Kesetiaanmu

Kesetiaanmu
Ayumi


__ADS_3

"Kau kekasihnya Satya?"


"Ya? Maksudnya?" Tanya Bian yang merasa pertanyaan yang terlontar dari bibir tipis merah milik gadis cantik di sampingnya.


Bian merasa risih dengan pertanyaan - pertanyaan yang terus bergulir dari gadis pemilik mata coklat dan berambut ikal di sampingnya. Bian merasa tak tahan dan tan nyaman berasa di sebelah gadis berisik di sampingnya. Perlahan Bian pergi dari samping gadis berisik dan juga kepo di sampingnya.


Bian kini berdiri di sebelah yang salah. Bian berdiri di gerombolan laki - laki yang entah mendukung siapa. Bian merasa makan buah simalakama. Kalau berdiri di bagian sana, Bian gak nyaman dengan Ayumi. Sedangkan di tempatnya kini berdiri, juga kurang nyaman.


Meski tak mendaat gangguan dari pemuda yang ada di deretannya. Tapi, Bian merasa ada yang memperhatikannya.


Mobil Satya melesat lebih dari yang di ketahui semua orang. Satya ternyata sudah menambah kecepatan mobilnya sebelum bertanding. Kemenangan mutlak di raih oleh Satya, dengan senyum manis dan juga sedikit rasa arogansi yang di miliki terpancar dalam diri Satya.


"Gua menang nona, tepati janjimu." Satya berjalan ke arah Bian dengan keangkuhan karena kemenangan yang di raihnya.


Tak berapa lama, mobil Pandu datang. Karena merasa kesal akan kekalahan yang di perolehnya. Pandu berniat untuk menabrak Satya, namun kecekatan tangan Bian menarik pemuda yang tak jauh darinya.


Satya terjatuh karena sedikit tersenggol oleh mobil Pandu yang melaju sangat kencang. Akibat jatuh karena tersrempet, Satya mengalami beberapa luka ringan di sebagian tubuhnya yang tidak tertutupi oleh baju.


Dengan terpaksa Bian mengantar Satya pulang ke rumahnya. Dengan sedikit rasa takut yang ada di dalam diri Bian. Gadis itu mengetuk pintu rumah minimalis milik keluarga Satya.


"Iya, siapa ya?" tanya Vindya dari dalam rumah sebelum membuka pintu bercat putih miliknya.


"Bunda, ini Alwa," ucap Satya yang kini tengah di papah oleh seorang gadis berambut hitam sepunggung.


"Ya ampun, kamu kenapa sayang?" tanya Vindya menggantikan gadis berparas cantik memapah sang putra.


"Tadi kesrempet mobil yang gak terima di kalahin Satya tante." jawan Bian dengan mengikuti Vindya dari belakang.


"Pandu itu memang kurang kerjaan. Ya sudah, sekarang bantu Bunda membawa Alwa ke kamarnya." pinta Vinya pada Bian.


"Bunda, biar Alwa sendiri ke kamar. Bian biar pulang aja bun, sudah malam juga," ucap Satya yang membuat Vindya melihat ke arah Bian. Gadis yang telah membawa putranya pulang.

__ADS_1


"Lah, iya nak. Kamu bisa membawa mobil Alwa?" tanya Vindya.


"Bisa tante, besok pagi biar Bian jemput Satya. Ya sudah tante, Bian pamit pulang." Pamit Bian dengan sopan pada Vindya.


"Ya sudah hati - hati ya nak." Vindya mengantar gadis yang di bawa putranya pulang.


***


Pagi telah menyapa Bian dan keluarganya. Seperti biasanya, Bian sarapan dengan keluarganya. Setelah sarapan, Bian berangkat ke sekolah bersama sang papa.


Di tempat lain, Satya menunggu datangnya Bian yang berjanji akan menjemputnya. Dengan bosan Satya menunggu gadis yang di percayai membawa mobilnya. Kendaraan yang hampir tak ada yang bisa menyentuh selain dirinya dan Bundanya.


"Sial, kenapa juga gua percaya sama cewek tengil itu. Ah," ucap Satya jemgkel dengan sesekali mengajak rambut rapinya.


"Belum berangkat Al? Mobilmu mana, kok gak ada di garasi?" tanya Affandi yang tak melihat mobil sang putra.


