Kesetiaanmu

Kesetiaanmu
Fariz kemana?


__ADS_3

Mobil melaju dengan kecepatan maksimal membawa mereka berdua ke kafe Cinta di mana Billa berada. Wina langsung keluar dan berlari mencari mamanya, dengan air mata yang masih mengalir deras.


Tak bisa lagi Fariz berfikir, karena Wina sudah mengungkapkan kenapa dirinya mencari lelaki tak punya. Bukan untuk di rendahkan, tapi untuk membantu papanya untuk bekerja di perusahaannya. Fariz mengikuti Wina dari belakang, dengan langkah santai nemuju ruangan office.


Sesampainya di ruangan orang tuannya bekerja. Fariz mendengar jika Wina selaku istrinya, tengah mengadukan apa yang di alami.


Tangisan dan air mata menjadi bukti jika hati Wina kini tengah sakit. Fariz berjalan mauk tanpa menyangkal atau meyela aduan sang istri. Karena Fariz merasa itulah yang benar meski dia memiliki alasan lain, dia memilih tenang.


“Apa semua itu benar Fariz?” tanya Billa yang memberikan tatapan tajamnya.


“Kalau itu yang Wina katakan berarti itu yang benar ma,” ucap Fariz yang tak mau menyalahkan istrinya.


“Kenapa kamu lakukan itu semua pada anakku!!” kini suara yang teramat keras keluar dari mulut seorag ibu yang mendengar jika anaknya tak di perlakukan selayaknya seorang istri.


Fariz hanya diam tak mau menjawab. Bukan karena takut, tapi Fariz tak ingin jika Wina akan lebih emosi lagi dari ini. Fariz diam sesaat sebelum meminta maaf pada kedua orang tua Wina yang saat itu sudah menunjukka rasa tak percaya dan marahnya pada menantu kebanggaannya.


“Maafkan Fariz ma, Fariz tak bisa menjadi suami yang baik untuk Wina,” itulah kata yang terucap dari Fariz sebelum mendapatkan tamparan dari Revan,


Plak


“Kamu fikir anak saya itu apa?” Amarah Revan tak lagi bisa di hindari karena Fariz sudah membuat putrinya menangis.


“Maaf, Fariz tau kalau salah. Tapi apa tidak ada kesempatan kedua untukku pa?” Tanya Fariz sopan.


Warna merah membentuk jari empat di pipi Fariz, menandakan betapa kerasnya tamparan Revan. Seakan tak merasa apa apa, Fariz malah meminta kesempatan kedua pada mertuannya.


“Apa kamu fikir kamu itu lelaki yang sempurna? Jangan harap kamu bisa kembali bersama dengan anak saya!” seru Revan dengan segala kemarahan yang terluang di dalam perkataannya.


“Baiklah, aku akan meninggalkan Wina bersama dengan papa dan mama untuk sementara waktu. Tapi ketika aku mejemputnya, semua akan baik baik saja. Wina itu sudah hak Fariz seutuhnya, Milik Fariz sepenuhnya.” Fariz mengingatkan siapa dirinya untuk Wina.


“Jangan harap Wina bisa kembali padamu!! camkan itu,” Amarah Revan semakin menjadi.


Wina yang masih menangis di pelukan mamanya pun merasa sedikit iba. Wina kembali mengingat kebaikan Faris padanya. Wina semakin menangis saat suaminya meninggalkannya dari pada mempertahankannya.


Fariz pergi meninggalkan cafe setelah menitipkan pekerjaannya semalam, yang menjadi materi utama untuk meeting. Fariz malajukan mobilnya dengan kecepatan yang sangat cepat. Bukan pulang ke rumahnya, tapi Fariz memilih pulang ke rumah Mentari.


Membawa seikat bunga mawar yang berjumlam sembilan puluh sembilan. Fariz datang mengunjungi makam Mentari yang berada di belakang rumahnya. Terawat dan juga di bangun dengan sangat indahnya.


Faris mengeluarkan semua keluh kesahnya di hadapan pusarah sang istri. Tangisan Fariz pecah dan papa Mentari hanya mampu memandanginya dari luar.


Setelah Faris keluar dari area makam, papa Mentari mengajaknya berbicara sebentar. Dengan membawa anak mantu yang di tinggal meninggal putrinya ke kamar Mentari. Papa Mentari menceritakan sejak kapan Mentari mengagumi sosok Fariz.


