Kesetiaanmu

Kesetiaanmu
Maaf


__ADS_3

"Gue mau Van, tapi ini masih sore. Apa enggak nanti maleman saja Van?" Vano melihat jam dinding yg masih menunjukkan di angka setengah 5.


"Masih lama dong, gue udah gak tahan Nad sumpah nyiksa banget. Ya udah kita sholat Ashar dulu kali aja mau sedikit redaan."


Vano mengambi air wudhu dan di ikuti oleh Nadin. Vano mencoba menahan lebih tenang dan memulai sholat dengan posisi sebagai imam sholat bagi Nadin. Setelah salam Vano yg biasanya langsung memberikan tangan untuk di cium oleh istrinya. Kini Vano memilih berdoa terlebih dulu baru dia menghadap ke arah istrinya.


"Nadin Abimana Putri istri dari Vano Prasetya Herlambang. Di hadapan orang tua kita gue pernah berjanji untuk setia sama lo. Janji bahagiain lo. Di depan penghulu juga para saksi nikah kita lo berjanji menemani setiap langkah gue dan mendukung gue. terus berada di sisi gue dalam keadaan apapu." Vano menjeda dengan mencium kening Nadin selaku istrinya. "Nad gue mau memulai usaha kecil untuk menafkahi lo dan anak anak kita nanti. Gue terus berfikir selama ini mau menjual motor untuk modal usaha. Untuk kendaraan kita nanti, kita bisa beli motor biasa saja Nad." Ucapan Vano terhenti ketika Nadin memeluk suaminya.


"Apapun keputusan lo sayang, gue akan terus mendukung selama itu untuk hal yg positif. Gue gak masalah kalopun harus naik angkot kemana mana, asal sama lo Van. Gue istri lo yg akan selalu ada di belakang lo untuk mendukung lo bukan cuma di depan lo untuk di pamerin." Ucapan Nadin membuat tenang Vano.


"Love you sayang." Bisik Vano di telinga Nadin.


"Lo bilang cinta sama gue?" Tanya Nadin dengan di angguki kepala oleh Vano.


Nadin langsung mencium bibir Vano. Vano diem sesaat karena kaget, sesaat kemudian berganti dengan lumatan. Ciuman Vano dan Nadin semakin panas. sesuatu yg mereda kini ternyata bangkit kembali.


"Pindah yuk yang, lo udah bangunin macan tidur." Vano berbisik sambil melepas mukena yg di kenakan Nadin.


Vano membimbing Nadin ke ranjang dan mendudukkan Nadin di pangkuannya. Vano kembali mencium bibir Nadin. Nadin membalas ciuman yg berganti dengan lumatan di bibirnya. Vano mengambil tangan Nadin dan melingkarkan di lehernya.

__ADS_1


Ciuman Vano yg beralih ke leher membuat Nadin hilang kendali dan mengelurkan rintihan rintihan kecil. Kini tangan Vano mulai mengelus punggung Nadin dan Nadin menahan geli aneh dari dalam dirinya dengan ******* rambut Vano. Tanpa sengaja Vano meninggalkan tanda kepemilikannya di leher samping kiri Nadin.


Vano menidurkan Nadin di tempat tidur dengan masih menciuminya. Ciuman Vano keseluruh tubuh Nadin membuat baju Nadin berantakan. Melihat itu Vano tersenyum kecil yg membuat Nadin merasa aneh.


"Kenapa lo senyum senyum gitu Van?" Nadin mengeryitkan dahinya.


"Gak ada, cuma berfikir saja." Jawab Vano sambil melepas bajunya.


"Berfikir apa?"


"Mulai saat ini gue bakalan miliki lo selamanya. Luar dan dalam. kalo sakit bilang ya sayang." Jawab Vano dengan Aksinya.


"I love you Nadin Abimana Putri."


Seketika Nadin teriak dan membuat Vano berhenti sesaat. Di lihat kembali istrinya yg ternyata juga melihatnya.


"Lanjutkan Vano gue bisa menahan sedikit. I love you too sayang." Ucapan Nadin membuat Vano mengangguk dan semakin membenamkan miliknya.


Setelah sudah penuh kedalam Vano kembali berhenti sejenak lalu melanjutkan. Vano melihat Nadin sedikit menikmati, Vano malah mencabut miliknya.

__ADS_1


"Kenapa?" Tanya Nadin.


"Gue gak mau lo hamil dulu di saat kita masih SMA. Kalo gak gara gaara mama, gue masih bisa tahan Nad." Vano mengenakan sesuatu di itunya.


Vano kembali melakukan percintaan lagi dengan Nadin. Vano dan Nadin terlelap setelah mencapai puncak.


Vano masih tertidur pulas ketika Nadin bangun dan membersihkan diri. Nadin melihat Jam sudah jam 8.


"Ya Allah kelewatan sholat magrib."


Nadin langsung mandi dan setelah itu Nadin ke dapur untuk memasak makan malam. Vano mendapati Nadin setelah makan malam siao di sajikan.


"Sudah mandi?" Tanya Nadin sambil menata makanan di atas meja.


"Sudah, lo sudah?" Jawab Vano sambil menarik kursi makannya.


"Masih sakit?" Tanya Vano lagi.


"Masih dikit, perih" Jawab Nadin Dengan senyuman menghiasi bibir tipisnya.

__ADS_1


"Maaf"


__ADS_2