Kesetiaanmu

Kesetiaanmu
Rencana


__ADS_3

Acara pertunangan Vano dan Nadin pun berjalan lancar. Kedua keluarga sepakat kalo akhir kelas 1 mereka baru bisa melangsungkan pernikahan. Vindya yg tadinya tidak setuju karena mengingat gaya pacara mereka akhirnya pasrah.


"Kamu kenapa manyun sayang?" Tanya Affandi.


"Ya kakak tau sendiri masih butuh 4 bulan untuk ujian kenaikan kelas kak.... tapi mereka pacaranya kaya gitu. Takut Vindya."Ucapnya sebel.


"Apa yg sayang takutin sih....??? Lebay deh ah...." Affandi menempati tempat duduk di samping Vindya.


"Ya mereka lah. Gaya pacaran mereka pastinya"


"Gak usah takut, mereka sudah dewasa pasti tau mana yg bener dan mana yg salah." Affandi kembali menghibur Vindya.


"Takut kebobolan kak." Vindya menundukkan kepala.


"Vindya liat kakak. Jujur dulu kakak dulu juga gitu tapi setelah punya tanggung jawab kakak bisa berfikir dan bisa memilih antara kesenangan sesaat atau kebahagiaan akhirat." Affandi sedikit bercerita tentang masalalunya.

__ADS_1


"Kakak bisa ceritakan ke Vindya seperti apa kakak dulu? Vindya yakin kalo Vindya bukanlah orang yg pertama untuk kakak." Vindya menoleh ke arah Affandi.


"Bisa tapi gak di sini." Affandi menggandeng tangan Vindya menuju kamar Vindya.


Vindya menurut dan mengikuti langkah kaki sang suami. Namun langkah mereka terhenti ketika melintasi para orang tua duduk.


"Pa ma boleh Affandi nginep sini? Affandi kangen sama Vindya." Ucapan Affandi membuat Vindya mematung sesaat dengan menatab penuh tanda tanya pada suaminya.


"Bo...boleh kok nak... Vindya kan istri kamu." Jawab mama Agnes melirik ke arah Sofyan suaminya saat sebelum mengangguk setuju.


"Kayaknya salah deh pa kalo kita lama lama misahin mereka gini pa." Kata mama Agnes memulai pembicaraan.


"Iya pa, gara gara memancing mereka yg ada Vano yg harus menerima resikonya. MENIKAH MUDA." Ucal Vano penuh penekanan.


"Maafin papa Van... ini semua demi kakakmu juga. kamu mau kakakmu itu jadi JANDA MUDA?"

__ADS_1


"Iya pa Vano tau tapi Arief semakin terang terangan mendekati Vindya pa. Vano gak bisa ngerti sama kakak ipar itu kenapa gak peka peka sih jadi orang."


"Yg sabar Vano, kakakmu Vindya itu emang polos dan mama liat juga kakak iparmu itu polos juga."


Flasback on


"Bi... lo keterlaluan perlakuin anak gue" Kata papa Sofyan memaki Biantara orang tua dari Affandi di dalam telfon.


"Ya saya minta maaf Yan... ini semua gara gara Barata sialan itu mengancam akan menuntut dan akan menghancurkan bisnis keluarga. Gimana saya bisa memperbaiki ini tanpa harus membuat Vindya dan Affandi bercerai? Saya tau ini salah dari kami. tapi saya mohon Yan.... bisa gila anak saya. Affandi terus menyalahkan diri. dia tidak mau makan dia terus menghukum diri di kamar."


"Saya gak bisa bantu apa apa Bi karena saya tau anak saya itu kecewa bahkan saat saya mengajaknya mengurus surat cerai dia tidak takut sama sekali. gini saja bisakan lo pura pura sakit jantung dan di rawat di rumah sakit yg nanti saya kabari lagi di mananya. Saya tau Vindya itu orangnya gak bisaan. Gampang sekali tersentuh. tapi sekali dia kecewa akan lama mengobatinya. tapu gak menutup kemungkinan untuk memaafkan. tapi hanya butuh waktu...."


"... saya punya rencana saat kamu sakit biarkan Vindya tinggal bersama kami dan Affandi di rumah kamu... intinya mereka di pisah saja, kalo mereka sudah menyadari saling membutuhkan pasti mereka akan mencuri curi waktu bersama dan saat itu kita kasi mereka kembali bersama. Hitung hitung hukuman juga buat Affandi sekaligus ujian buat dia." ucap Sofyan dengan rencananya.


"Ya sudah saya setuju."

__ADS_1


Flasback off


__ADS_2