Pertama kali menceritakan Fariz pada mamanya. Dan bahkan Mentari pernah mengambil foto Fariz secara diam-diam pas study tour di Malang. Dengan beberapa gaya Fariz memetik buah apel tanpa di ketahui.


Fariz menangis sejadi jadinya mengingat hari itu. Setau dia, saat itu Mentari tak jarang meminta bantuannya. Tapi karena malu, Fariz berusaha untuk menghindarinya. Kalau tidak salah study tour terjadi ketika masih duduk di bangku SMP kelas dua.


Tak mampu membendung lagi air matanya ketika melihat lemari yang tak pernah boleh di sentuhnya. Ya… Mentari selalu melarangnya untuk menyentuk lemari kayu di samping meja riasnya.


Perlahan papa gadisnya itu membukakan lemari itu. Menunjukkan apa yang ada di dalamnya, Fariz sangat terkejut dengan apa yang ada di dalamnya. Hampir semua yang ada di dalamnya itu adalah barang pemberian Fariz.


Sejauh apa istrinya dulu mencintainya? Fariz hanya bisa meratapi semua yang tak pernah ia ketahui. Penyakit yang datang di tahun terakhir kebersamaan mereka, membuat Fariz sangat terpukul.


Tak ada lagi kesempatan baginya untuk bisa membahagiakan wanita itu lebih dari satu minggu. Banyak kata yang ingin terucap, namun hanya air mata yang mewakili bibirnya yang keluh.


“Menginaplah kamu di sini nak, kasian kamar ini selalu kosong setelah MEntari kau boyong ke rumah besarmu,” ucap seorang papa yang terlihat sangat merindukan senyuman sang putri yang sudah bermain di atas awan.

__ADS_1


“Baiklah pa, dalam beberapa hari aku akan tinggal disini,” Fariz memang menceritakan masalahnya dengan Wina.


Di sini dirinya bisa bertemu dengan ibuknya yang sangat ia rindukan. Setelah langit sedikit meredup, Fariz pamit untuk menemui orang tua tunggalnya yang masih setia melayani majikannya.


Dari kejauhan Fariz sudah bisa melihat ibu tercintanya yang tengah mengaak main Idham. Dengan semangat, Fariz berlari ke arah sang ibu tua tercintanya. Tanpa melihat kiri dan kanan lagi, Fariz langsung menyebrak jalan dan….


Ciiiiittttttt


Bruk!!!


Darah yang keluar bukan hanya milik Fariz, namun juga milik pengendara itu. Pengendara yang tak mengenakan helm, telah menabrak Fariz yang tak memperhatikan jalannya.


Ibu Fariz teriak histeris dengan terus memanggil nama putranya. Fariz tak sadarkan diri ketika ambulan datang. Darah yang keluar dari kepala belakangnya membuat janda tua satu anak itu tak hendi menangis dalam doannya.


Tak tau harus bagaimana lagi, ibu Fariz teru menangis di pelukan Bian yang saat itu ikut menemani Idham jalan jalan keluar rumah. Satya datang bersama dengan Affandi dengan terburu buru. Papa mentari yang lebih dulu datang pun mengatakan jika sedang terjadi sesuatu antara Fariz dengan Wina.


“Tadi dia cerita kalau orang tua nak Wina juga mengetahui masalah ini. Tapi nak Fariz tak menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dari sudut pandang dia. Dia hanya menceritakan jika istrinya marah karena dirinya tak mengindahkan perintah sang istri.” jelas papa Mentari.


“Baiklah kalau begitu pak, mungkin memang kita sebagai orang tua itu harus memahami apa yang anak anak lakukan. Tapi masalahya sekarang Fariz dalam keadaan tak sadarkan diri, apa kita mesti memberi tahu Wina apa engga?” Tanya Affandi mewakili Satya.


“Bagaimana bu?” Tanya papa Mentari yang menanyai besannya.


“Kita coba telfon dulu saja bagaimana? Nanti kalau misalnya gak di angkat atau bagaimana, kita biarkan saja lah.” ucapan pasrah dari seorang ibu yang tak mau putranya gagal berumah tangga.


“Ya sudah kalau begitu biar saya yang telfon bu,” Satya mencoba menghubungi adik iparnya.


