
"Jelaskan semua pada Mona pa." ucap Mona dengan segala penekanan.
"Papa hanya gak mau kamu kenapa kenapa... yang ada di fikiran papa waktu itu hanya untuk menyelanatkan kamu." Jawab Barata.
"Bohong.... mama tau semua yg papa rencanakan. Papa mau bisnis keluarga penuh bukan karna Mona yg saat itu menangisi Fandi." kini Rere buka suara.
"Maaf semuanya, saya tidak tertarik dengan penjelasan apapun dari kalian. sekarang rumah tangga saya hancur dan papa masih belum sadar. kalo memang mengharuskan Affandi menikah dengan Mona, lebih baik lakukan secepatnya." Affandi berusaha bangkit.
"Apa yg kamu katakan nak. Kasihan Vindya sayang." Dita menasehati.
"Vindya berhak mendapatkan kebahagiaan dari laki laki yg lebih baik dari Affandi ma. Affandi tidak pantas untuk Vindya. Selama menikah Affandi tidak pernah menyentuh Vindya karena Affandi menghormati Vindya sebagai istri Affandi."
Mendengar penjelasan Affandi, Mona merasa bersalah. Mona mematung dan merasa jijin pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Mona berjalan gontai menyusuri koridor rumah sakit sendirian. Tanpa ekspresi Mona terus mengaliri pipinya. Seakan mengutuki dirinha sendiri Mona teringat akan pembelaan Affandi terhadap Vindya. Seharusnya dirinya tahu itu pembelaan seorang suami untuk istrinya.
Mona
Harusnya gue tau diri. Kenapa Tuhan menciptakan rasa laknat ini untuk gue? Rasanya malu gue sudah menghancurkan rumah tangga Affandi.
Gue harus menemui Vindya...
Mona berjalan keluar rumah sakit dan mencari taxi untuk mengantarkan ke rumah Vindya. Berbekal alamat yg di dapatkan dari Ahmad Mona langsunv menuju rumah Vindya. Selama di perjalanan Mona berusaha menghubungi nomer Vindya yg di dapatkannya dari Ahmad juga, namun nomer itu sudah tidak aktiv.
Setelah 45 menit di perjalanan Mona sampai di kediaman keluarga Sofyan. Mata Mona teralihkan oleh sebuah mobil yg ia kenal. Mobil Brio berwanra merah cape itu sudah terparkir di luar gerbang rumah mewah tersebut.
"Affandi sudah datang, haruskah aku masuk juga?" keraguan Mona menghentikan langkahnya untuk masuk kedalam
__ADS_1
Sedangkan di dalam rumah mewah tersebut Affandi berjongkok memohon maaf pada Vindya di hadapan keluarga yg lainnya. Dengan linangan air mata Affandi berusaha meyakinkan Vindya agar tidak menceraikannya. Mona menyaksikan itu semua membuatnya semakin merasa bersalah dan tak kuasa lagi untuk melanjutkan langkah kakinya masuk lebih dalam.
"Kak.... kurang apa Vindya bersabar di samping kakak? Sebesar apa kesalahan Vindya perbuat untuk kakak? bisakah kakak mengatakan di mana letak kekurangan Vindya untuk kakak? Vindya hanya masih belajar untuk menjadi istri dan makmum yg baik untuk kakak. Dari Vindya seorang anak manja harus menjadi seorang istri dalam waktu sekejab. Vindya gak bisa bareng kakak untuk saat ini. Vindya harap kakak bisa belajar dari masalah ini. Vindya sayang sama kakak, Vindya cinta sama kakak. Tapi tak bisa di pungkiri Vindya juga kecewa sama kakak, Vinya juga sakit hati sama kakak." Ucap Vindya memberikan kejelasan.
"Sekarang gini saja.... kalian lebih baik berpisah dulu Vindya kamu focus sekolah dulu dan kamu Affandi focus kuliahmu. Dalam beberapa waktu kalian memang harus sendiri sendiri dulu untuk menata hati kalian. Vindya papa janji sama kamu selama kamu berpisah dari Affandi kamu bisa tinggal di apartemen Vano dan Vano kamu tinggal di rumah kakakmu. Dan Affandi kamu focus sama kuliahmu di Jerman. Tapi inget kamu harus menjaga kepercayaan kami lagi. Sekali lagi papa denger ada kabar gak enak, papa pastikan surat cerai ini sampai ke tangan pengadilan." kata papa Sofyan menengahi masalah.
"Jadi saya gak jadi cerai kan pa?" Tanya Affandi sambil berlutut di kaki mertuanya namun mertuanya tak mengizinkan.
"Iya ini kesempatan terakhir untuk kamu." Papa Sofyan memeluk Affandi dan Vindya bersamaan.
Perasaan Vindya kacau tak tau harus apa. yg ada di dalam hatinya kini hanya kekecewaan. Affandi yg mengerti akan perasaan Vindya yg mungkin masih belum mau bersamanya, memilih untuk pamit pulang.
Selama di Indonesia Affandi tinggal di rumah orang tuanya dan waktunya di habiskan di rumah sakit mejaga papa Biantara. Keadaan Biantara membaik setelah mendapat kabar dari Affandi bahwa Vindya mau untuk kembali dengannya. Namun Affandi harus bersabar karena Vindya masih merasa sakit hati dan kecewa makanya Vindya enggan untuk bertemu.
__ADS_1