Kesetiaanmu

Kesetiaanmu
Menangis


__ADS_3

Malam masih gelap saat Vindya meninggalkan Arief setelah memastikan bahwa suhu badannya sudah stabil. Vindya naik taxi online yg sudah dia pesan sebelumnya.


Akhirnya Vindya kembali ke rumahnya. Merasa capek Vindya segera menuju kamarnya. Tanpa mengganti baju seragamnya, Vindya langsung menarik selimut. Dengan menggunakan baju seragam lengkap dengan sepatu masih bertengger di kaki Vindya.


Pagi hari rasanya sangat berat bagi Vindya untuk bangun. Tapi dia berusaha untuk bangun, namun Vindya merasa ada sesuatu yg melingkar di atas perutnya. Perlahan Vindya membuka matanya. Dia menemukan sosok yg iya kangenin selama seminggu ini.


Affandi pulang saat Vindya masih tidur dengan menggunakan seragamnya. Vindya yg merasa bahagia langsuk memeluk suaminya yg tengah tertidur pulas.


"Kak Affandi.... aku kangen... kakak pengen ikut ke Jerman." kata Vindya seraya membangunkan Affandi.


"Sayang kakak juga kangen. kangeeeen sekali... tapi maaf kakak belum bisa bawa kamu. tunggu lagi dua tahun ya?" kata Affandi membalas pelukan Vindya.


Vindya beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi. Vindya mengambil air wudhu dan di ikuti oleh Affandi. Vindya menyiapkan sajadah untuk sholat subuh bersama. Affandi sebagai imam dan Vindya sebagai makmum. Setelah sholat Vindya pencium tangan suaminya. begitupin Affandi langsung mencium kening istrinya.


Vindya menyiapkan sandwich untuk Affandi dan dirinya. Karena hari ini hari minggu terakhir libur kenaikan kelas. Vindya hanya ingin menghabiskan waktu dengan Affandi. Namun Affandi kembali ke Indonesia karena ada sesuatu yg harus di selesaikan.


Setelah sarapan Affandi pamit untuk pergi tak tau kemana. Vindya menawarkan diri untuk ikut pun tak di ijinkan. Karena Affandi merasa ini tak ada hubungannya dengan Vindya. Sehingga die tidak mengijinkan ikut dengan alasan biar cepet selesai urusannya dan kembali ke Jerman.

__ADS_1


"Apa aku seposesif itu sampai aku merasa sakit saat aku gak di ijinin ikut" Kata Vindya saat dia terduduk di depan tv sendirian.


"Apa gue ke cafe saja ya... bosen juga di rumah. paling enggak di sana ada mas Bima bisa di ajak ngobrol." Vindya masih dalam obrolannya sendiri.


Tak lama Vindya bersiap untuk ke cafe milik Affandi. Vindya meraih kunci di atas meja kamar tidur dan tak lupa tas punggungnya. Dengan menggunakan baju sweater warna abu abu yg sedikit longgar selutut model dress dan sepatu kets warna ungu Vindya bersiap meluncur. 15Menit Vindya sudah memarkirkan mobilnya di parkiran besmen Mall A.


Masih di parkiran, mata Vindya terhenti pada Honda brio warna merah. Vindya mengira ngira itu beneran mobil Affandi atau bukan. Vindya tak lagi menunggu lama, dia langsung melangkahkan kakinya ke lantai dua di mana cafe itu berada.


Sesampainya di depan cafe, tepatnya di pintu cafe. Vindya melihat sosok suaminya tengah duduk di sebuah meja yg hanya berisi 2 kursi. Langkah Vindya terhenti saat ada seorang perempuan datang menghampiri suaminya dengan santai mencium pipi suaminya. Seorang wanita yg tak asing bagi Vindya. Mona, dialah wanita yg tengan duduk di depan suaminya. Dengan tangan terus menggenggam satu sama lain.


"Hai kak... gak nyangka bisa ketemu di sini." Ucap Vindya senormal mungkin.


"Iya lho.... oh iya lo sendirian kesini? atau lagi janjian?" Tanya Mona kembali memegang tangan Affandi.


"sendirian kak, tadi iseng keluar rumah karena bosen sendirian." Vindya menekan segala perasaan yg kini berada di hatinya kini. "kakak kakak sudah dari tadi?" lanjutnya.


"Aku baru kok, ini aku habis ngurus surat surat terus mampir deh iya kan yang." Kata Mona menjelaskan.

__ADS_1


Yang? what? ada apa ini? hanya bisa terucap dalam hati Vindya.


"Surat apa kak? kepo dong" tanya Vindya memainkan perannya yg sedikit cuek.


"Ini surat gue mau kuliah ke Jerman. yaaa secara cowok gue kan kuliah kesono masak iya gue gak ngikut.... bisa di gondol noni noni entar.... di sini aja banyak yg ngantre." Ucap Mona yg masih di tanggepi kebungkapan Affandi.


"Oh kalian udah jadian.... wah ada PJ dong." kata Vindya sedikit bergetar dan di sadari oleh Affandi.


"bukan PJ tapi PT." ucap Mona sambil menunjukkan cincin di jari manisnya.


"Apa itu PT kak....?" Vinya mencoba mengatur Nafasnya.


"Pajak Tunangan." Mona terus mengembangkan senyumnya. "soalnya nanti kita akan tinggal bareng jadi ya harus ada ikatan dong. Biar kalo terjadi apa apa gampang carinya." Lanjut Mona.


Tanpa pikir panjang lagi Vindya melepaskan cincin kawin yg melingkar di jari manisnya. Vindya meraih tangan Affandi dan meletakkan cincinnya di telapak tangan suaminya. Air mata yg semula tersimpan rapi di balik kelopak matanya kini telah tumpah begitu derasnya.


"Selamat untuk kalian... dan ternyata humairah tak hanya aku seorang. makmum yg seharusnya mengikuti imam tapi kini makmum lebih memilih untuk bendiri sendiri." Vindya berlalu tanpa menoleh meski Affandi terus memanggil manggilnya.

__ADS_1


__ADS_2