Kesetiaanmu

Kesetiaanmu
Jangan meremehkan orang


__ADS_3

Kepulangan Satya ke rumah yang di tinggalinya dengan Bian ternyata membuatnya terluka. Luka yang di buatnya sendiri tentunya. Satya memang sudah sebulanan tinggal di rumah orang tuanya selama pemulihan.


Meratapi nasibnya yang tak pernah di bayangkan sebelumnya. Kehadiran masalalu yang malah menghancurkan masa depannya.


“Dimana kamu saat ini Bi? Aku rindu, aku butuh kamu. Aku minta maaf sudah tak mendengarkanmu, aku memang sangat bodoh yang lebih memikirkan orang lain dari pada perasaanmu,” ucap Satya dalam keheningan malamnya.


Duduk di balkon kamarnya dengan berharap akan melihat sang istri meski hanya sekedar lewat. Terlalu naif memang jika masih berharap istri yang memiliki ego tinggi untuk kembali padanya.


Malam terus melanjutkan gelapnya, karena tak akan berubah meski Satya mati karena kesepian. Sebelum sang Fajar mengetuk pintu malam, udara semakin dingin menusuk relung hati Satya yang kosong.


Sama seperti hati Bian yang juga merasa kesepian di kontrakan kecilnya. Berada di tengah tengah warga yang suka bergunjing. Bian kadang berasa sangat jenuh. Mendengar kejelekan si A kejelekan si B dan si C, D, E, atau F.


Bian hanya menyimak dan tanpa rasa tertarik seikitpun untuk berkomentar. Bian merasa jika dirinya tidak ada, maka giliran dirinyalah yang menjadi bahan gibah untuk mereka. Karena itu, dirinya memilih untuk diam dan mendengarkan saja.


Bian bekerja dari subuh dan akan pulang setelah pekerjaannya selesai. Jika majikannya menginginkan dirinya memasak untuk makan malam. Maka itu di hitung lembur.


Gara: Bian, tolong besok lu beliin pembalut.


Bian: Apaan? Pembalu? Buat siapa? Elu ganti gender?


Gara: Enak aja lu ngomong. Itu jempol kagak pernah sekolah apa?


Bian: Kagak, gua kalo sekolah jempolnya di kantongin gua simpen di lemari. Ngapa emangnya?


Gara: Pantes kagak pinter.


Bian: hadeeeehhhh, kenapa emangnya?


Gara: pacar gua dapet dia lagi di sini.


Bian: Buakakakakaka kagak bisa ena ena dong lu,


Gara: Bacot bacot bacot, di jaga kalo enggak gaji di potong.


Bian: Silahkan di potong, besok pagi bisa di pastikan anda muntah linggis. Dan tolong jangan cari saya


Gara: lu mau nyantet online gua?


Bian: hahaha iya, lu mau keluar apa? Linggis apa paku?


Gara: kalo bisa keluar Pizza aja gimana?


Bian: jorok lu, udah besok gue bawain. Gue ngantuk. Bye!!


Bian mengakhiri chat gak pentingnya dengan Gara sang majikan. Gara da Bian memang ketemu di pagi hari saja. Tapi kearaban mereka terjalin di media sosial seperti WhatsApp.


Malam semakinlarut menenggelamkan kesadaran para pejuang receh untuk menyambut esok hari. Setelah sholat Subuh, Bian langsung ke rumah majikannya yang ada di ujung gang.


Dengan mengendarai sepedah motor yang di fasilitasi oleh majikannya. Bian sampai ke rumah besar itu lebih cepat.


Setelah sampai di rumah itu, Bian langsung membersihkan ruang tamu yang sudah seperti kapal pecah. Setelah itu di lanjut ke ruamh makan yang tak kalah berantakannya. Bian selalu menggerutu saat membersihkan kedua ruangan itu.


“Apa gak bisa gitu kalian untuk membuang sampah di tempatnya. Apa gunanya juga tempat sampah ada banyak kalo masih membuang sampah sembarangan!!!” gerutu Bian yang di dengar oleh wanita yang seumuran dengan dirinya.


“Terus apa gunanya pembantu kalau masih harus membersihkan sendiri?” sahut ketus wanita yang baru turun dari anak tanggak.


“Kalau menanyakan gunanya gue di sini. Jawabannya cuma satu, menggoda Rico Anggara.” jawaban berani yang terlontar dari bibir tipis Bian membuat Yoga yang mengintip dari balik pintu kamar pun tertawa pelan.


