini Arief kembali menggoda Riska.


"Sini lo gue isep. he... jangan lari lo." Riska mengejar Arief yg kabur setelah Riska menerima godaan Arief.


****


Di kelas Vano dan Nadin tengah berlangsung palajaran bahasa indonesia. Vano yg tampak focus mendengarkan, lain halnya dengan Nadin. Dari tadi Nadi ngobrol sama Maria terus mendapatkan perhatian tajam dari sang guru yg tengah menerangkan tentang puisi.


"Kalian berdua ngerti enggak yg bapak bahas?" Guru bahasa indonesia menunjuk ke arah Nadin dan Maria.


Nadin mendongak dan kelabakan tentang pertanyaan gurunya. Nadin menoleh ke arah Vano dan Vano membuang muka karena kelakuan istrinya itu.


"Kenapa liat liat Vano? Emangnya Vano mencuri hatimu?" Niat guru itu hanya bercanda membuat Nadin kelabakan.


"Kayaknya bener Vano mencuri hati kamu, sampai sampai kamu salah tingkah gini." Pak guru itu melirik Vano sesekali dan melihat gunung es itu tak bereaksi." Coba kamu tunjukin perasaan kamu dengan Puisi" Guru Bahasa itu pun menyuruh Nadin maju kedepan.


Tak bermaksud mempermalukan tapi guru itu hanya mau Nadin mempertanggung jawabkan kesalahannya. Ya hukuman dari guru bahasa indonesia itu menyuruh Nadin mengarang puisi secara langsung membacanya.


*Vano


Mata indahmu membuatku tak mampu berpaling


Senyumanmu membuatku tak berdaya


Taukah kau, dirimu sangat penting


Tanpamu, aku tak berdaya.


Melihatmu ketika membuka mata

__ADS_1


itu lah impian yg nyata


Bersama berjalan beriringan


Melewati semua rintangan


Vano bisakah kita melalui semua ini?


Vano bisakah kita terus bersama?


Vano bisakah kita melalui ujian ini?


Dengan senyuman engkau menjawab, bisa asal kita bersama*.


Kaulah hidupku kini Vano


Jadilah imamku Vano


Halalkan aku menyentuhmu Vano


Jadikan aku makmummu Vano


Seketika kelas pun menjadi hening tanpa suara. Guru yg mendampingipun terdiam di buat oleh Nadin. Tanpa ada yg mengeluarkan suara kini Vano berdiri menghampiri Nadin. Kelas masih hening saat Vano memegang tangan Nadin.


"Nadin gue gak bisa janjiin lo apa apa tapi gue bisa pastiin selama gue hidup, gue akan selalu membuat lo bahagia seperti janji gue ke orang tua lo. Tetap lah menjadi makmumku dan jangan lupa belajar." Terakhir Vano menyentikkan tangannyan di kening Nadin. Di sambut riuhan temen temen di kelasnya.


"Gue kira lo mau nyium Nadin.... udah deg deg an aja gue Van." Celetuk salah satu temen Vano.


"Hust ya kali gue nyium ni bocah. bisa setep entar" Ucap Vano yg membuat Guru bahasa indonesianya tak mampu mengatakan apa apa.

__ADS_1


"Sudah sudah kembali ke tempat duduk kalian. Ingat Nadin jangan di ulangi lagi. Kan bapak jadi baper." Goda guru bahasa indonesia sambil tersenyum lebar.


__ADS_2