Dalam keadaan panik seperti ini, Bian lupa jika dirinya membawa Idham ke rumah sakit. Vindya datang bersama adiknya, Vano langsung mengambil Idham.


“Aduh, cucu Oma. Kenapa di bawa ke rumah sakir?” Tanya Vindya yang sedikit meninggika suaranya.


“Di rumah gak ada orang Bunda,” jawab jujur Bian meski masih sedikit takut.


***


Seminggu sudah Fariz berada di ruangan ICU. Berkat bantuan alat-alat medis yang canggih, Fariz masih bertahan hingga saat ini. Ibu selalu menunggui putra tersayangnya tanpa ada rasa capek atau lelah.


Sedangkan menantu tersayangnya hingga saat ini juga belum menampakkan batang hidungnya. Wina di sekolah berusaha keras untuk menguatkan hati menghindari Fariz. Wina masih sangat sakit hati dengan apa yang terjadi di antara mereka.


Rojali main ke kelas Wina, karena Arin kekasihnya itu di kelas dan bangku yang sama dengan gadis egois itu. Melihat Wina yang biasa saja membuat Rojali penasaran kemana temannya itu pergi hingga satu minggu tak masuk sekolah tanpa ijin.


“Wina, Fariz kemana sih? Sudah semingguan loh dia gak masuk sekolah tanpa ijin. Perasaanku gak enak,” ucap Rojali dengan menutup matanya sekilas.


Wina baru menyadari jika memang dirinya tidak bertemu atau hanya sekedar berpapasan dengan suaminya. Bukankah kelas mereka bersampingan, sangat gak mungkin jika mereka tak saling berpapasan atau melihat sekilas saja.


Wina tak menunggu lagi jam terakir yang kosong karena adanya rapat dadakan para guru. Wina keluar kelas dan mencoba mencari mobil Fariz yang memang tak terparkir di sana. Wina langsuk pulang kerumahnya.


Di sana Wina hanya menemukan dua pembantu yang di tinggalkannya.


“Pak Fariz mana?” Tanya WIna kepada dua pembantunya.


“Maaf non, selama semingguan tuan gak pulang ke rumah. Mungkin ada perjalanan dinias ke luar kota, lah Enon tidak di kabari?” tanya Yuma yang terheran dengan kelakuan majikan mudanya.


Tanpa menjawab pertanyaan dari Yuma, Wina pergi meninggalkan rumah besar namun kosong di malam hari itu. Wina pergi ke rumah Satya, di mana mertuannya tinggal.


Wina mendapati rumah itu kososng dan sampah daun berserakan seperti tak terurus. Ya… Bian juga tak meninggali rumah itu, karena takut sendirian. Wina mencari tau di tetangga yang ada di sana, namun tak ada yang mengetahui kemana mereka berada.

__ADS_1


Hingga akhirnya Wina menghentikan langkahnya di semua rumah yang besar dan mewah. Terparkir mobol Honda city milik suaminya di garasi yang terlihat dari jalan raya.


Wina masuk ke dalam rumah itu dan mengetuk pintu dengan pelan, karena sudah tak memiliki tenaga lagi. Wanita paruh baya yang membuka pintu iti di ketahui WIna sebagai mama Mentari.


“Maaf tante, Fariznya ada? Saya melihat mobilnya di depan, sedangkan dia gak pulang dan gak sekolah sudah seminggu,” ucap Wina yang mendapatkan tatapan tajam dari wanita itu.


“Istri macam apa kamu itu? Sampai seminggu gak tau kalau suaminya dalam keadaan kritis!!” ucapan sengit dari mama Mentari yang tak tau masalah di antara suami istri itu.


“Hah, di rumah sakit mana tante?”


Dengan langkah lemas Wina keluar dari rumah mewah itu. Setelah mendapatkan alamat rumah sakit Fariz di rawat. Dengan mengendarai mobil Fariz yang terparkir di rumah Mentari, Wina mencari rumah sakitnya.


Rumah sakit yang sangat besar di kota itu. Membuat Wina menemukannya dengan cepat. Wina lagsung memarkir mobilnya dan berlari ke arah di mana Fariz di rawat. Mama Mentari memang memberi tau di mana Fariz di rawat, hingga siapa saja yang setia merawat menantunya.


Wina menuju ruang ICU namun langsung di hadang oleh ibunya Fariz. Bian yang menunggui juga ikut sedikit menghalangi istri sah dari orang yang kini terbaring lemah di dalam.