“Gila, pembokat jaman sekarang, pinter membantah semua ya!!” gadis itu semakin kesal di buat oleh Bian.


“Pembokat jaman sekarang jauh lebih penter dari pada majikan, Nona.” jawab Bian lagi dengan berani melawan gadis itu.


“Maksud elu, gue **** gitu!!!” Emosi gadis itu ternyata langsung tersulut ketika mendapat pecikan api dari Bian.


“Maaf, saya belum mengatakan apapun. Tapi anda sudah menyimpulkan semua secara sepihak. Jadi anda terlalu pintar Nona,” ucap Bian yang sebenarnya menyindir gadis di depannya.

__ADS_1


“Gue memang pinter lah, Bisa di lihat dari penampilan gue,” gadis itu terus membanggakan dirinya.


“Benarkah? Tapi sepertinya saya lebih pintar dari anda dalam mengurus rumah. Apa anda tau kalau saya itu merupakan calon menantu idaman?” Bian mengatakan yang membuat jiwa keangkuhan seorang gadis terpancing.


“Jangan mimpi kamu pembokat, gue bisa buktiin kalau gue jauh lebih baik dari pada elu. Dan gue lah yang pantas menjadi menantu di rumah ini,” Jawab gadis angkuh di depannya.


Kena kau, Bian senyum sinis memandang ke arah gadis itu.


“Coba tunjukkan, ini lap dan kresek sampahnya.” Bian menyerahkan alat alat kebersihan yang di pegangnya.


Yoga yang menjadi penonton pun tertawa tak henti henti di dalam kamar. Calon adik ipar yang paling di cintai oleh sang superstar di kerjai oleh pembantu.


“Sungguh cerdas kamu Bian, Bahkan Gara pun tak berani pada Sheila. Tapi elu bisa membuatnya menggantikan posisimu,” Yoga berkata di sela tawanya dalam kamar.


Setelah membereskan meja tamu dan meja makan. Bian baru mengakui jika calon dari majikannya itu sangatlah rajin. Namun raut waja yang di tunjukkan oleh Raga membuat Bian merasa puas. Raut wajah yang terlihat masam mampu mengundang tawa siapapun yang melihatnya.


“Good job baby,” bisaik Yoga yang sudah puas tertawa di dalam kamar.


“Hari ini kamu gak saya gaji sama sekali.” Teriak Gara yang melihat Sheila, orang yang paling di cintainnya di perlakukan selayaknya pembantu oleh pembantunya sendiri.


“Ya sudah saya pamit pulang,” jawab santai Bian yang mengambil tasnya.


“Enak saja, terus untuk apa kamu saya gaji kalo datang terus ngerjain orang lalu pergi gitu saja?” Gara semakin geram dengan perlakuan Bian padanya.


“Buat apa gue capek capek kerja kalau gak di gaji? Maaf tuan saya pembantu yang bantuan saya itu bernilai rupiah. Bukan hinaan yang anda lontarkan seenak anda,” semakin Bian melawan semakin membuat Gara hilang kendali.


“Kan elu buat tunangan gue bersiin meja makan sama meja tamu. Itu kerjaan elu,” nada tinggi yang di keluarkan Gara untuk Bian membuat bian tertawa.


“Hahaha, tuan muda Gara, anda mengaku jebolan SMA yang sama dengan saya, tapi kenapa anda sangat bodoh sih? Coba anda fikir lagi baik baik. Apa orang tua anda akan menerima tunangan anda ini jika dia saja tidak tau caranya membersihkan sebuah meja? Terus bagaimana dia akan membersihkan nama baik anda nanti kalau tersandung skandal?” Tanya Bian yang membuat Gara kembali berfikir.


“Bener juga sih, apa lagi mama gila sekali kebersihan. Ya sudah Shei lain kali kamu belajar masak juga. Makanan kesukaan mama itu sambal goreng kentang sama ati,” Gara membenarkan apa yang di sampaikan oleh Bian.


Tak sanggup lagi menahan tawa. Yoga pamit kembali ke kamarnya dan tertawa sepuas dia mau. Yoga keluar karena mendengar adiknya berteriak pagi pagi. **** banget adek gua emang, ya Tuhaaaannnn. Batin Yoga terus mengutuki kebodohan sang adik yang katanya seorang superstar.


Ketika di sebuah rumah besar ribun dengan kekacauan yang di perbuat oleh Bian. Maka kekosongan di rumah mewah pun sangat terasa ketika Bian meninggalkannya.


