Kesetiaanmu

Kesetiaanmu
Akhir kisah Satya dan Bian


__ADS_3

Tak tau cerita yang akan datang atau yang akan terjadi esok hari. Begitu banyak cerita yang menghiasi kepergian Bian. Dan juga banyak kejadian yang tak di ketahui oleh Bian selama kepergiannya.


Bian seakan menutup mata dengan apa yang akan terjadi atau yang sudah terjadi selam kepergiannya. Banyak tanya sebenarnya, tapi Bian tak mencari tahu sebelum Satya mengatakan sendiri.


Begitupun dengan Satya yang berusaha percaya kepada sang istri meski melihat kedekatannya dengan mantan majikan.


Jangan pernah mencemburui apapun jika tak melihat langsung atau mendengar langsung pengakuannya.


Bian seakan menutup kemungkinan adanya perasaan di antara keduannya dengan selalu mengajak Satya ketika menemui mantan majikannya.


“Bian, elu itu sama seperti bunga mawar. Apa lu sadar itu?” Tanya Gara yang membuat Bian tersedak minumnya sendiri.


“Lu kalau mau merayu itu yag berkelas, jangan receh.” ucap Bian yang membuat Gara memukul pelan kepala Bian.


“Yang mau gombal itu sapa maemunah!!” ucap Gara jengkel.


“Lah terus?” Tanya Bian yang asik menikmati jus yang ada di depannya.


“Cantik tapi berduri. Tak sembarang orang bisa memilikimu. Ya meski banyak mawar yang tak berduri di jual di pinggiran jalan,” ucap Gara yang mengagumi pribadi Bian yang tak segan melukai orang yang ingin merusaknya.


“Maksud elu, gue kaya wanita di pinggir jalan?” tanya Bian yang membuat Gara tersenyum akan penangkapan maksud dari perkataannya.


“Dah lah, ngomong sama elu sama aja kaya ngomong sama akar pohon tumbang tau gak?” pungkas Gara yang merasa jengkel.


Sudah hampir empat bulan Bian kembali pada suaminya. Selama itu juga Satya memanjakan sang istri. Hingga dirinya sekarang menyewa pembantu untuk membuat Bian tak kerepotan lagi mengurus rumahnya.


Kadang kadang Bian juga membantu pembantunya tanpa sepengetahuan sang suami tentunya. Bian merasa kali ini Satya sudah berlebihan dalam memperlakukan dirinya.


“Satya, apa kamu sudah merasa puas di layani pembantu?” Tanya Bian ketika mereka tengah bersantai di balkon.


“Bukan untuk hal lain sayang. Selain aku mau mau meringankan tugasmu. Aku juga mau membantu embak untuk memenuhi kebutuhannya,” ucap Satya menjelaskan pada istrinya.


“Lah suaminya kemana emangnya?” Tanya Bian yang masih belum paham juga.


“Dia janda di tinggal mati suaminya karena sakit. Dia punya satu orang putra yang sedang bersekolah di salah satu sekolah menengah pertama di dekat sini.” jelas Satya yang membuat Bian merasa malu meragukan apa yang menjadi keputusan sang suami.


“Baikla, tapi dengan satu syarat” Bian memberikan syarat pada suaminya untuk menerima pembantunya.


“Apa itu?” Satya bertanya.

__ADS_1


“Jangan tertarik padanya, atau berfikir untuk menjadikannya maduku,” ucap Bian yang membuat Satya tertawa lebar.


“Jangan tertawa,” rupanya Bian tak suka dengan tanggapan sang suami dengan syaratnya.


“Tidak akan membuat madu sayang, karena aku bukan lebah,” Satya memeluk istrinya yang tengah marah karena salah paham padanya.


“Yakin bukan lebah? Baiklah aku percaya,” Bian tidur di pelukan suaminya karena memang sudah malam.


“Sayang, jangan tidur di sini, aku gak kuat kalau harus menggendongmu ke kamar,” ucap Satya yang membangunkan Bian ketika istrinya tak lagi mengeratkan pelukannya.


“Yah telat,”


Satya mengalahi untuk menggendong sang istri ke kamar. Memang kasur dengan balkon memang tak begitu jauh jaraknya. Hanya saja Bian di rasa sangat berat akhir akhir ini.