“Jangan kau siksa anakku lagi,” itulah kata yang pertama terlontar dari seorang ibu setelah mendengar sedikit cerita tentang mereka berdua.


“Apa maksud ibu?” tanya Wina yang masih tak mengetahui kesalahannya.


“Maksud? Kamu tanya pada dirimu sendiri! Aku sebagai ibunya, selama delapan belas tahun tak pernah membentak dia. Tapi kamu baru beberapa bulan saja sudah berani membentak dan menyuruh dia yang tidak tidak!” amarah wanita paruh bayah itu semakin memuncak karena menantunya.


“Ibu, sudah. Wina kita bicara dulu di cafe,” Bian menengahi pertikaian mereka berdua.


“Tapi Wina mau ketemu Fariz dulu Mbak,” rengek WIna.


“Iya, setelah kita bicara. Embak janji akan memberikan kamu kesempatan untuk meneui suamimu.


Kedua wanita itu pun akhirnya berjalan beriringan ke cafe samping rumah sakit. Wina duduk di sebrang Bian yang memang berisi dua kursi. Dengan memesan kopi dingin kesukaan mereka berdua pun, Bian memulai berbicara.


“Wina, apa kamu tau tentang pernikahan? Dan apa kamu tau pasti tentang suamu?” Tanya Bian yang membuat Wina heran.


“Aku… aku…” Jawab Wina gelagapan.


“Santai saja, Fariz itu type orang pekerja keras dan bertanggung jawab penuh dengan apa yang sudah menjadi keputusannya. Tak jarang Fariz meminta pendapat pada suamiku dia harus apa memperlakukan kalian secara adil. Karena ujur saja, memiliki istri lebih dari satu itu sangat sulit.”


“Apa kamu tahu beban Fariz saat ini? Lebih tepatnya saat Mentari sudah meinggalkan kalian?” Tanya Bian yang di tanggapi gelengan kepala oleh WIna.


“Fariz itu mikir bagaimana membahagiakan kamu, dia kadang tidur di kantor dengan kerjaan yang masih berserakan di mejanya. Suamiku bilang, Fariz kamu harus melepaskan salah satu pekerjaan yang kamu jalani saat ini.”


“Tapi Fariz menjawab, aku gak mungkin meninggalkan perusahaan ini pak. Bapak adalah orang pertama yang saya temui di saat saya tengah mengais tong sampah untuk mencari makan. Tapi saya juga gak bisa melepaskan BIRMA karena saya menantu satu satunya di sana,” ucapa ucapan Bian seakan membuat Wina tersadar akan betapa kekanak kanakan dirinya yang selalu memaksa Fariz.


“Sekarang terserah kamu saja bagaimana kamu mau, yang jela Fariz tidak akan bisa memilih di antara keduanya. Sama seperti kamu dan Mentari,” kembali Bian menyinggung masalah Mentari.


“Tapi, dia yang memintaku untuk menjadi pacarnya,” Wina memberi tanggapan.


“Itu karena dia tak mengetahui jika kamu anak orang kaya. Dia mencintai Mentari tapi dia takut karena gadis itu anak orang kaya, dan memilih untuk mengubur perasaannya. Pernikahan Mentari dengan Mustafa membuat dia frustasi…” kalimat Bian terpotong oleh WIna.


“Menikah? Jadi Mentari sudah janda saat dia menikah dengan Fariz?” Tanya Wina kaget.


“Apa kau tak tau? Bahkan Fariz sampai tak pulang karena dia mabuk. Dia takut pulang ke rumah, dan dia katanya menginap di rumah temannya,” seperti mengingat kejadian lalu.


“Almas,” gumam Wina yang merasa pertemuannya dengan sang kekasih waktu itu tidaklah sebuah kebetulan. Tapi mereka bermalam bersama.


Kepala Wina terasa sedikit nyeri mengigat hal itu. WIna tau hubungan Almas dengan Agas kakak sepupunya. Bahkan sejauh apa Wina mengetahuinya, tapi hubungan kakak sepupunya dengan suaminya sungguh tak pernah dia ketahui.

__ADS_1


Apa yang sebenarnya terjadi? Kepala Wina semakin sakit memikirkan hal itu sendirian.


“Lebih baik kamu temui suamimu sekarang.”


__ADS_2