Nurul dan Arkan membuyarkan lamunan Satya di ruang tamu. Dengan hanya menyebar kertas di meja, Satya mengatakan jika dirinya tengah sibuk.


“APa kamu gak kesepian Bang?” Tanya Nurul yang duduk di samping suaminya.


“Kesepian, tapi ini adalah hukuman yang harus Abang terima Dek. Bian sudah mengatakan sebelumnya, dan gue cuma menganggapnya sebagai gertakan sambal saja.” Jelas Satya yang masih menyesali apa yang sudah di ambilnya


“Apa Abang gak ada niatan untuk mencari Bian?” Nurul kembali mempertanyakan hati yang kini tengah galau.


“Abang pengen sekali dek mencarinya. Tapi apa Bian mau memaafkan Abang? Abang di beri pilihan sama Bian. Menemui Linda dan melupakan Bian atau tetap di sisi dia dan tak menemui Linda sama sekali.”


Mendengar nama Linda di sebut membuat Nurul naik pitam.


“Sudah berapa kali sih Abang Adek harus bilang? Linda itu gak baik Bang. Bahkan keluarganya juga gak baik!!” teriak Nurul karena dia kembali mengingat Abang kandungnya yang meninggal secara mengenaskan.


Kecelakaan yang di sengaja oleh seorang Linda masih membekas di benak Nurul. Wanita hamil itu menceritakan kepada Satya betapa kejamnya keluarga Linda pada keluarganya.


Mulai dari kematian Nurman kakak dari Nurul. Sampai kejahatan Mama Linda yang menggoda papanya. Linda bukan cuma memberikan luka pada hati Nurul, tapi juga memberi luka pada keluarga besar Nurul.


Setelah menenangkan wanita hamil yang tengah tersulut emosi. Satya mengajak kedua orang itu untuk menemaninya ke cafe yang berada di dalam mall besar.


“Mau, tapi Abang belikan aku mangga ya?” Rengek Nurul yang memang sudah marah pada Satya.


“Emang sudah musimnya?” Tanya Satya yang setau dia buah mangga itu berbuah musiman dan saat ini masih belum musim mangga.


“Ya kita lihat lihat saja nanti di marketnya Bang.” Kembali wanita hamil ini merengek.


“Ya sudah ayok,” akhirnya senyum kembali mengembang dan menghiasi wajah ayu milik Nurul.


Di sisi Bian dia tengah asik memasak dengan segala menu yang di pesan oleh Gara. Yu Gara hari ini mau makan malam bersama calonnya di rumah.

__ADS_1


Selesai memasak,Bian berniat untuk pulang. Namun di halangin oleh Yoga.


“Makanlah dulu sebelum kau pulang,” ucap Yuga yang tumben sekali bernada lembut.


“teima kasih Pak, tapi aku gak di gaji untuk ikut makan dengan kalian,”


Yang ada di fikiran Bian saat ini hanya Uang, uang dan uang. Bahkan dia bisa mengatakan super star yang ada di rumah ini tidak lah tampan seperti yang orang katakan. Bian selalu berbiara sedikit namun bermanfaat.


Karena dia selalu berkata dia di gaji untuk bekerja bukan untuk ngobril, di akhir kata. Memang benar apa yang di katakan Bian, bagi orang yang mengenal dia sebelumnya. Sudah pasti akan mengetahui jika dirinya tengah membangun tembok pembatas.


“Baiklah, aku akan membayar mu untuk makan disini menemani kita semua,” Yoga mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu yang di sodorkan pada Bian.


“Bian jangan menolak, temani aku ya, malas lah aku kalau ada orang itu, suka manja kali sama si Gara,” kali ini Susi yang menjadi asisten pribadi Gara yang menyodorkan dua lembar uang ratusan ribu pada Bian.


Mayan juga nemenin makan malah di bayar, Batin Bian.


“Baik lah, siniin uang kalian,” Bian mengambil uang dari kedua orang itu.


Duduk di samping Yoga dan di depan Susi membuatnya sedikit nyaman. Ikut makan dengan majikannya beramai ramai. Mengingatkan Bian saat makan bersama dengan suami dan kedua mertuannya yang paling dia sayangngi.


Sejenak Bian melamun sebelum Susi mengambilkan makanan untuk dirinya. Di lanjut dengan yoga yang mengambilkan lauk untuknya. Membuat Sheila menjadi isri dan cemburu pada pembantu serasa majikan.


