
Setelah teman temannya pulang Vindya menghapiri Affandi di ruang kerjanya. Affandi masih belum menyadari keberadaan Vindya di ambang pintu ruangan kerjanya. Vindya hanya memperhatikan suaminya yg tengah serius dengan lembaran lembaran kertas yg ada di hadapannya. Vindya tersenyum tipis ke arah Affandi dengan memegangi perutnya. eh tunggu perut...?? Kenapa ini?
"Kak kenapa lo diem di tengah pintu gini? Jangan bilang lo tersepona ya sama kakak ipar?" Vano melangkah menuju ruangan kakak iparnya.
"Enak aja lo. gue gak mau ganggu doang kok." Kilah Vindya.
"Aku gak akan pernah terganggu kok Vind... jadi lain kali masuk ajak gak usah diem di situ kaya patung selamat datang aja." Affandi
"Enak aja patung." Vindya memajukan bibirnya saat melangkah memasuki ruangan yg lumayan besar dan di susul oleh Nadin.
Nadin yg kini duduk di samping Vano membuat mata Vindya sebagai kakaknya melotot tak percaya. Pasalnya Vano kedapatan merebahkan kepalanya di atas paha Nadin. Dengan lembut Nadin membelai rambut Vano.
Vindya langsung mengarahkan pandangannya pada sang suami. Begitu pun Affandi yg merasa kaget secara refleks menoleh ke arah sang istri. Deheman Affandi keluar saat merasa dirinya berpapasan langsung dengan tatapan Vindya.
"Kenapa dah kalian?" Tanya Vano merasa heran dengan kelakuan kedua kakaknya.
Tanpa mikir panjang lagi Vindya langsung mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya.
"Hallo pa"
"iya sayang kenapa?"
"Pa.... mending Vano cepet nikahin dah.... dari pada berbuat dosa terus pa."
"Dosa gimana maksud kamu?"
"Ya dosa ini aja Vindya lagi sama Vano yg lagi tidur di pangkuan ceweknya."
Mendengar hal itu Vano langsung melonjak dan mengambil hp milik kakaknya. Tanpa permisi Vano langsung mematikan telfon untuk papanya.
__ADS_1
"Lo kenapa da...?" Tanya Vano.
"Kaya gini gaya pacaran lo dek? Kaka hawatir kalian itu melakukan hal yg lebih dari ini." Suaran Vindya meninggi yg menunjukkan bahwa dia tak sedang bercanda.
"Terus maunya gimana?" Tanya Vano sedikit melemah.
"Mending kalian nikah saja.... ya minimal kalian tunangan dah.... dosa dek dosa." Vindya menasehati adiknya.
"Kakak juga dosa sudah gak menjalankan kewajiban seorang istri. Kasian kak Vano tidurnya kedinginan tanpa elo kak" Vano berkilah.
"Kok gue di bawa bawa?" Kini Affandi berucap.
"Ngaku aja lo kak, gak mungkin lo lupa kan gimana Vindya tidur. gue sengaja tanyain itu ke elo supaya lo nunjukin setatus lo di depan Arief meski tak langsung."
"Kok sekarang Arief di bawa bawa." Kaget Vindya saat denger nama Atief di sebut.
"Lo gak usah munak... Lo tau Arief suka sama lo kan kak tapi lo tutup mata."
"Gua mo pulang. dan Nadin lo ikut gue, lo juga pulang sekarang Van." Kini mata Vindya memerah karena emosi.
"Yaahh bakalan perang nanti." Ucap Affandi Lirih.
"shoping aja yuk sayang" Affandi mencoba merayu Vindya namun tak berhasil.
Vindya dengan menarik tangan Nadin memasuki mobil Affandi. Entah apa yg ada di kepalanya sekarang. Amarah Vindya bener bener memuncak kali ini. Tak butuh waktu lama mobil Affandi memasuki gerbang rumah Vindya. Di susul dengan mogenya Vano dari belakang.
Vindya langsung masuk rumah tanpa mengucap salam langsung mencari mamanya ke kamar. Setelah mendapati mamanya di kamar Vindya menarik tangan mama Agnes keluar menuju ruang keluarga. Tak lama papa Sofya datang karena telfon Vindya tadi.
"Ada apa sebenarnya Vindya? Kenapa kamu mengumpulkan semua orang di sini?" Tanya papa Sofyan namun tak mendapat jawaban.
__ADS_1
"Nad, lo cinta sama adek gue?" Tanya Vindya yg di angguki ragu oleh Nadin.
"Lo siap nikah muda?" Lanjut Vindya.
"Kalo sama Vano siap. kalo sama yg lain gak siap." Kini Nadin mengeluarkan suaranya.
"Pa nikahin mereka. Vindya gak mau punya adik yg terlibat pergaulan bebas pa." Pungkas Vindya yg membuat semua orang yg berada di ruang keluarga kaget.
"Gue gak mungkin lakuin itu lah kak." Elak Vano.
"Lo gak lakuin itu tapi lo santai sekali tidur di paha Nadin." Suara Vindya kini meninggi.
"Tapi gue takut kalo gue nikah sama Nadin terus gak bisa nahan napsu lagi gimana kak." Ucap Vano lirih.
"Lo bisa pakek pengaman Nadin juga bisa pasang KB." Ucap Vindya renyah seakan dirinya juga melakukan itu.
"Kak Fandi juga pakek pengaman?" Tanya Vano yg membuat Affandi terkaget.
"Ha...!! Ha!! gu... gu... gue ga... ga...k pakek apa apa." Jawab Affandi semakin pelan suaranya karena malu.
"Terus kenapa kak Vindya gak hamil kak?" Nadin menanyakan.
"Kok jadi bahas gue sih?" Vindya kelabakan.
"Ya karena kakak yg duluan menikah saat sekolah to." Jawab Mama Agnes mencoba mengerti.
"Udah pokoknya Vindya mau mereka menikah pa.... Vindya gak mau Nadin kenapa kenapa." Ucap Vindya khawatir.
"Ya sudah gue mau nikahin Nadin minggu depan. Puas lo Vind!!!" Ucap Vano penuh penekanan.
__ADS_1
"Ya gue puas dan gue yg akan menyiapkan semuanya." Kata Vindya sambil tersenyum lebar.
"Tapi lo punya hutang penjelasan sama gue. Kenapa lo belum hamil juga. udh setahun nikah." Vano melirik penuh kemenangan.