Kesetiaanmu

Kesetiaanmu
Indah


__ADS_3

Di dalam kamar Vindya dan Affandi duduk di atas ranjang yg tak terlalu besar tapi masih cukup untuk mereka berdua. Affandi memandang Vindya dengan sedikit tajam. Affandi memandang dengan mencari cari sesuatu. Mencoba memahami istrinha dengan tatapannya. Affandi semakin merasa bersalah ketika mengingat penghianatannya meski itu sebuah paksaan.


"Kak ayo dong ceritain. Jangan liatin Vindya kaya gitu terus, malu." Ucap Vindya yg duduk tepat di depan Affandi.


"Iya iya sayang. Dulu kakak pernah punya pacar pas pertengahan kelas 1 SMA. Kakak ngerasa bangga karena sudah bisa dapetin cewek populer. Tapi itu semua awal dari malapetaka...."


"Malapetaka...?" Tanya Vindya memotong ucapan Affandi.


"Iya malapetaka. Saat itu dia kelas 3 dan kakak masih kelas 1. Kakak gak tau kalo dia itu seorang gadis yg terbiasa hidup di dunia malam. Akhirnya kakak di kenalkan dengan dunianya itu. Kakak di ajaknya ke tongkrongannya dengan minum minuman yg rasanga pait tapi bisa buat beban ilang sesaat. Sampai sampai nilai kakak hancur berantakan dan kakak di suruh homescooling selama 6 bulan saja. Ya sampai pacar kakak lulus sekolah. intinya papa sama mama menjauhkan kami sampai saat ini kami gak pernah komunikasi." Di akhir cerita Vindya mendapati sebuah penyesalan di diri suaminya.


"Terus kakak gak berusaha untuk mencari tau dia dari temen temennya?" Vindya mencoba menghibur meski sakit juga mendengar kenyataan bahwa suaminya mungkin masih memiliki perasaan untuk kekasihnya itu


"Pernah, bahkan juga pernah ketemu dua kali. Dan itu setelah pernikahan kita. Sedikit ada penyesalan sih gak mencarinya dari awal. Tapi setelah tau dia juga sudah punya keluarga kecilnya akj merasa seneng." Vindya masih menangkap kesedihan yg mendalam mesi bibir Affandi mengatakan lain.


"Kak Affandi jujur sama Vindya. Kakak pernah tidur sama dia?" Pertanyaan Vindya membuat Affandi merasa sesak di dada.


"Iya" Ucap Affandi dengan tetasan air matanya mulai membasahi punggung tangannya.

__ADS_1


"Dia sudah punya anak sekarang?" Affandi hanya mengangguk tanpa berani menoleh ke arah Vindya.


"Kakak tau siapa suaminya?" Kembali Affandi menggeleng kepala.


"Kaka ajak Vindya menemui gadis itu besok." Affandi menoleh ke arah Vindya dan membuatnya mematung tak percaya.


Setelah bercerita, Vindya berinisiativ memeluk sang suami dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


****


"Maaf bu, pemilik rumah ini kemana ya? Kok kelihatannya sepi sekali?" Tanya Vindya.


"Oh bu Indah? Mungkin masih belum bangun biasanya sudah sih jam segini soalnya anaknya yg gede sudah masuk sekolah." Jawab Tetangganya. "Coba pencet belnya." Lanjutnya lagi.


Tanpa pikir panjang lagi Vindya memencet bell. Berbeda dengan Affandi yg terus berfikir dengan keras mengingat kejadian malam itu. Affandi yg tengah mabuk berat hingga tak sadarkan diri itu terbangun tanpa busana dengan seorang perempuan yg jugatanpa busana di sebuah kamar hotel.


"Car....." Ucapan menggantung itu hanya mampu membuat si pemilik rumah menutup mulut tak percaya.

__ADS_1


"Indah boleh saya masuk?" Tanya Affandi mesuk ke dalam rumah setelah mendapat izin dari pemiliknya.


"Si silahkan duduk saya buatkan minum dulu." Kata Indah terbata bata.


Vindya menoleh ke sebuah figura yg tergantung di dinding. Foto yg menghiasi ruang tamu itu berisikan Indah dan seorang yg tak asing baginya.


"Kak itu bukany pak Syaifull...?" Ucapan Vindya membuat Affandi melototkan matanya.


"Iya.... setau kakak pak Syaifull gak deket dengan Indah." Affandi gak percaya.


Tanpa di sadari seorang laki laki keluar dari kamar yg berada tak jauh di belakang tempat mereka duduk. Pak Syaifull lah yg keluar dari sana dengan seorang putra di gandengannya dan putri di gendongannya.


"Eh ada tamu rupanya." Membuat Vindya dan Affandi menoleh ke asal suara.


"Pak Syaifull"


"Vindya, Affandi. Adakah tugas yg saya berikan secara gak sadar?" Tanya Syaifull heran yg mendapati seorang muridnya dan mantan muridnya.

__ADS_1


__ADS_2