“Di sini siapa sih yang jadi majikan? Kenapa pembantu yang di layani?” Tanya Sheila dengan nada tidak suka.


“Majikannya itu kamu dan dia tamu ku,” Jawab Yoga menunjukkan ketidak sukaannya pada Sheila yang sangat memandang rendah sebuah derajat.


“Sudahlah pak Yoga, kalau dia gak suka ya biarin saja dia pergi.” Jawab Bian yang memang selalu cuek membuat Yoga dan Susi suka dengan kepribadian pembantu yang baru saja sebulan melayani mereka dengan baik.


Makanan yang di masak oleh Bian selalu menggugah selera. Sehingga tak jarang jika Gara memintanya untuk memasak lebih.


Makan malam kembali dengan keheningan. Hanya dentingan sendok dan garpu yang berbenturan dengan piring yang terdengar. Setelah selesai makan malam, Bian langsung mencuci piring bekas makan malam.


“Elu langsung pulang atau sekalian nginep disini?” Tanya Gara yang bermaksud untuk menyidir.


“Kalau elu yang menyiapkan kamar tamu sih gue gak keberatan,” ucap Bian santai.


“Jangan ngarep,” ucap Gara jengkel yang malah membuat Susi dan Yoga tertawa.


“Sudah jangan ngambekan jadi bujang. Jadi bujang lapuk baru tau rasa lu. Sekarang bayar gaji gue,”  sumpah serapah Bian terlontar sebelum meminta haknya yang memang belum di berikannya.


“Oh iya, kenapa gue bisa lupa ya. Bentar tunggu di sini jangan ikut ke kamar,” ucap Gara memperingatkan Bian.


“Halah, gak ada orang juga gue ke kamar elu.” jawab santai Bian.


“Ngapain elu ke kamar gue? Pasti elu mau guna guna gue ya?” Tuduh Gara pada Bian.


“Hidih najis, biar gue pembokat elu ya. Kalo gue udah ngeluarin jurus ampuh gue, kelar idup elu.”jawab Bian yang gak terima di tuduh majikannya.


“ Serah elu. Terus lu ngapain masuk ke kamar gue?” Tanya Gara kembali.


“Ya bersiin kamar elu yang kaya kandang sapi lah. Gitu aja lu masih nanya, gue jadi ragu elu lulusan di SMA yang sama ma gue,” jawab Bian sedikit ngegas.


“Hahahahaha otak elu udah karatan paling di dalam Ga,” ledek Yoga selaku kakak kandung Gara.


“Sialan kalian semua, sudah lah gue mau ambil gajinya si bar bar ini. Inget beli baju yang bener. Masa lu kerja di rumah super star tapi baju elu compang camping kaya gitu.” ucap Gara sebelum meninggalkan pembantu dan juga yang lainnya.


Bian memang memakai baju yang biasa di kenakannya. Namun di mata Gara itu tidak lah cocok untuk di kenakannya.


“Ini, gajimu bulan ini.” Gara menyerahkan amplop yang langsung di buka oleh Bian dan di hitung berapa gaji yang pertama di dapatnya.


“Gue bersyukur sekali dapat segini banyak, tapi kalau elu berani mengomentarin penampilan gue, seharusnya elu mikir dulu ngasih gue duit segini. Baju yang elu kata compang camping ini,” Bian mengangkat kaosnya sedikit.


“Ini harganya empat ratus lima puluh sembilan. Dan Celana sobek sobek ini yang paling murah gue punya, harganya sekitaran empat juta sekian, silahkan lihat sendiri merk yang gue pakek. Ini original, bukan kw seperti yang calon elu kenakan,” Celetuk Bian yang membuat Susi tercengang dengan outfit yang di kenakan pembantunya.


Siapa sebenarnya pembantuku saat ini? Itu lah pertanyaan yang ada di benak Yoga.

__ADS_1


“Tenang aja, gue masi akan ke sini besok pagi. Dan elu selalu memuji masakan gue kan? Itu masakan yang gue pelajari dari universitas Jakarta. Jadi taukan elu? Jangan pernah meremehkan orang begitu saja karena popularitas yang elu miliki. Inget, elu masih memerlukan gue untuk membantu elu!!,” Seru Bian sebelum meninggalkan keempat orang yang penasaran siapa yang menjadi pembantunya saat ini. Apakah dia seorang penggemar yang jahat? Entahlah hanya dia yang tahu.


__ADS_2