“Aku bukan lebah sayang, tapi tawon yang akan menyengatmu,” Bisik SAtya yang meralat ucapannya tadi.


Malam semakin larut namun Satya masih tak mampu memejamkan matanya. Bian terbangun karena merasakan suaminya tak ada di sampingnya. Bian mencarinya kepenjuru kamar, namun nihil.


Bian turun ke lantai bawah untuk mencari suaminya. Benar saja Bian kini duduk di ruang televisi tengah menikmati tayangan malam.


“Kenapa gak nonton di kamar saja?” Tanya Bian yang kini memeluk suaminya manja.


Satya terlihat seperti orang yang sedang memiliki banyak tekanan. Mata boleh menatap ke layar televisi, namun pikiran melayang jauh entah kemana. Bian merasakan hal itu, tapi dia hanya diam dan memeluk suaminya.


“Jangan ada rasa tak enak atau canggung, trobos saja semua rasa itu. Aku gak mau ada dinding pemisah di antara kita,” ucap Bian dengan memejamkan matanya di dada sang suami.


“Iya, lain kali aku akan tetap berada di sampingmu. Tolong jangan mengeluh jika kamu akan terusik nantinya,”


“Gak akan,”


Tanpa di minta Satya sudah menggendong Bian setelah mematikan layar televisi yang ada di depannya.


Menapaki anak tangga yang lumayan banyak. Satya tak lagi mengeluh karena memang dirinya lah yang menginginkannya.


Malam berganti pagi, pagi bergati siang, siang berganti sore, sore berganti malam. Hari berganti minggu, dan minggu berganti bulan. Bulan berganti tahun hingga membuat keduanya sangat bosan dengan rutinitas yang sama saja. Monoton tanpa ada perubahan dari hari kehari.


“Aku bosan sayang jika seperti ini terus. Pengen sesuatu yang tak biasa,” ucap Bian yang kini menemani sangsuaminya kerja.


“Terus mau kamu apa?” Tanya Satya yang merasa kasihan pada istrinya.

__ADS_1


Hoek


Tiba tiba Bian memuntahkan apayang ia makan selama seharian. Satya yang melihatpun merasa panik dan juga ketakutan. Bian terlihat sangat pucat sekali dan seperti bulang kesiangan.


“Kamu kenapa? Kita ke rumah sakit sekarang ya?” Ajak Satya yang melihat istrinya ingin muntah kembali.


“Ayo ke kamar mandi,” Satya menuntun Bian ke kamar mandi yang ada di ruangannya.


Setelah muntah yang ke dua, Bian mengatakan jika dirinya sangat malaskemana mana. Selama Bian beristirahat, Satya sendiri yang membersihkan bekas muntahan sang istri.


“Pak, biar saya saja yang membersihkan,” ucap OB yang tak sengaja melihat bosnya mengelap lantai saat melintasi ruangan sang pemilik cafe.


“Enggak usah gak apa apa. Ini istri saya yang muntah,” tolak Satya halus saat sang OB hendak menggantikan mengelap lantai.


“Tapi saya di gaji oleh bapak kan memang untuk bersih bersih,” ucap halus OB pun membuat Satya tersenyum.


“Iya memang kamu saya gaji untuk bersih bersih, tapi saya gak akan mempersulit kamu dan sedikit sedikit meminta bantuan. Terima kasih sebelumnya, saya sangat bangga memiliki karyawan cekatan seperti kamu,” ucap Satya yang memang sering mendengar jika OB satu satunya ini suka sekali membantu.


OB yang di maksud adalah putra dari pembantu yang di pekerjakan oleh Satya di rumahnya. OB itu bekerja paruh waktu sepulang sekolah, untuk membantu ibunya memenuhi kebutuhan sekolahnya.


Alfarizi memang seorang anak yatim yang tak pernah lupa akan siapa dirinya dan juga kehidupan sosialnya. Dia tak pernah mengeluh dengan kekurangannya. Dia bahkan mau berjuang bersama sang ibu untuk merubah nasipnya di masa depan.


 


 


 


 


 


 


 


 


Belum Tamat ya guys

__ADS_1


__ADS_2