"Di bawa temen semalem yah, boleh Alwa ikut sama ayah?" Satya tak punya pilihan lain selain ikut dengan ayahnya.


"Satya, kenapa lenganmu?" tanya Ayumi yang berpapasan di persimpangan lorong menuju kelaanya.


"Biasa, semalam ada yang sengaja mau menabrakku lagi." Jelas Satya dengan senyum hangat yang di milikinya.


Rupanya, Satya juga memiliki perasaan yang sama terhadap Ayumi. Karena gedenya keegoisan yang mereka miliki, membuat keduanya saling menyakiti. Menyakiti perasaan satu sama lain, dengan ke bungkaman keduanya.


Kemunafikan di antara keduanya membuat Pandu, masuk dengan mudahnya di antara mereka berdua. Ayumi gadis manis yang banyak di kagumi kaum Adam. Menjatuhkan pilihanya pada Pandu karena menunggu Satya yang tak kunjung memberikan sinyal positif terhadapnya.


"Maaf ya, Pandu memang tidak pernah bisa terima kekelahannya," ucap Ayumi meminta maaf pada Satya atak kelakuan sang kekasih.


"Ayumi, kamu bahagia dengan Pandu?" tanya Satya membuat Ayumi merasakan sedikit getaran dalam dadanya.


"Kalau gak bahagia kenapa?" jawaban Ayumi yang berupa pertanyaan juga pun membuat Satya menundukkan kepala.

__ADS_1


"Kalau gak bahagia, aku siap menggantikan Pandu untuk membahagiakan mu," ucap Satya dengan senyum termanisnya.


"Kenapa baru sekarang kamu mengatakan ini padaku Sat?" Ayumi menghentikan langkahnya, menundukkan wajahnya.


Ayumi tak ingin Satya melihat air mata yang kini sudah tak mapu lagi di bendung olehnya. Satya menyadari jika Ayumi jauh tertinggal di belakang. Hati berniat untuk menghampiri gadis yang baru saja mendengar peryataan cintanya.


Namun gagal, karena seorang Pandu sudah menggandeng tangan sang gadis. Berusaha biasa saja, satya melanjutkan perjalanannya menuju kelas.


Di dalam kelas, Satya di kagetkan oleh seorang gadis yang asik bercanda dengan teman sekelas lainnya.


"Hebaaaatt!! Gua nungguin elu sampek hampir telat, dan elu malah asik bercanda di sini!!" Ucapan dengan nada yang meninggi membuat semua teman di kelas menoleh ke arahnya.


Dengan bertepuk tangan, kemarahan Satya yang tertuju pada siswi yabg baru masuk kemarin pun membuatnya kaget.


"Ngapain lu nunggu gue?" tanya Bian yang merasa amarah Satya tertuju untuk dirinya.


"Hallo Nona, masih belum sadarkah anda sudah membawa mobil saya semalam??" geram Satya yang di lupakan oleh Bian.


"Oh, no!! Maaf Bian, gue bener - bener lupa udah bawa mobil elu semalem." peryataan maaf Bian membuat Satya semakin murka.


"Jangan harap gua bisa berbaik hati sama elu." kini amarah Satya bena - benar meledak.


"Mobil elu masih di rumah gue, tadi gue ikut bokap berangkatnya." Bian merasa bersalah karena sudah melupakan hal sebesar ini.


Tanpa menjawabagi, Satya menyuruh Nurul untuk menggeser duduknya. Nurul yang memang teman Satya sedari SMP, jadi dia pahan akan kemarahan sang teman.


"Irul, lu duduk sama Bian dulu. Satya lagi pengen sama gue." ucap Nurul yang kini mencoba mengambil hati sang teman.


Selama pelajaran berlangsung, Nurul selalu saja melihat ke arah Bian yang tengah serius pada pelajaran. Satya yang juga terlihat acuh pun membuat Nurul merasa keren saat duduk bersam acowok ganteng dan pinter di kelasnya.


Jam pelajaran pertana pun berlalu begitu saja. tanapa ada percakapan dan juga pertanyaa. Satya duduk diam di dalan kelas. sedangkan Bian, terus merasa bersalah terhadap Satya mengajaknya bicara lebih dulu.

__ADS_1


__ADS_2